Pengemis Kecil

Entah sejak kapan di kotaku, mojosari, mulai banyak pengemis. Padahal dulu aku tidak pernah melihat seorang pengemis pun di daerah sekitarku. Mungkin ini adalah cerminan kemiskinan yang ada di daerahku. Yang membuatku agak sedih adalah rata-rata pengemis masih anak-anak. Usianya tidak lebih dari 10 tahun. Sungguh memprihatinkan. Anak-anak yang seharusnya bersenang-senang, bersekolah, dan disayang oleh orang tua, harus bekerja meminta-minta belas kasihan dari orang yang berlalu-lalang. Tapi begitulah kehidupan. Aku tidak bisa merubah nasib mereka. Kadang aku bertanya mengapa Tuhan menciptakan kemiskinan dan penderitaan di dunia ini? Sesuatu yang tidak pernah bisa dijawab oleh pikiranku yang dangkal.

Pernah suatu kali aku melihat dua orang pengemis cilik. Satu perempuan, satu laki-laki. Mereka berdua tampak menyedihkan. Pakaian yang lusuh, wajah yang penuh daki, dan rambut yang acak-acakan. Terkutuklah orang-orang yang menghardik mereka dan tidak mengasihani mereka.

Mereka berdua lewat di depan tempatku berjualan. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil selembar uang Rp 2.000,00. Memangil salah satu dari mereka dan memberikan uang tersebut. Sepintas tidak ada yang salah dengan perbuatanku. Kejadiannya begitu cepat. Aku memberikan uang pada anak perempuan, tapi pengemis cilik laki-laki tampak iri. Ia merengek pada pengemis perempuan untuk membagi uang yang berasal dariku. Tapi si pengemis perempuan menolaknya sambil berkata-kata. Aku benar-benar tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Hingga larut malam kejadian tersebut membuatku tidak bisa tidur. Aku merasa bersalah karena membuat seorang pengemis merasa iri. Semoga Tuhan memaafkan kesalahan yang tidak kusengaja.

Aku merasa tidak memberi dengan bijaksana. Seharusnya aku juga harus memberi pada pengemis laki-laki itu sehingga ia tidak merasa iri. Maka aku pun berdo’a “ya Tuhan pertemukan saya dengan mereka lagi” dan aku pun tidur dengan tenang malam itu.

Beberapa hari kemudian saat aku sedang berjualan dengan bapak, aku melihat dua pengemis yang sama. Ternyata Tuhan mengabulkan do’aku. Aku segera mengambil uang pecahan Rp.2000,00 an dua lembar untuk mereka. Tapi ternyata niat untuk memberi mereka masing-masing Rp.2000,00 tidak semudah itu. Entah mengapa bapakku bersikeras agar aku memberikan hanya Rp.1000,00 saja bagi masing-masing pengemis. Kata bapak uang Rp.2000,00 terlalu banyak bagi mereka. Aku tak berdaya dan tak kuasa membantah perintah bapakku. Dan akhirnya niatku untuk memberi masing-masing Rp.2000,00 tidak kesampaian di hari itu.

Aku pun berdo’a lagi ” Ya Tuhan pertemukan lagi aku dengan mereka ketika aku sendirian”. Entah mengapa hatiku tidak bisa tenang selama seharian. Kalau besok aku bertemu dengan mereka lagi, aku pasti memberi mereka masing-masing Rp.2000,00.

Ternyata Tuhan sedang berbaik hati kepadaku. Keesokan harinya aku kembali melihat 2 pengemis kecil itu ketika aku sendirian. Aku memanggil mereka dan akhirnya berhasil mewujudkan keinginanku untuk memberi uang Rp.2000,00 untuk masing-masing pengemis. Bagiku ini seperti keajaiban. Baru kali ini aku berdo’a dan terkabul begitu saja. Ha ha ha… Ini pengalaman paling mengesankan di kehidupanku. Hanya saja saya tidak pandai bercerita sehingga cerita sederhana ini terlihat hambar. Rasanya senang sekali berbuat baik. Terlebih karena aku diberi kesadaran bahwa do’a ku benar-benar terkabul.

Manusia itu makluk yang lemah. Hanya bisa meminta kepada Tuhannya.

Ditulis dengan wordpress untuk android

20 thoughts on “Pengemis Kecil

  1. ga hambaaaar kok, aku suka ceritamu. ga cuma di daerah mas aja, di daerahku juga banyak pengemis anak-anak.
    contohnya kemarin aku lihat pengemis tapi modelnya penari jaranan, diantar dengan ibunya yang menggendong seorang bayi.
    Bayangkan, malah diantar dengan ibunya yang notabene masih bisa bekerja dan tergolong cukup muda. malah mengeksploitasi anaknya 😦 aku sedih poool.

    waktu itu aku di angkot, jadi aku hanya bisa melihat mereka terabaikan dari toko ke toko.

    Suka

    1. Sepengetahuanku juga gitu. Ada anak-anak kecil yang diekploitasi disuruh ngemis. Jadi orang2 gak ada yang kasihan. Saya punya banyak pengalaman lho dengan pengemis. Lain waktu deh nulis postingan khusus tentang pengemis

      Disukai oleh 1 orang

      1. syipppp
        tapi saya sendiri kurang setuju kalau misalnya langsung main kasih aja heheee, karena secara ga langsung mendidik mereka untuk meminta-minta, dan bahkan ada pengemis yang abal-abal, to?

        Suka

  2. Kamu dermawan sekali mas ._. ada pengemis yang suruhan gitu mas, jadi aku kadang agak enggan ngasih. tambah lagi kalau yang minta-minta itu pengamen urakan jalanan gitu, masa aku lagi duduk di motor aja dimintain duit coba -_-

    ah, mas. tulisanmu nggak hambar :)) aku menikmati banget kok :))

    Suka

  3. salut mas. klo niat baik memang ada saja jalannya ya. kasian sama anak-anak ini padahal mereka adalah masa depan bangsa. mudah-mudahan suatu hari pemerintah bisa menjamin pendidikan mereka jadi bisa fokus belajar.

    salam
    /kayka

    Suka

  4. Kata orang, niat baik selalu akan ketemu dengan jalannya. Mungkin itu dimaksudkan Tuhan dalam kejadian-kejadian yang kau alami beberapa hari itu, Mas :hehe. Tapi syukurlah niat baik itu bisa terlaksana, itu bukti kelurusan dan kemurnian. Salut!

    Suka

  5. sampe kepikiran gitu ya mas hehehe

    aduh jadi inget ibu yang sering minta sumbangan katanya buat anak yatim. Heran juga ngeliatnya bawa buku dan nyuruh kita yang nyumbang buat nulis nama. Bukannya bermaksud berprasangka yang jelek ttg ibu itu, tapi diliat dari fisiknya dia mungkin sebenarnya mampu utk bekerja. Apalagi jika melihat nenek yg sering jualan keripik keliling kampus, yah nenek itu memilih jualan daripada harus minta-minta.

    Suka

  6. Masya Allah…..menggugah hati saya untuk gemar memberi sedekah dengan sesama walau itu sedikit, itu sangat berguna bagi anak kecil itu. Tapi lebih baiknya kita menolong anak kecil itu bukan dengn memberi uang tapi memberi pendidikan yang layak bagi mereka….itu sangat bermanfaat untuk masa depan mereka.

    saluuttt mas…menulis artikel ini dengan hati dan perasaan mas….kerenn artikelnya

    Suka

  7. berbagi itu baik.. walopun kadang muncul keraguan entah dari penampilan atau kekuatan fisik orang tersebut.
    saya pun mensiasati, jika ragu maka saya menolak dengan halus. jika mau memberi tinggal beri lalu lupakan. agar tidak timbul perasaan ‘ragu/ tidak ikhlas’.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s