Tag: pengemis

Berinteraksi dengan Orang-Orang yang Malang

Kehidupan di pasar cukup rumit. Selain ada pedagang dan pembeli, pasar juga dipenuhi dengan orang-orang yang malang seperti pengemis, pengamen, gelandangan, dan pemulung.

Dilihat dari sisi hukum, sebenarnya orang-orang bernasib malang tersebut telah melanggar KUHP pasal 504 dan pasal 505, Buku ke-3 tentang tindak pidana pelanggaran. Lanjutkan membaca “Berinteraksi dengan Orang-Orang yang Malang”

Kebijaksanaan Memberi Kepada Pengemis

Saya tidak tahu bagaimana memulai postingan ini karena ini bersangkutan dengan banyak pemikiran saya di masa lalu. Dulu, mungkin juga sampai sekarang, orang-orang banyak yang mencari bagaimana bijaksananya menghadapi pengemis di zaman yang serba aneh ini?

Seperti yang banyak diberitakan media bahwa zaman sekarang banyak pengemis “jadi-jadian”, pengemis yang notabenenya memiliki kekayaan yang wow. Apakah layak kita mengasihani mereka? Bagaimana membedakan pengemis “jadi-jadian” dan pengemis yang benar-benar membutuhkan sehingga uang yang kita berikan bisa tepat sasaran?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut dan pertanyaan lainnya, saya akan bercerita sedikit mengenai “kebijaksanaan” saya untuk memberi pada pengemis ditengah “kisruh” yang melanda masyarakat “mau memberi atau tidak” karena banyak pengemis yang kaya raya.

Sebenarnya sih ini tidak bisa dibilang “kebijaksanaan”. Hanya pemikiran dangkal saja. Bahkan sebagian besar hanya masalah perasaan saya yang sensitif saja. Baiklah, ini adalah hasil pemikiran saya mengapa saya harus memberi pada pengemis :

1. Karena Saya Pernah Mengemis

Saya tahu pikiran Anda, mungkin Anda sedikit tidak percaya jika saya mengatakan bahwa saya pernah mengemis. Tapi kenyataannya memang seperti itu.

Di tahun 1998, terjadi krisis moneter. Bapak saya yang waktu itu memiliki pekerjaan sebagai tukang kredit mengalami kebangkrutan. Menurut cerita beliau, orang-orang yang kredit barang tidak mau membayar angsuran. Mereka lari dari tanggung jawab sehingga bapak saya terpaksa gulung tikar. Keadaan waktu itu benar-benar memprihatinkan.

Dulu, rumah kami cuma rumah yang terbuat dari bambu. Itupun rumah sewaan. Saat itu saya sudah menjadi kakak dari dua adik sehingga kebutuhan kami pun banyak yang serba kekurangan. Untuk makan sehari-hari saja tidak cukup. Untunglah kami tinggal di kampung yang dipenuhi orang-orang baik. Biasanya mereka memberi saya berbagai kebutuhan sehari-hari seperti baju bekas, sembako, dan uang.

Sejak kecil saya suka disuruh-suruh orang untuk menyapu halaman, memanen buah-buahan, dan banyak pekerjaan lainnya. Orang-orang selalu berkata “kalau butuh apa-apa minta saja, jangan mencuri” dan bodohnya, waktu kecil saya benar-benar minta ini itu sama mereka he he he. Namanya anak kecil ya kan? Dan di waktu itu, ibu saya merasa malu kalau harus meminta-minta (dilain hari akan saya ceritakan nasib malang ibu saya). Jadi ibu ya nyuruh saya buat minta-minta ke warga dengan ganti disuruh-suruh gitu lah ( di lain waktu akan saya ceritakan lebih lengkap masa kecil saya).

Nah…. Pernah dengar hukum karma nggak? Setiap kali saya melihat pengemis kecil, saya ingat masa kecil saya. Sebagai wujud rasa syukur, saya selalu memberi mereka. Perasaan saya selalu senang dan terharu. Mungkin ini adalah perasaan penduduk desa yang dulu sering menolong saya. Oleh karena itu, saya selalu memberi pada pengemis-pengemis kecil.

2. Karena Pengemis Suka Mendo’akan Banyak Kebaikan Untuk Saya

Mungkin ini juga alasan yang tidak bisa dipahami kebanyakan orang. Orang-Orang lebih suka berkata “apa do’a mereka dikabulkan?”.

Saya tidak pernah mau tahu apakah do’a para pengemis ini dikabulkan oleh Tuhan atau tidak. Tapi sebagai orang yang mempercayai keberadaan Tuhan, saya percaya bahwa do’a-do’a dari pengemis ini akan dikabulkan.

Sepertinya uang Rp 1.000,00 atau Rp 2.000,00 terlalu sedikit untuk banyak do’a mereka. Sampai postingan ini ditulis saya merasa pemberian saya terlalu sedikit. Jika dikemudian hari saya menjadi orang kaya, maka hal pertama yang akan saya pikirkan adalah bagaimana membuat para pengemis ini sejahtera. Saya berjanji saudara-saudara he he he #NgarepJadiOrangKaya.

3. Agar Saya Tidak Mencintai Harta Saya Terlalu Berlebihan

Saya sudah bersepakat dengan diri sendiri bahwa kebijaksanaan lebih utama dibanding dengan kekayaan. Itu tanggung jawab yang besar dan saya akan mulai belajar memperlakukan harta saya dengan bijaksana.

Ada sedikit perumpamaan yang pernah saya baca, kurang lebih seperti ini:

Apakah Anda butuh udara? Apa yang akan terjadi seandainya Anda hanya menghirup tanpa mengeluarkannya? Bisa mati dong.

Apakah Anda butuh makanan? Apa yang terjadi seandainya Anda tidak mengeluarkannya (BAB)? Pasti sakit perut.

Apakah Anda butuh harta dan kekayaan? Apa yang terjadi seandainya Anda tidak mengeluarkannya untuk berbuat kebajikan? Terlalu mencintai harta.

Ya. Saya tidak mau mencintai harta terlalu berlebihan. Jadi, jika dipikir secara untung-rugi, sayalah yang membutuhkan pengemis. Saya butuh mereka untuk belajar berbagi secara ikhlas.

4. Ingin Tahu Kisah Mereka

Rasanya pasti janggal jika saya langsung bertanya “apa yang menyebabkan Anda menjadi pengemis?”. Kurang sopan kan?

Sebenarnya setiap orang punya kisah dan saya selalu suka untuk mendengar cerita-cerita orang lain sebagai bentuk mematangkan kebijaksanaan yang saya miliki. Saya ingin mendapat nasihat dari nenek-nenek dan kakek-kakek pengemis tentang bagaimana menjalani hidup yang baik dan benar. Meskipun mereka pengemis, saya yakin mereka punya banyak pengalaman tentang hidup.

Itu mengapa saya selalu memberi pengemis. Agar saya dan pengemis itu tidak saling sungkan sehingga suatu hari nanti saya tahu dengan pasti apa yang membuat mereka jadi pengemis.

Dan masih banyak alasan lainnya yang tidak ingin saya publikasikan ( buat bahan nulis lain waktu).

Pertanyaan yang sering muncul:

1. Bagaimana membedakan pengemis “jadi-jadian” dan pengemis yang benar-benar membutuhkan?

Jawab: saya mengasihani pengemis asli karena kemiskinan dan ketidakmampuannya. Sedangkan jika pengemis “jadi-jadian”, saya mengasihani kebodohannya. Jadi, tak jadi masalah apakah dihadapan saya pengemis asli atau pengemis “jadi-jadian”.

2. Pengemis yang kaya bagaimana?

Jawab: Saya tetap memberinya karena ia minta dikasihani. Lagipula tidak ada yang tahu kekayaannya akan jadi berkah atau bencana baginya. Jadi orang jangan suka menilai.

NB: maaf ya gadis, jawabannya nggak memuaskan. Soalnya buanyak sekali idenya. Sayang nggak bisa nulisnya. Harus satu per satu kayaknya.

Anda boleh tidak memberi pada pengemis, tapi jangan menghasud orang lain untuk tidak memberi sedekah pada pengemis.

Ditulis dengan wordpress untuk android

Pengemis Kecil

Entah sejak kapan di kotaku, mojosari, mulai banyak pengemis. Padahal dulu aku tidak pernah melihat seorang pengemis pun di daerah sekitarku. Mungkin ini adalah cerminan kemiskinan yang ada di daerahku. Yang membuatku agak sedih adalah rata-rata pengemis masih anak-anak. Usianya tidak lebih dari 10 tahun. Sungguh memprihatinkan. Anak-anak yang seharusnya bersenang-senang, bersekolah, dan disayang oleh orang tua, harus bekerja meminta-minta belas kasihan dari orang yang berlalu-lalang. Tapi begitulah kehidupan. Aku tidak bisa merubah nasib mereka. Kadang aku bertanya mengapa Tuhan menciptakan kemiskinan dan penderitaan di dunia ini? Sesuatu yang tidak pernah bisa dijawab oleh pikiranku yang dangkal.

Pernah suatu kali aku melihat dua orang pengemis cilik. Satu perempuan, satu laki-laki. Mereka berdua tampak menyedihkan. Pakaian yang lusuh, wajah yang penuh daki, dan rambut yang acak-acakan. Terkutuklah orang-orang yang menghardik mereka dan tidak mengasihani mereka.

Mereka berdua lewat di depan tempatku berjualan. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil selembar uang Rp 2.000,00. Memangil salah satu dari mereka dan memberikan uang tersebut. Sepintas tidak ada yang salah dengan perbuatanku. Kejadiannya begitu cepat. Aku memberikan uang pada anak perempuan, tapi pengemis cilik laki-laki tampak iri. Ia merengek pada pengemis perempuan untuk membagi uang yang berasal dariku. Tapi si pengemis perempuan menolaknya sambil berkata-kata. Aku benar-benar tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Hingga larut malam kejadian tersebut membuatku tidak bisa tidur. Aku merasa bersalah karena membuat seorang pengemis merasa iri. Semoga Tuhan memaafkan kesalahan yang tidak kusengaja.

Aku merasa tidak memberi dengan bijaksana. Seharusnya aku juga harus memberi pada pengemis laki-laki itu sehingga ia tidak merasa iri. Maka aku pun berdo’a “ya Tuhan pertemukan saya dengan mereka lagi” dan aku pun tidur dengan tenang malam itu.

Beberapa hari kemudian saat aku sedang berjualan dengan bapak, aku melihat dua pengemis yang sama. Ternyata Tuhan mengabulkan do’aku. Aku segera mengambil uang pecahan Rp.2000,00 an dua lembar untuk mereka. Tapi ternyata niat untuk memberi mereka masing-masing Rp.2000,00 tidak semudah itu. Entah mengapa bapakku bersikeras agar aku memberikan hanya Rp.1000,00 saja bagi masing-masing pengemis. Kata bapak uang Rp.2000,00 terlalu banyak bagi mereka. Aku tak berdaya dan tak kuasa membantah perintah bapakku. Dan akhirnya niatku untuk memberi masing-masing Rp.2000,00 tidak kesampaian di hari itu.

Aku pun berdo’a lagi ” Ya Tuhan pertemukan lagi aku dengan mereka ketika aku sendirian”. Entah mengapa hatiku tidak bisa tenang selama seharian. Kalau besok aku bertemu dengan mereka lagi, aku pasti memberi mereka masing-masing Rp.2000,00.

Ternyata Tuhan sedang berbaik hati kepadaku. Keesokan harinya aku kembali melihat 2 pengemis kecil itu ketika aku sendirian. Aku memanggil mereka dan akhirnya berhasil mewujudkan keinginanku untuk memberi uang Rp.2000,00 untuk masing-masing pengemis. Bagiku ini seperti keajaiban. Baru kali ini aku berdo’a dan terkabul begitu saja. Ha ha ha… Ini pengalaman paling mengesankan di kehidupanku. Hanya saja saya tidak pandai bercerita sehingga cerita sederhana ini terlihat hambar. Rasanya senang sekali berbuat baik. Terlebih karena aku diberi kesadaran bahwa do’a ku benar-benar terkabul.

Manusia itu makluk yang lemah. Hanya bisa meminta kepada Tuhannya.

Ditulis dengan wordpress untuk android