7 Hal Menyakitkan yang Hampir Pasti Dialami Semua Pedagang

Menjadi pedagang itu enak. Penghasilan mampu melebihi gaji PNS, tidak disuruh-suruh orang lain, punya banyak waktu luang, dan beberapa keistimewaan yang tidak diperoleh oleh pegawai kantoran. Itu mengapa di masa sekarang banyak pegawai kantoran atau pekerja pabrik yang bermimpi punya usaha sendiri.

Mereka mengumpulkan modal. Setelah terkumpul, dengan segera mereka mencoba berwirausaha sendiri. Mimpi besar pun dimulai. Sayangnya, sebagian orang akan segera menyerah. Karena menjadi pedagang tidaklah semudah yang selama ini mereka pikirkan. Akan ada banyak tantangan dan hambatan. Belum lagi persaingan antar pedagang. Jika tidak hati-hati, maka modal usaha bisa tidak kembali. Dan biasanya orang yang gagal dalam berdagang akan kembali ke kehidupan semula, kembali bekerja pada orang lain.

Jika Anda berencana menjadi pengusaha atau pedagang, maka sebelum Anda memulainya, saya akan memberitahu Anda beberapa hal menyakitkan yang hampir pasti dialami oleh semua pedagang. Pastikan Anda siap menerimanya atau usaha Anda tidak akan berkembang ke level selanjutnya.

Berikut adalah hal-hal menyakitkan yang saya maksudkan dan bagaimana pedagang sukses seperti saya, Ibu, dan Bapak menyikapinya :

1. Kalah Bersaing dengan Pedagang Lain

Ada banyak faktor yang membuat pedagang lebih unggul dibanding dengan pedagang lain. Tapi yang paling umum adalah faktor perbedaan harga. Jika pesaing Anda menjual produk yang sama, dan harganya lebih murah dari harga Anda, dalam banyak kasus, pembeli akan menuju pesaing Anda.

Tahun lalu saya mengalaminya. Tiba-tiba ada beberapa pedagang buah jeruk bali kecil yang berdekatan dengan lapak buah kami. Walaupun sebenarnya mereka melanggar hukum karena berjualan di pinggir jalan, sepertinya tidak ada petugas yang menegur. Jadi, itu menjadi masalah bagi pedagang seperti kami yang membayar retribusi di tempat yang disediakan, Pasar Legi Mojosari.

Secara ajaib pedagang-pedagang di pinggir jalan tersebut menjual jeruk bali lebih murah daripada harga kami. Rasanya cukup menyakitkan. Padahal juragan jeruk kami sama. Namun strategi pemasaran mereka berbeda dengan kami. Mereka hanya mengambil untung lebih sedikit dari seharusnya. Dan tentu saja, kami kalah bersaing.

Apa yang Kami Lakukan

Menurut pemikiran saya, tidak ada salahnya bersaing dengan pedagang-pedagang tersebut. Kami pun mampu menjual dengan harga yang sama. Tapi ide saya ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tua saya. Nasihat kedua orang tua saya adalah kalau berdagang itu harus mengambil untung yang masuk akal. Jika tidak begitu, maka tidak akan bertahan lama.

Daripada memikirkan pedagang lain, kedua orang tua saya kemudian berfokus menjual jeruk bali besar yang harganya lebih mahal. Memilih menjual produk yang tidak dijual kebanyakkan pedagang. Kami tidak lagi bersaing pada produk jeruk bali kecil. Dan itulah pertama kali saya menyadari bahwa menghindari persaingan yang tidak perlu benar-benar bisa berhasil.

Kami berhasil menjual ratusan kilo jeruk bali besar. Sementara pedagang di pinggir-pinggir jalan “bersaing harga murah”satu sama lain. Dan benar saja, sepertinya karena untung yang didapat terlalu sedikit, mereka tidak bertahan lama. Tahun ini mereka tidak ada. Dan kami dengan tenang mampu meningkatkan penjualan untuk jeruk bali kecil juga.

Catatan : Dilain waktu kami bersaing dengan normal. Lihat studi kasus ini jika Anda ingin tahu bagaimana kami memenangkan persaingan meskipun kami menjual dengan harga yang lebih mahal.

2. Merasa Tidak Dihargai

Tahu apa keinginan terbesar konsumen? Itu adalah mendapatkan produk berkualitas dengan harga miring.

Tapi hal semacam itu jarang sekali terjadi. Jika ingin produk yang bagus, maka Anda harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Itu lebih realistis. Sayangnya tidak semua konsumen berpikir realistis. Dan mereka berpikir kami menjual dengan harga yang mahal.

Tapi jujur saja, itu bukan sekedar keinginan konsumen. Kami sebagai pedagang pun menginginkan hal sama. Karena jika ada produk bagus dan harganya murah, tentu penjualan juga akan terus meningkat. Oleh karena itu, banyak usaha yang kami lakukan untuk menekan harga agar bisa terjual dengan harga semurah mungkin.
Mulai dari bernegosiasi dengan para juragan, memilih tas kresek berkualitas yang lebih murah, berhemat dalam pengiriman barang, berebut dagangan dengan pedagang lain di juragan buah, sampai mengambil untung lebih sedikit dari seharusnya. Itu kami lakukan untuk konsumen. Karena kami menyadari batas daya beli masyarakat di sekitar Mojosari.

Yang menyakitkan adalah ketika kami sudah berusaha untuk menekan harga, dan sudah termasuk murah, namun ada orang yang menawar jauh dari harga yang kami bandrol. Jika suatu hari Anda memutuskan untuk menjadi pedagang, Anda pasti akan memahami apa yang saya maksudkan.

Apa yang Kami Lakukan

Sebenarnya saya tidak merasa “sakit” dalam hal ini, tapi jengkel. Saya sudah terbiasa. Dan biasanya saya tetap sopan mengatakan bahwa saya tidak setuju dengan penawaran orang tersebut.

Tapi tidak dengan Bapak saya. Beberapa kali Bapak saya bisa mengomel jika terjadi hal yang demikian. Bahkan pernah juga marah-marah kepada calon pembeli karena merasa tidak dihargai. Dengan begitu mungkin semua orang akan tahu bagaimana menawar harga dengan harga yang wajar. Walaupun ada resiko mereka kapok berbelanja di lapak buah kami, tapi tidak mengapa. Lagipula kami memang tidak bisa memberi harga yang terlalu rendah dari harga sebenarnya.

3. Orang-Orang Mengatakan Hal-Hal Negatif

Ujian pertama paling berat yang saya hadapi adalah ketika orang-orang mengatakan bahwa saya terlalu pelit dan tidak pernah memberi diskon. Kata mereka, saya berbeda dengan Bapak ketika melayani mereka. Bapak biasanya selalu memberi diskon. Sementara saya tidak. Dan rumor ini kemudian terus berkembang sampai beberapa waktu.

Padahal itu tidak benar. Saya juga memberi diskon. Hanya kepada mereka yang mampu berlaku sopan dan membeli dalam jumlah yang banyak. Itu yang saya pelajari ketika melihat Bapak berjualan. Jadi, tidak ada sesuatu yang salah.

Terkadang saya juga sering merasa ada orang yang tidak jadi membeli karena saya yang melayani. Saya kadang merasa bersalah. Juga menyakitkan sih. Mengapa orang mengatakan hal yang tidak saya lakukan? Saya belajar dari Bapak saya. Dan saya melakukan semuanya dengan benar. Semua yang saya lakukan adalah intruksi dari Bapak saya. Jadi, saya tetap keras kepala dengan sikap tersebut.

Pernah saya konfirmasikan kepada Bapak saya tentang harga buah-buahan yang ada. Dan saya tidak melakukan kesalahan apapun. Saya juga sering memperhatikan Bapak ketika melayani pembeli. Juga tidak ada diskon untuk pelanggan yang membeli sedikit produk. Akhirnya saya tahu, sebagian orang memang mengatakan hal yang tidak benar tentang saya. Dan anehnya gosipnya terus menyebar.

Apa yang Saya Lakukan

Tidak ada. Memang apa yang harus saya lakukan? Mengikuti permintaan mereka dengan memberi diskon? Tapi itu tidak akan terjadi. Selama ini sistem penjualan yang diterapkan oleh orang tua saya sangat bagus. Selalu harga pas. Pengecualian hanya berlaku jika pembeli adalah pelanggan yang sudah lama, membeli produk dalam jumlah banyak, sesama penjual di pasar, dan orang-orang yang dikenal seperti guru sekolah saya dan adik-adik, tetangga, dan rekan kerja. Selain itu, tidak ada potongan harga.

Biarlah gosip hilang dengan sendirinya. Selama ini penjualan masih stabil ketika saya yang jaga. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kecuali jika ada penurunan yang signifikan, tentu saya harus mengatur strategi untuk menghilangkan gosip tersebut. Sesekali memberi diskon juga tidak apa-apa. Tapi selama ini sistem penjualan sudah berjalan dengan sangat baik. Dan sepertinya tidak akan berubah dalam jangka waktu yang lama.

4. Salah Memasok Barang Dagangan

Kami memiliki juragan yang tetap. Sebelum barang dikirim, biasanya komunikasi dilakukan melalui telepon. Dan terkadang, ada kesalahpahaman. Kadang salah harga. Tapi yang paling menyakitkan adalah barang tidak sesuai dengan pesanan.

Karena sudah terlanjur membeli, ibu biasanya merasa tidak enak. Dan membiarkan hal semacam ini terjadi begitu saja. Biasanya produk yang berkualitas lebih rendah dibanding dengan yang kami pesan selalu dijual dengan harga murah. Bukannya tidak mau mengambil untung lebih seperti kata Bapak saya di poin pertama, hanya saja itu satu-satunya pilihan untuk menghindari kerugian.

Apa yang Kami Lakukan

Pengalaman menyakitkan karena produk tidak sesuai dengan deskripsi ketika melakukan persetujuan atau transaksi membuat kami lebih hati-hati lagi dalam memasok barang. Dan kami sudah jarang melakukannya lagi. Biasanya ibu selalu datang ke tempat juragan untuk memastikan bahwa produk termasuk berkualitas. Meskipun terlihat merepotkan, ini satu-satunya cara terbaik untuk memastikan kami memasok produk yang tepat.

Pengecualian tetap ada. Ada juragan yang melayani dengan memuaskan. Kualitas produk sesuai dengan yang dikatakan melalui telepon. Dan ibu biasanya tidak perlu mengecek ke lapak juragan. Kami tinggal menyuruh tukang becak untuk mengakutnya ke lapak buah kami. juragan yang baik ini benar-benar melakukan tugasnya dengan baik. Kami puas dengan pelayanan. Sepertinya kami akan terus bekerja sama dengan juragan semacam itu dalam jangka waktu yang lama.

5. Rencana Tidak Berjalan dengan Baik

Tidak peduli sebagus apapun Anda berencana, terkadang semua tidak berjalan dengan baik. Akan ada faktor yang menyebabkan semua rencana tinggal rencana. Berantakan.

Seperti saat idul fitri tahun ini. Biasanya kami mampu mendapatkan keuntungan bersih lebih dari Rp 5.000.000,00 dalam sehari pada hari raya idul fitri. Tapi rencana kami sedikit berantakan. Harga buah melonjak tinggi sehingga kami tidak bisa mengambil banyak keuntungan. Belum lagi stok yang kosong di juragan buah. Secara terpaksa kami memasok produk kualitas nomor dua.

Walaupun semua produk laku keras, tapi untungnya tidak seperti hari idul fitri sebelumnya. Juga kepuasan konsumen pun membuat was-was. Takut mereka kecewa. Karena kami benar-benar tidak terbiasa menjual produk kualitas nomor dua saat idul fitri. Untungnya tidak ada keluhan yang berarti. Paling-paling konsumen mengeluh bahwa harga buah pada idul fitri cukup mahal. Soal itu, kami pun tidak bisa berbuat apa-apa.

Berawal dari pengalaman menyakitkan tersebut, saya mencatat beberapa hal yang perlu dilakukan pada idul fitri tahun depan. Perbanyak persediaan sebelum hari H, jangan menjual pepaya, pastikan ada stok buah berkualitas di juragan besar, dan jangan takut untuk menjual dengan harga mahal.

Apa yang Kami Lakukan

Sebenarnya ini bukan pertama kali kami berencana dan gagal. Dalam kegiatan jual beli sehari-hari pun terkadang rencana kami tidak berjalan sesuai rencana. Saya biasanya mencatat semua kegagalan yang kami alami.

Lalu, saya terkadang memberi saran kepada Ibu dan Bapak tentang buah apa yang harus kami sediakan. Semua pengalaman menyakitkan akan membuat kami semakin kuat. Mengetahui lebih jauh tentang bisnis yang kami kelola sehingga kegagalan menjalankan rencana yang tersusun rapi bisa dihindari di masa depan.

Jika Anda ingin bisnis berkembang, terkadang Anda harus mengalami kegagalan. Dan dari kegagalan itulah Anda akan lebih memahami bagaimana membuat bisnis Anda menjadi lebih baik lagi.

6. Bermasalah dengan Hujan

Saya membenci hujan karena membuat pasar sepi. Jika musim hujan, maka bisa dipastikan penjualan akan menurun. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi masalah bagi semua pedagang. Dan kami harus berhati-hati ketika mengambil keputusan dalam berdagang.

Jika hujan turun deras seharian, maka tidak ada penjualan. Apalagi jika 3 hari berturut-turut hujan, buah-buahan menjadi busuk. Kami mengalami kerugian.
Masalahnya hujan bukanlah faktor yang bisa kita kendalikan. Turun begitu saja. Seperti tahun ini. Seharusnya bulan agustus sudah masuk musim panas dan saatnya untuk menghasilkan uang lebih banyak. Namun cuaca sulit ditebak. Sampai tanggal 5 agustus 2016, Mojosari masih hujan.

Biasanya saya sudah menyisihkan uang ketika musim panas sehingga mampu bertahan di musim hujan. Begitu pula dengan kedua orang tua saya. Cuma orang tua saya tidak menabung, mereka berinvestasi dengan membeli tanah. Jika diperlukan, mereka akan menjual tanah yang mereka beli.

Apa yang Kami Lakukan

Setelah bertahun-tahun berdagang, kami tentu telah memahami bagaimana cara terbaik bertahan dan menghasilkan uang di musim hujan. Salah satunya adalah dengan mengurangi stok barang persediaan. Juga lebih memilihberfokus memasok buah-buahan yang laku di musim hujan seperti salak, pepaya, dan buah naga.

Kami juga sudah buka selama hampir 19 jam. Biasanya sih jarang hujan turun selama 24 jam. Jadi di sela-sela waktu tidak turun hujan, kami masih melayani pelanggan. Satu-satunya masalah adalah jika ada yang sakit (saya, Ibu, atau Bapak). Jika benar-benar terjadi, maka salah satu diantara kami bisa lembur mengantikan yang sakit agar penjualan tetap menguntungkan.

7. Semua Pedagang Pasti Pernah Rugi

Punya produk berkualitas, harga bersaing, rencana yang matang, daya beli masyarakat meningkat, tapi Anda masih merugi. Pasti rasanya menyakitkan.
Semua pedagang pasti pernah mengalami kerugian. Karena jika tidak, pasti ia pedagang yang jenius. Dan itu sudah biasa dalam dunia bisnis. Jika Anda takut rugi, maka jangan berdagang.

Kami telah berpengalaman lebih dari 15 tahun menyediakan buah-buahan di pasar legi Mojosari. Namun kami tetap mengalami kerugian. Tidak banyak, masih dalam skala normal. Biasanya kerugian tersebut mampu ditutupi oleh penjualan produk lain sehingga kami tetap untung. Jadi, sangat penting untuk menjual berbagai buah di lapak kami. Agar ketika salah satu produk tidak laku dan membuat rugi, kami tidak terlalu pusing.

Tapi jujur saja, banyak calon pedagang yang terlalu takut rugi. Mereka terlalu banyak berpikir tanpa melakukan action. Dan selama itu pula mereka terus bermimpi tanpa melakukan apapun.

Kerugian memang menyakitkan. Tapi lama-kelamaan Anda akan terbiasa. Melalui pengalaman rugi itulah Anda akan belajar menjadi pribadi yang bijaksana dalam menentukan strategi pemasaran di kemudian hari. Tidak ada yang sia-sia.

Apa yang Kami Lakukan

Meskipun sudah sering mengalami kerugian, tapi rasanya tetap saja sedih. Ketika rugi, saya mulai menyadari bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Dan saya sedikit religius dalam hal ini.

Bagi saya (seringnya hanya pas rugi) saya mengingat Tuhan. Karena beberapa kejadian benar-benar aneh. Walaupun kami sudah berencana dengan baik, memiliki produk yang lebih baik dari pesaing, tapi kami tidak bisa lepas dari kerugian. Takdir Tuhan. Tuhanlah yang memberi rejeki.

Tugas saya sebagai manusia hanyalah berusaha sekuat tenaga. Kemudian pasrah dengan hasil yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Setidaknya dengan cara semacam itu kita bisa lebih bersyukur ketika penjualan sedang ramai. Karena kita mengalami kesedihan ketika rugi, maka rasanya akan menyenangkan ketika mendapatkan untung berlebih. Sederhana bukan?

Kesimpulan

Sebenarnya dengan mengalami hal-hal menyakitkan akan membuat wawasan kita menjadi lebih luas. Juga menjadi pribadi yang lebih hati-hati ketika berdagang atau berbisnis. Jangan karena mengalami hal buruk diatas lantas menyerah begitu saja. Asalkan tekun dan bekerja keras, pasti hasilnya akan memuaskan.

Bagi Anda yang mau menjadi pedagang, saya rasa Anda pun hampir pasti mengalami hal-hal menyakitkan diatas. Jika hal itu terjadi, ingatlah, Anda tidak sendirian. Permainannya adalah siapa yang mampu belajar dari pengalamanlah yang akan memenangkan persaingan.

Lalu, apa Anda juga punya pengalaman menyakitkan ketika sedang menjalankan bisnis? Apa yang Anda lakukan? Pasti akan menyenangkan membaca pengalaman Anda di kotak komentar. Jangan ragu untuk berbagi dan berkomentar ya….

Iklan

17 tanggapan untuk “7 Hal Menyakitkan yang Hampir Pasti Dialami Semua Pedagang

  1. Dari pengalamanku jualan bakso, hal paling sedih adalah ketika orang menghakimi kalau dagangan kita 11-12 sama punya orang lain. Kebanyakan bakso itu pakai vetsin dan punyaku nggak. Tapi terobati rasa sedihnya kalau mereka nyicip dan terus ketagihan. Makanya kadang aku bawa tester biar mereka tahu rasanya dan kemudian memutuskan untuk beli apa nggak.

    Hal lain yang suka bikin sedih adalah harga daging yang kadang gila2an. Untungnya aku pakai daging impor beku. Jadi pas promo bisa nyetok daging bagus dengan harga murah di freezer. Lumayan lah buat beberapa kali produksi

    Suka

  2. Ibu saya juga seorang pedagang, biasanya kalo barang yg di antar tidak sesuai pesanan langsung di kembalikan saat itu juga/ bisa beberapa hari saat sang distributor datang bersama nota tagihannya 🙂

    Suka

      1. Iya. Biasanya gitu.Kadang buahnya terlalu kecil. Kan belinya satu keranjang. Kita juga gak bisa nyalahin pedagang besar soalnya kan udah dari sononya setelannya kecil2.

        Suka

  3. Seperti yang sekarang saya alami, pelanggan saya ada yang pindah dan benar terasa menyakitkan. Hehe.. saya jualan pisang di pasar. Benar sekali kegagalan menjadikan kekuatan untuk lebih berkembang, dan saya harus semangat lagi.. terimakasih sudah berbagi ilmunya 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s