Kebijaksanaan Memberi Kepada Pengemis

Saya tidak tahu bagaimana memulai postingan ini karena ini bersangkutan dengan banyak pemikiran saya di masa lalu. Dulu, mungkin juga sampai sekarang, orang-orang banyak yang mencari bagaimana bijaksananya menghadapi pengemis di zaman yang serba aneh ini?

Seperti yang banyak diberitakan media bahwa zaman sekarang banyak pengemis “jadi-jadian”, pengemis yang notabenenya memiliki kekayaan yang wow. Apakah layak kita mengasihani mereka? Bagaimana membedakan pengemis “jadi-jadian” dan pengemis yang benar-benar membutuhkan sehingga uang yang kita berikan bisa tepat sasaran?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut dan pertanyaan lainnya, saya akan bercerita sedikit mengenai “kebijaksanaan” saya untuk memberi pada pengemis ditengah “kisruh” yang melanda masyarakat “mau memberi atau tidak” karena banyak pengemis yang kaya raya.

Sebenarnya sih ini tidak bisa dibilang “kebijaksanaan”. Hanya pemikiran dangkal saja. Bahkan sebagian besar hanya masalah perasaan saya yang sensitif saja. Baiklah, ini adalah hasil pemikiran saya mengapa saya harus memberi pada pengemis :

1. Karena Saya Pernah Mengemis

Saya tahu pikiran Anda, mungkin Anda sedikit tidak percaya jika saya mengatakan bahwa saya pernah mengemis. Tapi kenyataannya memang seperti itu.

Di tahun 1998, terjadi krisis moneter. Bapak saya yang waktu itu memiliki pekerjaan sebagai tukang kredit mengalami kebangkrutan. Menurut cerita beliau, orang-orang yang kredit barang tidak mau membayar angsuran. Mereka lari dari tanggung jawab sehingga bapak saya terpaksa gulung tikar. Keadaan waktu itu benar-benar memprihatinkan.

Dulu, rumah kami cuma rumah yang terbuat dari bambu. Itupun rumah sewaan. Saat itu saya sudah menjadi kakak dari dua adik sehingga kebutuhan kami pun banyak yang serba kekurangan. Untuk makan sehari-hari saja tidak cukup. Untunglah kami tinggal di kampung yang dipenuhi orang-orang baik. Biasanya mereka memberi saya berbagai kebutuhan sehari-hari seperti baju bekas, sembako, dan uang.

Sejak kecil saya suka disuruh-suruh orang untuk menyapu halaman, memanen buah-buahan, dan banyak pekerjaan lainnya. Orang-orang selalu berkata “kalau butuh apa-apa minta saja, jangan mencuri” dan bodohnya, waktu kecil saya benar-benar minta ini itu sama mereka he he he. Namanya anak kecil ya kan? Dan di waktu itu, ibu saya merasa malu kalau harus meminta-minta (dilain hari akan saya ceritakan nasib malang ibu saya). Jadi ibu ya nyuruh saya buat minta-minta ke warga dengan ganti disuruh-suruh gitu lah ( di lain waktu akan saya ceritakan lebih lengkap masa kecil saya).

Nah…. Pernah dengar hukum karma nggak? Setiap kali saya melihat pengemis kecil, saya ingat masa kecil saya. Sebagai wujud rasa syukur, saya selalu memberi mereka. Perasaan saya selalu senang dan terharu. Mungkin ini adalah perasaan penduduk desa yang dulu sering menolong saya. Oleh karena itu, saya selalu memberi pada pengemis-pengemis kecil.

2. Karena Pengemis Suka Mendo’akan Banyak Kebaikan Untuk Saya

Mungkin ini juga alasan yang tidak bisa dipahami kebanyakan orang. Orang-Orang lebih suka berkata “apa do’a mereka dikabulkan?”.

Saya tidak pernah mau tahu apakah do’a para pengemis ini dikabulkan oleh Tuhan atau tidak. Tapi sebagai orang yang mempercayai keberadaan Tuhan, saya percaya bahwa do’a-do’a dari pengemis ini akan dikabulkan.

Sepertinya uang Rp 1.000,00 atau Rp 2.000,00 terlalu sedikit untuk banyak do’a mereka. Sampai postingan ini ditulis saya merasa pemberian saya terlalu sedikit. Jika dikemudian hari saya menjadi orang kaya, maka hal pertama yang akan saya pikirkan adalah bagaimana membuat para pengemis ini sejahtera. Saya berjanji saudara-saudara he he he #NgarepJadiOrangKaya.

3. Agar Saya Tidak Mencintai Harta Saya Terlalu Berlebihan

Saya sudah bersepakat dengan diri sendiri bahwa kebijaksanaan lebih utama dibanding dengan kekayaan. Itu tanggung jawab yang besar dan saya akan mulai belajar memperlakukan harta saya dengan bijaksana.

Ada sedikit perumpamaan yang pernah saya baca, kurang lebih seperti ini:

Apakah Anda butuh udara? Apa yang akan terjadi seandainya Anda hanya menghirup tanpa mengeluarkannya? Bisa mati dong.

Apakah Anda butuh makanan? Apa yang terjadi seandainya Anda tidak mengeluarkannya (BAB)? Pasti sakit perut.

Apakah Anda butuh harta dan kekayaan? Apa yang terjadi seandainya Anda tidak mengeluarkannya untuk berbuat kebajikan? Terlalu mencintai harta.

Ya. Saya tidak mau mencintai harta terlalu berlebihan. Jadi, jika dipikir secara untung-rugi, sayalah yang membutuhkan pengemis. Saya butuh mereka untuk belajar berbagi secara ikhlas.

4. Ingin Tahu Kisah Mereka

Rasanya pasti janggal jika saya langsung bertanya “apa yang menyebabkan Anda menjadi pengemis?”. Kurang sopan kan?

Sebenarnya setiap orang punya kisah dan saya selalu suka untuk mendengar cerita-cerita orang lain sebagai bentuk mematangkan kebijaksanaan yang saya miliki. Saya ingin mendapat nasihat dari nenek-nenek dan kakek-kakek pengemis tentang bagaimana menjalani hidup yang baik dan benar. Meskipun mereka pengemis, saya yakin mereka punya banyak pengalaman tentang hidup.

Itu mengapa saya selalu memberi pengemis. Agar saya dan pengemis itu tidak saling sungkan sehingga suatu hari nanti saya tahu dengan pasti apa yang membuat mereka jadi pengemis.

Dan masih banyak alasan lainnya yang tidak ingin saya publikasikan ( buat bahan nulis lain waktu).

Pertanyaan yang sering muncul:

1. Bagaimana membedakan pengemis “jadi-jadian” dan pengemis yang benar-benar membutuhkan?

Jawab: saya mengasihani pengemis asli karena kemiskinan dan ketidakmampuannya. Sedangkan jika pengemis “jadi-jadian”, saya mengasihani kebodohannya. Jadi, tak jadi masalah apakah dihadapan saya pengemis asli atau pengemis “jadi-jadian”.

2. Pengemis yang kaya bagaimana?

Jawab: Saya tetap memberinya karena ia minta dikasihani. Lagipula tidak ada yang tahu kekayaannya akan jadi berkah atau bencana baginya. Jadi orang jangan suka menilai.

NB: maaf ya gadis, jawabannya nggak memuaskan. Soalnya buanyak sekali idenya. Sayang nggak bisa nulisnya. Harus satu per satu kayaknya.

Anda boleh tidak memberi pada pengemis, tapi jangan menghasud orang lain untuk tidak memberi sedekah pada pengemis.

Ditulis dengan wordpress untuk android

19 thoughts on “Kebijaksanaan Memberi Kepada Pengemis

  1. serba salah ya soal pengemis beneran sama pengemis jadi-jadian. tapi yasut dengarkan perasaan aja kali ya. kalau ada pilihan lebih baik mesti gak ada yang dengan senang hati mau hidup dari mengemis.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Saya sependapat dgn Mas Shiq4. Kalo mo ngasih atau mo bantuin org ya kasih aja (bantuin) aja dengan ikhlas mengharap ridha Allah, ngga usah banyak mikir apa kita dibohingin apa engga. Duluuu saya sering merasa dibodohi sama bbrp orang, krn sifat saya yg gampang dimintai tolong. Lalu ibu saya bilang, kl kamu yakin ya ikhlaskan. Karena semua kebaikan yg kamu lakukan sebetulnya akan kembali lagi pada diri kamu sendiri. Saya bisa membuktikan kata2 ibu saya setelah bertahun2 berikutnya. “Barang siapa memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yg kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.” (H.R. Muslim)

    Suka

    1. Ha ha ha yang sabar bu. Sebenarnya saya tahu kalau ada beberapa pengemis yang bohong, nipu minta sumbangan yayasan dan sebagiannya. Tapi tetep saya kasih biar nggak iri sama pengemis yang asli 🙂

      Disukai oleh 1 orang

  3. Bingung sih bedainnya yg asli sm yg jadi-jadian..
    Tapi kadang suka kesel Mas Shiq4..begitu kita ngasih duit, taunya dia langsung beli rokok. Saya pernah kejadian begini. Tapi toh hasil pemberian kita udah jadi hak dia ya mau digunakan buat apa, dan udh jadi urusan dia sm Tuhan ya kalau emang disalahgunakan..

    Suka

  4. ketika baru tinggal dibdg,ada seorg nenek yg sering mangkal dkt kmpus gue utk mengemis awalnya gue suka ngasih uang atau makanan ke nenek itu tapi suatu hari hasil uang yg didpt dri mengemis beliau belikan rokok.. sumpah gue jdi ilfeel bnget, semenjak itu gue mles utk ngasih ke pengemis

    Suka

  5. Kita tidak mungkin tahu apakah pengemis yang kita beri sedekah memang betul pengemis atau tidak. Namun selama niat kita memberi itu tulus, maka apa pun yang kita beri, pada siapa pun, pasti akan menjadi berkah. Dan semua yang diterima oleh pengemis jadi-jadian itu, tidak akan jadi berkah. Mungkin kita tak tahu tapi Tuhan akan tahu, dan Tuhan tidak tidur, jadi Ia pasti memberi ganjaran. Kita cuma perlu percaya.

    Suka

  6. Aku lebih sreg nya ngasih ke bapak/ibu yang udah renta tapi jualan atau mulung. Ke pengemis atau pengamen kadang suka gak percaya, apalagi pas tau kalau gak dikasih malah marah. Jadi bingung hehe. Tapi aku masih percaya sih gak semua pengemis gitu.

    Anyway, ditunggu cerita masa kecil dan ibu nya ya. Aku tertarik buat baca 🙂

    Disukai oleh 2 orang

  7. Ada yg pernah bilang, “jelilah melihat pengemis”
    Klo masih muda, tak cacat sedikitpun tp mengemis itu sih manja namanya. Mendingan ngamen aja lah.
    Yg kasian itu yg udah pda tuaa 🙂
    Kadang bertanya2, “dimana anak cucu mereka? Kok tega biarin org tuanya kek gini?”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s