Sebuah Cinta di Pulau Tak Berpenghuni (3)

Pasangan romantis di pulau tak berpenghuni

Sumber gambar : cermati.com

Bagian satu klik disini.

Bagian dua klik disini

Thomas segera menemukan sungai yang dimaksud Vina. Tentu saja tidak ada kesulitan sedikit pun karena ia sudah tahu letaknya sebelum vina memberitahunya. Thomas pergi ke tempat dimana ia secara tidak sengaja melihat Vina mandi beberapa waktu lalu. Dan benar saja, tidak jauh dari situ, terdapat jalan menuju ke bawah, ke sungai.

Ia tidak segera mandi. Bayangan tubuh indah Vina terus terbayang. Thomas duduk di tepi sungai dengan sebagian kaki tenggelam di aliran sungai. Ia melamun untuk beberapa saat. Bagaimana pun juga, ini adalah pertama kali baginya melihat tubuh perempuan tanpa sehelai benang pun dan secara alami tiba-tiba ia tertarik secara seksual kepada Vina. Rasanya cukup menyiksa.

“Sial. Mengapa aku harus melihatnya mandi. Kalau saja aku tidak mencarinya dan bersabar, mungkin aku tidak akan seperti ini dan semua akan baik-baik saja” gerutu Thomas.

Tapi ia segera mendapatkan ketenangannya kembali. Bayangan tubuh telanjang Vina perlahan menghilang. Thomas segera melepas pakaiannya, kemudian berendam di tepian sungai yang alirannya tidak terlalu deras. Ia menikmati mandi pagi itu dan berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Setidaknya ia merasa normal sebagai pria.

Setelah 20 menit berendam dan membersihkan diri, Thomas mengenakan kembali pakaiannya. Ia merasa segar. Dengan santai ia meninggalkan sungai tersebut dan kembali ke pepohonan kelapa. Walaupun kemungkinan kecil, tapi Thomas memiliki sedikit harapan bahwa ketika ia kembali ke tempat semula, akan ada Vina dan tim penyelamat. Harapan konyol. Dan Thomas tersenyum sendiri dengan rasa optimis yang barusan mencuat di hatinya.

Tapi kenyataan terlalu pahit. Hanya ada Vina di bawah pepohonan kelapa. Tidak ada tim penyelamat. Thomas melangkah mendekat tak terusik sedikit pun. Meskipun tidak ada tim penyelamat saat ini, beberapa hari ke depan mereka pasti akan menemukannya. Begitu pikiran Thomas memberi keyakinan pada diri sendiri.

Thomas segera menghampiri Vina yang duduk beralaskan sarung di tempat biasa. Vina tampak aneh. Thomas tidak tahu mengapa, hanya saja di depannya ada wanita yang tidak seperti Vina biasanya.

“Ada apa? Apa ada sesuatu yang salah?” Thomas menjadi orang pertama yang membuka percakapan untuk kesekian kalinya. Vina mendongak, menatap Thomas, namun ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

“Jangan khawatir. Tim penyelamat pasti segera datang” Baru saja Thomas mengatakan itu, ia kembali terangsang. Bayangan tubuh telanjang Vina kembali muncul. Thomas hanya bisa berpura-pura bersikap seperti biasa dan menahan diri untuk tidak melakukan hal yang memalukan.

“Bukan itu. Aku hanya merasa takut.” Vina berkata dengan lirih. Tidak seperti biasanya yang selalu berbicara dengan tegas.

Thomas tahu ada sesuatu yang berbeda dari perempuan di depannya. “Kau takut apa? Tidak terjadi sesuatu yang buruk kemarin. Meskipun kita terdampar, setidaknya kita masih punya persediaan makanan, kelapa untuk minum, dan kayu untuk membuat api di malam hari. Bersabarlah. Sebentar lagi tim penyelamat akan datang”. Thomas berusaha menghibur Vina.

“Jujur saja, Aku takut kepadamu. Tiba-tiba saja aku takut kalau kau….. ” Vina menghembuskan nafas panjang. Sedangkan Thomas masih terlalu kaget dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Apakah kau pernah merasa tertarik secara seksual kepadaku, Thomas?” Vina tampak ragu dengan kata-katanya sendiri.

Thomas terkesan dengan insting Vina yang menyadari kebenaran semacam itu. Namun harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui hal memalukan semacam itu. “Kau gila. Kita sudah bersama sepanjang hari, siang dan malam, dan tidak ada hal buruk yang kulakukan kepadamu. Bagaimana mungkin kau menanyakan hal memalukan semacam itu.” Thomas tidak mengakui kebenarannya.

“Tapi jika itu benar, mungkin saja seks adalah kesenangan terakhir yang bisa kita lakukan bersama sebelum kita mati. Aku tidak pernah melakukannya sepanjang hidupku dan mungkin rasanya akan menyenangkan. Tapi itu jika kau mau dengan sukarela. Dan jangan pernah berpikir bahwa aku akan memperkosamu. Mengerti” Thomas bersuara dengan keras. Ia berakting seolah-olah kesal dengan pertanyaan Vina dan mengatakan setengah kebenaran yang ada di pikiran.

“Kalau begitu syukurlah. Tapi akan lebih baik jika kau berikan pisau yang kau bawa kepadaku.” Kali ini Vina tampak tegas.

“Ya Tuhan… Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Apa kata-kataku tidak cukup untuk meyakinkanmu bahwa tidak akan terjadi apa-apa?”

“Aku hanya berjaga-jaga. Siapa tahu kau tidak bisa mengendalikan dirimu dan mulai berpikir untuk tidur denganku. Apalagi kau memiliki pisau. Terkadang kejahatan bisa terjadi karena ada kesempatan, bukan keinginan.” Untuk pertama kalinya Vina berkata panjang lebar dengan lelaki yang baru saja ia kenal. Dan Vina telah memikirkan semua perkataan tersebut jauh sebelum Thomas kembali dari mandinya.

“Kau sinting. Tapi jika itu bisa membuatmu senang, baiklah.” Thomas sebenarnya benar-benar kagum dengan wanita di depannya. Sayangnya ia tidak mungkin mengaku bahwa semua ucapan Vina itu benar adanya. Thomas berpura-pura marah dan melemparkan pisau hadiah dari temannya ke tanah di depan Vina. Kemudian Thomas beranjak pergi meninggalkan Vina.

“Mau kemana lagi kau?”

“Yang jelas tidak sedang merencanakan untuk menikmati tubuhmu.” Thomas masih berakting marah. Dan ingin segera pergi.

Namun sebelum ia terlalu jauh, Vina berdiri dan berlari kecil sejajar dengan Thomas. “Satu lagi, Aku peringatkan, jika kau macam-macam denganku, Aku bersumpah akan membunuhmu”

Thomas berhenti berjalan dan berbalik menghadap Vina “Terserah. Lakukan apa yang ingin kau lakukan dan aku akan melakukan apa yang kuinginkan. Dan jangan ikuti aku. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya sendiri.”

Vina sedikit merasa bersalah. Mungkin tuduhanya kepada Thomas keterlaluan. Tapi Vina juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mengatakan apa yang ia pikirkan dan mengambil langkah yang tepat. Vina menghentikan langkah dan kembali ke pepohonan kelapa. Ia berharap Thomas baik-baik saja dengan apa yang baru saja ia katakan dan tidak salah paham.

****************

Thomas masuk hutan lagi. Ia hanya berjalan tidak beraturan dan tanpa tujuan. Ia hanya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Vina. “Untung saja aku tidak cerita bahwa aku melihatnya mandi. Kalau tidak wanita itu pasti sudah membunuhku.” Thomas terkekeh dan merasa menang karena membohongi Vina. Tapi sungguh, Vina cukup berani dan cerdas mengatakan semua hal tersebut.

“Kalau saja ia tidak berbuat seperti itu, mungkin saja aku tidak akan bisa mengendalikan diriku sendiri saat berada di dekatnya dan benar-benar memperkosanya.” Pikir Thomas merasa beruntung bahwa Vina melakukan tindakan yang tepat. Thomas kemudian duduk diantara pepohonan, merasa lelah, dan memikirkan kata-kata yang tepat ketika ia kembali ke pepohonan dimana Vina berada.

Belum sempat ia berpikir, tiba-tiba ada 3 ekor ayam lewat tak jauh dari tempatnya duduk. Thomas segera bangkit. “Ini pasti hari keberuntunganku” gumamnya. Thomas segera mendekati salah satu ayam untuk menangkapnya. Namun sebelum jaraknya terlalu dekat, ayam-ayam tersebut berlari. Kemudian berhenti lagi, waspada seolah tahu bahwa mereka dalam bahaya.

Beberapa kali Thomas mendekati ayam-ayam tersebut, hal yang sama terjadi. Ayam itu selalu berlari sebelum Thomas berada jarak dimana ia bisa menangkap ayam-ayam itu. Kini dua ekor ayam lainnya sudah tidak terlihat. Ia berfokus melihat satu ayam yang tersisa. Tiba-tiba ia punya ide. Thomas mengambil beberapa batu di sekitarnya, mendekati ayam yang tampak waspada, kemudian melemparkan batu yang ia bawa.

Meleset. Ayam itu mampu menghindar. Tapi keberuntungan berada di pihak Thomas. Sebuah lemparan mengenai kepala ayam tersebut. Ayam itu tampak kesakitan. Tapi masih mampu berlari menjauh dari Thomas dan kemudian terduduk. Thomas mengira ayam itu sudah tidak punya tenaga, namun ketika ia mendekatinya, ayam itu kembali berdiri dan berlari menjauh lagi. Kesal, Thomas mengambil beberapa batu yang agak besar. Kemudian ia mendekati ayam yang sudah sekarat itu dan melempar dengan sekuat tenaga. Kena. Ayam mengelepar. Thomas segera menangkap ayam tersebut sebelum ayam itu berdiri lagi. Tertangkap.

Thomas memegang erat ayam yang terus meronta ingin lepas. Tapi Thomas memegang dengan kedua tangannya. Mustahil ayam itu mampu lepas. Sampai Thomas menemukan batu yang cukup besar. Thomas mengambilnya, meletakan ayam di tanah, dan memukul kepala ayam tersebut dengan batu terus menerus seolah melampiaskan kekesalannya. Ayam itu tidak lagi bergerak. Thomas terduduk, terengah-engah. Kemudian ia membawa ayam tersebut. Ia hanya perlu bersikap seperti biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Dan semua akan baik-baik saja.

Kalau pun bayangan telanjang tubuh Vina kembali hadir, ia tidak mungkin berani macam-macam karena sekarang Vina membawa pisau. Thomas pun berdiri, melihat matahari dan kembali ke pantai. Walaupun ia sudah agak terlalu jauh ke dalam hutan, Thomas dengan mudah menemukan jalan pulang.

************-****

Vina sendirian. Ia sudah memutuskan untuk meminta maaf kepada Thomas atas apa yang ia katakan dan akan mengembalikan pisau yang ia pegang. Benar kata Thomas, mereka selalu bersama semenjak terdampar di pulau ini dan selama itu pula Thomas tidak pernah macam-macam, bahkan Thomas selalu melakukan perintahnya. “Mungkin ini hanya pikiranku saja” gumam Vina.

Yang ditunggu akhirnya datang. Dari kejauhan Vina melihat Thomas membawa sesuatu. Anehnya, sepertinya Thomas sedang tersenyum.” Mungkin Thomas sudah tidak lagi marah seperti saat terakhir kami berbicara” batin Vina.

Thomas bersikap biasa menghampiri Vina. “Hari ini kita akan makan ayam. Aku berhasil menangkapnya.” Kata Thomas dengan senyuman yang kali ini tidak dibuat-buat.

Vina menyodorkan pisau. “Kukembalikan pisaumu. Maafkan aku. Ketakutanku tidak mendasar. Dan benar apa yang kau katakan, selama kau tidak pernah macam-macam”.

Kali ini Thomas yang bingung. Sebenarnya dirinyalah yang salah. Semua yang diucapkan Vina merupakan kebenaran. Hanya saja Thomas tidak mengakuinya sehingga Vina tidak tahu kebenaran ucapannya. “Tidak perlu. Kau saja yang membawanya. Daripada kau terus merasa takut kepadaku.” Kali Thomas bijaksana.

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas pengertianmu”.

Hari sudah menjelang sore. Mereka berdua kemudian menyiapkan kayu dan kemudian membakar ayam yang sudah ditangkap Thomas. Mereka hanya menusukan dua batang kayu yang cukup besar pada ayam tersebut, kemudian memanggangnya. Mereka membakar ayam tersebut bersama dengan bulu-bulunya. Dan sore itu, mereka berdua menikmati menu lain selain pisang. Siapa yang menyangka bahwa daging ayam yang terpanggang gosong terasa begitu nikmat. Mereka mengobrol sampai malam seperti hari pertama. Dan ketika malam sudah terlalu larut, Vina dan Thomas pun pergi tidur di tempat masing-masing seperti biasa.

*******

Malam itu cukup dingin. Suasananya tenang. Siapapun pasti bisa tidur dengan nyenyak di pantai tersebut meski tanpa bantal dan guling. Namun Vina merasa sesuatu yang aneh terjadi pada tidurnya. Dalam keadaan setengah sadar, ia baru tahu bahwa Thomas sedang menindih tubuhnya. Sebelum Vina benar-benar sadar, Thomas dengan cepat membuka paksa bajunya. Kancing-kancingnya pun lepas. Vina masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Thomas yang baru saja ngobrol asyik sepanjang malam benar-benar melakukannya. Thomas tidak mampu menahan dirinya sendiri.

Bahkan BH Vina pun sudah lepas. Payudaranya terasa dingin tersapu angin malam. Vina berusaha berontak, tapi Thomas lebih kuat darinya. Semua usahanya sia-sia. Vina hampir menangis, namun ia tidak punya waktu untuk menangis. Thomas tertawa-tawa meremas payudara Vina. Sementara itu Vina baru sadar bahwa ada pisau di punggungnya. Berpura-pura pasrah dan diam, tangan Vina meraih pisau yang ada dibalik punggungnya.

“Bagus. Diamlah. Dan mari kita bersenang-senang” Thomas tertawa lagi.

Vina tidak serius ketika berkata bahwa ia akan membunuh Thomas jika macam-macam. Tapi sepertinya ia benar-benar akan melakukannya. Dengan sekuat tenaga Vina langsung bangun dengan sekuat tenaga. Thomas yang kaget tersungkur di samping Vina. Dan Vina menghujamkan pisau yang ada ditangannya ke tubuh Thomas secara membabi buta.

“Ah…… Pergilah ke neraka ” Teriak Vina dengan kesetanan. (Bersambung….) 

Iklan

15 tanggapan untuk “Sebuah Cinta di Pulau Tak Berpenghuni (3)

  1. “Apakah kau pernah merasa tertarik secara seksual kepadaku, Thomas?” Vina tampak ragu dengan kata-katanya sendiri.

    Kampreeet ini kayak adegan buku-buku harlequin aja. Haha terus terang banget nanya-nya.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Belum pernah dengar sih buku itu. Nanti ku cari ah. Oh ya kalo mau buat kesan ragu, dialog nya dibikin gini aja.

    Apakah…apakah kau pernah merasa tertarik secara seksual padaku?”

    Suka

    1. Oke mas. Makasih ya. Untuk sementara saya tidak menghiraukan masukan dan referensi apapun untuk melihat kemampuan dasar menulis cerita saya. Tapi akan saya memakainya di cerpen atau cerbung selanjutnya.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s