Gadis “Teller” di Bank Mandiri

Gadis teller di bank mandiri

Sumber gambar: cogantstore.com

Aku sering ke bank Mandiri. Letak bank tersebut berdekatan dengan lapak buahku sehingga ibu selalu menitipkan uang untuk mentransfer uang ke adikku yang sedang kuliah atau deposit guna membeli saldo pulsa (karena jualan pulsa). Di bank inilah aku bertemu dengan gadis itu.

Gadis berkacamata yang menjadi teller di bank Mandiri depan pasar Legi Mojosari. Ngomong-Ngomong, dia manis. Aku pernah secara sengaja berlama-lama menikmati kemanisan wajahnya dengan mencuri-curi pandang. Tetapi aku sudah tidak melakukannya lagi atas nama kesopanan dan perilaku terpuji.

Namanya Riris Mei R.S. Jangan penasaran, aku bisa mengetahui namanya bukan karena aku punya indra ke-6 atau bertanya langsung, aku hanya melihat papan nama di meja tinggi tempat teller, kemudian memastikannya dengan nama yang tertempel di bagian kiri dadanya agar tidak salah.

Secara mengejutkan, suatu ketika ia memanggil namaku dengan benar. Aku heran dari mana ia tahu namaku. Setelah berpikir dengan keras sesaat, akhirnya aku ingat bahwa gadis itu pernah menanyakan namaku ketika aku pertama kali ke bank tersebut. Maklum, aku tipe orang yang memiliki daya ingat rendah dan mudah lupa.

Setelah kuperhatikan dalam beberapa kesempatan, ternyata gadis itu juga memanggil nama nasabah lainnya, bukan kepadaku saja. Jadi, aku terlalu besar kepala.

Setidaknya sekarang aku tahu bahwa pekerjaan teller itu cukup berat. Mengingat nama orang dan wajah pasti merepotkan. Namun gadis itu mampu melakukannya dengan sangat baik. Aku jadi penasaran bagaimana ia melakukannya. Setidaknya, dengan kemampuan seperti itu, jangan berutang ke gadis itu dan berharap ia lupa menagih di hari jatuh tempo!

Dia juga cukup cekatan bagai belut digetil ekor ketika bekerja. Aku pernah menyaksikan tiga antrian nasabah (termasuk diriku), kemudian gadis itu melayani semua pelanggan dengan waktu kurang dari 15 menit.

Tunggu dulu! kata “melayani semua pelanggan” cukup berbahaya bagi pembaca berpikiran kotor. Jadi, mari mengubahnya!

Ada tiga nasabah. Gadis teller berkacamata itu melakukan tugasnya dengan baik. Ia hanya membutuhkan waktu kurang dari 15 menit untuk menyelesaikan semua urusan nasabah (ini lebih aman).

Hal lainnya yang cukup lucu, adalah ketika melihat gadis itu seperti robot.

Kronologisnya seperti ini…. Setiap kali transaksi nasabah selesai, gadis itu pasti akan mengucapkan terima kasih. Mungkin standar operasional pelayanan bagi teller.

Karena aku sudah menyadari kekuatan ucapan terima kasih, aku selalu berusaha mengucapkannya jika mendapatkan bantuan dari orang lain sekalipun sebenarnya aku membayar atas apa yang mereka lakukan. Singkat cerita, aku mengucapkan terima kasih sebelum gadis itu mengatakan terima kasih kepadaku. Dan ia benar-benar seperti robot karena tetap mengatakan hal yang sama sekalipun aku yang berterima kasih terlebih dahulu.

Aku jadi mengingat diriku sendiri ketika berusaha meniru pelayanan Indomaret dalam melayani pembeli di lapak buahku. Ketika pertama melakukannya, terkadang mulutku selalu mengucapkan terima kasih sekalipun calon pembeli tidak jadi berbelanja atau sekadar bertanya. Melihat gadis teller seperti melihat diriku sendiri. Dan aku tertawa ketika mengingatnya.

Seharusnya, jika pelanggan mengucapkan terima kasih terlebih dahulu, maka jawaban yang muncul kemudian adalah terima kasih kembali (dalam kasusku, aku biasa menggunakan bahasa Jawa, sami-sami). Tetapi gadis itu tidak demikian dan tetap mengatakan seperti “terima kasih dan selamat siang” sekalipun aku yang pertama mengucapkan terima kasih sehingga kejadiannya terlihat lucu bagiku.

Ya… aku tidak tahu juga tentang manajemen bank dan bagaimana menjalankan standar operasional. Tetapi dulu aku kikuk dan berpikir keras untuk mengatasi masalah pelanggan yang mengucapkan terima kasih terlebih dahulu setelah transaksi.

Menulis pengalaman ini membuatku ingat dengan opini pengeblog lain berhubungan dengan penampilan fisik ketika melamar pekerjaan.

Pengeblog itu kontra jika ada lowongan yang mengikutsertakan penampilan fisik. Karena dalam bekerja, yang terpenting adalah kemampuan melaksanakan tugas. Ia menyebut di Indonesia masih diskriminatif karena di negara-negara maju tidak pernah mempermasalahkan penampilan fisik maupun usia pelamar pekerjaan.

Setelah bertemu gadis teller itu, aku jadi mengerti kenapa penampilan fisik ikut diperhitungkan. Karena hanya dengan melihat wajah cakap itu menyenangkan. Mungkin pihak manajemennya ingin memberi kenyamanan dan pengalaman menyenangkan untuk pelanggan.

Kalau mengambil negatifnya, langsung saja menyimpulkan bahwa orang Indonesia itu rata-rata memang jelalatan atau mata keranjang sehingga pihak manajemen berusaha memaksimalkan kepuasan pelanggannya.

Terima kasih sudah membaca dan semoga hari Anda menyenangkan.