Review Buku Di Kaki Bukit Cibalak By Ahmad Tohari

Review buku di kaki bukit cibalak Sumber gambar : catatanpunyatia.wordpress.com

Setelah mengalami kekecewaan akibat Born To Die, saya memilih-milih buku selanjutnya untuk dinikmati. Ini perkara sulit. Diantara ratusan buku yang tersedia, saya ingin mendapatkan buku yang bagus untuk menjaga konsistensi saya, setidaknya membaca sebuah buku dalam 10 hari.

Seharusnya saat itu saya membaca buku non-fiksi, namun karena pilihan-pilihan tersedia belum mampu membangkitkan minat baca, juga karena koleksi buku non-fiksi yang segelintir, maka saya memutuskan untuk kembali menamatkan buku fiksi.

Setelah berjuang membaca bagian awal beberapa buku, pilihan saya akhirnya jatuh pada karya Ahmad Tohari. Lagipula bukunya tipis, jadi bisa cepat selesai. Dan berikut adalah review buku Di Kaki Bukit Cibalak.

Judul : Di Kaki Bukit Cibalak

Penerbit : Unknown

Jumlah Halaman : 71 (Versi Ebook)

Catatan : Bagi Anda yang menginginkan Ebooknya, pastikan meninggalkan alamat email di kotak komentar.

Jalannya Cerita Di Kaki Bukit Cibalak

Ini merupakan kisah di kaki bukit Cibalak. Perlahan tapi pasti, Desa Tanggir telah berubah menjadi lebih modern. Tidak ada lagi kerbau-kerbau atau burung-burung. Yang ada adalah traktor, motor, dan masyarakat yang mulai mengenal kemajuan zaman.

Suatu ketika, saat Lurah meletakkan jabatan karena terbukti menjual sapi milik desa. Maka diadakan pemilihan Lurah baru. Di balai desalah pemilihan itu dilaksanakan. Meskipun seolah terjadi perang dingin antar warga, sepertinya semua sepaham untuk memilih lurah yang baik, lurah yang tidak menjual sapi desa, lurah yang tidak memungut iuran irigasi, dan tentu saja, lurah yang mau menutup-nutupi pekerjaan penduduk yang kegiatannya mencuri kayu angsana yang baru ditanam di tanah-tanah pemerintah.

Tapi ada satu harapan warga, kalau memungkinkan, seandainya bisa, maka lurah baru semestinya juga mengganti istri. Agar ada peluang anak-anak gadis mereka dipanggil Bu Lurah.

Dan harapan warga terkabul. Dari 5 calon lurah, pemenangnya adalah Pak Dirga yang luwes, pandai bermain bola, pandai berjudi, dan gemar berganti istri.

Pambudi kecewa dengan hasil pemilihan lurah. Apalagi sebulan kemudian Pak Dirga pun sama seperti lurah sebelumnya, berbuat curang dalam mengelola koperasi desa. Padalah cita-cita Pambudi adalah mengembangkan koperasi desa agar bermanfaat bagi semua warga Tanggir. Sayangnya, semua warga desa yang rata-rata keturunan para kawulo itu nrimo, tetap nrimo.

Sampai akhirnya Pak Dirga membagikan rencananya kepada Pambudi. Bukannya senang, Pambudi menolak rencana kecurangan Pak Dirga dan keesokan harinya ia tidak berangkat kerja karena tadi malam ia telah menulis surat pengunduran diri.

Pambudi akhirnya menolong Mbok Ralem setelah pengajuan pinjaman Mbok Ralem di tolak Pak Lurah kemarin. Pambudi merogoh kocek sendiri untuk membawa perempuan yang amat miskin itu berobat. Tapi naas, ternyata Mbok Ralem mengindap kanker dan butuh uang sekitar 500 ribu untuk operasi. (Kejadian terjadi di zaman dahulu kala).

Akhirnya Pambudi membayar iklan di koran yang meminta sumbangan buat Mbok Ralem. Dan untungnya semua berjalan seperti yang diharapkan : bantuannya lebih dari cukup. Dan sisanya diberikan kepada Mbok Ralem.

Tapi gara-gara ulah Pambudi yang memasukkan Mbok Ralem ke koran membuat Pak Dirga kena semprot Bupati karena dianggap lalai. Dan Pak Dirga menyalahkan Pambudi dan berniat jahat kepada Pambudi. Pak Dirga kemudian mengguna-gunai Pambudi.

Untungnya Pambudi selamat setelah menangkap orang yang memasang jimat. Tapi agar berjalan lancar, Pambudi akhirnya pergi dari desa, pura-pura guna-gunanya bekerja.

Pambudi akhirnya pergi ke Yogya dan tinggal bersama teman masa SMA-nya, Topo. Setelah berdiskusi dengan Topo, Pambudi akhirnya memutuskan untuk kuliah lagi. Ada jeda 7 bulan sehingga Pambudi bisa belajar pelajaran SMA lagi. Pambudi pun mengisi waktu di pagi hari menjadi kuli dan akhirnya menjadi penjaga toko untuk membiayai kehidupannya.

Ketika ujian semakin dekat, Pambudi memutuskan pulang kampung terlebih dahulu. Dan ternyata nama Pambudi sudah tercoreng karena difitnah bahwa ia menggelapkan uang 125.000,00 ketika masih bekerja di koperasi desa. Ulah Pak Dirga lainnya.

Tapi Pambudi bersikap mengalah dan membiarkan isu itu begitu saja. Ingat kata ayahnya ‘Berani mengalah luhur akhirnya’. Pada akhirnya Pambudi ditawari menjadi bagian dari Kalawarta, Koran dimana Pambudi menulis iklan untuk menolong Mbok Ralem waktu itu. Dan Pambudi kemudian berkembang menjadi tangan kanan Pak Barkah, pemilik harian Kalawarta.

Barulah kemudian Pambudi membalas perbuatan Pak Dirga. Ia menulis kolom yang mengkritik desa tanggir. Dan akhirnya, Pak Dirga pun diberhentikan sebagai lurah dengan cara yang dianggap benar oleh Pak Camat.

Kelebihan dan Kekurangan Bukit di Kaki Cibalak

Membaca buku ini membawa ingatan saya kepada Totto chan. Sekilas saya merasakan kenikmatan yang sama. Begitu sederhana dan membawa begitu banyak pelajaran hidup. Yang paling menonjol dari buku ini tentu sindiran mengenai nilai-nilai salah yang berkembang di masyarakat, terutama di daerah pedesaan.

Cerita di dalamnya pun sederhana dan mudah dinikmati. Istilahnya tidak neko-neko. Penulisnya membawakannya dengan elegan babak demi babak.

Sayangnya, saya cenderung menganggap novel ini sebagai sesuatu yang dikerjakan dengan tergesa-gesa dan belum selesai. Alurnya cepat dan tidak mendetail. Mungkin akan lebih cocok jika ini merupakan sebuah cerpen, tapi ini novel. Dan terlalu singkat.

Bagian buruk kedua, seperti yang sudah saya katakan di awal, banyak bagian yang tidak jelas di bagian akhir alias menggantung. Nasib Pambudi, Mulyani, atau Sanis, atau Lurah yang baru, dan sebagiannya yang belum selesai.

Nilai

Awalnya saya akan memberi nilai 80 untuk novel ini sejak awal. Namun pada bagian tengah, penulis terlihat tergesa-gesa dan melewati masa tiga tahun yang cepat. Tidak seperti di bagian awal yang terlihat bermain cantik seperti bagaimana Pambudi menyelesaikan masalah Mbok Ralem. Jadi, saya memberi nilai 74 untuk novel singkat ini.

Iklan

25 tanggapan untuk “Review Buku Di Kaki Bukit Cibalak By Ahmad Tohari

  1. Gan, maaf banget numpang tanya di kolom komentar
    Aduh, malu-maluin banget nih :v aku ada masalah sama akun wordpress aku yang kayaknya nggak bisa kutangani sendiri. Kalau boleh, bisa minta alamat e-mailnya Shiq4 nggak? mau tanya gimana caranya solving problem ini, kalau nggak bisa2 blog aku nggak dapat view sama sekali. Trims gan, dan maaf sebesar-besarnya.

    Suka

  2. Wih, Ahmad Tohari. Saya dulu pernah pinjam salah satu buku beliau di perpustakaan SMP. Saya lupa judulnya, tapi seingat saya ceritanya tentang tradisi-tradisi dan kebudayaan masa lalu.

    Saya sebenarnya tertarik tapi yang kemarin aja belum kebaca, lagi males baca buku.

    Suka

    1. Lain kali klo mau baca ahmad Tohari bisa email saya mas. Validnya punya 3 buku. Tapi kelihatannya masih banyak lagi karyanya cuma belum saya pilah_-pilah di folder download.

      Disukai oleh 1 orang

  3. Ahmad Tohari emang juara dalam cerita2 berlatar pedesaan. Tapi greget yang Orang-orang Proyek sama Ronggeng Dukuh Paruk sih. Hahaha, tetep. Secara paling suka sama buku itu.

    Suka

  4. Wah..Ahmad Tohari yg hadir di kotaku tiga minggu lalu, dan alhamdulillah saya sempat ikut kelas menulisnya. Ronggeng Dukuh Paruk adalah satu karyanya yg terkenal ya, tp sy belum pernah membacanya. kalau ada ebooknya boleh saya minta tolong diemailkan dengan yang ini sekalian mas shiq? di nursumiyarsih@gmail.com.
    Mf ya mas shiq dan makasih sebelumnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s