Review Buku Born To Die by Lisa Jackson

​Sumber gambar : bukukita.com

Adik ke-4 saya memiliki buku Born To Die. Ia mengatakan buku itu murah, seharga Rp 18.000,00. Padahal merupakan karangan dari New York Times Bestselling Author.

Usut punya usut, Ana mendapatkan buku tersebut di daerah sekitar stadion yang menjadi kandang klub sepak bola Mojokerto Putra. Saya sudah mendengar rumor tentang lapak buku itu, tapi tidak pernah menganggap serius informasi tersebut.

Kata Ana di sana juga ada buku-buku bekas murah. Betapa beruntungnya saya mendengar kabar ini. Langsung saja berpikir untuk menabung dan melihat-lihat jika ada waktu. Tapi membayangkannya saja membuat saya senang. Meski tumpukkan buku di rumah masih banyak, belum lagi jumlah ebook yang mencapai ratusan yang belum sempat dibaca, tetapi saya benar-benar ingin berbelanja buku-buku bekas.

Yang penting murah dan bisa dibaca. Itu saja. Tapi sebelum itu terjadi, saya ingin mencoba membaca buku Born To Die dulu. Kalau menurut saya bagus, maka saya pasti akan berbelanja buku di lapak tersebut.

Tidak usah berlama-lama, berikut adalah review buku Born To Die :

Judul : Born To Die
Penulis : Lisa Jackson
Penerjemah : Elliyanti Jacob Saleh
Penerbit : Dastan Book
Halaman : 496 Halaman

Jalannya Cerita Born To Die

Prolog,
Shelly Bonaventure mabuk ketika ia merayakan ulang tahunnya yang ke-35. Sendirian saja di Lizard, bar yang terletak dua blog dari rumahnya. Ia sakit ketika di rumah. Dan ia tidak dapat menemukan kucing peliharaannya.

Ketika sakitnya sudah sangat parah, Shelly tidak bisa berbuat apa-apa. Di saat bersamaan, pria yang ia temui di bar muncul melalui pintu belakang. Pria itu menelepon 911 dan memberikan ponsel kepada Shelly yang berbaring di tempat tidur. Tapi tiba-tiba Shelly melihat senyum iblis di mata pria itu.

Shelly berteriak-teriak kepada petugas 911, hanya saja suaranya tidak jelas. Shelly menangis. Dan pria itu mendekat sambil meletakkan botol kecil berisi pil di meja samping tempat tidur. Laki-Laki itulah penyebab kematiannya. Lelaki itu perlahan-lahan mendekat dan mulai melepas pakaian Shelly.
*******

Dr. Acacia Kacey Lambert memulai semuanya seperti biasanya. Ia pergi ke klinik dan mendapatkan pekerjaan yang tidak banyak berubah. Ia hanya tahu berita bahwa artis yang mirip dirinya, Shelly Bonaventure, meninggal karena overdosis.

Sementara itu di kepolian, Hayes mencoba mencerna kasus kematian Shelly Bonaventure. Ia tak habis pikir mengapa banyak kejanggalan seperti keadaan mayat telanjang hingga kamar mandi yang basah sementara rambut Shelly tidak basah sama sekali. Hayes mencoba mengorek keterangan pelayan bar Lizard dan menemukan fakta bahwa Shelly bersama lelaki misterius ketika minum-minum di Lizard beberapa jam sebelum bunuh diri.

Di tempat lain, di ruang rahasia, seorang pria memandang peta yang dipenuhi paku payung merah sebagai suatu tanda. Jumlahnya ada 37 buah. Pria itu melepaskan salah satu paku merah dan menggantinya dengan paku hitam. Dan menyisipkan gambar Shelly Bonaventure pada paku hitam. Sekarang ada total 7 paku hitam.

Pria itu meyakini bahwa masing-masing foto terlahir untuk mati sebelum waktunya. Dan merupakan misinya untuk membuat hal tersebut terjadi.
******

Korban selanjutnya adalah Jocelyn Wallis, wanita yang sudah bercerai sebanyak dua kali dan menjadi guru di sebuah SD. Ia dibunuh ketika sedang berlari di malam hari. Masuk jurang.

Kacey baru mengetahui bahwa ia tidak hanya mirip Shelly Bonnaventure, tetapi juga mirip dengan Jocelyn Wallis alias Miss Wallis. Ia diberitahu oleh Eli, anak lelaki yang tangannya terluka dan menjadi pasiennya.
Kacey akhirnya yakin ketika melihat Jocelyn dalam keadaan sekarat di rumah sakit. Mereka benar-benar mirip. Itulah mengapa beberapa orang terdekat menganggap bahwa Jocelyn adalah Kacey sampai Kacey muncul dalam keadaan baik-baik saja. Di rumah sakit inilah Kacey kembali bertemu Trace, ayah Eli.

Trace yang mengidentifikasi Jocelyn bersama dua detektif wanita. Entah masalah apa yang akan ia dapatkan di kemudian hari karena ia mengenal Jocelyn. Mereka pernah berkencan, tapi tidak dalam waktu lama. Detektif malah mencurigai terjadinya pembunuhan. Dan Trace merasa tidak nyaman dituduh secara tidak langsung oleh kedua detektif tersebut.

Pada akhirnya Trace menyadari bahwa selain kemiripan wajah, baik Shelly Bonaventure, Jocelyn, Kacey, dan Leanna lahir di tempat sama, Helena, Montana. Bagian paling kebetulan, Trace mengenal tiga diantaranya secara pribadi. Dua mati dalam waktu berdekatan, yang satu tidak diketahui, dan yang satu mulai ia sukai.

Sementara itu, Alvarez, detektif yang menangani kasus kematian Jocelyn yakin bahwa wanita itu dibunuh, bukan mati karena tergelicir dan jatuh ke jurang karena ia menemukan racun di dalam tubuhnya meskipun itu belum membuatnya mati keracunan. Ia menghubungi Hayes dan mengaitkan kematian Jocelyn dengan kematian Shelly masih berhubungan satu sama lain.

Di tempat lain, Kacey juga mulai menyadari ada sesuatu yang aneh. Ia bertemu dengan wanita lain yang usianya tidak jauh berbeda dengan dirinya, Elle Alexander, namun yang membuatnya semakin penasaran adalah karena wajah mereka mirip. Juga besar di kota yang sama seperti halnya korban-korban sebelumnya.

Dan ketakutan Kacey cukup beralasan. Tak lama kemudian Elle Alexander ditemukan mati tenggelam karena mobilnya tergelincir. Setelah itu akhirnya Kacey melakukan penyelidikan sehingga menemukan hubungan antara setiap korban. Bahkan rentetan kematian orang-orang yang berwajah mirip sudah terjadi sejak lama.

Bukan hanya Kacey yang punya kecurigaan seperti itu. Trace pun mulai curiga. Dan akhirnya, secara mengejutkan Kacey dan Trace menjadi dekat karena pemikiran konyol tersebut. Tapi kecurigaan keduanya semakin meyakinkan ketika Trace menemukan alat-alat penyadap di rumah Kacey. Mereka mulai memahami bahwa siapapun di balik pembunuhan orang-orang yang berwajah mirip di daerah tersebut, saat ini ia tengah mengincar Kacey.

Akhirnya Kacey melakukan penyelidikan sendiri dan membuahkan hasil. Dan menceritakan semuanya pada detektif Alvarez. Dan akhirnya Kacey dan Trace diminta untuk tidak terlibat terlalu jauh untuk keamanan mereka sendiri.

Berdasarkan teori Kacey lah sekarang para polisi menemukan titik terang mengenai apa yang sedang terjadi.

Namun semua terlambat. Pembunuh itu mendatangi Trace dan Kacey. Pada akhirnya, Trace tertembak di paha dan harus di operasi. Sementara Kacey mendapatkan beberapa hadiah pukulan. Tapi akhirnya Kacey mampu membunuh pembunuh psikopat itu. Dan semua misteri akhirnya terungkap. Siapa yang tahu, ternyata pembunuh itu tidak bekerja sendirian dan ada sosok penting yang terlibat dalam semua pembunuhan yang dibuat mirip kecelakaan selama beberapa tahun terakhir.

Kekurangan Buku Born To Die

Banyak sekali kekurangan yang saya temukan di buku ini. Antara lain :

  • Terjemahannya Buruk – Sejak pertama membaca terasa sangat sulit menikmati buku ini. saya kira hal tersebut merupakan efek dari minat baca saya yang sedang tidak bergairah, namun akhirnya saya menyadari bahwa masalah utamanya terletak pada terjemahan yang buruk. Karena terlalu banyak kalimat yang tidak nyambung.
  • Banyak Kalimat Kompleks – Siksaan menjadi semakin lengkap karena buku ini juga menggunakan kalimat-kalimat panjang dan kompleks. Saya bahkan banyak berhenti untuk menangkap maksudnya. Tapi kadang-kadang saya masih tidak memahaminya meskipun sudah membacanya berulang kali.
  • Terlalu Banyak Nama – Di buku ini terlalu banyak nama orang. Bahkan pelayan dan pemilik kafe pun disebutkan namanya. Dan masih banyak lagi nama-nama yang menurut saya tidak penting untuk disebutkan. Belum lagi nama setiap anjing yang semakin menambah rekor sebagai “buku yang memuat terlalu banyak nama”.
  • Terlalu Banyak Pembahasan yang Tidak Perlu – Cerita ini tidak terlalu asyik karena menurut saya terlalu banyak cerita yang tidak ada hubungannya dengan cerita utama. Banyak sekali memuat cerita mengenai tokoh-tokoh tidak penting. Malah membuat cerita utama menjadi membosankan.

Kelebihan Buku Born To Die

Satu-Satunya hiburan yang ada adalah cara menyajikan cerita. Di buku ini ceritanya melompat-lompat sehingga membuat penasaran untuk melanjutkan membaca. Setidaknya saya merasa bisa belajar untuk menulis dengan cara serupa di masa depan.

Selain itu, saya tidak melihat ada kelebihan lain yang pantas untuk ditonjolkan.

Nilai

Saya memberi nilai 69 untuk buku Born To Die. Benar-Benar mengecewakan. Mungkin faktor terbesar mengapa hal tersebut bisa terjadi karena buku ini diterbitkan oleh penerbit yang tidak terkenal. 

Jadi, orang-orang yang menerjemahkan masih belum cukup berpengalaman untuk membuat padanan kata yang enak dibaca sesuai Bahasa Indonesia.

Iklan

17 tanggapan untuk “Review Buku Born To Die by Lisa Jackson

  1. Ia ni di awal pas sy baca prolog yg dibuat Shiq4 pun, sya mesti konsen pnuh utk memahaminya. Wah nilainya cuna sgtu ya… apkah itu artinya Anda akan mncoba berburu buku di lapak skitar stadion itu?

    Suka

  2. Masalah dari novel terjemahan memang kadang terjemahan nya kurang bagus… saya lumayan sering mendapat novel yang seperti itu dan berujung dengan jadi males bacanya hahaha. Makanya kadang kalau mau beli novel terjemahan saya baca dulu sebagian hahaha kalau terjemahan nya bagus baru saya beli 😄

    Suka

    1. Klo dari penerbit gramedia biasanya sudah bagus mas. Entah kenapa saya nemu buku yg bagus tapi diterjahkan dengan jelek. Jadi malas baca sih memang.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s