Tag: Tuhan

Memandang Langit

​Sumber gambar : digaleri.com

Aku tidak suka memandang langit. Aku hanya melakukannya jika benar-benar bosan dan tidak ada pekerjaan atau sedang bersedih. Dan sepertinya aku sudah lupa pemandangan langit karena sudah terlalu lama aku tidak melakukannya.

Pernah di suatu siang, ketika lapak buahku sepi, aku tiduran dan menemukan awan-awan yang berbentuk seperti manusia. Bentuknya tidak begitu jelas, tapi memang seperti manusia. Ada juga bentuk anjing yang tidak sempurna. Benar-Benar pengalaman aneh. Lanjutkan membaca “Memandang Langit”

Iklan

Review Buku The Secret by Rhonda Byrne

Sumber gambar : kitareview.com

Ini buku lama. Di masa kuliah dulu sempat membaca beberapa lembar saja, namun tidak melanjutkan karena lebih tertarik membaca buku-buku lain. Sebelum saya sadari, buku The Secret telah hilang dari data komputer saya.

Bodohnya lagi, saya mendengar bahwa The Secret adalah buku yang bagus. Jadi agak menyesal mengapa tidak saya baca ketika memiliki kesempatan dan waktu luang. Tapi tidak apa-apa, sepertinya saya berjodoh dengan karya Rhonda Byrne tersebut.

Lanjutkan membaca “Review Buku The Secret by Rhonda Byrne”

Anda Takut Masa Depan? Begitu Pula Dengan Saya

Takut Masa Depan? Begini Cara Mengatasinya

Sumber gambar : palingseru.com

Masa depan adalah misteri. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Mungkin kita bisa dengan mudah menikmati kejadian-kejadian yang menyenangkan dan membahagiakan. Tapi apakah kita bisa menerima kejadian-kejadian buruk yang tidak pernah kita inginkan?

Sebagian manusia terlanjur ketakutan dengan masa depan mereka, termasuk saya sendiri. Saya hanya takut rencana yang saya susun tidak berjalan dengan baik atau akan mengalami rasa sakit, kecewa, gagal, dan perasaan tidak enak di hari esok.

<!–more–>

Jika Anda memikirkan masa depan dan merasa takut seperti halnya saya, itu merupakan hal wajar. Karena masa depan memang penuh ketidakpastian. Jadi, mari kita sejenak berpikir dan berdiskusi untuk menemukan cara mengatasi rasa takut masa depan tersebut.

Darimana Datangnya Rasa Takut Terhadap Masa Depan

Dulu saya selalu optimis dengan masa depan. Saya berencana untuk melanjutkan S2 atau menjadi manajer pemasaran setelah lulus kuliah nanti. Tapi rencana tinggal rencana karena saya sakit skizofrenia. Impian saya hancur. Dan saya menjalani hari-hari yang menyedihkan.

Itu adalah pengalaman terburuk dalam sejarah hidup saya. Saya butuh berbulan-bulan untuk menyembuhkan luka akibat kegagalan tersebut. Walaupun sekarang keadaan sudah menjadi lebih baik, tapi saya juga harus mengakui bahwa saya yang sekarang memiliki ketakutan tersendiri terhadap masa depan.

Orang yang pernah gagal dalam bisnis akan takut untuk menjalankan bisnis lainnya (takut gagal). Orang yang pernah patah hati akan takut menjalani hubungan lainnya dan mungkin takut tidak akan pernah menemukan orang yang tepat. Atau orang yang pernah dikhianati akan takut di masa depan dikhianati oleh orang lainnya sehingga ia memutuskan untuk menyendiri. Dan banyak lagi ketakutan lainnya.

Bagaimana jika saya mengalami hal yang menyakitkan lagi? Akankah saya mampu bertahan lagi? Bisakah saya menerima takdir buruk dengan lapang dada? Tidak ada jaminan atas masa depan.

Jadi, Ketakutan akan masa depan (berdasarkan pengalaman pribadi) dipicu oleh pengalaman buruk di masa lalu. Hanya saja sebagian dari kita tidak pernah menyadarinya. Dan jika kita tidak menyadarinya, maka kita pun akan kesulitan untuk lepas dari ketakutan tersebut.

Sebuah Kebenaran

Beberapa hari terakhir saya memikirkan tentang rasa takut yang saya alami tersebut. Saya hanya merasa takut saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Sampai suatu ketika saya mendapatkan jawaban yang membuat saya sedikit tenang.

Saya ingat banyak kenangan yang membahagiakan. Saya pernah tertawa terbahak-bahak dengan teman, saya pernah juara kelas, saya pernah mendapatkan uang ketika khitanan, saya pernah merasa puas membaca sebuah buku tebal dan banyak lagi.

Kemudian saya juga ingat saya pernah sedih dan kecewa. Saya pernah kehilangan sepeda, saya pernah kecewa karena ditolak menjadi OSIS, saya pernah gagal masuk sekolah favorit, dan lain sebagiannya.

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan : Tidak ada yang abadi di dunia ini. Keabadian hanya milik Tuhan. Dan itu merupakan ketetapan yang tidak bisa dihindari.

Itu berarti saya mempercayai bahwa penderitaan apapun yang kita alami akan berjalan seimbang dengan kebahagiaan, silih berganti. Saat mengalami rasa sakit, saya percaya semua akan berlalu begitu saja, kemudian berganti dengan kebahagiaan. Dan saat merasa bahagia, saya bisa lebih bersyukur atas kehidupan ini.

Kita hanya perlu memaklumi kebenaran-kebanaran yang pasti terjadi atas kehidupan kita.

Apapun rasa sakit yang Anda alami, jika itu tidak membunuh Anda, maka itu akan membuat Anda menjadi pribadi yang lebih baik

Masa Depan Adalah Apa yang Kita Lakukan di Masa Sekarang

Jika Anda rajin menabung di hari ini, maka di masa depan Anda akan memiliki uang sebanyak yang Anda sisihkan. Jika Anda rajin belajar, maka di masa depan Anda akan menjadi lebih pandai. Itu hanya penyerdehanaan sesuatu yang rumit seperti kehidupan.

Daripada bingung dan merasa takut akan masa depan, lebih baik mulai sekarang melakukan semua yang terbaik di masa sekarang karena masa depan adalah akumulasi semua yang Anda lakukan di masa sekarang. Tidak lebih dari itu.

“Lalu bagaimana seandainya sudah melakukan semua yang terbaik dan masih mengalami hal-hal buruk?”

Sejujurnya saja, saya juga masih takut kejadian semacam itu terjadi. Tapi saya benar-benar mempercayai sebuah kebenaran yang sudah saya tulis di atas. Ketetapan tersebut berlaku bagi semua manusia. Kita hanya manusia, bukan Tuhan. Tuhan yang berkuasa penuh atas kehidupan kita. Setidaknya kita sudah berusaha sekuat tenaga.

Selanjutnya, biar iman yang menuntun kita untuk berlapang dada menerima takdir Tuhan. Sederhana, bukan?

Anda Punya Hak

Kabar baiknya adalah Tuhan selalu ada untuk semua manusia. Ketika kita merasa sakit atau mengalami hal-hal buruk, kita bisa mengeluh dan berdo’a kepada Tuhan. Itu hak yang diberikan Tuhan kepada semua manusia.

Seburuk apapun manusia, jika mereka mau merendahkan diri dan mengakui semua kelemahan dirinya di hadapan Tuhan, maka Tuhan akan menunjukkan kuasaNya. Bagaimana? Apakah Anda masih takut dengan masa depan?

Berhubungan dengan Tuhan

Aku ingin mengawalinya dengan sebuah keinginan. Ketika keinginan kita tidak terpenuhi atau do’a-do’a kita belum dikabulkan oleh Ilahi, apakah benar jika kita menghibur diri dengan mengatakan bahwa itu demi kebaikan kita sendiri.

Aku tetap seorang manusia yang terkadang menyalahkan takdir buruk yang hadir dalam hidupku.

Namun, sungguh kebutuhan sangat jauh berbeda dengan keinginan hati. Dalam hal-hal tertentu, apa yang kita inginkan justru bukan kebutuhan kita. Bisakah kau melihat kebijaksanaan Tuhan dalam hal ini?

Sudah bertahun-tahun lamanya aku memendam banyak keinginan nafsuku. Dalam banyak hal, itu hanya impian yang tidak mungkin menjadi nyata. Tapi jika itu berhubungan dengan Tuhan, apa yang tidak mungkin. Keinginanku hanyalah titik kecil yang sangat mudah untuk jadi nyata. Mungkin belum waktunya.