Tag: remaja

Nonton TV

Masa kecilku bukan hanya tanpa rasa bersalah karena mengambil mangga-mangga tetangga tanpa ijin, kenakalan lain yang melekat denganku pasti menonton TV berlebihan.

Di masa kecil, hampir setiap hari televisi menemaniku. Itu berarti sirine alam di rumah akan terus berbunyi. Ibu akan mengomel, dan kalau sudah kesal, ia akan mematikan TV secara paksa atau menyembunyikan remote kontrol.

Untungnya aku punya sesuatu yang disebut kegigihan. Walaupun ada larangan, keberanianku mendorong untuk terus melakukannya. Dan aku berhasil.

Tapi itu bukan sesuatu yang pantas dibanggakan. Kenakalan semacam itu berani kulakukan karena nilai-nilai sekolahku bagus. Bahkan aku tidak pernah keluar 3 besar dan sempat beberapa kali rangking satu.

Mayoritas film yang kutonton adalah film kartun. Misalnya Dragon Ball di hari minggu pagi, Tom and Jerry pada Senin-Jum’at sore, atau Ninja Hatori, Samurai X, Detektif Conan, sebut saja film kartun apapun di tahun 90-an, pasti aku pernah menontonnya.

Sebenarnya sosok anak kecil hanya butuh pahlawan. Untuk diteladani. Untuk dicontoh. Untuk ditiru. Dan aku mendapatkannya dari tokoh utama di film-film kartun. Itu alasan masuk akal mengapa aku menyukai film kartun.

Beranjak SMP, seleraku berubah. Saat itu ada Trans TV yang memutar film-film barat di malam hari. Tidak butuh waktu lama, aku langsung jatuh cinta dengan tayangan tersebut.

Ujung-Ujungnya aku menjadi sering begadang. Bahkan aku mengikuti acara Smack Down yang tayang pukul 11 atau 12 malam.

Belum lagi pertandingan-pertandingan liga inggris, jam malamku habis untuk menonton TV.

Tapi aku cukup pandai mengatur waktu. Tidak ada masalah apapun.

Di masa SMA, aku semakin sering bermalas-malasan di TV setiap hari di malam hari. Aku baru tidur di atas pukul 2 malam. Jam tidurku justru siang hari. Tepat sepulang sekolah, aku pasti akan memejamkan mata.

Baru di masa kuliah aku lepas dari televisi. Bukan keinginanku, hanya karena keterpaksaan saja. 

Selama masa kuliah, aku mengenal internet. Dan sedikit demi sedikit aku melupakan keindahan tayangan televisi dan mulai terobsesi dengan internet.

Dan perlahan tapi pasti, televisi mulai menghilang dari kehidupanku. Digantikan internet hingga saat ini.

Iklan

Cerpen : Surat Cinta

Sumber gambar : liputan6.com

Karena piket, Adi sengaja berangkat pagi-pagi sekali. Selain untuk menghapus papan tulis, mengambil kapur, dan menata taplak meja guru, Adi juga berencana untuk meminjam PR teman untuk dicontek. Dan Adi terpaksa tidak sarapan agar semua rencananya berjalan dengan sempurna.

Tapi Adi datang terlalu pagi. Kelas masih kosong. Jam dinding masih menunjukkan pukul 05:40 WIB dan masih sedikit sekali siswa yang datang sepagi itu. 

Melangkah dengan ragu-ragu, Adi memasuki kelas 2-E dengan agak malas. Ia berpikir akan pergi ke kantin sebentar setelah menaruh tas. Meskipun di kantin SMP-nya tidak menyediakan menu makanan berat di pagi hari, Adi merasa roti-roti seharga Rp 2.000 sudah cukup untuk memberinya energi sampai jam istirahat.

Lanjutkan membaca “Cerpen : Surat Cinta”