Tag: jualan

Mei 2017: Blewah Sudah Ada di Mojosari

Musim blewah mulai mei 2017​Sumber gambar : satuharapan.com

Sebenarnya sudah agak lama sudah tersedia blewah atau garbis di Mojosari. Hanya saja baru di tanggal 15 Mei 2017 bapak membeli sebanyak 82 Kg blewah matang. Di hari pertama menjual blewah tersebut, hasilnya cukup memuaskan meskipun tidak semuanya terjual habis. Lalu di hari berikutnya kembali memasok 80 Kg, kali ini sisa banyak.

Tapi saya masih optimis dengan blewah. Selalu optimis. Karena di musim panas, tidak ada orang yang tidak tertarik untuk membuat es blewah. Dua hari terakhir adalah catatan awal yang lumayan bagus untuk penjualan blewah. Kami menjualnya dengan harga Rp 6.000,00/Kg.

Lanjutkan membaca “Mei 2017: Blewah Sudah Ada di Mojosari”

Misteri Penjualan Buah Alpukat

Misteri penjualan buah alpukat di pasar mojosari Sumber gambar : manfaattumbuhanbuah.blogspot.com

Alpukat benar-benar membuat saya terkejut. Dengan bandrol antara Rp 12.000,00 – Rp 15.000,00/Kg, lapak buah kami bisa menjual antara 20-30 Kg per hari. Itu pencapaian luar biasa mengingat alpukat bukan produk utama kami.

Di masa lalu orang tua saya tidak begitu tertarik berbisnis alpukat. Mungkin karena faktor popularitas alpukat yang masih di bawah buah-buahan lain, maka modal dialihkan untuk membeli stok buah-buahan yang lebih populer dan tingkat konversinya tinggi seperti jeruk, semangka, atau salak. Dan sepertinya hal tersebut mulai bergeser sejak sekitar akhir tahun 2016.

Saya juga tidak terlalu tahu motif utama dibalik pemilihan alpukat sebagai produk baru kami, tapi sepertinya semua berjalan dengan sangat lancar. Alpukat selalu terjual habis atau kadang-kadang tersisa 1 sampai 2 Kg saja. Bukan masalah besar mengingat keuntungan yang didapat dari penjualan alpukat yang stabil selama beberapa minggu terakhir.

Lanjutkan membaca “Misteri Penjualan Buah Alpukat”

Rambutan Bali Masuk Persaingan di Mojosari

Rambutan bali di mojosari Sumber gambar : iftfishing.com

Tahun ini rambutan telah tersedia sejak awal tahun baru 2017. Meskipun harganya masih mahal, tapi penjualannya masih lancar dan tidak ada kesulitan berarti.

Di Mojosari sendiri hanya ada dua jenis rambutan, yakni rambutan aceh dan rambutan binjai. Secara sederhana, rambutan binjai memiliki harga lebih mahal, buahnya terasa manis, dan buahnya sangat mudah mengelupas dari bijinya. Rambutan binjai diperuntukkan bagi mereka yang mementingkan kualitas dibanding dengan harga.

Lanjutkan membaca “Rambutan Bali Masuk Persaingan di Mojosari”

2017 : Kami Mulai Menjual Rambutan

Buah rambutan yang manis Sumber gambar : tribunnews.com

Tahun ini kami mulai menjual rambutan sejak tanggal 31 desember 2016. Bertepatan dengan tahun baru. Semua tampak lancar. Saat itu kami menjual rambutan jenis binjai dan memasang harga Rp 20.000,-/Kg. Habis terjual.

Faktor keberhasilan tentu karena momen tahun baru. Sepertinya orang-orang tidak terlalu mempermasalahkan harga. Mereka mengkonsumsi rambutan untuk melewati malam tahun baru bersama keluarga.

Lanjutkan membaca “2017 : Kami Mulai Menjual Rambutan”

Cara Berjualan Buah Srikaya dan Mendapatkan Untung

Sumber gambar:​ ninixnews.com

Sudah merasa menjadi pedagang buah yang hebat? Produk Anda laku keras dan mendapat untung berlimpah? Tapi itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Hampir semua pedagang buah akan seperti Anda setelah beberapa bulan berdagang.

Masalahnya, jika belum mampu menjual buah srikaya, maka kehebatan Anda belum bisa diakui.

Mengapa? Karena srikaya adalah jenis buah yang cepat busuk dan membutuhkan perawatan ekstra. Buah ini berpotensi menghasilkan banyak keuntungan. Namun risiko kerugian pun besar sehingga beberapa pedagang buah tidak pernah memasukkan srikaya sebagai produk yang layak jual.

Lanjutkan membaca “Cara Berjualan Buah Srikaya dan Mendapatkan Untung”

5 Cara Melayani Pelanggan Kaya

Cara melayani pelanggan kaya
Pelanggan kaya raya

Sumber gambar : www.wisebread.com

Walaupun target pasar bisnis kami adalah kalangan menengah ke bawah, namun kami juga memiliki pelanggan kaya. Jumlah pelanggan kaya memang sedikit, tapi cukup berpengaruh terhadap peningkatan penjualan secara keseluruhan.

Pelanggan kaya selalu membeli dalam jumlah besar. Mereka juga membeli produk lebih dari satu item. Sepertinya uang bukanlah sesuatu yang penting bagi mereka. Dan Itu membuat saya cukup senang ketika bertransaksi dengan pelanggan-pelanggan kaya. Lanjutkan membaca “5 Cara Melayani Pelanggan Kaya”

Musim Panas yang Terlambat, Gagal Panen, dan Perkembangan Bisnis

Musim panas 2016 dan bisnis
Pengusaha Sukses

Sumber gambar : masawep.com

Musim panas tahun 2016 sedikit terlambat. Hingga pertengahan bulan agustus, cuaca masih tidak menunjukkan akan berakhirnya musim hujan. Hujan masih turun dan menyebabkan pasar menjadi sepi. Penjualan menurun. Padahal musim panas merupakan waktu untuk menghasilkan lebih banyak uang  Walaupun demikian, saya masih tetap optimis di musim panas tahun ini.

Memang perkembangan terakhir belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan penjualan seperti musim panas – musim panas sebelumnya. Tapi saya berasumsi bahwa keadaan akan kembali normal di awal september.

Selain karena kualitas buah-buahan yang semakin baik saja, jumlah pelanggan kami menjadi semakin banyak. Terlebih setelah kami menjual produk-produk untuk kalangan menengah ke atas sehingga target pasar kami menjadi lebih luas dari sebelumnya. Dan pasar merespon dengan baik. Produk kami habis. Itu merupakan langkah terbaik yang pernah saya catat selama setahun terakhir yang diambil oleh kedua orang tua saya.

Dan semoga kami bisa menyelesaikan musim panas tahun ini dengan baik, menjual lebih banyak buah, mendapatkan pelanggan baru dan menjaga kepuasan pelanggan lama, dan semoga keuntungannya pun lebih baik dari tahun lalu.

Dampak dari Petani yang Gagal Panen

Melon dan Blewah merupakan dua produk yang sangat digemari oleh masyarakat Mojosari di musim panas. Kami bisa menjual 200 Kg Blewah dalam sehari. Boleh dibilang Blewah merupakan produk unggulan kami guna meningkatkan penjualan. Selain itu, karena kami terbiasa membeli jumlah sebanyak itu, biasanya akan mendapatkan potongan dari juragan besar sehingga kami bisa menekan harga serendah mungkin. Dengan kata lain, harga yang lebih murah dari pesaing mampu meningkatkan daya saing kami terhadap pedagang buah lainnya.

Dampak positifnya, ada semacam brand bahwa lapak buah kami memberikan harga yang lebih murah. Walaupun itu sebenarnya tidak benar, namun masyarakat mempercayainya. Produk-produk lain pun menjadi laku walaupun harganya tidak jauh berbeda dengan harga pesaing. Jadi, Blewah memegang peranan penting dalam bisnis kami.

Kemudian buah melon. Walaupun jumlah penjualannya tidak sebanyak blewah, melon juga termasuk produk yang saya sukai. Bukan sekadar laku, tapi beberapa pelanggan lama sering memberikan feedback yang baik. Jika mereka puas, maka mereka pun akan menceritakan tentang lapak buah kami kepada orang lain. Itu sangat baik bagi brand kami.

Di sisi lain, kami biasanya menjual melon “sedikit” lebih mahal sehingga kami bisa mendapatkan untung yang lebih banyak. Meskipun begitu, tidak ada tanda-tanda pelanggan kami protes mengingat kualitas melon sedang baik. Strategi ini terus berlaku setiap tahun.

Kabar buruknya adalah petani melon dan blewah gagal panen tahun ini. Penyebabnya adalah hujan yang tak kunjung berhenti. Hujan membuat melon dan blewah rusak. Dan tahun ini tidak ada produk-produk tersebut di pasaran.

Seingat saya, kami hanya pernah 3 kali memasok blewah di bulan ramadan. Itu pun blewah berkualitas rendah. Awalnya saya kira memang belum panen, tapi kemudian saya mendengar kabar bahwa petani gagal panen. Dan sampai bulan ini, saya tidak menemukan blewah di pasar buah Mojosari.

Melon? Nasibnya sama seperti blewah, gagal panen. Namun beberapa bulan yang lalu masih ada melon di pasaran. Bahkan kami sempat memasoknya beberapa kali dan mendapatkan untung. Tapi sekarang juga tidak ada melon di pasaran.

Dampaknya, tentu saja penjualan kami menurun drastis dibandingkan tahun lalu. Kejadian petani gagal panen blewah dan melon diluar prediksi saya. Saya cukup khawatir. Tapi juga ingin belajar bagaimana orang tua saya menghadapi situasi semacam ini. Dan jawabannya adalah menjual produk-produk baru.

Produk-Produk Baru dan Performanya

Setiap kali saya mengusulkan untuk menjual produk-produk mahal, orang tua saya selalu menolaknya. Katanya semua masih baik-baik saja dan tidak perlu mengambil resiko untuk menjual produk-produk yang mahal.

Secara teori sebenarnya target pasar kami adalah kelas menengah ke bawah. Menurut saya, dengan menjual produk-produk mahal, mungkin kami bisa menyasar lebih banyak pelanggan dari kelas menengah ke atas. Tapi ide tersebut hanya menjadi teori di kepala saya, tidak pernah terealisasikan.

Tapi semua berubah di musim panas tahun ini. Bapak saya tiba-tiba memasok kelengkeng, apel china, dan pear. Mungkin karena ada “modal nganggur” karena ketiadaan melon dan garbis sehingga Bapak saya berinisiatif memasok produk-produk untuk orang kaya.

Bagaimana performanya? Lihat di bawah ini:

Kelengkeng

Ada trend baru di Mojosari. Itu adalah popularitas kelengkeng yang semakin meningkat. Entah mengapa kelengkeng menjadi buruan masyarakat beberapa minggu terakhir. Dan itu sangat bagus untuk bisnis.

Sayangnya kami termasuk pemain baru. Kami hanya mampu menjual sekotak kelengkeng yang berisi sekitar 10 Kg setiap hari. Menurut Bapak saya sih, untungnya sedikit sekali. Tapi hal ini cuma bertujuan untuk menjaga pelanggan agar tetap belanja di lapak buah kami.

Ingat dengan “gangguan kecil” tahun lalu? Sekarang produk utama mereka adalah kelengkeng. Dengan kata lain, persaingan jeruk bali menjadi longgar. Dilihat dari sisi bisnis, kami cukup diuntungkan. Kami berhasil menjual jeruk bali tanpa hambatan berarti tahun ini. Tidak seperti tahun lalu.

Untuk kelengkeng sendiri, kami tidak terlalu berharap. Terlalu banyak yang menjualnya. Namun kami tetap bersyukur dengan penjualan sekitar 10 Kg perhari. Oh ya…. kami membandrol kelengkeng seharga Rp 25.000,00/Kg.

Pear

Namanya bereksperimen tentu akan mengalami kegagalan. Hal ini terjadi dengan produk pear kami.
Walaupun tidak sampai mengalami kerugian, tapi kami tidak melanjutkan penjualan pear.

Beberapa minggu yang lalu, atas ide saya, Ibu membeli sekardus pear. Awalnya semua berjalan dengan baik, dengan harga Rp 25.000,00, ada saja yang tertarik untuk membeli. Namun kami mengalami salah satu hal menyakitkan dalam berdagang, salah memasok barang.

Dilihat dari segi rasa, tidak ada masalah. Rasanya manis. Namun ada beberapa pear yang memiliki bercak-bercak hitam. Tidak busuk. Tapi membuat pelanggan tidak mau membelinya. Agar produk habis, kami menurunkan harganya menjadi Rp 20.000,00. Cukup adil bagi kami.

Kami butuh waktu sekitar 5 hari untuk menjual sekardus pear. Itu pertanda buruk. Dan kami tidak melanjutkan menjual pear lagi. Kecuali jika ada banyak pelanggan yang mengatakan ingin membeli pear, baru kami akan menyediakannya lagi.

Apel China

Ini produk baru yang paling laku. Kami bisa menjual sekardus apel china dalam 2 hari. Per kardus bisa untung antara Rp 125.000,00 – Rp 150.000,00. Jika semua berjalan sesuai rencana, maka kami bisa meraup keuntungan di atas satu juta dalam sebulan dari penjualan apel china.

Ini ide Bapak saya. Padahal awalnya saya sendiri sempat pesimis dengan apel china mengingat target pasar kami adalah kalangan menengah ke bawah. Tapi respon begitu baik dan produk ini selalu habis. Saya sangat senang sekali.

Harga apel china Rp 26.000,00/Kg. Entah karena faktor apa, tapi apel china merupakan produk baru kami yang paling sukses karena kelengkeng dan pear tidak menunjukkan adanya kenaikkan penjualan.

Selain tiga produk baru diatas, kami juga menjual semangka merah dan kuning, sawo, jeruk bali, jeruk jember, dan pepaya. Saya juga yakin akan semakin banyak produk yang akan kami jual di musim panas tahun ini. Walaupun tanpa melon dan blewah, saya rasa semua masih terkontrol dan baik-baik saja.

Idul Fitri : Penjualan Tidak Sesuai Rencana

penjualan buah di hari idul fitri

Sumber gambar : nuripurwanti.blog.upi.edu

Dari tahun ke tahun, idul fitri merupakan puncak tertinggi penjualan. Selain merayakan kemenangan setelah berpuasa selama satu bulan penuh, beberapa pedagang di pasar tradisional juga mendapatkan rejeki berlebih karena bisa meraih untung lebih banyak dengan menaikkan harga jual produknya. Hal tersebut berlaku pula pada bisnis buah-buahan yang dijalankan keluarga kami.

Setelah sempat memperoleh keuntungan berlebih di awal ramadan tahun ini, saya cukup optimis bahwa penjualan di hari idul fitri akan  lebih menjanjikan lagi. Namun semua tidak berjalan sesuai rencana. Kata ibu saya, keuntungan di hari idul fitri tahun ini tidak seperti biasanya. Pasar lebih sepi. Penjualan lebih sedikit. Dan itu berimbas kepada keuntungan yang lebih sedikit daripada tahun lalu.
Lanjutkan membaca “Idul Fitri : Penjualan Tidak Sesuai Rencana”

Musim Panas : Saatnya Menghasilkan Lebih Banyak Uang

Sudah bulan april. Intensitas hujan sudah mulai berkurang. Itu artinya saya harus mempersiapkan banyak hal untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan akan buah-buahan segar di musim panas.

Sekilas tentang dampak negatif yang ditimbulkan oleh hujan terhadap bisnis saya adalah hujan membuat semuanya tampak lebih sulit. Meskipun jumlah permintaan buah tidak menurun, tetapi orang tidak mau pergi membeli buah jika hujan turun dengan deras. Itu membuat penjualan menurun drastis. Bahkan kami (ayah, ibu, dan saya) kadang-kadang terpaksa libur karena memang tidak ada pembeli.

Selain itu, di musim hujan sangat sulit memenuhi stok buah kami. Persediaan buah-buahan di pedagang-pedagang besar hanya sedikit. Jadi kami harus berebut dengan pedagang kecil lainnya untuk mendapatkan buah-buahan yang berkualitas.
Lanjutkan membaca “Musim Panas : Saatnya Menghasilkan Lebih Banyak Uang”

Menghadapi “Gangguan Kecil”

Setiap usaha pasti memiliki saingan. Dan itu bukanlah hal yang terlalu buruk jika kita bisa berpikir positif dan menghadapi persaingan usaha yang sehat.

Seperti halnya usaha lain, lapak buah kami pun tidak selamanya sendirian. Boleh dikatakan selama ini kami adalah pemimpin pasar untuk produk buah-buahan di pasar mojosari. Hanya terdapat 2 stand buah lain yang menjadi saingan kami. Tapi segmen mereka adalah orang-orang kaya, sementara lapak buah kami melayani segmen kelas menengah ke bawah. Jadi, bisa dibilang kami tidak memiliki saingan yang berarti di pasar legi mojosari.

Tapi akhir-akhir ini kami mendapat “gangguan kecil” dari pedagang jeruk musiman. Jumlah mereka membludak di pinggir-pinggir jalan di sekitar pasar mojosari. Dan yang lebih memprihatinkan bagi kami, mereka memasang bandrol dengan harga Rp 7.000,00 untuk produk mereka, jeruk bali yang kecil.

Sebenarnya di kalangan penjual ada sebuah etika berjualan yakni dilarang membandrol harga. Mengapa? Karena bisa menurunkan harga pasar. Persepsi publik yang melihat bandrol harga jeruk sebesar Rp 7.000,00, akan membuat publik berpikir bahwa harga jeruk standartnya adalah Rp 7.000,00. Padahal jeruk yang mereka jual adalah jeruk kecil berkualitas rendah.

Biasanya kami menjual jeruk bali kecil seharga Rp 8.000,00. Sejak hadirnya para “penganggu kecil” ini, kami tidak lagi menjual jeruk-jeruk kecil.

Kata ayah saya yang sudah lebih 15 tahun berdagang, “untungnya sangat kecil, mereka tidak akan bertahan lama dalam bisnis ini”. Sedangkan ibu saya berkata “ga usah khawatir rejeki sudah ada yang mengatur”. Begitulah orang tua saya yang tidak lulus SD. Santai saja.

Berbeda dengan pemikiran mereka, saya cenderung ingin ikut bersaing memperebutkan pembeli jeruk bali kecil. Bukan masalah untung atau rugi, ini masalah mempertahankan pelanggan. Karena sebagian orang memang cenderung memilih harga yang paling murah. Jika saya memiliki kuasa menjalankan lapak buah, tentunya saya akan ikut menjual jeruk bali kecil dengan harga yang sama. Sekali lagi ini masalah mempertahankan pelanggan.

Tapi juga harus saya akui bahwa orang tua saya memiliki pemikiran yang jauh berbeda. Mereka tidak bersaing menjual jeruk bali kecil, tapi berfokus menjual jeruk bali yang dengan ukuran sedang dan besar. Harganya masing-masing Rp 10.000,00 dan Rp 12.000,00. Dan itu berhasil. Kami menjual lebih dari 100 kg jeruk dalam waktu 2 hari. Lumayan juga bukan.

Meskipun demikian, saya tetap berpendapat harus ikut bersaing untuk konsumen jeruk kecil. Dengan brand yang lebih baik, saya rasa kesempatan kami lebih besar untuk memenangkan persaingan. Mereka, “gangguan kecil” bisa menjadi besar jika dibiarkan begitu saja. Dalam persaingan yang semakin ketat dalam dunia usaha, saya berpikir untuk segera mengatasinya.

Tapi apa boleh buat. Orang tua saya tidak memandang saingan mereka sebagaimana yang saya lihat. Mereka hanya berpendapat, cepat atau lambat, bisnis mereka akan segera berakhir karena mereka terlalu sedikit mengambil untung. Buat apa menjual barang yang hanya sedikit menghasilkan uang.

Semoga saya salah dan pemikiran orang tua saya yang benar sebagaimana pengandaan buah mangga. Ternyata insting mereka benar dan mangga itu habis terjual. Sepertinya saya harus banyak belajar lagi mengelola lapak buah saya.