Tag: curhat

Ingin Menulis dalam Bahasa Inggris

Bahasa Inggrisku payah. Meskipun sejak dulu telah diajarkan di sekolah, aku tidak tertarik belajar Bahasa Inggris dengan sungguh-sungguh. Memang benar penyesalan datang di akhir, buktinya sekarang aku benar-benar tidak bisa menulis Bahasa Inggris dengan benar.

Untuk membaca sudah agak lumayan lancar. Sejak blog ini didirikan, aku sudah menerjemahkan banyak konten berbahasa Inggris. Begitu pula referensi yang kugunakan, hampir semuanya merupakan tulisan orang bule. Tapi aku hanya mampu membaca tulisan bertema blog dan teman-temannya saja seperti content marketing, SEO, dan Copywriting. Sekarang masih dalam tahap belajar untuk mengkonsumsi konten-konten entrepeneur.

Lanjutkan membaca “Ingin Menulis dalam Bahasa Inggris”

Iklan

Surat Singkat untuk Pembaca Shiq4

Surat untuk pembaca shiq4

Saya memulai blog ini tanpa harapan apapun. Sejak postingan pertama, saya hanya menulis untuk mencari kepuasan pribadi. Menulis merupakan pelarian saya karena rasa frustasi sejak menderita skizofrenia. Dan sangat kebetulan sekali saya cocok dengan kegiatan menulis.

Pertama, mungkin saya hanya ingin menyampaikan terima kasih. Terutama bagi bloger-bloger yang sejak awal berkomentar di Shiq4. Sebenarnya saat itu saya merasa kesepian. Dan kehadiran kalian merupakan sebotol air di padang gurun. Meskipun saya tidak pernah berharap sedikit pun akan ada yang membaca tulisan saya, kenyataannya saya senang ketika melihat statistik pengunjung yang kian meningkat saja tiap bulannya.
Lanjutkan membaca “Surat Singkat untuk Pembaca Shiq4”

Gagal Kuliah Semester Tujuh

Orang yang hebat adalah orang yang mampu menertawakan kegagalannya, mengambil pelajaran, dan melupakannya untuk segera bangkit. – Shiq4

Salah satu kegagalan terbesar dalam hidup saya adalah gagal kuliah di semester tujuh. Iyaaa… Saya ini adalah contoh mahasiswa yang gagal.

Entah mengapa saya harus sakit di semester tujuh sehingga saya tidak bisa melanjutkan kuliah. Sempat cuti dua semester tapi itu tidak cukup baik. Saya masih sakit dan harus terus dirawat secara intensif. Dan akhirnya, mau tidak mau saya harus merelakan diri menjadi mahasiswa gagal.

Kegagalan kuliah ini membuat penyakit saya tambah parah. Saya jadi depresi dan sempat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit jiwa ha ha ha.

Rasanya sakit sekali. Perjuangan selama tiga tahun menjadi mahasiswa benar-benar sia-sia. Belum lagi perasaan malu yang saya tanggung. Kamu pasti tidak percaya jika saya mengatakan saya adalah juara kelas. Bayangkan saja, orang yang biasanya berprestasi benar-benar jadi pecundang.

Sampai sekarang saya masih tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Siapa yang harus disalahkan coba? Takdir? Saya tidak bisa menjawabnya.

Di tahun pertama sejak saya dinyatakan depresi, saya sering menangis sendiri. Rasanya sedih sekali. Impian saya untuk menjadi seorang guru pun tinggal kenangan. Apalagi ketika mendengar kabar teman-teman seangkatan yang berhasil mewujudkan impiannya, rasa iri pun menyelimuti hati saya. Saat itu saya benar-benar menyalahkan Tuhan. Seperti kebanyakan orang, saya mulai mempertanyakan keadilan Tuhan.

Di tahun-tahun pertama, saya menjadi pengangguran. Kegiatan saya hanya menangis, merokok, nonton film, rekreasi, main game dan banyak kegiatan tidak berguna lainnya. Pokoknya sangat menyedihkan. Orang tua saya kerepotan mencari cara untuk menyenangkan saya. Di ajak main kemana lah, disuruh main PS, liburan, tapi tetap saja saya tidak bersemangat menjalani hidup.

Karena kasihan dengan orang tua dan adik-adik saya yang selalu bingung dengan masa depan saya, akhirnya saya mulai mencari pekerjaan. Mungkin dengan bekerja saya akan mampu melupakan kegagalan kulih ini, begitu pikiran saya saat itu.

Saya diterima menjadi penjaga di sebuah pusat game online, Pernah juga jadi sales untuk sebuah bank, dan terakhir menjadi photo editor di sebuah studio photo. Pokoknya saya serba sibuk deh he he he…

Keadaan saya di waktu itu sangat menyedihkan. Tidak ada motivasi untuk menjalani kehidupan. Satu-satunya yang membuat saya bertahan adalah keluarga. Saya tidak ingin mereka bersedih dan itu menjadi penyemangat saya.

Setelah hampir 4 tahun memikirkan semua kejadian, saya mulai mampu melihat banyak kebijaksanaan. Dan itu membuat saya bisa menertawakan kenangan pahit dan melupakannya. Bagaimana pun juga kehidupan terus berlanjut.

Sekarang saya punya banyak impian baru. Tidak ada waktu untuk menyesali apa yang sudah terjadi.

Ditulis dengan wordpress untuk android