Tag: Anak Kecil

Cerpen : Sepeda dan Playstation

Cerpen sepeda dan playstation

Sumber gambar : tokopedia.com

Walaupun ibu melarangku untuk meninggalkan rumah, tapi aku tetap nekat menuntun sepeda milik ibu keluar dari pekarangan rumah. Ini musim liburan. Apalagi aku mendapatkan rangking 3 besar di semester satu kelas 5 tahun ini. Jadi, aku semakin bandel dengan perintah ibuku.

Siang ini aku ingin bermain playstation seperti biasa. Aku merasa berhak melanggar perintah ibuku karena aku sudah melaksanakan tugasku dalam belajar di sekolah. Aku ingin memanjakan diri. Meskipun di hari biasa tetap saja aku tidak menghiraukan perintah ibu untuk tidak terlalu sering bermain playstation.

Kata ibu playstation bisa membuat lupa untuk belajar. Tapi aku membuktikan itu merupakan pemikiran yang salah. Meski kuakui, kadang-kadang aku memang terlalu asyik bermain playstation dan lupa waktu.

Lanjutkan membaca “Cerpen : Sepeda dan Playstation”

Iklan

FF : Siapa yang Pencuri?

Suatu siang, setelah Udin mandi di sungai dengan teman-temannya, di dalam perjalanan pulang, Udin melintasi perkebunan tebu di sekitar sungai sendirian.

Tiba-Tiba Udin mendapatkan wangsit brilian setelah melihat bapak separuh baya memanen tebu-tebu.

Udin merasa beruntung, ketika udara panas, ia mungkin dapat menikmati tebu-tebu yang manis. Maka Udin memberanikan diri untuk meminta tebu kepada bapak-bapak yang ia lihat.

Lanjutkan membaca “FF : Siapa yang Pencuri?”

Nonton TV

Masa kecilku bukan hanya tanpa rasa bersalah karena mengambil mangga-mangga tetangga tanpa ijin, kenakalan lain yang melekat denganku pasti menonton TV berlebihan.

Di masa kecil, hampir setiap hari televisi menemaniku. Itu berarti sirine alam di rumah akan terus berbunyi. Ibu akan mengomel, dan kalau sudah kesal, ia akan mematikan TV secara paksa atau menyembunyikan remote kontrol.

Untungnya aku punya sesuatu yang disebut kegigihan. Walaupun ada larangan, keberanianku mendorong untuk terus melakukannya. Dan aku berhasil.

Tapi itu bukan sesuatu yang pantas dibanggakan. Kenakalan semacam itu berani kulakukan karena nilai-nilai sekolahku bagus. Bahkan aku tidak pernah keluar 3 besar dan sempat beberapa kali rangking satu.

Mayoritas film yang kutonton adalah film kartun. Misalnya Dragon Ball di hari minggu pagi, Tom and Jerry pada Senin-Jum’at sore, atau Ninja Hatori, Samurai X, Detektif Conan, sebut saja film kartun apapun di tahun 90-an, pasti aku pernah menontonnya.

Sebenarnya sosok anak kecil hanya butuh pahlawan. Untuk diteladani. Untuk dicontoh. Untuk ditiru. Dan aku mendapatkannya dari tokoh utama di film-film kartun. Itu alasan masuk akal mengapa aku menyukai film kartun.

Beranjak SMP, seleraku berubah. Saat itu ada Trans TV yang memutar film-film barat di malam hari. Tidak butuh waktu lama, aku langsung jatuh cinta dengan tayangan tersebut.

Ujung-Ujungnya aku menjadi sering begadang. Bahkan aku mengikuti acara Smack Down yang tayang pukul 11 atau 12 malam.

Belum lagi pertandingan-pertandingan liga inggris, jam malamku habis untuk menonton TV.

Tapi aku cukup pandai mengatur waktu. Tidak ada masalah apapun.

Di masa SMA, aku semakin sering bermalas-malasan di TV setiap hari di malam hari. Aku baru tidur di atas pukul 2 malam. Jam tidurku justru siang hari. Tepat sepulang sekolah, aku pasti akan memejamkan mata.

Baru di masa kuliah aku lepas dari televisi. Bukan keinginanku, hanya karena keterpaksaan saja. 

Selama masa kuliah, aku mengenal internet. Dan sedikit demi sedikit aku melupakan keindahan tayangan televisi dan mulai terobsesi dengan internet.

Dan perlahan tapi pasti, televisi mulai menghilang dari kehidupanku. Digantikan internet hingga saat ini.

Cerpen : Pencuri di Kelas

Pencuri di kelasSumber gambar : devianart.com

Senin pagi itu ada hal baru di SDN 1 Sarirejo. Ada murid baru. Segera setelah itu Pak Iwan mempersilakan murid baru masuk.

Seorang anak berkulit putih kemudian tampak malu-malu masuk di kelas 4. Kemudian ia berdiri di depan kelas, “Namaku Faisal Ansori Lubis. Panggil saja aku Faisal. Semoga kita bisa berteman dan belajar bersama-sama.”

Lalu Pak Iwan menyuruh Faisal duduk bersama dengan Adi, anak paling gemuk di kelas 4. Aku senang dengan kehadiran Faisal, mengingat sudah 3 bulan pertama di kelas 4 dan Adi sering diledek sebagai “Penunggu” oleh teman-teman karena duduk sendirian. Tahun lalu jumlah murid di kelas genap 22 anak, tetapi karena Ardian tidak naik kelas, jadi jumlah murid kelas 4 tahun ini hanya 21 anak saja. Lanjutkan membaca “Cerpen : Pencuri di Kelas”

Review Buku Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela by Tetsuko Kurayonagi

Resensi buku totto-chanSumber gambar : nia-share.blogspot.com

Pertama kali mendengar Totto-chan dari komentar pengunjung blog. Katanya buku tersebut mirip dengan Crying 100 Times. Karena jumlah buku di rumah masih banyak, saya masih belum punya keinginan menambah buku lagi dalam waktu dekat. Dan tidak berminat dan melupakan Totto-chan.

Kemudian seorang teman bertanya tentang e-book kepada saya. Sudah lama sekali saya tidak mengoleksi e-book. Kalau pun ada, baik laptop dan komputer lama sudah tidak digunakan lagi. Satu-Satunya komputer yang sering saya gunakan adalah notebook bekas adik saya. Jadi, saya tidak bisa membantu teman saya mengenai pertanyaan tentang e-book dan bagaimana mendapatkannya.

Lanjutkan membaca “Review Buku Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela by Tetsuko Kurayonagi”

Hari ke-7 : Surat untuk Anak-Anak di Masa Depan tentang Menulis

anak-kecil-perempuan-cantik

Sebenarnya ayah bukanlah penulis yang baik. Ayah baru rutin menulis ketika sudah berumur di atas 25 tahun. Benar kata orang, umur tidak bisa berbohong, dan itu yang menyebabkan ayah masih menghasilkan tulisan-tulisan buruk. Meskipun sudah banyak membaca tips-tips menulis, sepertinya itu tidak mengubah apapun.

Seandainya saja ada orang yang mengingatkan dan memberi nasihat untuk rajin menulis ketika ayah masih berusia 18 tahunan, mungkin itu akan menjadi nasihat terbaik dalam hidup ayah.

Di masa itu pekerjaan ayah hanya bersenang-senang dan tidak produktif. Bahkan ayah tidak peduli dengan sekolah. Saat itu ayah hanya benar-benar berpikir bahwa sekolah tidak ada gunanya. Ayah hanya menginginkan ijasah kelulusan. Tidak lebih dari itu.

Lanjutkan membaca “Hari ke-7 : Surat untuk Anak-Anak di Masa Depan tentang Menulis”

Hari Ke-5 : Kejadian Sebenarnya di Tahun 1990-an

Kejadian di masa kecil tahun 1990-an

Salah satu kegemaran saya di waktu kecil adalah bermain game. Di tahun 1990-an ada dua tempat bermain game di daerah saya. Hampir setiap hari saya mengunjunginya.

Terdapat bermacam-macam jenis permainan. Saya hanya butuh uang receh Rp 100,- saja untuk mulai bermain. Durasi waktunya tergantung ketrampilan, jika jago bermain, maka investasi Rp 100,- sangat menguntungkan karena bisa bebas bermain game sampai karakter kita mati.

Lanjutkan membaca “Hari Ke-5 : Kejadian Sebenarnya di Tahun 1990-an”