Kategori: Keluarga

Aneh: Arin Sudah Melahirkan

Arin si kucing

Arin. Kucing paling kecil dari tiga bersaudara yang dilahirkan kucing kampung liar di rumahku pada Maret 2017. Satu-Satunya kucing yang bisa diajak tidur dalam satu selimut denganku karena saudara-saudaranya selalu meronta keluar.

Sejak aku memeliharanya, seperti dalam kisah Lea dan Kucing, aku tidak tahu jenis kelamin kucing di rumah. Namun setelah Arin melahirkan, sepertinya sekarang sudah jelas bahwa Arin (betina) dan dua lainnya jantan.

Dan sekarang, aku semakin bingung karena jumlah kucing di rumah sudah 5 ekor saja dalam waktu kurang dari setahun.

Lanjutkan membaca “Aneh: Arin Sudah Melahirkan”

Nasi Goreng dari Bapak

Nasi goreng dari bapakSumber gambar: resepayam.net

Akhir-Akhir ini, beberapa malam dalam minggu ini, bapak sedang gencar-gencarnya mempromosikan nasi goreng langganannya. Kata bapak rasanya enak. Jadi, ketika beliau membeli nasi goreng untuk menyenangkan dirinya, tak lupa ia juga membelikanku.

Sebenarnya aku seperti kera kena balacan dengan sikap bapak. Lagipula rasa nasi gorengnya tidak enak di lidahku. Tapi karena sudah dibelikan dan sekadar menghormati bapak, maka aku pun mengkonsumsinya. Lagipula sayang kalau dibuang.

Pernah aku berkata dengan hati-hati agar tidak menyinggung bapak, kalau aku lebih suka dengan nasi goreng di tempat lain. Tapi malah bapak bilang harganya mahal. Selisih Rp 3.000.

Lanjutkan membaca “Nasi Goreng dari Bapak”

Makanan Kucing : Nasi Dicampur Ikan Pindang

Makanan Kucing kampung nasi dicampur ikan pindangSumber gambar : Kucingpedia.com

Ini pengalaman pertama memelihara kucing. 3 Kucing kecil yang dulu dilahirkan di rumahku oleh kucing liar, kini sudah berumur 6 bulan lebih. Dan syukurlah mereka masih sehat dan semakin besar.

Sejak mereka kecil, aku sudah memberi makanan dari toko. Merk Felibite. Dan kucing-kucing itu sepertinya menyukainya.

Tapi sempat mereka tidak mau makan lagi. Sepertinya mereka bosan. Peribahasanya adalah diberi betis, minta paha. Tapi karena kucing adalah makhluk tak punya pikiran, maka aku memaklumi tingkah mereka.

Lanjutkan membaca “Makanan Kucing : Nasi Dicampur Ikan Pindang”

Sebuah Warung


Berbulan-bulan yang lalu, ibu sempat mengatakan ingin membuka warung di depan rumah. Bahkan sudah mendatangkan pasir-pasir yang akan digunakan untuk membuat tanah sejajar dengan jalan kampung mengingat rumah kami menjorok ke dalam. Namun rencana tersebut tidak kunjung menjadi kenyataan dan hanya menjadi wacana.

Sampai adik perempuanku, yang telah berumah tangga, mengatakan ingin membuka warung kecil. Tak berapa lama kemudian, rencana tersebut langsung terlaksana.

Awalnya hanya menjual makanan ringan dan bermacam-macam es instan seperti Jas Jus, Pop Ice dsb, tapi lambat laun warung itu berkembang dengan pesat. Lanjutkan membaca “Sebuah Warung”

Periksa Lagi….

Kemarin malam sebenarnya ingin menulis seperti biasa. Tapi karena keesokan harinya harus berangkat ke Surabaya untuk periksa rutin, maka Ibu menyuruh untuk tidur lebih cepat. Agar bisa bangun dan berangkat pagi-pagi.

Bagiku perjalanan ke Surabaya merupakan hal yang membosankan. Dimulai dari menunggu kendaraan umum, lalu duduk diam selama perjalanan, dan begitu seterusnya sampai tiba di tujuan.

Untungnya aku mewarisi smartphone baru. Jadi, selama perjalanan aku membuka portal berita sepak bola dan mengamati bursa transfer musim panas tahun ini. Setidaknya aku bisa lupa diri dimana aku berada. Lanjutkan membaca “Periksa Lagi….”

Hari ke-24: Anis dan Es Coklat

ANIS dan es coklatSumber gambar : mistercoklat.blogspot.com

Adik terakhir saya perempuan, bernama Anis Fitria. Ia masih duduk di kelas 7 MTSN Mojosari. Tubuhnya agak gemuk. Tapi itu alasan terbaik bagi semua anggota keluarga untuk mengodanya, mengatakan bahwa ia terlalu banyak makan dan harus mulai mengontrol pola makannya. Namun sia-sia. Anis tidak pernah peduli dan hanya tertawa-tawa saja.

Minuman favoritnya sepertinya adalah es coklat. Awalnya saya kira Anis hanya ingin es coklat saja ketika suatu malam ia minta diantar membeli es coklat. Maklum saja, saat itu saya baru keluar dari tempat rehabilitasi skizofrenia dan tidak banyak tahu perkembangan adik perempuan saya tersebut. Namun akhirnya saya sadar, hampir setiap minggu ia membeli es coklat.

Lanjutkan membaca “Hari ke-24: Anis dan Es Coklat”