Kategori: cerpenku

FF: Keberuntungan

Keberuntungan Nasib

Udin punya banyak musuh, tetapi ia tidak pernah menyadarinya. Teman-Teman sekelas membencinya karena ia tak mau memberi contekan, baik ketika ada tugas maupun ulangan.

Bagi golongan anak yang kurang cerdas, ia dianggap si pelit. Bagi golongan anak cerdas lainnya, Udin adalah lonjak bagai labu dibenam.

Pada suatu hari, Udin ijin tidak masuk kelas karena harus ikut keluarganya menghadiri hajatan sanak saudara. Kebetulan di hari itu ada tugas Bahasa Indonesia yang harus dikumpulkan esok hari, yakni mengarang sebuah cerita keseharian.

Lanjutkan membaca “FF: Keberuntungan”

Cerpen: Sepak Bola

Cerpen: sepak bolaSumber gambar: budiuzie.wordpress.com

Aku tidak mengira kejadian itu akan membekas dan berpengaruh buruk buat pergaulanku. Aku masih berusia 12 tahun kala itu. Di Minggu sore, seperti biasa, teman-teman sepermainanku menjeputku untuk bermain sepak bola.

“Anak-Anak yang lain sudah kumpul ya?” teriakku dari depan pintu rumah kepada teman-temanku yang sedari tadi memanggil namaku di depan pagar.

“Sudah Gus, tinggal nunggu kamu saja!” Ardian berkata cukup keras, namun tidak seperti berteriak, mewakili kumpulan anak-anak lain tanpa diminta.

“Tunggu 5 menit kalau begitu.” Setelah itu aku masuk ke rumah dan berpamitan pada ibu.

Lanjutkan membaca “Cerpen: Sepak Bola”

Cerpen : Sepeda dan Playstation

Cerpen sepeda dan playstation

Sumber gambar : tokopedia.com

Walaupun ibu melarangku untuk meninggalkan rumah, tapi aku tetap nekat menuntun sepeda milik ibu keluar dari pekarangan rumah. Ini musim liburan. Apalagi aku mendapatkan rangking 3 besar di semester satu kelas 5 tahun ini. Jadi, aku semakin bandel dengan perintah ibuku.

Siang ini aku ingin bermain playstation seperti biasa. Aku merasa berhak melanggar perintah ibuku karena aku sudah melaksanakan tugasku dalam belajar di sekolah. Aku ingin memanjakan diri. Meskipun di hari biasa tetap saja aku tidak menghiraukan perintah ibu untuk tidak terlalu sering bermain playstation.

Kata ibu playstation bisa membuat lupa untuk belajar. Tapi aku membuktikan itu merupakan pemikiran yang salah. Meski kuakui, kadang-kadang aku memang terlalu asyik bermain playstation dan lupa waktu.

Lanjutkan membaca “Cerpen : Sepeda dan Playstation”

FF : Siapa yang Pencuri?

Suatu siang, setelah Udin mandi di sungai dengan teman-temannya, di dalam perjalanan pulang, Udin melintasi perkebunan tebu di sekitar sungai sendirian.

Tiba-Tiba Udin mendapatkan wangsit brilian setelah melihat bapak separuh baya memanen tebu-tebu.

Udin merasa beruntung, ketika udara panas, ia mungkin dapat menikmati tebu-tebu yang manis. Maka Udin memberanikan diri untuk meminta tebu kepada bapak-bapak yang ia lihat.

Lanjutkan membaca “FF : Siapa yang Pencuri?”

Cerpen : Surat Cinta

Sumber gambar : liputan6.com

Karena piket, Adi sengaja berangkat pagi-pagi sekali. Selain untuk menghapus papan tulis, mengambil kapur, dan menata taplak meja guru, Adi juga berencana untuk meminjam PR teman untuk dicontek. Dan Adi terpaksa tidak sarapan agar semua rencananya berjalan dengan sempurna.

Tapi Adi datang terlalu pagi. Kelas masih kosong. Jam dinding masih menunjukkan pukul 05:40 WIB dan masih sedikit sekali siswa yang datang sepagi itu. 

Melangkah dengan ragu-ragu, Adi memasuki kelas 2-E dengan agak malas. Ia berpikir akan pergi ke kantin sebentar setelah menaruh tas. Meskipun di kantin SMP-nya tidak menyediakan menu makanan berat di pagi hari, Adi merasa roti-roti seharga Rp 2.000 sudah cukup untuk memberinya energi sampai jam istirahat.

Lanjutkan membaca “Cerpen : Surat Cinta”

Cerpen : Pencuri di Kelas

Pencuri di kelasSumber gambar : devianart.com

Senin pagi itu ada hal baru di SDN 1 Sarirejo. Ada murid baru. Segera setelah itu Pak Iwan mempersilakan murid baru masuk.

Seorang anak berkulit putih kemudian tampak malu-malu masuk di kelas 4. Kemudian ia berdiri di depan kelas, “Namaku Faisal Ansori Lubis. Panggil saja aku Faisal. Semoga kita bisa berteman dan belajar bersama-sama.”

Lalu Pak Iwan menyuruh Faisal duduk bersama dengan Adi, anak paling gemuk di kelas 4. Aku senang dengan kehadiran Faisal, mengingat sudah 3 bulan pertama di kelas 4 dan Adi sering diledek sebagai “Penunggu” oleh teman-teman karena duduk sendirian. Tahun lalu jumlah murid di kelas genap 22 anak, tetapi karena Ardian tidak naik kelas, jadi jumlah murid kelas 4 tahun ini hanya 21 anak saja. Lanjutkan membaca “Cerpen : Pencuri di Kelas”

Cerpen : Antara Dua Penulis

Antara dua penulisSumber gambar :taferresort.com

Aku sedang menunggu seorang gadis di D’Coffee Cafe. Pekerjaannya adalah bloger profesional. Dia menerbitkan cerita-cerita pendek di blog setiap minggu. Dan seperti kataku, profesional berarti ia juga mengisi kolom cerita di majalah-majalah terkenal.

Perkenalanku dengannya baru satu tahun. Aku yang baru lulus SMA ingin jadi penulis. Sempat pesimis dengan impianku karena hanya lulusan SMA saja, tapi gadis yang kuceritakan juga hanya lulusan SMA. Jadi, secara tidak langsung ia telah menginspirasiku.

Lanjutkan membaca “Cerpen : Antara Dua Penulis”

Cerpen Tanpa Dialog : Cinta Pertamaku

Cinta pertamaku

Sumber gambar : gambarzoom.com

Sudah setahun aku lulus SMA. Sekarang aku bekerja sebagai penjual buah di pasar, meneruskan usaha kedua orang tuaku. Sebenarnya aku ingin seperti teman-teman lainnya, bekerja di pabrik, dan mendapatkan kepastian gaji di akhir bulan. Tapi orang tuaku sudah mencuci otakku. Mereka sering menceritakan bagaimana mereka memulai usaha usaha dari nol, kemudian mulai berkembang, dan menjadi besar seperti saat ini. Lapak buah adalah kebanggaan orang tuaku, simbol kerja keras mereka di masa muda, dan mereka memaksaku untuk melanjutkan apa yang mereka bangun.

Tapi akhir-akhir ini aku mulai menyukai pekerjaanku. Walaupun penghasilan pedagang buah tidak pasti, tapi jika Tuhan sedang berbaik hati, maka aku bisa mendapatkan untung yang lebih besar dari pekerja pabrik pada umumnya. Mimpiku saat ini adalah mengembangkan usaha buah menjadi lebih besar lagi.

Lanjutkan membaca “Cerpen Tanpa Dialog : Cinta Pertamaku”

Apakah Kau Mencintaiku?

Malam ini tampak begitu indah. Bulan begitu cemerlang tidak tertutup oleh awan sehingga sinarnya mampu menyinari kegelapan malam. Begitu pula bintang. Jika saja orang tidak terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, maka mereka semua pasti setuju bahwa jumlah bintang yang bersinar malam ini tampak menakjubkan dibanding malam-malam lainnya. Angin pun tidak terlalu buruk. Sepoi-sepoi. Memberi sedikit kesejukan di tengah musim panas seperti saat ini.

Di perumahan pungging masih terlihat sepi. Keadaannya tidak pernah berubah. Sejak dahulu selalu seperti itu. Pada pukul 10 malam kebanyakan orang sudah terlelap. Atau jika ada yang masih bangun, mereka lebih nyaman untuk beraktivitas di dalam rumah. Dari kejauhan tampak sesosok bayangan hitam di depan teras sebuah rumah. Ia seorang wanita dan umurnya tidak lebih dari 25 tahun. Terlihat jelas ia sering tersenyum sendirian saja.

Shinta tersenyum bukan tanpa alasan. Ia sedang teringat pada seseorang yang entah mengapa ia rindukan malam ini. Seorang teman. Namanya adalah bram.

Shinta ingat betul bagaimana ia bertemu dengan bram pertama kalinya. Itu ketika ia dan beberapa teman mahasiswanya mengadakan seminar di kampusnya. Bram adalah salah satu pembicara yang diundang. Dan shinta harus sering menghubunginya untuk memastikan semua kegiatan seminar berjalan seperti seharusnya. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan hubungan mereka berdua. Tapi itu semua berubah sejak mereka bertemu di kafe depan kampus shinta. Shinta dan bram yang secara tidak sengaja bertemu pun akhirnya berbincang-bincang. Basa-basi. Tapi itu adalah awal dari segalanya.

Setelah beberapa pertemuan dan mengalami beberapa kecangungan, shinta mulai merasa sangat nyaman dengan bram. Mereka mulai menjalin hubungan pertemanan. Mencari kafe-kafe yang asyik dan ngobrol banyak hal, nonton film berdua, bahkan kadang-kadang bram menjadi lelaki yang terlalu perhatian menjenguknya dengan membawa bunga saat shinta sakit panas selama 3 hari. Hal itu sangat berarti bagi shinta. Setidaknya ia punya kenangan yang manis ketika bersama bram. Sesuatu yang jarang ia dapat dari teman-temannya.

Bukan itu saja. Bram juga tampak begitu mengesankan ketika shinta berulang tahun. Tiba-tiba saja bram menarik lengan shinta menuju mobil dan mengatakan kalau ia membutuhkan bantuan. Shinta hanya menurut saja. Sampai mereka tiba di toko emas pasar legi mojosari. Shinta sebenarnya masih bingung dengan maksud bram. Memang bantuan apa yang bisa ia lakukan untuk temannya tersebut? Dan ia menyukai kejutan bram. Tiba-ttiba saja bram berkata “aku tidak tahu kalung seperti apa yang kau sukai. Jadi pilihlah sendiri kalung yang kau inginkan sebagai hadiah ulang tahunmu hari ini”. Begitulah. Dan bram tampak begitu lucu ketika berkata waktu itu. Shinta masih ingat dengan senyuman khas yang dimiliki bram.

Entah sudah berapa lama shinta merenungkan semua pengalaman hidupnya ketika bersama dengan bram. Shinta tidak pernah tahu mengapa ia tiba-tiba teringat dengan semua perhatian yang ia dapat dari bram. “Apakah ini yang namanya cinta?” shinta masih bingung dengan perasaannya.

“Mungkinkah tanpa kusadari bram telah menanam benih-benih cinta dalam hatiku” shinta bertanya pada diri sendiri. Tapi ia sendiri tidak tahu jawaban dari pertanyaan tersebut. “Pasti akan menyenangkan seandainya bram menjadi kekasihku” shinta tersenyum dengan apa yang terlintas di pikirannya.

Malam ini shinta telah banyak memikirkannya. Ia sudah tidak tahan untuk terus menahan perasaannya. Sudah tidak jaman wanita menunggu seorang pria untuk mengatakan cinta. Apa salahnya jika aku yang mengungkapkan terlebih dahulu. Shinta sudah yakin dengan keputusannya. Ia mengirim sms kepada bram dan ingin bertemu di tempat biasa pukul 10 pagi besok. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghebuskannya. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya menuju kamarnya. Malam itu shinta tidak benar-benar memejamkan matanya. Ia sudah tak sabar untuk segera bertemu bram. Begitulah malam itu ia lewati dengan gelisah. Namun membawa harapan yang benar-benar indah.

*****

Bram sampai di kafe di depan kampus shinta. Ia memilih tempat duduk di pojok. Beberapa menit setelah ia duduk, pelayan pun menghampirinya. Bram memesan secangkir kopi dan mengatakan kalau ia sedang menunggu teman. Pelayan itu pun segera pergi. Sepertinya ia tidak bersemangat melayani pembeli yang hanya memesan secangkir kopi. Itu lebih berarti kecil kemungkinan ia mendapat tip dari tamu yang baru saja ia layani.

Jam tangan bram sudah menunjukkan pukul 10.15 wib. Bram ingin memastikan shinta tidak lupa dengan janjinya untuk menemuinya dengan menghubunginya. Baru saja ia mengeluarkan handphone, tiba-tiba ia melihat sosok yang begitu ia kenal dari kejauhan. Tampak seorang wanita mengenakan kaos sempit yang memperlihatkan semua lekuk tubuhnya berlari ke arahnya. Secara otomatis ia memasukan handphone yang ia pegang ke sakunya. Ia tidak perlu menghubungi shinta karena orang tersebut telah berada di depannya.

“Duh… maaf ya terlambat. Aku harus meyakinkan teman-teman kalau aku tidak bisa belanja dengan mereka hari ini” shinta langsung duduk di kursi kosong di depan bram.

“Dasar cewek. Memang apa asyiknya menghabiskan uang untuk berbelanja barang-barang yang tidak kalian butuhkan” bram menggoda shinta dengan tersenyum.

“Itu rahasia kami para cewek. Tidak seharusnya aku memberi tahu seorang cowok tentang rahasia berbelanja. Jadi… ya… itu rahasia donk” shinta pun melemparkan senyum pada bram. Senyum yang lain dari biasanya.

Bram menyadari ada sesuatu yang berbeda dari shinta. Senyumnya tampak tulus. Wajahnya pun penuh keriangan. Sepertinya shinta sedang gembira. Tapi karena apa? Bram tidak mau berprasangka. Ia bertanya kepada shinta “ mengapa kok senyam-senyum sendiri?.”

“Nggak ada apa-apa. Cuma hari ini pasti akan menjadi hari paling menyenangkan dalam hidupku” shinta menjawab dengan suara terhalusnya. Ia sudah bertekad akan menyatakan cintanya pada pria di depannya beberapa menit kemudian. Ia yakin pasti bram mau menjadi kekasih hatinya.

Bram manggut-manggut saja. Wanita selalu bisa tampak lebih misterius dari apa yang ia duga.

Pelayan menghampiri mereka berdua. Mengantarkan kopi pesanan bram. “Ada lagi yang mau dipesan mas” pelayan itu bertanya kepada bram. Bram menoleh ke shinta. Shinta segera menjawab mewakili bram “ Tidak usah mas. Nanti kalau perlu sesuatu saya pasti pesan sendiri”. Shinta acuh tak acuh dan pelayan itu pun segera meninggalkan mereka berdua.

“Ada apa shin? Kok kamu mau ketemuan hari ini” bram menyeruput kopi panasnya sedikit demi sedikit.

Dengan suara manja shinta pun berkata “bram…. lihat aku dong”. Ia ingin mendapat perhatian bram. Bram pun segera meletakkan kopinya dan menatap shinta.

“Aku sudah memikirkannya. Kita sudah banyak melewati waktu yang begitu menyenangkan berdua. Aku ingin hubungan kita lebih serius lagi. Aku ingin kau menjadi kekasihku. Bagaimana menurutmu bram?”

Bram seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Tapi ini sungguh kejutan yang membuatnya terdiam beberapa saat. Ingin rasanya ia memeluk shinta dan mengatakan bahwa ia juga mencintai shinta. Tapi itu tidak pernah terjadi.

“Dengarkan aku baik-baik shin. Sebenarnya aku juga mencintaimu. Tapi aku tidak akan bisa membuatmu bahagia. Aku lebih senang jika kau memilih pria lain untukmu.” Bram menjawabnya dengan ragu-ragu.

“Mengapa seperti itu bram?selama ini kau mampu membuatku tersenyum. Aku bahagia ketika bersamamu. Setidaknya kita coba dulu.” Shinta sangat yakin dengan perkataannya kali ini.

Bram menarik nafas dalam-dalam. “Pulanglah dulu. Nanti sore aku akan ke rumahmu dan memberi jawaban. Aku ingin memikirkannya dulu. Tidak apa-apa kan?”.
Sepertinya bram ragu-ragu. Terlihat dari nada bicaranya yang rendah.

“Aku berjanji apapun jawabanmu nanti tidak akan mengubah pertemanan yang kita jalin. Tapi aku sangat berharap kita mencoba untuk saling memahami sebagai seorang kekasih”. Shinta tampak lebih tegar dan baginya, itu adalah ucapan yang bijaksana.

Shinta pergi meninggalkan bram seorang diri. Sementara itu bram memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Kebingungan.

*****

Shinta duduk di teras rumahnya. Ia tampak gelisah. Ia sedang menunggu kedatangan bram. Hatinya berdebar-debar. Ia malu mengakui bahwa sepertinya bram tidak mencintainya. “Mungkin bram hanya mencari kata-kata yang halus untuk menolak cintanya” pikirnya.

Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil kijang warna hitam memasuki halamman rumah shinta. Mobilnya terlihat sangat bersih. Pemiliknya pasti merawat mobil itu dengan sangat baik sehingga mobil itu terlihat mengkilap seperti mobil baru. Bram keluar dari mobil. Matanya memandang shinta dari kejauhan. Ia berjalan lambat menuju teras rumah shinta. Disana terlihat shinta tersenyum. Ia tahu bahwa wanita di depannya sedang menunggu dirinya.

Bram pun duduk. Ia menatp shinta. Menghela nafas seolah ia terlalu banyak memiliki udara di paru-parunya. “ Aku ingin jujur padamu shin. Mau kau mendengarkan sedikit ceritaku dulu sebelum aku menjawab pertanyaanmu”.

Shinta mengangguk saja. Ia tidak mengatakan sesuatu. Bram kembali menatap shinta. “Sebenarnya aku pernah mencintai wanita lain selain dirimu. Tapi aku sangat yakin bahwa aku tidak akan bisa membuatnya bahagia. Itu mengapa aku ikut senang jika ia menemukan pria yang tepat. Begitu pula denganmu. Aku tidak akan bisa membahagiakanmu” bram berhenti sejenak.

“Apakah aku mencintaimu? Ya… aku sangat mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku. Tapi seperti halnya pada wanita lain yang kucintai, aku akan senang jika kau menemukan orang lain selain diriku untuk menjadi pasanganmu.”

“memang mengapa kita tidak bisa menjadi sepasang kekasih? Bukankah kau juga mencintaiku sebagaimana aku mencintaimu?” shinta terlihat penasaran dengan jawaban bram.

“Aku punya rahasia besar yang tidak pernah diketahui siapapun. Sebenarnya aku……..” bram tampak ragu.

“Aku impoten” bram berkata dengan jelas.

“Sekarang terserah padamu. Jika kau bisa menerima kekuranganku, aku akan menjadi kekasih yang baik untukmu. Tapi jika kau tidak bisa menerima kekuranganku, aku maklum saja karena kebanyakan wanita tidak akan menerima kekurangan yang satu itu. Apapun jawabanmu, aku akan tetap menjadi temanmu seperti yang sudah-sudah”.

“itu saja. Aku pulang. Pikirkan dengan baik”. Bram segera melangkah pergi meninggalkan shinta yang masih kebingungan.  Menuju mobilnya, masuk, dan menyalakan mobilnya. Bram akhirnya benar-benar meninggalkan shinta.

Untuk pertama kalinya shinta benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Kekurangan bram yang seperti itu sangat diluar perkiraan shinta. Ia pun mulai ragu untuk bisa menerima bram apa adanya. Tiba-tiba saja shinta menangis. Ia merasa kasihan dengan bram. Dan tentu saja, ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan bram. Apakah ia mencintai bram? Tentu saja. Tapi apakah ia bisa menerima kekurangan bram? Ia tidak tahu.

Ditulis dengan wordpress untuk android