FF: Keberuntungan

Keberuntungan Nasib

Udin punya banyak musuh, tetapi ia tidak pernah menyadarinya. Teman-Teman sekelas membencinya karena ia tak mau memberi contekan, baik ketika ada tugas maupun ulangan.

Bagi golongan anak yang kurang cerdas, ia dianggap si pelit. Bagi golongan anak cerdas lainnya, Udin adalah lonjak bagai labu dibenam.

Pada suatu hari, Udin ijin tidak masuk kelas karena harus ikut keluarganya menghadiri hajatan sanak saudara. Kebetulan di hari itu ada tugas Bahasa Indonesia yang harus dikumpulkan esok hari, yakni mengarang sebuah cerita keseharian.

Anak-Anak kelas 4 akhirnya berkumpul setelah sekolah berakhir.

“Pokoknya nanti kalau Udin tanya apakah ada tugas atau tidak, bilang saja tidak ada” kata Andi dengan berapi-api di depan kelas. “Ini buat memberinya pelajaran.” lanjut Andi, si ketua kelas.

“Tapi bagaimana kalau ia marah karena kita berbohong?” tanya Nita mewakili anak-anak perempuan lainnya.

“Ya bilang saja ini kesepakatan bersama anak sekelas. Biar ia sadar bahwa kita harus tolong menolong agar semua dapat nilai yang bagus.” Sahut David menjawab keraguan Nita dan anak perempuan lainnya.

Bagaimana pun juga, Udin selalu menjengkelkan teman-temannya. Ia seolah menjadi anak emas para guru dan selalu lolos dari hukuman. Udin pernah membawa pulang buku perpustakaan tanpa meminjam, membawa komik ke sekolah, sampai hampir tidur di kelas. Dan berbagai kenakalan lainnya.

Namun Udin sehebat Setyo Novanto dan selalu lepas dari hukuman.

Yang paling menjengkelkan, Udin bisa keluar sebagai juara kelas di semester satu kelas 4. Semua murid di kelas seolah tidak percaya dan beranggapan bahwa para guru hanya pilih kasih.

Kali ini, si belut pasti kena ranjau. Setidaknya itulah yang dipikirkan semua anak kelas 4.

Lagipula Pak Iksan pernah berujar bahwa ia tidak mentolerir anak yang tidak mengerjakan PR. Kalau tidak masuk karena sakit atau lainnya, maka wajib bertanya ke teman lainnya agar bisa tahu PR yang diberikan.

Keesokan harinya, beberapa orang mengaku ditanya Udin perihal PR, tetapi mereka berbohong. Sebelum Udin datang, mereka semua tertawa dan sepakat untuk pura-pura tidak tahu. Mereka ingin melihat Udin dihukum.

Jam pertama, Matematika, terasa begitu lama. Karena setelah itu baru pelajaran bahasa Indonesia, di mana Udin pasti kena hukuman dari Pak Iksan.

Namun setelah pelajaran Matematika, Pak Iksan tak kunjung masuk kelas. Menit-Menit berlalu begitu saja dan semua murid mulai gelisah, kecuali Udin.

Yang ditunggu akhirnya tiba. Pak Iksan masuk ke kelas. Setelah mengucapkan salam, Pak Iksan berkata, “Anak-Anak, tugas mengarang keseharian dari halaman 21 di buku paket bahasa Indonesia bisa diperbaiki lagi di rumah.”

Belum sempat memprotes, anak-anak kembali terdiam dengan lanjutan ucapan Pak Iksan, “Oh ya… di jam istirahat nanti semua boleh pulang. Hari ini semua guru akan ada rapat penting.”

Setelah itu, Pak Iksan langsung pergi ke kantor guru. Untuk pertama kalinya semua anak merasa bingung dengan perasaannya, apakah harus tertawa bahagia karena mereka bisa pulang pagi, atau menangis berduka karena rencana mereka gagal.”

Tiba-Tiba Udin maju ke depan kelas, lalu ia berkata sambil tertawa-tawa, “Teman-Teman, saya mau pulang duluan untuk mengerjakan PR ya…”

“Tapi kan masih 30 menit lagi sebelum bel istirahat.” seorang anak memprotes.

“Lihat keluar, anak-anak kelas 5 dan 6 saja sudah ada yang pulang. Kalau kalian tidak mau pulang dan menunggu ya sudah.” Jawab Udin sambil keluar kelas dan langsung pergi ke gerbang.”

Beberapa anak terdiam saja. Sementara yang lain ada yang mengikuti Udin dan langsung pulang. Tamat.