7 Ide Aneh untuk Taman Baca Masyarakat

Ide untuk taman baca masyarakat

Sumber gambar: ummi-online.com

Dalam rangka memeriahkan giveaway dari Nusa Gates, terpaksa saya daring khusus untuk membaca mengenai tema menulis, yakni Taman Bacaan Masyarakat.

Mengutip dari Sanggar Baca Trilogi, berikut adalah pengertian TBM:

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah sebuah tempat/wadah yang didirikan dan dikelola baik oleh masyarakat maupun pemerintah dalam rangka penyediaan akses layanan bahan bacaan bagi masyarakat sekitar sebagai salah satu sarana utama dalam perwujudan konsep pembelajaran sepanjang hayat untuk mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar TBM.

Berdasarkan pengertian di atas, maka ide mengenai TBM adalah sesuai dengan khayalan saya mengenai tempat membaca yang asyik. Berikut adalah usulan saya:

1. Sediakan WiFi Juga

Ketika membaca buku, ada saat di mana pembaca penasaran akan informasi yang kurang lengkap di buku.

Misalnya sejarah dunia, biografi tokoh, atau budaya yang berbeda.

Dengan adanya tambahan WiFi gratis, pengunjung bisa langsung mengakses internet untuk mencari informasi pelengkap secara daring sehingga pembelajaran atau ilmu yang diperoleh bisa lebih lengkap.

2. Sediakan Pula Kantin

Sebenarnya ini termasuk ide konyol, dan setahu saya, tidak ada perpustakaan yang juga menyediakan kantin.

Bagi saya, membaca atau belajar tidak selalu harus serius, melainkan bisa juga dilakukan dengan santai.

Akan sangat menyenangkan seandainya membaca buku sambil makan dan minum. Pengalaman semacam itu bisa mengubah paradigma masyarakat bahwa membaca bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.

Istilahnya sambil menyelam minum air. Pengetahuan didapat, perut kenyang, dan bersantai bisa dilakukan sekali waktu.

3. Sediakan Buku-Buku Terbaik

Biasanya buku berkualitas tinggi, terutama karya penulis tersohor, lebih sederhana dan lebih mudah dipahami.

Kalau memang ingin mendirikan TBM, alang-alang berdawat biarlah hitam.

Sekalian saja berinvestasi besar untuk menyediakan buku-buku terbaik yang ada di pasaran.

4. Akan Luar Biasa Jika Ada Ruang untuk Perokok

Saya punya kebiasaan membaca sambil ditemani batang-batang nikotin. Bukan tidak mungkin masyarakat lainnya akan merasa nyaman untuk melakukan hal seperti saya.

Karena di negara ini sepertinya belum ada ruang-ruang khusus perokok, maka menyediakan ruangan semacam itu bisa menarik pengunjung dari kalangan perokok.

Tentu dengan adanya ruang tersebut asap-asap rokok tidak akan menganggu pengunjung lainnya.

5. Pastikan Penjaganya Merupakan Kutu Buku

Jika penjaganya merupakan kutu buku, paling tidak pengunjung bisa meminta rekomendasi buku seperti yang mereka butuhkan. Selain itu, jika mereka ada ganjalan, maka pengunjung bisa bertanya atau berdiskusi dengan penjaga TBM.

Untuk membuat semua berjalan lancar sesuai rencana, otomatis harus mencari kutu buku yang mau membaca buku-buku yang tersedia di TBM dan ramah ketika pengunjung mengajak berdiskusi mengenai buku-buku tersebut.

6. Sistem Peminjaman yang Lebih Lama

Saya kurang mengerti apakah TBM juga melayani peminjaman buku sebagaimana perpustakaan. Namun apabila memang ada, sebaiknya sistem peminjaman paling lama satu minggu.

Hal ini berkaitan dengan kesibukan. Terkadang rencana membaca tidak berjalan sebagaimana mestinya dan butuh waktu lebih lama. Juga mengantisipasi bahwa tidak semua orang mampu membaca dengan cepat.

Waktu dua hari seperti di perpustakaan masih kurang. Selain membuat orang malas karena harus mengunjungi perpustakaan ketika bacaan belum selesai untuk melakukan perpanjangan, hal tersebut bisa menurunkan minat masyarakat yang belum terbiasa membaca.

Setidaknya berikan waktu satu minggu untuk masa peminjaman buku.

7. Adakan Diskusi Terbuka Secara Rutin

Untuk menjalin hubungan antara pengelola dan pengunjung, mungkin pihak TBM bisa menyelenggarakan acara diskusi terbuka mengenai buku-buku yang paling sering dipinjam. Bisa setiap dua minggu atau sebulan sekali.

Dengan demikian, para pembaca buku bisa bertukar pikiran dengan pembaca lainnya. Tugas pengelola TBM hanya menjembatani acara tersebut.

Diharapkan, dengan adanya acara semacam itu, terbentuk komunitas membaca di daerah di mana TBM didirikan.

Apakah Anda punya ide aneh lainnya? Bagikan di kotak komentar.

Iklan

32 tanggapan untuk “7 Ide Aneh untuk Taman Baca Masyarakat

  1. Idenya mas shiq sudah diterapkan di Perpustakaan Nasional milik negara. Perpus paling ntaf se-Indonesia kupikir sih, nanti mau tulis catatan perjalanan ke sana ah..
    Kalau ide anehku tentang perpustakaan itu, harus ada bantal dan sofa untuk bersandar saat membaca buku (kalo ga berakhir ketiduran sih ya) πŸ˜‚πŸ˜›

    Disukai oleh 1 orang

    1. Waow benarkah? Saya nggak tahu klo perpustakaan nasional udah begitu. Klo ada yang seperti di atas berarti keren abis. Cuma saya masih belum pernah berkunjung ke perpustakaan nasional.

      Wkwkwk…. itu juga ide bagus. Jadi serasa di ruang keluarga klo ada bantal dan sofa πŸ˜€

      Suka

  2. Haha…klau yg nomer 3 sih gak aneh menurut saya, selebihnya memang aneh, tp ide yg cerdas jg aplgi klau dibuat ada wi-fi, psti menarik tu, spnjang gak keterusan main wi-fi gratis aja sih, πŸ˜‚

    Suka

    1. Iya… klo orang indonesia sih biasanya dibuat untuk apa digunakan untuk apa. Memang rawan dengan penyalahgunaan. Bisa-Bisa nanti ke TBM cuma buat download dan pura2 baca buku. Soalnya kesadaran masyarakat rendah sekali berkenaan dengan tujuan pengadaan suatu fasilitas πŸ˜€

      Suka

  3. Ide #6 itu mas… aku heran kenapa cuma dikasih waktu 1-2 hari… mungkin karena keterbatasan buku juga sih ya, jadi biar semua orang dapet kesempatan. Tapi betul sekali, 1-2 hari itu engga bakal cukup buat orang yang kerja. Apa lagi kalau full time.

    #7 itu aku suka sekali. Kalau di luar negeri sering ada semacam comic con, atau book signing… aku pengennya selain ada diskusi, mungkin sekali-kali mengundang penulis untuk sekedar book signing, pembacaan, atau bahkan ikut diskusi.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ya mestinya untuk buku yang paling sering dipinjam stoknya ditambah. Iya itu alasan kenapa saya malas pinjam buku di perpustakaan.

      Wah itu mewah sekali klo bisa mengundang penulis untuk terlibat dalam suatu kegiatan. Semoga ada ya di tahun-tahun mendatang. πŸ˜€

      Suka

  4. Aneh, tapi kalo beneran ada seru sih mas. Pengunjung pasti bakal betah.

    Kalo menurut saya, mungkin ruangannya dibuat senyaman mungkin, dari tempat duduk sampe sirkulasi udara yang cukup. Sarana semacam toilet juga disediain. Standar banget. Hhhaa

    Suka

    1. Katanya Launa dah diterapkan di perpustakaan nasional. Cuma saya belum pernah ke sana.

      Nah kalau toilet itu sepertinya mesti ada. Soalnya di perpustakaan daerah saya nggak ada toiletnya πŸ˜€

      Suka

  5. Pengalaman di taman baca di tempat saya di Tangerang, kalo pake wifi nanti bisa-bisa cuman dateng download dan mantengin gadget doang nggak baca. Tau sendiri kan fakir wifi kelakuannya nyebelin kayak gimana, di foodcourt yang bayar (beli makanan) aja bela-belain nyari wifi, apalagi di tempat dengan wifi gratisan. Nggak kebayang deh saya. Kedua, soalan kantin, taman baca di tempat saya berada di kolong fly over. Di sepanjang sisi jalannya ada warteg, angkringan dan penjaja kopi dengan sepeda motor. Itu sudah cukup sih sejauh ini. Yang paling penting dan relevan hari ini adalah, bagaimana menjalin relasi dan berjejaring dengan komunitas-komunitas lainnya yang sama-sama beririsan di ruang publik. Sejauh ini contoh komunitas yang konsisten dan layak dipuji adalah Perpustakaan Jalanan Bandung, saya salut dengan kawan-kawan di sana.

    Disukai oleh 1 orang

Komentar ditutup.