Koin-Koin 500 Rupiah

Koin-Koin 500 Rupiah

Sumber gambar: ariaturns.com

Beberapa bulan lalu, tiba-tiba layar laptop menjadi hitam. Setelah sempat dibawa ke tukang service komputer, perlu mengganti monitor dengan yang baru. Biayanya tepat Rp700.000,00.

Dekat tak tercapai, jauh tak berantara. Dipikir-pikir, harga laptop milikku dulu adalah Rp1.000.000,00 saja. Bekas adikku. Jika untuk memperbaikinya saja butuh Rp700 ribu, tentu itu harga yang tidak rasional. Jadi, aku tidak memperbaikinya.

Rencananya aku akan beli laptop baru tahun depan. Kulihat ada laptop antara Rp1,5 juta – Rp2 jutaan saja di brosur-brosur yang beredar. Masih baru, meski mungkin model lama. Lagipula aku hanya memakai laptop untuk keperluan menulis saja.

Aku tidak tergesa-gesa. Karena kalau ingin menulis panjang, aku tinggal menulis via smartphone dengan bantuan OTG. Rasanya sama saja. Lagipula aku harus menabung dulu untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Jadi, mesti bersabar dulu untuk beberapa waktu.

Sampai beberapa minggu yang lalu, aku terkena masalah yang aneh sekali. Ibu tiba-tiba membawa laptop milikku yang rusak dan memperbaikinya ke seseorang. Kata ibu, handphone bekasnya yang rusak saja bisa diperbaiki, dengan harga Rp10.000,00 saja.

Orang tersebut minta Rp350.000,00 saja, setengah harga dari tukang service komputer yang kudatangi. Dan masalahnya, aku sedang tidak punya uang.

Mungkin ini seperti peribahasa “kuda tua: dipekerjakan tak boleh, nak dibunuh sayang.”

Harganya tergolong murah, namun aku masih tidak mampu membayarnya. Sempat aku berpikir untuk tidak jadi saja dan tetap pada rencanaku membeli laptop tahun depan, tetapi kata ibu sudah terlanjur dibawa orangnya.

Semalaman aku tidak bisa tidur. Darimana uangnya? Aku punya uang Rp700 ribu, namun uang itu kukumpulkan untuk membelikan smartphone baru untuk adikku. Jadi, aku tidak akan memakainya.

Lalu gagasan berutang pun muncul, tetapi baru memikirkannya saja aku sudah merasa tidak enak. Maka…. kucoret pilihan itu.

Tiba-Tiba saja aku melihat Ayam Biru, tempat aku memasukkan koin-koin Rp500,00. Sudah hampir setahun aku mengisinya dan sudah hampir penuh. Padahal aku ingin mengoleksi celengan berisi uang koin, tetapi baru satu pun tidak mampu kupertahankan.

Dengan berat hati kupecahkan ayam biruku. Kulihat sekilas, ah… jumlahnya pasti tidak seberapa. Dan aku hilang harapan, bahkan beberapa kali memakai uang receh tersebut untuk membeli rokok.

Sampai suatu pagi, ibu datang ke rumah. Kutunjuk saja celengan ayamku dan asal bilang ‘sisanya nanti‘ atau semacamnya. Dan setelah dihitung ibu, jumlah koin-koin itu mencapai Rp190.000,00. Lumayan juga untuk mengurangi bebanku, pikirku.

Dan entah kebetulan atau tidak, bertepatan dengan suatu perayaan, lapak buahku ramai selama dua hari.

Di hari pertama, ketika aku jaga memang sepi (jam siang), tetapi sejak pagi plus lembur malam ketika menemani bapak berjualan, penjualan sangat bagus. Aku mendapatkan uang Rp50.000,00 saat itu.

Di hari kedua, di jam siang, selama sekitar 4 jam saja, penjualan mencapai Rp1.300.000,00 lebih. Jadi, aku mengambil Rp100.000,00 saja.

Maka terkumpul Rp150.000,00. Setelah kupakai Rp15.000,00 untuk membeli pulsa, sisa uangnya langsung kubayarkan pada ibu dan mengatakan sisanya utang dulu.

Jadi, masalahku beres juga. Uang yang sudah kubayar Rp325.000,00 dan utang Rp25.000,00 kepada ibu bukan masalah besar.

Padahal aku sempat menyalahkan ibuku karena seenaknya mengambil laptopku dan memperbaikinya tanpa bicara denganku dulu. Ternyata di dunia ini memang penuh dengan kebetulan-kebetulan. Meski aku sadar menyalahkan orang lain bukan tanda kebijaksanaan, tetapi tetap saja aku tidak bisa menahan diri jika masalah yang hadir bukan sepenuhnya tanggung jawabku.

Bagaimana dengan masalahmu? Apakah terjadi kebetulan-kebetulan yang menyenangkan juga? Bagikan di kotak komentar.

28 tanggapan untuk “Koin-Koin 500 Rupiah

  1. Wah hebat celengannya…
    Aku belum pernah nabung lagi, sudah lama sekali.
    Jadi terinspirasi nih.
    Masalahku saat ini hanya satu, belum bisa menghasilkan uang yang banyaaaaaakkkkk….
    Wkwkkwk…

    Suka

  2. Duh, lumayan tuh mas tabungannya. Bisa dipake pas kebutuhan mendadak gini.

    Laptop saya juga rusak, kayaknya si hard disknya. Kalo beli baru harganya 800-sejutaan. Tentu saya tak punya uang segitu. Jadi, laptop nya saya biarin dulu, toh laptop seringnya dipake buat mutar musik doang. Karena saya menulis dah kebiasaan di ponsel.

    Apalagi akhir bulan, musim hajatan datang lagi. Jadi, uangnya dipake buat kondanannya dulu. Itupun harus kas bon. Huft

    Suka

    1. Sebenarnya merasa sayang sih, soalnya itu maunya saya koleksi celengan penuh dengan koin. Eh…. malah kepake wkwkw….

      Klo masalah hardisk bisa semahal itu ya? Sama saja ternyata harga memperbaikinya.

      Saya dah nggak pernah kondangan. Udah putus kontak dengan semua orang. Tinggal satu teman saja yang tersisa yang sering main ke lapak saya πŸ˜€

      Suka

      1. Duh, yang penting laptopnya bisa pulih lagi mas. Nanti nabung lagi.

        Ya, mas. Makanya saya biarin aja dulu. Sayang duitnya.

        Duh, sudah benar-benar menutup diri dari kehidupan sosial ya mas?

        Suka

        1. Iya kayaknya. Saya jadi takut ama orang-orang. Cuma pas jualan tetap bisa berkomunikasi dengan baik. Butuh uangnya soalnya ha ha ha…. πŸ˜€

          Suka

  3. memang daam hidup, kadang terjadi kebetulan2.
    Saya dulu juga pernah mengalaminya dan pernah saya tulis di blog saya, yakni saat butuh dompet dan pengin makan jambu , eh mendapat oleh2 keduanya dari orang yang sama.

    Btw, selamat mas, Leptopnya sdh sembuh kan?

    Suka

    1. Ha ha ha…. meski punya lepi saya akan nulis singkat kok. Sedang belajar menulis efektif. Jadi sebisa mungkin sekitar 500 kata saja. πŸ˜€

      Suka

  4. Sebenarnya tidak ada kebetulan di dunia ini mas Shiq4, tapi sudah di atur dan di jalankan Oleh yang Maha Kuasa.
    yang penting kita bersyukur saja dengan yang sudah terjadi dan mengambil pelajarannya.

    jadi sekarang sudah bisa nulis dengan laptop lagi?

    Suka

    1. Belum mas. Sekitar 3 hari yang lalu orangnya ke surabaya. Katanya mau nyari monitor yang murah. Ya…. semoga aja kelar dengan cepat laptopnya. πŸ˜€

      Suka

  5. Tidak bisa ingat peristiwa2nya, tapi lumayan sering merasa β€œdibantu” oleh situasi, dan makin percaya bahwa apa yang kita khawatirkan seringkali tidak terjadi.

    Suka

  6. Itu krn ibunya perhatian bnget dg mas Shiq4.

    Oya, dsna hrga laptop kok ada yg gak sampai 2 jt an ya, luar biasa..tinggal di Jawa hrga2 brng relatif murah ya, beruntungnya. Klau disini, klau gak ada uang 3 jt an lebih, mka notebook pun gak dpt..

    Suka

    1. Ha ha ha… mungkin benar begitu.

      Ada banyak kok laptop dibawah 2 jutaan. Biasanya laptop model lama yang sudah tidak laku. Seingat saya masih menggunakan windows 7 untuk sistem operasinya πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

Komentar ditutup.