Tempe: Makanan Rakyat Indonesia yang Mendunia

Tempe makanan masyarakat indonesia mendunia

Sumber gambar: cookpad.com

Ketika saya masih kecil, keluarga saya ibarat ayam, tiada mengais tiada makan. Jangankan untuk membelikan saya mainan, lauk pauk pun seadanya. Bahkan tak jarang makan hanya dengan nasi dan garam.

Tempe merupakan sesuatu yang menggembirakan bagi kami sekeluarga. Siapa yang mengira bahwa makanan rakyat tersebut kini menjadi populer di masyarakat dunia.

Dalam buku Shocking Japan, Junanto Herdiawan berbagi pengalaman:

“Setiap mengundang kolega Jepang ke restoran Indonesia, saya selalu memilih menu tempe. Mulai dari tempe goreng, tempe dabu-dabu, hingga oseng-oseng, dan sate tempe. Dan, semua orang jepang suka sekali tempe. Mereka sangat mengagumi kelezatan dan tekstur tempe Indonesia.”

Atau di Inggris:

“Saya membeli (nasi dengan) dua lauk, kari tempe kuning dan tempe jinten. Menurut saya ini makanan yang paling enak di dua pasar yang ada dekat sini. Dan juga ini vegetarian, jadi tidak terasa penuh di perut,” kata satu pelanggan.

Menurut Republika, tempe sudah dikenal di 20 negara dunia. Selain karena nilai gizi dan khasiatnya untuk kesehatan, juga menjadi gaya hidup kaum vegetarian.

Konotasi Negatif tentang Tempe

“Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”

Demikian pidato Presiden Soekarno yang menegaskan bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang lembek seperti tempe. Pada masa revolusi kata ‘tempe’ memang kerap diidentikan dengan hal-hal negatif seperti cengeng, mudah menyerah atau lembek. Maka sindiran seperti ‘mental tempe’, ‘pasukan tempe’ atau ‘pemuda kelas tempe’ dipakai untuk meledek mereka yang dianggap lemah (Merdeka.com).

Hingga saat ini, makanan asli Indonesia yang konon sudah ada sejak abad ke-16 ini masih kerap dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif. Karena tempe identik dengan murah dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Padahal di Jepang, seorang pengusaha tempe mampu mengekspor tempe hingga ke Kanada, Meksiko, Korea, hingga ke Eropa.

Masih mengutip dari buku Shocking Japan:

“Akan tetapi, mengapa Rustono memulai usahanya dari Jepang dan bukan dari kampung halamannya di Grobogan, Jawa Tengah?”

“Alasannya adalah soal persepsi dan brand. Persepsi soal kualitas dan higienitas produk dari Jepang lebih bisa diterima di mancanegara. Padahal, menurut Rustono, proses pembuatan tempenya persis sama dengan yang dilakukan di kampungnya.”

“Tanpa bermaksud mengecilkan proses dan produksi tempe di dalam negeri, Rustono mengatakan bahwa Pemerintah Jepang telah memiliki standar sertifikasi dan kualitas yang memang disusun agar berbagai produknya mampu menembus pasar global.”

Tempe bukan sesuatu yang remeh. Bahkan merupakan kekayaan budaya Indonesia dan seharusnya masyarakatnya mulai menghargainya. Setidaknya tidak lagi mengkonotasikan dengan hal-hal negatif sehingga tempe bisa menjadi kebanggaan bersama.

Ibarat manusia, tempe merupakan lobak jadi perigi. Sudah saatnya tempe menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Dapatkah Menjadi Tuan di Negeri Sendiri?

Ikhtiar menjalani, untung menyudahi. Salah satu gerakan untuk mengangkat citra tempe dilakukan oleh Ketua Asosiasi Laboratorium Pangan Indonesia (AlPI), Prof. Winarno pada 2015 dengan “Indonesia Tempe Movement“.

ALPI juga telah melakukan berbagai penelitian dan digalang dengan lembaga lainnya untuk mewujudkan World Tempe Research Center di Indonesia.

Di Bogor, Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Kopti) dan Forum Tempe Indonesia merintis rumah produksi percontohan yang diklaim lebih higienis dengan nama Rumah Tempe Indonesia.

Tujuan didirikannya RTI adalah untuk :

  1. Menjadi pusat inovasi terhadap proses produksi tempe yang bersih, berkualitas dan memenuhi keamanan pangan.
  2. Menjadi Pusat inovasi terhadap produk olahan pangan berbasis tempe.
  3. Menjadi pusat inovasi terhadap peralatan tempe berbasi teknologi tepat guna ( TTG ) yang Higienis, Mudah dan menguntungkan.

Namun semua usaha memopulerkan tempe perlu didukung oleh semua lapisan masyarakat. Orang Indonesia harus mulai bangga mengkonsumsi tempe dan membuatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Dalam buku Sukarno Penyambung Lidah Rakyat:

Wanita-Wanita dari kabinetku selalu menyediakan makanan jualan Eropa.”Kita punya panganan enak kepunyaan kita sendiri.” kataku dengan marah.

“Mengapa tidak itu saja dihidangkan?”

“Maaf pak” kata mereka dengan penyesalan. “Tentu bikin malu kita saja. Kami rasa orang barat memandang rendah pada makanan kita yang melarat.”

Ini adalah suatu pemantulan kembali dan pada zaman di mana Belanda masih berkuasa. Itulah perasaan rendah diri kami yang telah berabad-abad kembali memperlihatkan diri.

Oleh karena itu, mari bersama bangga dengan produk dalam negeri.

Saya jadi teringat sebuah studi kasus ketika masih kuliah dulu. Daging-Daging Amerika berkualitas dengan harga murah pernah menyerbu pasar Jepang. Tetapi kenyataannya masyarakat Jepang punya kesadaran tinggi dan lebih memilih daging lokal sekalipun lebih mahal.

Setidaknya kita bisa mencontoh sikap masyarakat Jepang berkenaan dengan pilihan konsumsi dan mulai mencintai produk dalam negeri agar pengusaha lokal bisa terus berkembang dan bersaing secara global.

Mencari Pengakuan Dunia dari UNESCO

Karena popularitasnya, serta sarat dengan nilai budaya dan ekonomi di Indonesia, mengutip dari Tempo:

Sejumlah Ahli Gizi dan peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tergabung dalam Pergizi Pangan Indonesia dan Forum Tempe Indonesia, mengajukan Tempe sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia pada Badan Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Pengajuan ini dilakukan sebab saat ini ada sekitar 20 negara di dunia yang sudah melakukan penelitian dan membuat produk tempe.

Dilansir BBC:

“Termuat dalam Serta Centhini jilid tiga, jilid 12. Ada kata-kata tempe di situ. Serat Centhini itu diterbitkan pada tahun 1800-an tapi isinya menggambarkan kehidupan di abad 16. Jadi kita percaya tempe sudah ada di Indonesia sejak tahun 1600-an,” kata ketua Forum Tempe Indonesia, Made Astawan.

“Ini penting sebagai pengakuan, jangan sampai tempe sudah dikenal dimana-mana, kemudian enggak jelas asal usulnya dari mana.”

Nah tugas kita sebagai masyarakat Indonesia adalah bangga dan jangan lagi malu mengkonsumsi tempe. Agar dunia sadar bahwa tempe merupakan salah satu makanan bergizi yang berasal dari Indonesia dan terus menjadi makanan yang umum dan mudah ditemui di Indonesia.

Jangan sampai makanan kita kalah dengan makanan-makanan asing milik bangsa lain seperti kata Presiden Sukarno. Apalagi jika kita tidak melestarikannya, bisa-bisa bangsa lain mengklaim tempe berasal dari negaranya seperti kasus-kasus makanan Indonesia yang diklaim Malaysia.

Jadi, apakah Anda sudah mengkonsumsi tempe bulan-bulan ini? Bagikan di kotak komentar.

22 tanggapan untuk “Tempe: Makanan Rakyat Indonesia yang Mendunia

  1. Tempe, salah satu favoritku. Dulu rutin banget tiap sore dimasakin tempe goreng sama ibu. Tp sekarang cuma ngandelin tempe di warteg, lumayan mengobati kerinduan masakan rumahπŸ˜‚

    Disukai oleh 1 orang

      1. Taiwan.πŸ˜…πŸ˜…
        Sebenernya bisa sih kalau mau jauh2 cari tempe atau pesan dlm wakti bbrapa hari.
        Atau ke toko indo gitu juga bisa, cuma tempenya mahalπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜‚πŸ˜‚

        Suka

    1. Di eropa kualitas tempenya memang berbeda dengan yang di indo, jadi harganya lebih mahal. Oh ya…. balasan komentar di blog mbak nella kok nggak pernah muncul di wp reader ya? πŸ˜€

      Suka

  2. Wah, saya suka tempe mas Shiq4. Tiap bulan sllu ada tempe yang tersedia disini, dan sy sllu menikmatinya, murah tapi bergizi. Senangnya mendengar klau tempe kini mendunia.

    Suka

Komentar ditutup.