3 Hari yang Misterius

3 Hari yang MisteriusSumber gambar: Kompasiana.com

Sejak aktif terlibat dalam berdagang bersama orang tua sekitar dua tahun lalu, baru kali ini aku mengalami kejadian yang sangat aneh. Beberapa hari yang lalu, selama tiga hari berturut-turut, penjualan menurun drastis.

Biasanya, di siang hari, rata-rata bisa dapat penjualan hingga 200 ribu. Kalau sedang berair rongkong, bisa dapat sampai 300-400 ribu. Jam kerjanya antara pukul 12 hingga pukul 4 sore.

Tetapi tiga hari itu, meski tidak hujan dan hari sedang panas, aku hanya dapat antara 30-50 ribu saja. Kejadian pertama selama dua tahun terakhir dan terjadi 3 hari berturut-turut.

Mungkin ketika hujan hal tersebut dapat kumaklumi, namun melihat situasi normal, plus dagangan yang lengkap, kejadian tersebut kelam bagai malam dua puluh tujuh. Bagaimana pun aku memikirkannya, aku bingung sendiri dan tidak tahu penyebabnya.

Jangan Difikirkan Air Pasang Saja

Selama berdagang dua tahun terakhir, aku bagai kura-kura kakinya tiada basah. Aku merasa bernasib baik saja dan menikmati pekerjaanku karena tanpa bersusah payah, daganganku laku terjual.

Aku jarang bersedih karena rezeki selalu lancar. Baru setelah kejadian ini, aku tersadar bahwa selama ini aku bernasib baik. Mungkin aku saja yang kufur nikmat dan sering mengeluh sehingga diberi sedikit pelajaran. Bagaimana pun juga, di luar sana masih banyak yang serba kekurangan.

Memang kalau bukan rezeki, di mulut lari keluar. Tapi seharusnya aku menganalisis kejadian ini dan mendapatkan kesimpulan agar tidak terulang di kemudian hari.

Apa Mungkin Gara-Gara Mengkhianati Ilmu Pengetahuan?

Sebenarnya aku tidak terlalu banyak pikiran atau bersedih. Baik ramai maupun sepi, uang jajanku segitu-segitu saja. Tetapi karena kejadian ini, aku sempat merasa bersalah kepada bapak karena hanya menghasilkan sedikit uang dan ingin melakukan sesuatu, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Kata bapak, mungkin karena aku tidak memotong jenggot dan kumis yang mulai memanjang tidak beraturan. Semacam itu.

Hal tersebut mengingatkanku pada teori yang kususun dan aku memasukkan hal tersebut sebagai tips.

Aku sudah melakukannya. Hanya saja tidak konsisten. Kadang-Kadang aku tersiksa sendiri karena teoriku tidak mungkin jalan jika hanya aku sendiri saja yang melakukannya. Masalahnya, orang tuaku punya pengalaman sendiri dan bertanggung jawab mengenai semuanya. Sementara aku hanya mengikuti semua kebijakan tanpa bisa merubah apapun.

Kalau pun aku berdiskusi, jelaslah bahwa umur bapak sudah tua dan ia sudah nyaman berdagang dengan caranya, mana tega aku memberi masukan cara berdagang yang baik dan rumit untuk mengembangkan usaha menjadi lebih baik.

Mungkin kejadian ini terjadi karena aku mengkhianati ilmu pengetahuanku. Soalnya aku kadang-kadang bersikap perfeksionis. Kalau mau maju, maka jalankan semua rencana. Sedangkan jika ada satu dua kekurangan, pasti membuatku memilih berhenti sampai aku bisa menjalankan semua teoriku dengan sempurna.

Keputusannya adalah aku akan berdagang dengan caraku meski tidak sempurna. Karena setelah aku berpenampilan rapi, penjualan kembali seperti biasanya.

Atau Ikan Dikuali, Habis Melompat

Teori lainnya mengapa penjualan menurun tak lain karena memang sedang bernasib sial saja.

Entah benar atau salah, minggu-minggu ini terjadi penertiban di Kecamatan Mojosari untuk lomba kebersihan kota sehingga semua pedagang yang menyalahi aturan (berdagang di pinggir jalan dan trotoar), tidak lagi berjualan.

Jika hal tersebut berpengaruh langsung terhadap permintaan konsumsi masyarakat secara langsung, maka lapak buahku sepertinya juga terkena imbasnya.

Katakanlah pembeli di lapakku termasuk pedagang juga, tentulah karena sekarang mereka libur, maka mereka tidak lagi berbelanja buah.

Atau teori yang berlalu angan, masyarakat sekitar Mojosari malas keluar dan mengira semua pedagang libur atau merasa pilihan membeli jajanan di luar berkurang sehingga lebih memilih menahan diri dan tidak keluar rumah dulu.

Ah… memang benar kata peribahasa hari tak selamanya panas.

Tetap Optimis

Aturannya tetap sama, habis akal baru tawakal. Aku harus banyak menganalisis dan mengira-ngira untuk mendapatkan teori yang mendekati kebenaran agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.

Meskipun sebenarnya untuk pertama kalinya aku kebingungan sendiri dengan kejadian ini, aku malah merasa sangat menghargai pembeli di lapakku.

Ketika lapakku menjadi sepi, begitu ada pembeli, aku langsung memperlakukan mereka dengan teramat sangat baik. Bahkan aku serasa sangat bersemangat sekali (mungkin itu adalah performa terbaikku sekaligus pelayanan paling tulus dari hati). Berbeda ketika keadaan sedang ramai yang kadang-kadang aku melayani dengan malas atau asal-asalan.

Pelajarannya, sepertinya aku harus menjaga performaku seperti saat sepi agar pelanggan merasa nyaman ketika berbelanja di lapakku.

9 tanggapan untuk “3 Hari yang Misterius

  1. Aturan pembeli adalah raja itu memang sudah harusnya diterapkan penjual.
    Saya sendiri akan dengan cepat meninggalkan lapak penjual jika ketika saya tiba untuk membeli sesuatu, si penjual tetap tak beranjak dari tempat duduknya . Apalagi ketika saya bertanya, baru kalimat kedua yang dijawab.
    Saya pastikan, jika menemui lapak atau toko seperti itu seumur hidup saya tidak akan pernah kembali ke sana.
    Tapi kadang, meski saya tidak berniat membeli. Ketika melihat lapak atau toko yang asri, pedagangnya bersih, bersuka hati menyusun dan mengelap buah buahn dagangannya, menawari setiap yang lewat untuk mampir, saya biasanya akan mampir membeli meski sebenarnya tidak terlalu perlu.
    Semangat mas Shiq4. Sukses .

    Suka

    1. Iya kok beneran. Penampilan berpengaruh. Dulu waktu saya kerja di toko ditegur dan disuruh selalu rapi soalnya. Klo janggut dan kumis mulai panjang ya mesti dipotong. 😀

      Suka

Komentar ditutup.