Mengapa Anda Sebaiknya Menulis Artikel Pendek Juga untuk Blog?

Menulis artikel pendek atau konten pendek di blogSumber gambar: Vebma.com

Blog terus berevolusi.

Di masa lalu, konten-konten blog cenderung singkat, sekitar 300-500 kata. Tapi saat ini, karena persaingan semakin sengit, tulisan para bloger bisa mencapai lebih dari 2000 kata. Bahkan ada yang mencapai 4000 kata.

Alasan utama dibalik perubahan tren mengenai panjang pendek artikel, tentu berkenaan dengan perebutan tahta di halaman pertama Google.

Menurut penelian dari Backlinko, rata-rata jumlah kata konten yang duduk di halaman pertama Google terdiri dari 1.890 kata.

Butuh lebih banyak alasan? The Sales Lion menyebut 5 hal berikut:

  • “The Content Arms Race” Seperti Senjata Besar – Konten panjang memiliki kualitas yang lebih. Juga secara umum, penulis konten panjang berkesempatan menyelam lebih dalam dan mengajari lebih baik untuk subyek-subyek tertentu.
  • Fokus Utama ROI – Karena pemasaran dan penjualan mulai menyadari kekuatan konten sebagai penjualan, mereka juga menyadari bahwa konten panjang dan lebih baik, jika dikonsumsi, dapat memberi dampak dramatis bagi konsumen dan calon klien.
  • Lebih Mudah untuk Visualisasi – Sekarang menjadi fakta yang mudah diterima bahwa komponen konten yang lebih mudah untuk visualisasi, tendesinya lebih menarik perhatian dan pembaca.
  • Penguin, Panda, dan Google suka Konten Panjang.
  • Konten Lebih Panjang Mendapat Lebih Banyak Sosial Shares – 90% konten di Sales Lion yang di bagikan di sosial media terdiri lebih dari 1.200 kata.

Artikel panjang bekerja sangat baik. Dan bloger mulai merespons dengan menciptakan konten-konten panjang. Semuanya.

Tapi menurut saya, menulis konten pendek bukan dosa. Bahkan sangat bagus untuk di gabungkan dengan strategi menulis konten-konten panjang.

Kenyataannya, Menulis Konten Panjang Sangat Sulit

Ini merupakan peringatan. Beberapa bloger mungkin memaksakan diri untuk menulis postingan 2000 kata sementara kemampuan menulis mereka payah. Hasilnya, ikan belum dapat, airnya sudah keruh.

Bukan hanya tidak muncul di halaman pertama Google, tapi tulisannya sangat kacau. Kalaupun kebetulan muncul di page one, saya yakin tidak banyak yang mampu menyelesaikan bacaan dari awal sampai akhir karena kebosanan atau mata menjadi sakit.

Anda mungkin meyaksikan beberapa bloger mampu melakukannya dengan baik. Tapi memaksakan diri bersaing dengan mereka menggunakan strategi yang sama, Anda bagai menyurat di atas air.

Kalau kail panjang sejengkal, jangan lautan hendak diduga.

Lebih bijak jika memulai dengan postingan-postingan pendek dengan kualitas bagus dibanding dengan konten-konten panjang yang bermasalah.

Selama Anda rajin menulis di blog, akan tiba waktu di mana Anda mampu memproduksi konten panjang sebagaimana bloger-bloger berpengalaman.

Sampai saat itu tiba, bersabarlah dengan segala kekurangan Anda saat ini.

Apakah Konten Pendek Bekerja dengan Baik?

Ketika saya memulai Shiq4, saya memulai semuanya dengan rutin menulis sekitar 200 kata. Sekarang, paling minim sekitar 500 kata.

Michael Hyatt, membuat tantangan pribadi untuk menulis postingan singkat sepanjang 500 kata saja.

Seth Godin rata-rata hanya 200 kata setiap postingan.

Jeff Goins pernah rutin menulis sekitar 500 kata saja.

Atau Brian Clark, membangun Copywriting 101 yang melegenda dengan kurang dari 500 kata.

Konten pendek juga bekerja dengan baik. Selama Anda mau menuliskannya dengan baik dan mau mendengarkan audiens Anda.

Lagipula Orang Indonesia Malas Membaca

Mengapa hoax merajalela di media sosial Indonesia? Karena banyak orang membagikan konten tanpa membaca.

Dan faktanya, minat membaca orang Indonesia sangat rendah.

Mungkin terdengar pesimistis, tapi saya berkeyakinan bahwa sekalipun dalam satu halaman terdapat informasi lengkap, mayoritas pengunjung tidak akan membaca seluruhnya.

Apalagi jika konten terkesan bertele-tele, hampir pasti pembaca akan lari dan mencari situs lain.

Di tahun 2016 saya rutin menerbitkan konten tak kurang dari 2000 kata. Banyak yang masuk halaman pertama Google, tapi pengunjung tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Sedangkan di tahun 2017, saya cenderung menerbitkan lebih banyak konten pendek dan pengunjung meningkat lebih dari 500%.

Untuk sementara saya meyakini bahwa konten yang diminati oleh mayoritas netizen di Indonesia adalah artikel-artikel pendek.

Strategi Terbaik: Mixing

Konten pendek mungkin disukai pengunjung. Tapi jika baru memulai blog, konten-konten panjang adalah keharusan.

Mengapa konten pendek bekerja dengan baik pada Shiq4?

Karena saya sudah punya brand. Saya memiliki ribuan pengikut dan subscriber. Apapun konten yang saya terbitkan, ada yang sudah siap untuk mengkonsumsinya meski kinerja konten di mesin pencari hanya mampu bersaing untuk kata kunci tidak populer.

Tapi jika harus memberi saran, maka saya sangat merekomendasikan untuk mixing, menerbitkan konten panjang dan pendek secara bergiliran.

Konten panjang berguna untuk memenangkan persaingan di mesin pencari dan mendapatkan pengunjung baru, sedangkan konten pendek untuk menjaga loyalitas pengunjung yang sudah ada dan menumbuhkan audiens.

Dengan catatan, keduanya ditulis dengan baik sehingga mampu mendapatkan performa yang maksimal.

Anda Harus Mencobanya

Ya… mungkin butuh penyesuaian tertentu untuk masing-masing blog ketika menggunakan artikel-artikel pendek. Tapi sebaiknya Anda juga mencobanya.

Lakukan selama 3 atau 4 bulan. Dan lihat, bagaimana performanya. Bukankah mungkin juga Anda mendapatkan hasil yang lebih bagus daripada saya jika Anda mampu fokus karena tidak mengaplikasikan ODOP sebagaimana saya.

Saya menunggu kabar dari Anda.

Apakah menurut Anda artikel pendek itu payah? Mengapa? Bagikan di kotak komentar.

30 tanggapan untuk “Mengapa Anda Sebaiknya Menulis Artikel Pendek Juga untuk Blog?

      1. iya gan bukan cuma itu saja namun untuk menulis 2000+ tulisannya harus bisa berbobot semua dan orang yang baca juga tidak bingung, tetap dengan bahasa yang mudah dipahami orang tersebut.

        Suka

  1. Saya malah suka mikir kalau bikin tulisan panjang, ini orang pada mau baca ngga ya? Udah kebanyakan mikir kesana, tulisan panjang itu lebih lama numpuk di draft karena ngerjainnya ga selesai selesai 😂😂
    Semoga saya juga bisa bikin konten pendek tapi berkualitas 😁

    Suka

    1. Klo saya malah kurang yakin postingan sepanjang 2000 kata saya dibaca sampai tuntas. Meski bisa page one, tapi biasanya banyak yg skimming doang 😀

      Suka

  2. Betul, tdk payah walau artikel pendek, asalkan ditulis dg baik, padat alias to the point. Namun, sy memang blm mampu menulis dg bagus sprti Shiq4 atau yg lainnya. Sy merasa progress sy lambat.😂

    Sy juga suka rtikel pendek, ya sprti flashfiction atau tips singkat. Tp yg panjang jg suka, khususnya yg ditulis Shiq4.👍👍

    Trmksih buat motivasinya sllu dan trus mllui blog2 Anda, mas Shiq4.

    Suka

  3. saya suka konten entah itu panjang atau pendek, yang penting enak dibaca mas. kalo pendek tapi di bagian-bagian awal udah jenuh dan ‘kurang menghibur’ mending panjang tapi bagus.

    Suka

  4. Konten panjang atau lebih dari 1000 kata dan pendek itu dapat menjadi variasi ya mas. Saya rata-rata 400-800 kata, mungkin jadi indikator saya harus lebih niat dalam mengolah kata. Terimakasih untuk tipsnya 😀

    Suka

Komentar ditutup.