Nasi Goreng dari Bapak

Nasi goreng dari bapakSumber gambar: resepayam.net

Akhir-Akhir ini, beberapa malam dalam minggu ini, bapak sedang gencar-gencarnya mempromosikan nasi goreng langganannya. Kata bapak rasanya enak. Jadi, ketika beliau membeli nasi goreng untuk menyenangkan dirinya, tak lupa ia juga membelikanku.

Sebenarnya aku seperti kera kena balacan dengan sikap bapak. Lagipula rasa nasi gorengnya tidak enak di lidahku. Tapi karena sudah dibelikan dan sekadar menghormati bapak, maka aku pun mengkonsumsinya. Lagipula sayang kalau dibuang.

Pernah aku berkata dengan hati-hati agar tidak menyinggung bapak, kalau aku lebih suka dengan nasi goreng di tempat lain. Tapi malah bapak bilang harganya mahal. Selisih Rp 3.000.

Mau bagaimana lagi, aku sudah cocok dengan nasi goreng di tempat itu sehingga lidahku mulai membandingkan dan tendensinya malah tidak menyukai nasi goreng dari bapak.

Kesannya aku terlalu lebay. Mungkin bapak hanya ingin menyenangkanku saja. Meski kadang-kadang aku jengkel juga dengan bapak yang terus-terusan membelikan nasi goreng untukku tanpa bertanya dulu.

Jadi Ingat Sesuatu

Tabiat bapak mengingatkanku dengan tingkah lakuku sendiri. Ternyata aku pun pernah seperti bapak, tepatnya membelikan adik-adikku gorengan.

Selain es coklat, adik-adik perempuanku suka makan gorengan. Ketika aku pulang dari pasar, kadang-kadang aku membelikan gorengan untuk adik-adikku. Begitu sampai beberapa hari.

Sampai suatu ketika aku mendapati gorengan yang kubelikan sisa banyak. Rasanya sedih. Sejak saat itu, aku selalu bertanya dulu jika ingin membelikan gorengan. Untunglah sekarang sudah punya langganan tukang gorengan yang rasanya cocok di lidah adik-adikku.

Berarti aku mungkin sudah pernah membuat sedih bapak karena pernah tidak menghabiskan nasi goreng yang dibelikannya. Lain kali hal semacam ini tidak akan terjadi lagi.

Kena Karma

Jangan meludah ke langit. Tidak baik mencela orang tua. Mungkin itu adalah pelajarannya.

Mungkin bapak hanya ingin supaya aku merasakan nikmatnya nasi goreng, meski pada kenyataannya perbedaan lidah membuat hal tersebut tidak terjadi.

Walau sudah terlanjur kesal sih. Harusnya aku lebih tahu diri dan bisa membawa diri dan menyenangkan bapak dengan memakan nasi gorengnya sampai habis. Atau jika tidak suka, lebih baik mengatakan sejak awal agar tidak dibelikan secara terus menerus. Bukan kesal sendiri dalam hati.

Akibatnya, selama dua hari berturut-turut aku mungkin kena karma. Di malam hari, di jam-jam bapak pulang dari pasar, aku merasa lumayan lapar. Dan jelas terbayang bapak pulang membawa nasi goreng. Sayangnya, di hari tersebut, bapak tidak membeli nasi goreng. Begitu tiba di rumah, beliau langsung nonton TV.

Sedangkan aku mulai mencari makanan apapun. Mulai dari pepaya, krupuk, hingga jambu kulahap, tapi tidak bisa mengganjal perutku.

Aku bahkan perlu menunggu hingga pukul 2-an. Di jam itulah warung-warung di sekitar pasar buka lagi dan aku titip untuk dibawakan nasi oleh bapak saat mengantar ibu pergi ke pasar.

Iba Akan Kacang Sebuah, Tak Jadi Memengat

Sebenarnya di jam-jam malam masih ada beberapa warung yang buka. Hanya saja, jika masalah makanan, aku termasuk orang yang pelit. Aku jarang membeli makanan. Itu pula yang menyebabkan tubuhku bagai anjing beranak enam.

Dibanding untuk beli makanan atau minuman, aku lebih suka membelanjakannya untuk kopi dan rokok. Jadi, saat aku lapar di malam hari, aku tidak akan beli nasi apapun yang terjadi. Kecuali jika sudah sangat lapar. Aku Lebih memilih untuk “Dibelikan” oleh bapak di jam dini hari saja.

Anehnya, kadang-kadang aku malah membeli kopi dan rokok saat lapar di malam hari. Sudah jadi kepercayaanku (meski aku belum menyelidiki secara ilmiah) bahwa kopi bisa menunda rasa lapar selama beberapa jam. Itu yang kudapat dari pengalaman merantau ketika uang bulanan habis. Dan aku tetap meyakini hal tersebut hingga sekarang.

Di saat sedang mager, atau tidak ada makanan berat di rumah (karena semua keperluan makan berada di rumah satunya), maka aku akan mengkonsumsi kopi. Begitu caraku.

24 tanggapan untuk “Nasi Goreng dari Bapak

  1. Ketika jam segini masih melek dan liat gambar naai goreng..jadi kabitaa…
    Namun apa daya, sepertinya energi potensial lebih besar dr energi kinetik πŸ˜₯πŸ˜… #mager

    Suka

    1. Ha ha ha… saya nulisnya spontan saja kok pak iranda. Lengkapnya begitu caraku menikmati hidup : dengan ilmu pengetahuan. Cuma saya edit karena terkesan agak arogan πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

  2. Cinta dalam bentuk sepiring nasi goreng. Bapakmu dalam mengungkapkan rasa sayangnya seperti itu Mas Shiqa. Beruntunglah kalian yang masih memiliki orangtua lengkap.

    Suka

    1. Iya…. memang kopinya yg bikin kenyang. Zat kopinya mungkin bisa membuat lambung tidak merasa lapar sampai beberapa jam. Atau mungkin itu cuma sugesti saya saja πŸ˜€

      Suka

    1. Ha ha ha…. memang benar. Ada saat juga kok saya bosan sama nasi. Biasanya makan bakso plus lontong. Kadang makan buah-buahan saja tanpa nasi selama beberapa hari. πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

  3. Pelajaran buat saya juga bang, apa yang kita puja-puja ternyata tidak begitu di mata orang lain, terutama di keluarga. Jadi setiap kali mau keluar beli makan pasti tanya dulu mau titip apa, enggak asal beliin.

    Suka

    1. Iya…. mestinya yg bener tanya dulu biar nanti kemakan dan tidak buang-buang makanan. Cuma ya namanya orang tua mungkin berpikirnya anaknya bakalan suka sebagaimana dirinya sehingga terlalu bersemangat membelikan ha ha ha…. πŸ˜€

      Suka

Komentar ditutup.