Aku Sang Penikmat Kopi

Aku sang penikmat kopiSumber gambar: pekat-memikat.blogspot.com

Aku penikmat kopi. Tidak ada hari tanpa kopi. Hal itu sudah berlangsung semenjak aku duduk di bangku SMA bertahun-tahun yang lalu sekalipun berawal dari ketidaksengajaan alias pengaruh pergaulan.

Di masa itu, seingatku, teman-teman sepegaulanku atau mereka di lingkaranku, yang sering mengajakku kumpul-kumpul di warung-warung, mayoritas merupakan perokok. Sekalipun aku sudah merokok sejak berusia 14 tahun, baru di masa SMA aku mengenal kenikmatan rokok yang diadu dengan pahit kopi.

Kebiasaan minum kopi dan rokok itu terbawa hingga saat ini. Berarti sudah lebih dari 10 tahun aku melakukannya.

Tapi baru akhir-akhir ini aku bagai kucing dibawakan lidi ketika minum kopi. Pasalnya, belakangan, ketika aku tidak minum kopi, pikiranku jadi stres dan agak pusing. Takut jika sudah kecanduan dan memberi dampak buruk bagi kesehatan.

Tapi ketakutanku itu tidak mendasar. Menurut Hello Sehat, yang mengutip dari berbagai referensi kesehatan, kopi bisa sangat bermanfaat bagi kesehatan selama membatasi pada 2-3 cangkir kopi setiap hari. Lebih dari itu justru memberi efek negatif. Dan kabar baiknya, aku sudah terbiasa mengkonsumsi kopi sebanyak 2 cangkir per hari.

Tentang Berhenti Merokok dan Kopi

Sebenarnya aku telah berusaha untuk berhenti merokok. Tapi sulit sekali melakukannya. Dan sudah beberapa minggu terakhir aku tidak lagi mengusahakannya, tepatnya menunggu momen yang pas untuk berhenti merokok.

Kalau takut dilimbur pasang, jangan berumah di tepi pantai, bukankah demikian?

Karena merokok termasuk kebiasaan buruk. Banyak alasan penting mengapa aku bersikeras berhenti merokok. Dan aku akan terus berusaha sampai sukses, tak peduli berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk merealisasikannya. Aku ingin mulai membangun hidup sehat. Meski butuh perjuangan yang melelahkan.

Salah satu kendalanya mungkin kebiasaan minum kopi. Tidak pernah sekalipun aku minum kopi tanpa menyulut rokok. Itu masalahnya.

Memang benar sekali peribahasa hendak meluruskan ekor anjing. Ternyata sulit sekali merubah tabiat minum kopi. Juga merokok.

Keduanya saling berhubungan. Kalau aku tidak minum kopi, otomatis aku bisa mengurangi konsumsi rokok secara perlahan. Di sisi lain, aku merasa tidak nyaman jika tidak minum kopi. Benar-Benar dilema.

Tapi mau bagaimana lagi, kupikir aku harus melakukannya. Walau sulit, akan kuusahakan tidak minum kopi sementara waktu agar kebiasaan merokokku juga ikut berhenti.

Kopi Tanpa Gula, Apakah Enak?

Berhubungan dengan kesehatan, Kumparan menyebutkan manfaat kopi hanya bisa diperoleh jika dikonsumsi tanpa gula, pemanis, dan susu. Begitu pula dengan Kompas.

Apa maksudnya hanya kopi pahit yang memberi efek menyehatkan?

Kalau benar begitu, itu pasti sulit direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Biar bagaimana pun, racikan kopi pada umumnya pasti menggunakan pemanis. Tanpa itu, mustahil ada yang benar-benar bisa menikmati kopi. Aku jadi bingung sendiri.

Belum lagi, di masing-masing situs yang telah kusebutkan dari paragraf awal, masing-masing memberi penilaian yang berbeda tentang berapa banyak kopi yang sebaiknya di minum setiap hari, yang sama-sama berdasarkan penelitian dan pendapat ahli.

Nasib orang bodoh di bidang kesehatan sepertiku semakin bingung dengan berbagai informasi yang ada. Jadi teringat lelucon pro dan kontra reklamasi di Jakarta, “Ilmunya sama tapi kok hasilnya berbeda?

Apa salah satu ahlinya ada yang salah ya mengingat ikan yang besar-besar di dalam lautan sekalipun, termasuk juga ke dalam pukat.

Mungkin lebih baik berhenti minum kopi untuk selamanya saja. Lagipula mana enak minum kopi tanpa pemanis. Sedangkan jika menggunakan pemanis justru menimbulkan efek negatif. Kecuali aku sudah bisa mencerna dan mendefinisikan arti “Kopi tanpa pemanis” yang dimaksud itu kopi seperti apa. Apa mungkin membuat kopi hanya dengan bubuk kopi dan air panas saja? #Gagal Membayangkan.

Jika Benar Jalan, Inilah Pengganti Kopi

Kalau bertanya pada diri sendiri, kuakui kalau 80% aku tetap minum kopi. Mustahil aku berhenti minum kopi atau minum kopi pahit saja. Tapi jika kemungkinan yang 20% itu terjadi, maka pengganti yang cocok pasti susu dan teh. Keduanya sudah pernah kucoba.

Pertama, tentang teh. Dulu ketika mahasiswa, di pagi hari aku pernah terbiasa minum teh manis, bukan kopi. Jadi, sepertinya aku bisa melakukannya lagi.

Kedua, tentang susu. Saat aku mengalami gangguan tidur, aku mengkonsumsi susu di malam hari agar bisa tidur lebih nyenyak.

Benang merah yang kebetulan, di pagi hari minum teh dan di malam hari minum susu. Bukankah ini kebetulan yang menyenangkan?

Tapi aku juga belum banyak membaca mengenai susu dan teh dan hubungannya dengan kesehatan. Tapi sepertinya keduanya justru banyak bermanfaatnya. Bahkan susu termasuk minuman yang melengkapi empat sehat lima sempurna.

Ah…. berpikir memang mudah. Tapi membangun kebiasaan sulitnya bukan main. Tapi lebih baik berencana, mencoba, dan gagal daripada sekadar wacana seperti ucapan para politikus. Buat apa omong sesuatu yang tidak benar-benar eksis.

37 tanggapan untuk “Aku Sang Penikmat Kopi

  1. Kopi arabika lebih cocok diminum tanpa gula dibanding kopi robusta yang pahit.
    Selamat hidup sehat. Semoga berhasil.
    Tapi kalau masih mau ngopi, yuk bareng saya 😁😁😁

    Suka

    1. Wah makasih mbak ida infonya. Saya pernah dengar sih tentang arabika dan robusta, cuma nggak tahu bedanya. Biasanya beli kopi di pasar sebungkus besar 10.000-an aja wkwkwk…. πŸ˜€

      Lain kali klo ada kesempatan dan jodoh bertemu pasti akan menyenangan ngopi bersama. Saya juga penasaran sama pak tentara. Salam ya. πŸ˜€

      Suka

  2. Kopi memang selalu menggoda dan seakan bersekongkol dengan rokok. Siapa yang tergoda, ya tentunya merasakan nikmatnya. Namun untuk hal efek negatifnya, sampai saat ini masih bervariasi. Ada yang baik-baik saja dan ada yang memang berbahaya. Mudah-mudahan kopi tidak merusak dan yang harus dihindari minimal belajar mengurangi, itu lebih bagus.

    Suka

    1. Hari ini udah mulai nggak minum kopi pak untuk sementara. Klo kopi sepertinya masih aman jika mengkonsumsi masih dibatas kewajaran. Tapi klo rokok tendensinya lebih banyak merusaknya meski pun enak. πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

    1. Klo minum air putih kayaknya saya jarang mas jalil. Biasanya es intans macam jas jusdan marimas. Cuma malam saja minum air putih. Tapi udah saya,masukin list untuk minum air putih lebih banyak lagi πŸ˜€

      Suka

  3. Saya juga penikmat kopi, sayangnya levelnya masih kopi instans. Sesuai kapasitas dompet 🀣🀣

    Kecanduan ?, ya! Ditambah dengan seringnya kena shift malam, jadi perlu kopi untuk selalu terjaga.

    Selama kopi belum menimbulkan efek yg negatif, lanjutkan saja. Pikir saya. Bandel sih…hahahaha

    Suka

    1. Klo menurut saya kopi instan itu mahal. Lebih murah kopi bubuk yg dijual di pasar-pasar. Tinggal beli gula sekalian bisa cukup buat 2-3 minggu dengan konsumsi setiap hari.

      Wah klo shift malam emang rata-rata pada ngopi. Soalnya emang manusia bukan makluk yang hidup di malam hari. Jadi klo dah malam bawaannya ngantuk mulu.

      Ya…. klo masih dalam taraf wajar konsumsinya nggak akan menimbulkan efek negatif kok πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

      1. Oh ya…hahahahaha.
        Mungkin karena perbedaan tempat kali, ya. Kalau saya disini, kopi tradisional malah lebih mahal dan sulit untuk didapat. Kopi Instans yang lebih murah dan lebih mendekat dihati hahahaha (maaf…).

        Setuju! Semoga saja mengkonsumsinya masih dalam batas kewajaran ya….

        Suka

  4. kopi tanpa gula, itulah cara benar menikmati kopi sesungguhnya. tapi kopinya harus arabika, yang kadar asamnya tak terlalu tinggi seperi kopi robusta.
    suka sama ulasannya mas Shiq4..

    Suka

    1. Wah iya pak iranda. Cuma beneran saya belum pernah mencicipi kopi tanpa gula. Bahkan baru kemarin saya tahu perbedaan antara arabika dan robusta. Makasih infonya. πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

  5. Lebih baik berhenti merokok Shiq, klo ngopi lanjut saja πŸ˜€ . Aku juga ngopi pagi hari, klo suami libur malah kdg jd 2 gelas ngopinya di sore hari. Suamiku sdh bbrp thn ngopi ga pakai gula, sedangkan aku gulanya jd diganti dg madu.

    Suka

    1. Iya ini mau berhenti merokok. Dulu sempat sampai 4 batang sehari, cuma nggak bisa mempertahankan. Sekarang mulai nyoba berhenti lagi.

      Klo kopi sepertinya memang bakal jalan lagi, cuma dalam rangka berhenti merokok sementara mesti berhenti ngopi juga. πŸ˜€

      Suka

  6. Waaah, ini sesuai sekali dengan pengalamanku. Pertama, dilema antara kopi manis dan kopi pahit tanpa gula. Kedua, dilema berhenti merokok. Sudah hampir dua tahun aku tidak minum kopi tanpa gula. Dulu aku sempat berpikir, β€œbagaimana kopi tanpa gula bisa menjadi sebuah kenikmatan?” ternyata ini cuma masalah kebiasaan. Awalnya, aku sangat kesulitan untuk menerima rasa yang dihasilkan dari kopi murni, tapi kelamaan, aku jadi makin menikmati rasa murni dari tiap kopi. Dan, bahkan, dengan kebiasaanku sekarang, aku lebih menikmati kopi tanpa gula. Dengan begitu, rasa dan aroma kopi bisa kita rasakan dengan baik, mengingat begitu kaya cita rasa kopi tiap daerah di Indonesia.

    Kedua, berhenti merokok. Bulan Mei tahun ini aku sudah berhenti merokok. Awalnya, karena sakit yang berkepanjangan, hingga aku.memutuskan untuk berhenti merokok. Dan bagaimana efeknya? Sebulan pertama aku begitu kesulitan, seperti orang yang kehilangan semangat hidup dan lupa cara berpikir. Tapi itu cuma transisi. Bulan kedua, aku sudah bisa melupakan rokok. Dan, yang lebih menakjubkan, aku bisa minum kopi tanpa merokok. Justrus, dengan minum kopi tanpa merokok, aku lebih peka terhadap rasa kopi yang dihasilkan. Karena asap merokok sebenarnya memanipulasi kepekaan lidah kita.

    Ini memang sulit. Tapi ketika semuanya sudah bisa dilewati dengan kesabaran dan niat yang kuat, aku jamin semua akan indah pada waktunya. Semangat!!!

    Suka

    1. Wah cuma faktor kebiasaan saja ya…. tapi membayangkan saja sudah nggak enak ha ha ha….

      Saya sebenarnya sempat berhenti merokok 8 bulanan, tapi kemudian coba-coba lagi dan sekarang malah nyesal kenapa dulu udah berhenti kok ngerokok lagi.

      Berarti banyak positifnya ya klo berhenti merokok karena bisa menikmati rasa kopi ke level yang lebih dalam. πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

  7. Tetap ngopi, mas. 2 gelas sehari, bagus πŸ™‚
    Rokok berenti saja. Sy ngerokok waktu smp kelas 3, cm bbrp bulan udah nda minat. trnyata coklat lebih menarik perhatian sy… πŸ™‚

    Suka

  8. Aku peminum teh dan kopi hitam. Keduanya tawar tanpa gula. Apakah enak? Enakin aja. Tergantung kebiasaan. Yang penting hidupku nggak tawar#tsaahh

    Suka

      1. saya emang sengaja ngurangin gula mas. karena bumbu masakan masih pakai, saya mulai jauhi gula dalam minuman. saya juga nggak lagi mau minum minuman kemasan. gulanyaaaa ulalaaaa buanyak… awalnya emang aneh. tapi lebih aneh lagi rasa teh dan kopi dengan pemanis buatan. jadi mending tawar saja, diminum sambil liatin pak suami yang manis#halah…

        Suka

    1. Biasanya karena tidak tahu waktu terbaik minum kopi. Klo diminum di jam-jam hormon kortisol sedang tinggi, bisa mengakibatkan tubuh kecanduan terhadap kafein. πŸ˜€

      Suka

  9. Sy sih syukurnya gak penikmat kopi, jd ya gak kecanduan gitu.

    Klau saya, jangankan kopi yg tanpa pemanis, kopi yg biasa aja ya gak bgtu doyan. Anehnya sy, utk minuman sprti kopi, teh, susu dan sjnisnya, sy tdk “masih”. Intinya klau ada disediakan, diminum, klau gak ada ya gpp juga.

    Suka

Komentar ditutup.