Aku dan Musik Bajakan

Aku dan musik bajakanSumber gambar : tirto.id

Terkadang hitam dikatakan putih, putih dikatakan hitam. Tapi aku tidak begitu. Aku mengaku, aku penikmat musik bajakan. Kebiasaan itu terbentuk sejak usiaku 14 tahun, tahun di mana ibu membeli VCD player baru. Dan tentu saja, karena sudah beli, maka harus digunakan.

Semua tampak normal. Di masa awal VCD Player datang, kami mengundang beberapa orang, sepupu, teman, kenalan ibu, dan entahlah… bermacam-macam orang, hanya untuk memutar kaset-kaset film yang disewa dari rental-rental murahan yang menjamur di kala itu. Setelah beberapa kali nonton bareng, mungkin karena sudah bosan, praktis hanya aku yang menggunakan VCD player.

Aku menggunakannya untuk memutar VCD musik grup band terkenal di era itu seperti Slank, Coklat, Iwan Fals, Element, Jamrud dsb. Semuanya kaset CD bajakan yang bisa dengan mudah didapatkan di pinggir-pinggir jalan.

Pernah aku mendengar penjual CD bajakan yang dirazia polisi, barang dagangan pun di sita. Tak kurang dari seminggu, para pedagang itu sudah kembali berbisnis. Kabarnya keuntungan menjual CD bajakan sangat tinggi. Sekali di razia bukan masalah besar. Pernah aku mendengar dari berita di televisi, alat pengganda CD, yang mampu mengcopy CD menjadi puluhan, bahkan ratusan atau ribuan keping dalam sehari, harganya tak kurang dari angka miliar di tahun 2000-an. Sekarang pasti punya gambaran bahwa berbisnis CD bajakan pasti menggiurkan karena modalnya pun tak main-main.

Kegemaranku membeli bajakan terus berlanjut hingga SMA. Di pikir-pikir, di daerahku sepertinya tidak ada yang menjual CD orisinil. Kalaupun ada, itu pasti hanya Indomaret dengan memajang dan menyediakan beberapa kaset saja seolah tidak serius menjual CD original. Atau mungkin mereka pernah mencoba melakukannya dan respons masyarakat kurang baik?

Kegilaan dengan musik bajakan semakin subur ketika aku berstatus mahasiswa. Di tahun pertama, setelah membeli laptop baru, meminta dan memberi file MP3 adalah hal lumrah diantara mahasiswa. Jangan tanya berapa banyak file musik yang kumiliki. Saking banyaknya, aku bahkan membiarkan file-file musik berantakan. Mungkin hanya mengejar rasa bangga memiliki banyak koleksi, karena sekalipun jumlahnya mencapai bergiga-giga, aku hanya mendengarkan beberapa saja.

Parahnya, aku bahkan tidak tahu bahwa tindakan-tindakanku melanggar hak cipta. Karena semua orang pun melakukannya : saling bertukar file MP3 dengan mudahnya. Habis perkara, nasi sudah menjadi bubur. Aku tidak menyesalinya.

Merasa Bersalah Menggunakan Bajakan?

Aku sempat mengalaminya. Seharusnya, jika ingin menjadi orang baik, sudah sepatutnya kita mau menghargai orang lain. Itu juga berarti menghentikan penggunaan musik-musik bajakan dan membelinya sehingga orang-orang yang terlibat di industri musik bisa terus berkarya.

Tapi rasa itu, yang tadi malam kembali menghantuiku, hilang tidak bersisa. Faktanya, Musik bajakan telah menguasai 95,7 persen pasar di Indonesia sejak 2007. Dengan demikian, penjualan musik legal hanya sekitar 4,3 persen.

Aturan hanya aturan. Mayoritas golongan yang akan menentukan nasib. Jika mayoritas orang lebih menyukai bajakan, file-file MP3 yang tersebar dan dapat diunduh gratis di internet, maka itulah yang akan menjadi hukum.

Sampai sekarang, rasanya terlalu sulit memberangus pembajakan, terutama jika belum ada solusi antara penikmat musik dan pemegang hak cipta.

Tentu penikmat musik ingin mendengarkan musik apapun yang mereka sukai dengan cara termudah dan termurah, di sisi lain, para pemegang hak cipta ingin dihargai dengan membeli musik-musik asli. Sayangnya, hal tersebut belum menemui titik terang. Dan untuk sementara, para pembajaklah yang memegang kendali permainan sampai sejauh ini.

Aplikasi Musik Legal : Aku Masih Belum Puas

Sebenarnya kehidupanku di masa saat ini tidak terlalu banyak berurusan dengan musik. Satu-Satunya band yang kusukai hanya D’cinnamons saja, aku bisa mendengarkan lagu-lagu mereka saja setiap hari tanpa bosan, dan itu sudah berlangsung lama sekali.

Ketika tadi malam browsing, secara kebetulan aku membaca review aplikasi Langit Musik. Katanya bisa mendownload lagu yang kita sukai secara legal.

Kupikir maksudnya adalah file-file MP3 tersebut diperjual-belikan seperti di Amazon, jadi aku antusias akan mendaftar dan berniat membeli lagu-lagu D’cinnamons secara legal. Sayangnya aku salah paham, yang dimaksud download hanyalah “bisa diputar” dalam mode offline kalau berlangganan, bukan membeli secara legal dan mendapatkan file-file MP3 tersebut agar bisa diputar kapanpun tanpa harus merogoh kocek tiap bulan.

Jelas sampai sekarang aku masih bingung tentang penggunaan kata “Legal”. Aku ingin melakukannya, tapi memang tidak ada atau belum ada yang menjual. Kalau harus mendengarkan streaming setiap hari, itu sangat tidak kusukai, menghabiskan kuota. Aku ingin seperti halnya membeli CD orisinil di masa lalu, sekali beli bisa dinikmati sampai puas, hanya saja di era sekarang, tentu yang relevan adalah membeli file-file MP3 langsung, entah bagaimana caranya.

Inginnya berlangganan per bulan sehingga bisa terus memutar lagu dengan legal, cuma kalau seperti itu caranya, jelas aku yang dirugikan karena aku hanya memutar 10-20 lagu yang sama saja (lagu D’cinnamons dalam semua album).

Akhirnya, jalan tengahnya, lebih baik aku tetap memutar file-file yang kuunduh secara gratis, di mana kualitas suaranya tidak jauh dari versi streaming. Agar aku tidak merasa bersalah, mungkin aku akan membeli DVD atau CD aslinya, tapi tetap memutar file-file bajakannya saja.

Bagaimana dengan Anda? Apakah masih menggunakan musik bajakan?Bagikan di kotak komentar.

18 tanggapan untuk “Aku dan Musik Bajakan

  1. Saya termasuk penggemar musik bajakan atau pengguna musik bajakan. Bukan karena tidk may menghargai hasil karya, hanya saja keadaan isi dompet yang tidak memungkinkan untuk membeli kary asli. Sedihnya…

    Suka

  2. Hmm…sebenarnya yang bajakan itu pasti ada yang jeleknya terutama kualitasnya. Tapi kenapa juga dibeli ya? Secara tidak sadar merugikan diri sendiri lho. Aturan sekali beli walau agak mahal, kan awet dan berkualitas. Betul tidaak? πŸ˜€

    Disukai oleh 1 orang

  3. Sebenarnya aplikasi musik streaming nggak terlalu boros jg. Sy hampir tiap hari streaming spotify kuota internet ttp irit, malahan lebih boros Instagram & Facebook.

    Suka

    1. Saya udah install sportify, cuma nggak ada d cinnamonsnya, jadi beralih ke langit musik. Saya habis sekitar 100 MB buat play musik di langit musik selama beberapa jam πŸ˜€

      Suka

  4. Nggak pernah pakai cd musik bajakan. Kalau film iya. Dvd biasanya. Tapi kalau musik sekarang pakai joox di smartphone. Mayan nggak ada rasa bersalah sama para musisi. Update lagu baru juga jalan terus. Emang nggak semua bisa diunduh dan play offline. Ada yang harus jadi member VIP. Tapi VIP pun bisa didapat dengan banyak cara. Jadi ya enjoy aja.

    Dulu sempat sih suka unduh dari 4shared atau gudang lagu. Cuma di sana lambat update.

    Suka

  5. Coba di download-lagu-mp3.com. saya dapat file-file kualitas streaming persis di langit musik untuk lagu d cinnamons. Cuma banyak iklan dan mesti nyobaik keyword satu per satu. Juga mesti milih lagu yang tepat karena terdiri dari bermacam-macam file untuk satu judul lagu. Cluenya persiskan kata kunci seperti yang di langit musik, ntar dapat yang kualitasnya bagus πŸ˜€

    Suka

  6. Saya dulu semasa SD dan SMP juga sama mas Shiq4, tp waktu itu sy suka mengoleksi CD film, klau lagu cuma bbrp. Agaknya, daya tarik produk bjakan memang lebih kuat. Tp skrg sy gak lg, putus hubungan dg yg namanya VCD atau DVD. Klau mau dnger musik ya tinggal streaming aja….tp ttp file2 grtis MP3 itu lebih praktis ya…

    Suka

    1. Ha ha ha…. di indonesianya sih rata2 produk bajakan laku keras. Artinya mayoritas memang tidak bisa mengapresiasi sesuatu dengan layak. Termasuk saya. Cuma sedikit demi sedikit sudah muncul keinginan untuk berubah. πŸ˜€

      Suka

  7. Saya juga termasuk. Tapi yang bajakan biasanya saya punya kriteria, musisi itu sudah kaya dan populer. Yang lain, misal musisi indie dan aku suka, atau musisi yang bener-bener suka meski udah kaya pun saya beli CD-nya. Itupun jarang didengar karena file mp3 lebih simpel daripada memutar CD.

    Suka

    1. Iya… emang lebih simple mp3 nya. Saya juga klo jadi beli cd nya nggak bakalan di putar kok. Cuma bentuk klo saya sudah melakukan hal legal saja. Padahalkan mp3 hasil convert dari youtube. Gitu aja udah termasuk pelanggaran hakcipta. πŸ˜€

      Suka

Komentar ditutup.