Aku, Peribahasa, dan Masa Mendatang

Aku, peribahasa, masa depanSumber gambar : Okezone.com

Ini hari ke-18 sejak aku mulai belajar peribahasa. Sejauh ini aku konsisten menyisipkan satu dua peribahasa ke dalam tulisan-tulisanku. Walaupun penuh perjuangan.

Rasanya senang sekali kalau berhasil melakukannya. Tulisanku jadi sedikit indah. Dan aku merasa ada kemajuan dalam menulis, meskipun masih banyak hal yang perlu dibenahi untuk menyempurnakan karya-karyaku.

Yang menyedihkan, biarpun aku ingin rutin memakai peribahasa, tetapi kadang-kadang sampai stres karena peribahasa yang kuketahui hanya bagai rambut dibelah tujuh.

Aku hanya meyakini alah bisa karena biasa. Mungkin setelah rutin melakukannya selama 3 atau 6 bulan, bahkan 12 bulan, aku akan memiliki kekayaan peribahasa sehingga bisa lebih leluasa memasukkan peribahasa-peribahasa yang tepat ke dalam postingan-postinganku.

Sampai saat itu tiba, sangat perlu memegang teguh peribahasa : Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.

Merasa Tertantang Sekaligus Sadar Diri

Sebagai penulis blog, aku rutin mengkonsumsi karya-karya bloger lain. Karena penulis harus membaca sebagai modal dasar menciptakan tulisan yang bagus.

Dalam petualanganku membaca, yang kebetulan mengunjungi blog-blog berbahasa Inggris, aku sangat kagum pada karya-karya yang menggunakan idiom. Secara tiba-tiba, aku merasa tertantang dan ada keinginan untuk melakukan hal yang sama. Dan begitulah kondisiku saat ini : Aku belajar menggunakan peribahasa (termasuk idiom di dalamnya).

Ini juga mungkin sesuatu yang kubutuhkan. Dipikir-pikir… selama ini aku bingung bagian mana dari karyaku yang harus diperbaiki terlebih dahulu mengingat banyak hal yang ingin kuperbaiki. Dan aku menyadari bahwa menggunakan peribahasa dalam konten merupakan cara yang mungkin paling cocok untukku saat ini.

Aku tidak tahu bagaimana menilai hasilnya, tapi aku merasa senang ketika melakukannya.

Masih Penulis Balita

Usiaku belum genap 3 tahun di dunia menulis. Aku bagai kambing harga dua kupang dalam menulis. Yang paling sering, pasti meniru tulisan penulis lain secara negatif.

Misalnya terpesona dengan tulisan Sonia Simone yang cerdas, aku menirunya. Belum mahir melakukannya, aku terpesona dengan Henneke Duistermaat, dan kembali berusaha menirunya. Begitu seterusnya dengan penulis lain. Aku bagai menyukat belut karena tak kunjung menemukan jati diri dalam menulis. Hanya terus meniru bagaimana penulis lain melakukannya.

Aku terombang-ambing sendiri dan kadang-kadang bingung harus mengikuti siapa. Tapi kan aku masih balita, jadi aku masih menganggapnya sebagai kewajaran.

Nah… langkah pertama yang murni tidak meniru penulis lain adalah menyisipkan peribahasa. Apalagi Indonesia sangat kaya akan peribahasa. Maka… kuharap ini langkah yang tepat untuk menemukan jalanku sendiri. Meskipun aku menyadari, bahwa diriku sudah terkontaminasi dengan ciri khas atau gaya menulis penulis-penulis lain tanpa kesengajaan.

Mengapa Harus Peribahasa?

Sebenarnya aku sudah browsing mencari opini atau apapun berhubungan dengan peribahasa. Tapi tidak menemukannya. Hanya satu yang kutemukan dan kujadikan patokan (juga membuatku terkesan), berasal dari situs Sabda.org :

“….peribahasa memiliki makna yang jauh lebih mendalam daripada sekadar ungkapan kiasan biasa. Dalam peribahasa, kita menemukan makna atau maksud penuturan bahasa secara tajam dan mendasar.”

“Boleh dibilang, kandungan falsafi sebuah ikon bahasa, dapat ditemukan pada hampir setiap peribahasa. Selain itu, peribahasa juga indah bunyinya. Peribahasa seperti sosok yang cantik dan anggun jika diungkapkan secara tepat dan kontekstual. Itulah beberapa alasan mendasar, kenapa peribahasa tidak pernah akan lenyap dimakan zaman. Peribahasa juga tidak akan pernah lapuk dimakan hujan.”

“….Itulah kenapa, mempelajari peribahasa merupakan kegiatan yang menantang dan selalu relevan di sepanjang zaman. Jadi, kendatipun banyak menggunakan kata atau ungkapan kuno atau arkhais, peribahasa tetap akan selalu relevan.”

Dan setelah membaca kutipan-kutipan di atas, aku semakin yakin bahwa mempelajari dan menggunakan peribahasa akan membuat karyaku sedikit lebih bernilai.

Masa Mendatang

Aku sudah menginstall 2 aplikasi peribahasa plus KBBI yang konon mencapai 3000 peribahasa.

Aku jadi sangat bersemangat. Membayangkan diri sendiri mahir memainkan peribahasa membuatku tersenyum sendiri seperti orang kehilangan akal.

Setidaknya di masa depan aku akan berusaha memastikan menggunakan peribahasa dalam tulisan-tulisanku. Meskipun butuh perjuangan secara terus menerus sih. Kurasa aku mampu membayarnya.

Aku pun juga masih realistis. Terkadang memang dekat tak tercapai, jauh tak berantara. Aku juga bukan jenius, mana mungkin juga menguasai peribahasa yang mencapai ribuan itu.

Tapi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Jadi, mari berusaha sekuat tenaga dan menikmati apapun hasilnya.

5 tanggapan untuk “Aku, Peribahasa, dan Masa Mendatang

  1. mohon maaf, jika tidak izin dulu bwt komentar. jika tdk suka anggap sj sbg angin lalu aja, sy ingin menambahkan bahan bacaan untuk melengkapinya , “SASTRA JAWA”, tembang jawa, filosofi2 dan kata-kata kiasan. saya juga mau baca ini. hehe. sy jg perlu banyak belajar. ☺

    Suka

  2. Benar mas, bbrp waktu ini sy lihat pakai peribahasa trus, dan itu tampak keren. You did it.

    Lanjutkan, ke depan psti Anda akan makin mahir menggunakannya, aplgi ada koleksi aplikasinya itu. Mantap.

    Suka

    1. Iya biasanya sebelum nulis, saya menjelajahi appsnya dan mencari peribahasa yang sekiranya mampu saya masukkan ke dalam tulisan. Agak repot dan susah sih awalnya, tapi lama2 semakin terbiasa. Nemu aja peribahasa yang cocok. 😀

      Suka

Komentar ditutup.