Menulis untuk Berbagi Ilmu, Mungkinkah?

Menulis untuk berbagi ilmuSumber gambar : Twitter.com

Aku telah rutin menulis selama 3 tahun terakhir. Dan seperti yang sudah pernah kusampaikan, tujuan menulis akan terus berevolusi seiring dengan ketrampilan yang semakin berkembang.

Setelah sekian lama menulis untuk diri sendiri dengan tujuan bersenang-senang dan mengarsipkan ilmu pengetahuan, akhir-akhir ini aku sering berpikir untuk menambah tujuan baru : Berbagi ilmu.

Apakah ini sebuah panggilan? Apakah sudah tiba waktuku untuk mulai memikirkan pembaca? Dan apakah aku siap memulai petualangan baru?

Jika aku benar-benar mampu melakukannya, maka sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui.

Tidak hanya bahagia karena puas menuangkan segala bentuk pemikiran yang bisa kunikmati kapan pun aku menginginkannya, tetapi bisa membantu orang lain memahami ilmu pengetahuan baru sehingga mereka memiliki pandangan yang lebih bagus.

Tentu bukan pekerjaan mudah, namun kurasa memang ini sudah waktunya.

Sebuah Keragu-raguan

Tujuan yang lebih besar menuntut pengorbanan yang lebih besar pula. Aku menyadarinya. Dan kurasa, dengan semua pengalaman menulisku, aku telah siap menuju ke level tersebut.

Namun tetap saja ada keraguan seolah aku belum siap melakukannya.

Selama ini aku egois. Aku tidak pernah memikirkan pembaca meskipun di berbagai kesempatan, aku selalu menemukan nasihat yang selalu diulang-ulang : Pikirkan apa yang diinginkan audiens.

Karena aku malas belajar. Lagipula selama ini aku cukup puas dengan duniaku sendiri. Meski pada kondisi tertentu, aku ingin mendapatkan lebih banyak pembaca.

Aku takut lupa diri. Mungkin saja, bukan?

Bisa saja aku terlalu fokus memikirkan orang lain (pembaca) dan melupakan kesenangan di dalamnya. Apalagi jika ekspektasi untuk menjangkau lebih banyak pembaca tidak terpenuhi. Aku sudah melihat banyak bloger yang hancur dan menurutku, penyebabnya karena tidak bisa menikmati proses menulis.

Aku tidak menjamin akan konsisten melakukannya, meskipun bertujuan berbagi ilmu terlihat keren. Tapi aku akan mencobanya. Kalau tekanannya terlalu besar, aku tinggal memutar kemudi dan kembali menulis seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.

β€œOrang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” Pramoedya Ananta Toer

Kadang-Kadang Merasa Seperti Tidak Tahu Diri

Sejak di masa awal, aku kadang-kadang berlagak seperti profesional. Sayangnya, hal tersebut tidak diimbangi dengan pengalaman dan pengetahuan sehingga “mungkin” aku terlihat tidak tahu diri.

Karena aku juga bukan siapa-siapa. Kupikir blog ini akan tetap sepi dan tidak ada yang menghiraukanku. Jadi, aku memang sengaja berakting seolah aku adalah pakar dan menuliskan semua yang kuketahui.

Mungkin peribahasa yang cocok untukku adalah dilihat pulut, ditanak berderai. Tapi memang seperti itulah keadaannya.

Bukannya membela diri, biarpun begitu, tulisanku bisa dipertanggungjawabkan. Tapi tetap saja, pembacanya pasti merasa jengkel ketika membaca.

Misalkan tulisan berjudul “7 Pelajaran Ngeblog yang Saya Pelajari dari Mendapatkan 30.000 Hits“. Itu pencapaian kecil, tapi aku menulis seolah mendapatkan pencapaian besar.

Dan masih banyak tulisan lainnya yang memberi kesan bahwa aku tidak tahu diri. Lebih tepatnya, anjing ditepuk menjungkit ekor.

Tapi aku tidak peduli. Toh aku masih meyakini kebenaran yang kutemukan di masa lalu :

“Orang-Orang profesional hanya menulis ulang apa yang sudah diketahui oleh khalayak ramai. Tetapi mengapa blog mereka selalu ramai dikunjungi oleh manusia-manusia yang haus ilmu pengetahuan?”

“Itu karena mereka (orang profesional) mampu menyederhanakan sesuatu yang rumit. Itu kuncinya.”

Kecuali aku mendapat pencerahan baru, mungkin aku akan mencabut pernyataanku dan tidak lagi berlagak seperti profesional.

Apa Gunanya Kemenyan Sebesar Tungku Kalau Tidak Dibakar

Ketika aku belajar peribahasa, kata-kata di atas menamparku.

Maknanya : Tidak ada gunanya ilmu pengetahuan yang tidak diajarkan kepada orang lain atau dipraktikkan.

Aku bukan harimau yang menyorokkan kuku. Semua pengetahuanku berusaha kutuliskan dalam blog ini. Walaupun ilmuku masih dangkal, tapi jika aku terus mempraktikkan pengetahuan-pengetahuan kecil yang telah kutulis secara terus menerus, aku berharap bisa mendapatkan paradigma baru.

Meskipun begitu, walaupun niatnya hanya gaya-gayaan, pernah tulisan konyol “Cara Mendapatkan 100 Pengunjung/Hari” menjadi populer dan memanen lebih dari 100 komentar.

Apalagi jika kuniatkan berbagi ilmu, buah pena yang kutulis yang memang dirancang untuk memberi pemahaman kepada orang lain, mungkin aku bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dan rasa puas yang lebih besar.

Dan kurasa itu layak diperjuangkan.

Risiko yang Semakin Besar

Aku pernah tersinggung dengan komentar-komentar yang masuk atau pertanyaan melalui Facebook. Bukannya aku tidak suka, tapi kesannya hal tersebut bertujuan menguji pengetahuanku.

Apalagi kalau sudah menyindir, sedangkan sindirannya terasa kurang tepat karena aku memang menulis untuk diri sendiri.

Itu membuat moodku berubah menjadi buruk.

Sekarang, apalagi jika niatnya sudah berbagi ilmu, Tentu risikonya semakin besar.

Bukannya berprasangka buruk, tapi lautan dapat diduga, hati manusia siapakah cakap menduganya.

Kadang-Kadang saja aku merasa berurusan dengan pembaca yang salah. Dan mungkin mereka tidak suka dengan apa yang kutuliskan.

Kalau memang tidak setuju, maka jangan digunakan. Atau sampaikan dengan jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Pernah suatu kali ada pembaca yang bertanya kurang lebih : Bagaimana cara menulis yang tidak terkesan menggurui?

Sialnya, hatiku tersinggung seolah tulisanku seperti itu. Dan kebetulan saja, beberapa tulisanku memang seperti itu.

Inginnya kujawab, “Memangnya kenapa kalau menggurui, toh pembaca yang berniat belajar justru terbantu dengan tulisan seperti itu.”

Dan sekarang, ketika aku benar-benar menulis untuk orang lain, maka tulisanku pasti bersifat menggurui. Dan aku lebih baik tidak mendapatkan pembaca daripada mendapatkan orang yang niatnya menimba ilmu, tapi tidak mau digurui.

Jadi, mari berusaha sebaik mungkin.

26 tanggapan untuk “Menulis untuk Berbagi Ilmu, Mungkinkah?

  1. β€œItu karena mereka (orang profesional) mampu menyederhanakan sesuatu yang rumit. Itu kuncinya.”

    Saya jadi inget kutipannya Einstein, “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.” Semakin tinggi pemahaman seseorang, seharusnya semakin sederhana juga ia dalam menjelaskan sesuatu, serumit apapun itu. Dan yg bikin saya seneng mampir di sini ya karena tulisan-tulisannya sederhana, mudah dipahami, tapi kualitasnya tetep tinggi. Setiap hari pasti selalu dapet ilmu baru di sini. Lanjutkan terus, Mas Shiq!

    Suka

    1. Iya… sebenarnya kata2 saya itu berasal dari kutipan einstein yang seperti ” Kalau Anda tidak bisa menjelaskan sesuatu kepada anak berusia 7 tahun, sebebarnya Anda tidak emahami apa yang Anda ketahui”

      Terima kasih atas apresiasinya πŸ˜€

      Suka

    1. Sebenarnya selama ini niatnya menulis untuk diri sendiri mbak nur ketika menulis. Tapi sekarang niatnya sudah bergeser dengan menyertakan berbagi ilmu. Biasanya klo niatnya udah berubah, godaanya juga semakin bermacam-macam πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

    1. Itu disebut tag. Ketika menggunakan aplikasi wordpress, tekan tombol gear di bagian atas. Kemudian klik “tags” dan masukan kata apa saja yang diinginkan. πŸ˜€

      Suka

  2. sebenarnya kan selama ini kamu sudah membagi ilmu mas. banyak hal baru aku dapat di sini. dari soal SEO, ngeblog sampek soal dagang buah dan skizofrenia. semuanya ilmu buat aku yang nggak pernah ke mana-mana. seingatku nggak ada postingan alay dan narsis atau sekedar curhatan galau di rumahmu ini

    terus nulis mas, dan jangan lupa jaga kesehatan

    Disukai oleh 1 orang

Komentar ditutup.