Postingan Blog : Kualitas atau Kuantitas?

Artikel blog : kualitas vs kuantitasSumber gambar : Kompasiana.com

Bloger, pemasar internet, penulis konten, webmaster, semua mungkin dengan lantang memilih kualitas.

Lebih baik sedikit konten bermutu tinggi dibanding ratusan artikel murahan.

Karena penentu peringkat nomor satu adalah kepuasan pengguna. Artinya, jika tulisan bagus dan menonjol dibanding tulisan sejenis, dan mampu memberi kepuasan terhadap pembacanya, peringkatnya akan lebih baik sehingga mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung.

Dan beberapa alasan lagi. Anda bisa melihat opini bloger lainnya :

Semua tampak berlalu angan.

Tapi jika Anda membaca Ebook Simply Produktivity dari Arry Rahmawan, mungkin Anda bisa mendapatkan jawaban yang lebih menantang :

“Namun belakangan ini saya belajar dari salah satu guru kehidupan saya yang berkata seperti ini : Apabila kita bisa menggunakan DAN, mengapa harus menggunakan kata atau?”

Apakah Anda punya keberanian untuk melakukannya?

Ini bukan perkara mampu atau tidak mampu di dalam pikiran dan keyakinan Anda.

Setidaknya ambil langkah pertama dan jalani dulu. Kemudian baru melakukan evaluasi untuk berusaha mengerjakannya dengan sesempurna mungkin.

Pengalaman Pribadi Saya

Anda mungkin berpikir murah di mulut mahal di timbangan, benar?

Tapi saya secara tidak sengaja telah melakukannya.

Sejak Februari 2017, saya mengupdate blog setiap hari. Itu artinya kuantitas postingan tidak perlu ditanyakan.

Bagaimana dengan kualitasnya? postingan-postingan saya banyak muncul di SERP (10 besar) untuk berbagai kata kunci.

Saya mendapatkan kualitas dan kuantitas secara bersamaan. Hanya untuk meyakinkan Anda, statistik blog saya terus meningkat, kecuali di bulan Ramadhan saja. Dan saya optimis akan terus meningkat jika saya mempertahankan kebiasaan ini.

Mana yang lebih penting : kualitas atau kuantitas?

Sekarang Anda menjadi bersemangat. Tapi Anda masih meragukan kemampuan diri sendiri. Cukup selesaikan membaca tulisan ini dan mungkin Anda mendapatkan sedikit sentuhan motivasi.

Catatan : Saya hanya 5 kali absen dalam menjalankan one day one post sepanjang 9 bulan terakhir.

Alah Bisa Karena Biasa

Sebenarnya… saya tidak setangguh yang Anda pikirkan. Ini hanyalah kebetulan yang menyenangkan.

Semua di mulai ketika saya mengikuti tantangan menulis dari Jeff Goins di bulan Februari 2017.

Saya bagai anjing terpanggang ekor. Padahal hanya menulis 500 kata saja setiap hari. Tapi hampir membuat saya menyerah.

Setelah berhasil melewati tantangan tersebut, saya ingin bertahan sebulan lagi. Dan kemudian mampu melakukannya.

Kemudian ingin memperpanjang sebulan lagi. Begitu seterusnya hingga akhirnya saya menetapkan untuk terus menulis setiap hari selama setahun penuh.

Hingga saat ini, saya malah menikmati aktivitas menulis. Bahkan saya tidak bisa berhenti menulis.

Ternyata benar, alah bisa karena biasa : Sesuatu yang sukar, kalau sudah biasa di kerjakan, tidak terasa sukar lagi.

Produktivitas saya meningkat. Selain itu, kualitas tulisan pun terjaga dengan baik.

Akal Tak Sekali Tiba

Meskipun Anda punya keinginan kuat dan berani membayar harganya, akal tak sekali tiba.

Anda tidak boleh mengharap hasil instan. Semua butuh proses.

Artinya, sekali pun Anda meluangkan lebih banyak waktu dan mencoba meningkatkan produktivitas dengan tetap menjaga kualitasnya, pasti Anda akan mengalami kegagalan.

Dalam 9 bulan terakhir menulis konten berkualitas setiap hari, saya pernah tidak punya waktu, bingung mencari referensi, frustrasi dengan ide-ide yang ada, hingga bingung memilih topik.

Anda juga pasti mengalami hambatan. Tapi pandanglah hambatan tersebut sebagai batu loncatan, dan Anda akan menemukan satu-satunya cara terbaik untuk melakukannya.

Motivasi : Jika Anda Gagal

Salah satu hal yang lebih buruk dari kegagalan adalah penyesalan karena tidak pernah mencoba.

Anda mungkin bisa gagal, tapi tidak ada yang bisa menghentikan Anda untuk bangkit dan mencoba lagi.

Anda mungkin bisa gagal, tapi Anda akan mendapatkan banyak pengalaman berharga untuk menjadi lebih baik lagi.

Anda mungkin bisa gagal, tapi Anda telah menjadi pemain dengan segudang keberanian, bukan sekadar penonton.

Jadi, silakan mencoba dan jangan takut gagal.

Apakah Anda siap berpetualang di dunia blog? Jika ya, pasti Anda sekarang ingin mencobanya.

28 tanggapan untuk “Postingan Blog : Kualitas atau Kuantitas?

    1. Sebenarnya kadang-kadang tulisan saya itu sifatnya self talk mbak salma. Jadi maksud dari Anda adalah saya sendiri. Saya menasihati dan memotivasi diri sendiri dulu. Syukur2 klo bisa bermanfaat πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

  1. Kalau di YouTube sih oke banget kalo utamakan kuantitas.. Kalo blog yah…. Harus jaga kualitas juga…

    Apalagi kebiasaan typo dan perubahan di dunia musik (niche) harus update artikel a harus nulis artikel “an” untuk melengkapi.

    Tapi jujur, kadang posisi suka tergeser website tld, jadi kuantitas juga penting.

    Suka

  2. Berdasarkan pengamatan saya, bloger sukses dan terkenal awalnya mengedepankan kualitas. seiring dgn alur kesuksesan blog, mereka juga berusaha memenuhi poin kuantitas, dengan bekal kualitas yg sudah ada dri awal-awal. hal tersebut karna banyak dorongan dari beberapa hal salah satunya mengejar pendapatan (banyak post semakin besar peluang pencet iklan dsb). sampai2 demi kuantitas bloger trsebut merekrut banyak penulis untuk mengisi blog. kesimpulannya kalau kita sudah memiliki bakat menulis maka kualitas akan tercapai jika ditekuni dgn sungguh-sungguh, dan kuantitas pun cepat lambat akan menyusul.
    Terbalik dgn bloger matrealistis. Mereka yg kebanyakan berharap dapat penghasilan besar dgn memosting sebanyak2ny tanpa memerdulikan kualitas artikel. Sebagai bloger yang bijak kita pasti bisa menangkap pesan alam maya tersebut.

    Suka

    1. Iya… sebenarnya kalau memperhatikan alurnya ya setiap bloger mesti terus berevolusi meningkatkan kualitas tulisan berdasarkan relativitas terhadap tulisan bloger lain.

      Sedangkan kuantitas biasanya akan mengikuti karena faktor alah bisa karena biasa πŸ˜€

      Suka

Komentar ditutup.