Menangkap Lalat

Menangkap LalatSumber gambar : infoyunik.com

Jam kerjaku siang hari. Di waktu itu, pasar sudah sangat sepi. Pedagang lain sudah pulang.

Di sekitarku, saat siang, hanya tersisa satu penjual bakso, satu penjual tahu campur, dan satu penjual sempol. Jadi, aku tidak banyak berinteraksi dan hanya diam di lapakku.

Terkadang kondisinya sangat tidak mengenakan. Kalau sedang sepi, praktis aku hanya duduk santai sambil membaca konten-konten di internet. Meskipun kondisi semacam itu membuatku sedih, tapi aku tetap percaya ada hari ada nasi. Jadi, aku selalu berusaha tetap bersemangat ketika berjualan.

Dulu…sebelum aku mahir mengikat semangka, kondisi sepi kugunakan untuk berlatih mengikat semangka. Aku terus melakukannya dan berhasil. Sekarang aku bisa mengikat semangka dengan cepat sehingga tidak menghabiskan waktu dan tenaga lebih banyak untuk sekadar mengikat semangka.

Nah… ketika aku begitu malas membaca di siang hari dan bingung sendiri apa yang bisa kulakukan untuk membunuh waktu selama menunggu kedatangan pembeli sedangkan aku sudah tidak lagi berlatih mengikat semangka karena sudah mahir, Ide itu pun muncul : Menangkap lalat.

Darimana Inspirasi Bodoh Itu?

Ide itu muncul begitu saja. Tiba-Tiba aku teringat film-film kungfu China, biasanya dilakukan para biksu, yakni menangkap lalat dengan sumpit dan memakannya bersama nasi.

Agar tidak salah paham, aku tidak pernah tertarik memakan lalat bersama nasi. Aku hanya terkesan bagaimana mereka mampu mengalahkan kecepatan terbang lalat dan menangkapnya.

Dan aku mencoba mengerjakan apa yang ditampilkan para biksu tersebut, hanya saja tidak menggunakan sumpit, aku menggunakan tangan kosong.

Di samping lapakku, ada lapak kosong yang sudah tutup dan biasa kugunakan untuk duduk santai dan minum kopi. Di tempat yang sama, beberapa lalat selalu muncul dan hinggap di kresek-kresek tahu yang juga kujual. Itulah kesempatanku.

Ternyata menangkap lalat dengan tangan kosong lumayan sulit. Tapi aku beberapa kali mampu melakukannya. Lalat yang tertangkap akan kulepas lagi. Begitu kegiatan bodoh yang kadang-kadang kulakukan.

Haruskah Aku Rajin Melakukannya?

Sebenarnya aku sudah sadar kalau aku termasuk aneh. Aku sendiri bingung mengapa aku tertarik melakukan hal-hal bodoh dalam hidupku. Dan menangkap lalat salah satunya.

Kupikir, jika aku berlatih keras, mungkin saja presentase keberhasilanku menangkap lalat akan meningkat. Tapi aku sendiri masih ragu apakah aku harus melakukannya atau tidak?

Kupikir aku juga bisa mahir menangkap lalat. Tapi siapa yang akan terkesan dengan kegiatan semacam itu?

Mungkin lebih baik aku tetap natural saja. Menangkap lalat saat aku ingin dan tidak perlu terlalu serius mengerjakannya.

Pemikiran Aneh Lainnya

Di musim hujan beberapa bulan lalu, aku mampu menangkap banyak lalat. Tapi tadi siang aku sedang tidak beruntung karena tidak mendapat seekor lalat pun.

Lalu aku menyimpulkan sekehendak hatiku bahwa kecepatan terbang lalat meningkat selama musim panas.

Karena itu satu-satunya alasan paling masuk akal mengapa persentase tangkapanku menurun dibanding saat musim hujan.

Jadi, mungkin sebaiknya aku berhenti menangkap lalat di musim panas dan lebih baik berusaha kembali membaca seperti semula.

Iklan

21 tanggapan untuk “Menangkap Lalat

  1. Kalau aku sukanya nangkapin nyamuk mas shiq,dikumpulin gitu, makanya anak2 suka pada ledekin,katanya ,” ibu mau masak nyamuk ya? Ngumpulin nyamuk mati sampe banyak gitu.” 😁

    Suka

    1. Saya sedang baca buku berat memang mas Jalil, cuma kayaknya kapasitas saya masih belum memadai untuk menulis seperti yang saya baca dari buku. πŸ˜€

      Suka

    1. Iya… tahun 2017 inginnya nulis tiap hari dan udah jalan 8 bulanan dan masih kuat. Meskipun kadang2 stres ringan buat menjalankan tantangannya πŸ˜€

      Suka

Komentar ditutup.