Malam Hari, Merenung, Memandang Langit, dan Rasa Sepi

Memandang Langit di malam hariSumber gambar : Download-wallpaper.com

Hari ini aku sedikit lembur karena bapak harus menghadiri undangan tetangga yang menikah. Aku baru pulang dari pasar sekitar pukul tujuh malam.

Seperti yang sudah kukatakan, akhir-akhir ini aku punya banyak waktu luang di malam hari. Dan aku masih menyesuaikan diri dengan perubahan rutinitas dalam hidupku.

Malam ini, sepulang dari pasar, aku membeli secangkir kopi untuk menemani menghambur-hamburkan waktu. Awalnya aku ingin menikmati malam di halaman belakang rumah, cuma lampunya rusak sehingga yang tersisa hanya kegelapan. Maka…aku berpindah ke teras, mengambil sebuah bantal, kemudian mulai menulis sambil tidur-tiduran.

Ini adalah pertama kalinya lagi aku memandang langit dengan suasana hati yang tenang di tahun ini. Padahal keinginan memandang langit sudah lama ada, tapi baru saat ini aku benar-benar melakukannya.

Langit malam ini sepi. Hanya ada sedikit bintang. Bulan pun sepertinya malu dan terus bersembunyi. Bukan pemandangan yang kuinginkan. Tapi aku tetap menikmati malam ini dan merasa sangat santai.

Udaranya enak. Anginnya sedikit-sedikit membuatku semakin nyaman. Dan kurasa aku akan tetap berada di luar untuk beberapa jam ke depan.

Memikirkan Pasar yang Sepi

Sudah dua hari ini kondisi pasar menjadi lebih sepi dari biasanya. Itu juga bisa diartikan selama dua hari terakhir aku berhenti menabung. Rasanya aneh sekali.

Sebenarnya aku sudah sering mengalami penurunan penjualan. Hanya saja dua hari terakhir aku merasa cemas. Aku tidak tahu apakah ini merupakan pertanda buruk. Tapi aku berharap besok keadaannya akan membaik.

Kalau sudah seperti ini, rasanya ingin sekali aku melakukan percobaan. Mungkin dengan mengobral barang, membangun brand, atau mengevaluasi semua kinerja lapak buahku dan mengambil pelajaran dari kejadian ini. Tapi sampai saat ini aku masih belum diberi kepercayaan orang tuaku. Jadi, aku harus menahan hasratku dan lebih bersabar lagi.

Kadang-Kadang, ingin sekali aku berdagang sendiri. Dan akhir-akhir ini rasa itu seperti duri dalam daging. Agar aku punya kebebasan dalam menentukan kebijakan dan lebih mudah melakukan semua sendirian.

Sayangnya aku tidak bisa melakukannya. Karena kedua orang tuaku sudah berpesan untuk membantu mereka di pasar saja. Dan tentu saja, meskipun aku ingin berdagang sendiri, aku tidak mampu mengatakan keinginanku kepada orang tuaku.

Lagipula mungkin perkataan orang tuaku ada benarnya. Sebagai sedikit bentuk baktiku, aku selalu berusaha tidak membantah perintah orang tuaku sedikit pun. Berargumen saja sangat jarang. Kuharap mereka senang dan merasa dihargai oleh semua tindakanku.

Ingin Lebih Sering Memandang Langit

Sebenarnya kalau aku memandang langit, biasanya suasana hatiku sedang buruk. Bisa bosan, sedih, bahkan frustrasi. Itu berarti malam ini adalah malam dalam sejarah hidupku karena untuk pertama kalinya aku memandang langit dalam keadaan yang sedang bagus.

Sama seperti kebiasaan minum kopi sebelum menulis yang baru kubiasakan akhir-akhir ini, aku ingin membiasakan diri memandang langit.

Tidak perlu lama-lama, bisa 30 menit saja setiap malam. Aku ingin menciptakan kisahku sendiri dengan langit malam.

Mungkin perasaanku bisa lebih baik. Mungkin bisa menjadi inspirasi menulis. Mungkin bisa jadi kebiasaan baru yang membuatku semakin aneh sehingga orang lain tidak akan pernah mampu memahamiku.

Dan entah mengapa aku merasa ide memandang langit setiap malam adalah ide yang bagus.

Rasa Sepi yang Menyerang

Biasanya setiap malam aku pasti sibuk membaca dan menulis. Namun karena aku sudah memutuskan untuk lebih santai dalam ngeblog, maka aku akan menikmati masa istirahat ini dengan sebaik-baiknya.

Akibatnya, aku kembali merasa kesepian. Padahal sudah lama sekali aku tidak merasakannya karena berusaha menyibukkan diri di waktu luangku.

Kurasa akan menyenangkan punya seorang sahabat. Seseorang yang mampu membuatku tertawa dan membicarakan banyak hal-hal yang tidak penting.

Itu membuatku sedikit bersedih. Sebenarnya sejak kecil aku selalu ingin punya sahabat, terinspirasi dari lagu Sheila On 7 “Sahabat Sejati”.

Tapi selalu saja hubungan yang kubangun tidak bertahan lama.

Tidak terasa, sekarang aku sudah 28 tahun tanpa seorang pun sahabat. Meskipun aku sudah sangat beradaptasi dan mampu bahagia sebagai introvert, aku tetap mempercayai impian memiliki sahabat akan terwujud.

Aku akan tetap percaya sampai akhir hayatku. Karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Aku hanya harus tetap percaya, “tidak ada takdir Tuhan yang buruk” seperti yang dikatakan Suci.

Kalau pun itu tidak terjadi, mungkin itu adalah rencana terbaik yang disusun sedemikian rupa untuk mendapatkan takdir-takdir menyenangkan lainnya.

19 tanggapan untuk “Malam Hari, Merenung, Memandang Langit, dan Rasa Sepi

        1. Wah kurang tahu soal takdir saya. Maaf.

          Cuma klo saya pribadi, selama belum dicoba untuk berubah menjadi ekstrovert dengan segenap usaha dan doa, maka itu belum bisa disebut takdir.

          Suka

    1. Belum mas firman. Masih ngatur jadwal baru. Banyak hal berubah di kehidupan saya akhir-akhir ini. Saya sampai kewalahan. Cuma klo baca buku sengaja dihilangkan dulu untuk mengatasi kesibukan tertentu šŸ˜€

      Suka

  1. Akan lebih indah bila ada kekasih hati, ya gak mas Shiq4? Jd, klian bs brsma memandang langit malam sehingga rasa sepi pun bs terobati.

    Maksud saya, bagaimana klau saat ini, ada gadis yg bersedia mnjdi teman spesial hidup Anda? Apakah Anda siap? Heeee…

    Suka

    1. Wah itu tidak mungkin mas desfortin. Saya sudah mengambil keputusan, dadu sudah dilempar dan taruhan sudah dipasang he he he…. kecuali klo orang tua saya yang menginginkannya. šŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

  2. I like moon sir, I hope someday Goes To Moon … Ingat, sendiri bukan berarti sendirian … Bicara kesepian jd inget lagu’y Pas Band – Kesepian Kita … Hmmm

    Suka

Komentar ditutup.