Garbis-Garbis di Bulan Agustus

Garbis-Garbis di bulan agustusSumber gambar : Ptjlo.co.id

Musim garbis sudah berlangsung sejak Mei 2017 dan kini memasuki bagian akhir. Tidak ada lagi garbis kretek, hanya garbis-garbis bisma.

Penjualan garbis pun tidak banyak. Beberapa kali bapak memasok garbis sebanyak 50-an Kg saja. Itu pun tidak habis. Meskipun cuacanya sangat panas dan cocok untuk minum es garbis, sepertinya minat masyarakat sudah jauh menurun dibanding ketika bulan puasa beberapa waktu yang lalu.

Tapi ada satu keberuntungan. Kemarin, di hari Minggu, bapak mendapat garbis dengan harga dibawah harga pasar. Jadi, bapak mengambil 200 Kg.

Karena hari Minggu, garbisnya terjual dengan baik. Hampir separuhnya sudah terjual ketika memasuki siang meskipun harga yang dipatok merupakan harga normal. Aku menyebutnya keberuntungan.

Tapi ketika pagi ini aku datang ke pasar, harga garbis sisa kemarin harganya sudah turun dari Rp 5.000,00/Kg menjadi Rp 4.000,00/Kg. Kalau berhitung kasar, sudah untung banyak dari penjualan garbis di hari minggu kemarin.

Keberuntungan Tidak Datang Dua Kali

Mungkin karena berhasil menjual banyak garbis, bapak jadi berpikir bahwa permintaan garbis akan stabil sehingga memasok garbis lagi.

Tadi pagi sudah banyak garbis baru. Sayangnya, sampai pukul dua siang masih sisa banyak. Sepertinya keberuntungan memang sulit terjadi dua kali.

Tapi bukan masalah besar. Garbis-Garbis tersebut baru datang tadi pagi sehingga bisa bertahan sampai dua hari lagi. Kalau masih sisa banyak, tinggal menurunkan harga saja. Toh… harga belinya murah sekali. Jadi, tidak sampai rugi banyak.

Kalau pun nanti setelah diobral masih tidak laku, mungkin memang sudah tiba waktunya untuk merugi sedikit. Tapi dipikir-pikir, keuntungan penjualan garbis di hari Minggu kemarin masih sangat cukup untuk menutup kerugian. Jadi, tidak sedih-sedih amat sih.

Di Bulan Agustus Kualitas Garbis Lumayan

Di bagian-bagian akhir musim garbis, memang secara kualitas garbis yang tersedia bukan yang terbaik. Aku sempat mencicipinya dan menggolongkan garbis yang kujual di kelas “Lumayan”.

Rasanya sedikit manis dan aroma garbisnya pun dapat. Tapi tidak cukup enak untuk dikonsumsi secara langsung dan cenderung lebih cocok dijadikan es.

Di bulan Agustus garbis yang tersedia juga tidak banyak. Jadi, tidak bisa pilih-pilih dalam memasoknya.

Kalau ada dan harga cocok, maka langsung diambil. Tapi memang kadang aku berpikir bahwa berjualan garbis di bagian akhir bukan rencana yang bagus. Karena kualitasnya yang jelek meskipun harganya jauh lebih murah dibanding di puncak musim garbis.

Jadi Bingung Sendiri

Seperti yang sudah kubilang, kadang-kadang aku punya kesombongan dan merasa paling benar ketika berjualan di pasar.

Seperti dalam kasus garbis di atas. Seharusnya kalau dapat harga miring, maka bisa menjual dengan harga yang lebih murah sehingga dagangan cepat habis. Tapi bapak tetap saja kukuh menetapkan harga Rp 5.000,00/Kg.

Secara teori, harga normal seperti itu tidak akan terlalu berpengaruh terhadap penjualan. Yang membingungkan, kenyataannya garbis-garbis di hari Minggu tetap terjual dengan baik. Meskipun bapak menyuruhku untuk memberi potongan harga kepada pembeli-pembeli garbis.

Kalau dipikir-pikir, kenapa tidak dijual dengan harga Rp 4.000,00/Kg saja tanpa potongan apapun. Jadi, lebih efisien dalam melayani pembeli. Tidak perlu sampai tawar-menawar harga segala.

Bapak selalu berpikiran seperti itu. Pasang harga tinggi, kemudian sering memberi diskon. Sedangkan aku terlalu malas untuk tawar menawar dan lebih suka dengan harga pas.

Entahlah… sebenarnya aku cuma ingin bermain brand saja. Kalau bisa terkenal dengan harga murah, mungkin penjualan akan meningkat dan tidak ada lagi orang yang menawar karena aku begitu malas dengan segala urusan tawar-menawar yang menguras tenaga.

Tapi ya sudahlah. Lebih baik belajar lebih banyak dan mencontoh bapak dulu dalam berdagang. Jika sudah punya banyak pengalaman, mungkin aku bisa berimprovisasi dan menemukan satu-satunya cara terbaik dalam bermain harga.

19 tanggapan untuk “Garbis-Garbis di Bulan Agustus

    1. Iya… rata2 gitu. Tapi saya punya keinginan untuk membiasakan pembeli dengan harga pas. Klo udah terkenal dengan harga pas, nanti juga tidak pada nawar. Sayangnya belum bisa diterapkan dengan sempurna 😀

      Suka

Komentar ditutup.