Mengikat Semangka, Mengesankan Bapak, dan Pandangan Masa Depan

Cerita mengikat semangkaSumber gambar : rumahkurmasahara.com

Aku cukup menikmati pekerjaanku sebagai penjual buah. Aku belajar banyak hal seperti cara mendapatkan pelanggan, membaca situasi pasar, berhubungan dengan pelanggan kaya, sampai mengamati persaingan dan menentukan harga produk.

Aku belajar dari pengalaman dan selalu berusaha menjadi pedagang yang lebih baik lagi.

Mengikat semangka bukan pengecualian. Aku juga mempelajarinya. Meskipun awalnya aku begitu malas dengan tugas yang satu itu.

Tapi kemampuan mengikat semangka sangat penting. Agar semangka-semangka bisa digantung dan dipajang. Juga agar lebih mudah dijinjing pembeli. Dan tentu saja, jika semangka sudah diikat dan digantung, maka tidak ada risiko dimakan tikus pasar seperti ketika menaruh semangka di keranjang dan menutupnya rapat-rapat.

Postingan ini tentang kisahku dengan semangka dan bagaimana aku menjadi pengikat semangka yang mahir. Dan tentu saja, selalu menyenangkan berbagi kisah.

Susah Payah Mengikat Semangka

Dulu aku tidak mahir mengikat semangka. Orang tuaku menunjukkan bagaimana melakukannya dan kemudian aku menirunya. Tapi bagiku, mengikat semangka merupakan tugas yang menyebalkan.

Tapi aku tidak punya pilihan. Tugas itu diberikan kepadaku. Jadi, meskipun bersusah payah, aku tetap mengerjakannya.

Kalau pasar sedang ramai atau menghadapi momen tertentu, ada sekitar 200 Kg yang harus kuikat. Bayangkan siksaan ketika melakukannya. Aku butuh berjam-jam untuk menyelesaikannya karena juga harus melayani pembeli yang datang. Aku baru mengikat semangka kalau tidak ada lagi pembeli.

Atau…meskipun hanya 50 Kg semangka, aku tetap malas melakukannya. Paling aku baru mengikatnya ketika menginjak sore hari walaupun aku bisa melakukan di siang hari.

Yang jelas aku tidak suka tugas mengikat semangka.

Tapi kemudian aku kasihan melihat bapak mengikat semangka sisa pekerjaanku yang kadang tidak selesai. Maka, aku berniat menyelesaikan pekerjaan mengikat semangka berapa pun jumlahnya. Dan aku mulai berlatih.

Berlatih Mengikat Semangka

Sebenarnya aku termasuk tipe pemalas. Itulah mengapa jika aku serius, aku akan mencari cara termudah untuk mengerjakannya sehingga aku bisa segera bermalas-malasan.

Pada akhirnya, aku ingin mengikat semangka dengan cepat. Aku membandingkan cara bapak, ibu, bahkan kuli berpengalaman ketika mengikat semangka. Tapi dipikir-pikir, akhirnya aku lebih menyukai cara yang kutemukan sendiri.

Dengan segenap antusiasme aku berlatih mengikat semangka secepat mungkin. Aku mulai tahu seberapa kencang tali ketika mengikat agar mudah melakukannya. Bahkan…tanganku sampai lecet-lecet ketika berlatih. Tapi akhirnya aku menjadi mahir dan mampu mengikat semangka dengan cepat.

Ketika aku sudah mahir, aku menunjukkan ke bapak. Dan bapak terkesan dengan kemampuanku. Beliau juga memujiku. Jadi, aku merasa sangat dihargai.

Kini, kalau ada semangka datang, tugas itu selalu akan diberikan kepadaku. Aku senang melakukannya karena bisa meringankan tugas bapak. Lagipula aku sudah hebat dalam melakukannya.

Seperti tadi malam. Karena tadi semangka kami habis, bapak mendatangkan semangka lagi pukul 9 malam. Dan bapak menjemputku di rumah hanya untuk mengikat semangka agar besok tinggal menjual saja.

Sekarang aku menikmati saat-saat mengikat semangka dan terus berupaya untuk melakukannya secepat mungkin.

Pandangan Ke Depan

Sebenarnya aku punya kesombongan. Terkadang aku merasa bahwa cara berdagang orang tuaku banyak yang salah. Aku selalu berusaha melawan kesombongan itu.

Bagaimana pun, orang tuaku memulai semuanya dari nol sampai sukses hingga sekarang ini. Mereka punya segudang pengalaman berharga ketika berdagang.

Dibanding sok tahu dan sombong dengan pikiranku sendiri dan merasa paling benar, aku selalu berusaha belajar dari orang tuaku tentang semuanya. Nantinya, aku akan menggunakan sistem yang dibangun orang tuaku dan menyempurnakannya.

Nah…Salah satu yang mungkin kurubah adalah tentang mengikat semangka. Dibanding melakukan sendiri, lebih baik membayar orang lain untuk melakukannya. Aku pernah melihat penjual buah lainnya yang memesan semangka yang sudah terikat. Dan aku ingin menirunya.

Biarpun nanti beban menjadi bertambah, tapi lebih efesien dalam hal tenaga. Jadi, aku bisa berfokus ke pemasaran dan bermain harga.

Menambah sedikit beban untuk menghemat tenaga dan pikiran sangat penting sehingga aku bisa fokus ke hal-hal yang lebih penting.

Itulah pandanganku ke depan ketika sudah diberikan kepercayaan untuk membuat kebijakan sendiri dalam mengelola lapak buah.

17 tanggapan untuk “Mengikat Semangka, Mengesankan Bapak, dan Pandangan Masa Depan

  1. Buah tropis mengesankan, banyak manfaatnya, ingat dulu ke negara lain, mereka tidak punya buah semangka, apalagi varian semangka. Hebat cak Shiq4,, jarang saya bisa dapatkan bibit semangka, kebetulan saya suka main tanah πŸ™‚

    Suka

  2. Saya malah gak tahu cara mengikat semangka mas. Gak pernah jualan semangka sih.

    Mas shiq4 itu tipe pemalas yang cerdas, haha…..otaknya jln terus, tak megandalkan otot

    Suka

Komentar ditutup.