Anak yang Memukuli Ibunya

Anak memukul ibunyasumber gambar : Jurnalsumut.com

Kehidupan di pasar tradisional cukup beragam. Mulai dari pengemis-pengemis kecil, orang-orang bernasib malang, persaingan pedagang, hingga pencurian. Dan dua hari yang lalu ada anak yang memukuli ibunya di dalam pasar.

Siang itu, karena aku ingin buang air kecil, kutinggalkan lapak buah dan menuju ke kamar mandi umum yang tak jauh dari lapakku.

Ada kerumunan di depan kamar mandi. Menurut percakapan yang kudengar, ada anak yang memukuli ibunya sendiri. Aku melihat seorang bapak, mungkin berusia akhir 30-an atau awal 40-an, memukuli nenek-nenek dengan kayu.

Terdengar teriakan ‘Ahh…Ahh… Ahh…. ‘dari ibu-ibu yang melihat kejadian tersebut. Tapi misiku adalah kencing sesegera mungkin, jadi, aku tidak peduli dengan kejadian tersebut dan masuk ke kamar mandi setelah memasukan koin Rp 500 ke kotak di depan pintu.

Setelah selesai, pemandangan di luar sedikit berubah. Aku melihat pemuda berusia sekitar 20 tahunan berusaha melerai. Tapi gagal. Karena bapak tersebut juga memukul pemuda tersebut dan pemuda tersebut sempat terdengar mengatakan sesuatu seperti memohon untuk tidak dilanjutkan.

Karena aku sedang sibuk berjualan, aku tidak tahu bagaimana akhir kejadian tersebut. Aku kembali ke lapak dan memikirkan kejadian tersebut selama beberapa saat.

Tidak Minta Tolong, Maka Tidak Bertindak

Sebenarnya aku ingin menolong nenek tersebut. Kalau bapak itu memukulku, aku tinggal melaporkan ke polisi. Dan masalah selesai.

Tapi tidak kulakukan. Karena nenek itu tidak minta tolong dan lagipula itu bukan urusanku.

Mungkin nenek itu melakukan kesalahan yang besar sehingga anaknya sendiri berani memukulinya di depan umum. Atau mungkin nenek itu salah dalam mendidik anaknya dan ia mendapatkan apa yang ia tanam. Atau anak itu mungkin durhaka kepada ibunya dan nenek itu masih memaklumi kelakuan anaknya sehingga tidak minta tolong ke orang lain meskipun dianiaya anaknya sendiri. Dan masih banyak probabilitasnya.

Karena aku sudah tidak peduli dengan kehidupan orang lain. Kecuali jika ada yang minta tolong dan menceritakan dengan detail tentang suatu permasalahan, maka aku berkewajiban menolong jika mampu.

Kalau cuma sepenggal kejadian dan aku tidak tahu duduk perkaranya, lebih baik tidak ikut campur. Bisa-Bisa aku di cap mencampuri urusan orang dan sok tahu. Jadi, kurasa sekarang aku mulai punya sifat tidak mau tahu.

Mungkin Aku Sedang Berhalusinasi

Teriakan-Teriakan ibu-ibu mungkin terlalu berlebihan. Sebab kulihat pukulan-pukulan bapak tersebut termasuk tidak keras sama sekali. Begitu pula ketika memukuli kaki pemuda yang membela nenek dengan sebuah kayu. Atau… Mungkin aku sedang berhalusinasi lagi.

Sekilas kulihat adegan tersebut seperti sebuah sandiwara saja. Lagipula banyak yang melihat kejadian tersebut dan tidak melakukan apa-apa. Atau apakah kejadian semacam itu sudah sering terjadi dan orang-orang sudah tahu duduk permasalahannya dan tidak melakukan tindakan apapun adalah tindakan paling benar?

Kalau dari penilaianku, justru aneh saja orang-orang berkerumun dan tidak melakukan apapun. Kalau benar dugaanku, sepertinya ini bukan kejadian pertama.

Lagi-Lagi mungkin… Begitulah cara ibu dan anak menyelesaikan suatu permasalahan sehingga orang lain sudah tidak mau tahu lagi. Karena jika memang nenek itu tidak bersalah, seharusnya ia bisa saja melaporkan ke polisi atau mengutuk anaknya kalau sudah tidak bisa memaafkan kelakuan sang anak.

Tapi entahlah… apa yang dipikirkan nenek itu. Aku tidak mengenalnya. Dan kurasa nenek itu pasti punya penjelasan penting tentang kejadian yang menimpanya. Kalau ia diam saja dan tidak pernah meminta tolong atau menceritakan kepada orang lain, maka tidak akan ada perubahan apapun dalam kehidupannya.

Atau Mungkin Aku Sudah Tidak Punya Perasaan?

Sejak aku kena skizofrenia, kupikir aku banyak berubah. Terutama tentang kehidupan orang lain.

Sakit itu sangat buruk dan membuatku putus asa. Dan memang tidak ada yang peduli sama sekali terhadapku. Begitulah aku belajar dengan keras tentang takdir dan kehidupan.

Kejadian apapun yang terlihat atau penderitaan apapun yang diderita orang lain, aku tidak peduli. Yang penting hal tersebut tidak terjadi kepadaku. Kecuali jika aku mengenal baik orang-orang tersebut, maka aku akan membantu sebisa mungkin dan menunjukkan empati. Tapi jika terjadi kepada orang lain, kurasa ia harus belajar sebagaimana aku untuk menerima takdir dari Tuhan dan menikmatinya.

Nenek itu mungkin terlihat menyedihkan. Tapi mungkin ia punya jiwa besar untuk memaafkan tindakan anaknya. Daripada ikut terlibat suatu masalah dimana aku tidak tahu duduk permasalahannya, lebih baik aku menghindar dan tidak memikirkannya.

Atau memang benar bahwa penderita skizofrenia itu sudah kehilangan akal dan logika untuk menjalani hidup? Kurasa itu memang benar. Dan aku baik-baik saja dengan kehidupanku.

14 tanggapan untuk “Anak yang Memukuli Ibunya

  1. Hmm… aneh juga sih kalau sudah banyak orang yang berkerumun tapi tidak ada yang melapor atau melerai. Tapi mungkin sudah ada yang melapor cuma pertolongan belum datang–entahlah, saya tak ada di lokasi jadi tidak bisa menghakimi apa pun dan siapa pun, hehe.

    Suka

    1. Iya mas gara. Saya sendiri juga nggak tahu kejadiannya. Jadi, saya sendiri sebenarnya bingung mengapa kejadian seperti bisa terjadi dan mengapa orang-orang hanya diam 😀

      Suka

  2. Tapi skitzoffffff itu ga seperti mental ilness lainnya. Lebih sering dengar suara dan terpengaruh secara psikologis, cuma halusinasi yg timbul ada hubungannya sama kejadian dunia nyata. Seperti minum air, tapi yg di ingat minum kopi, nah gitu kira-kira

    Suka

    1. Wah masing-masing penderita skizofrenia punya waham masing-masing dan halusinasi masing-masing. Tidak bisa digeneralisir. Klo yang minum air tapi yang diingat kopi saya belum pernah mengalaminya 😀

      Suka

  3. Rasanya agak tidak baik juga kalau memukuli orang tua di depan umum…seburuk-buruknya orang tua, mereka lah yang berjasa telah membuat anaknya menjadi dewasa.. Entah apa masalahnya namun kurang etis sih kalau melakukan hal itu
    Semangat terus kak Shiqa..

    Suka

    1. Iya sebenarnya kurang etis juga. Tapi yang bikin sulit klo masalah sama keluarga semacam itu si nenek menolak untuk buat laporan dan memilih memaafkan 😀

      Saya selalu berusahasemangat mas fahrizinfa 😀

      Suka

  4. Ada saja hal unik yang Anda lihat, lalu dituliskan.

    Saya pikir, sayapun akan sama seprti Anda kalau mengetahui kejadian tersebut tidak perlu ikut campur, toh org2 pada cuek, pasti ada lasan lain mengapa mereka demikian.

    Suka

    1. Entahlah… dulu saya pernah punya masalah serius gara2 ikut campur urusan orang. Dan saya malas ikut campur toh saya nggak punya kapasitas apapun untuk menolong orang 😀

      Disukai oleh 1 orang

Komentar ditutup.