Perasaan Kosong dan Komitmen Menulis

Perasaan kosong dan komitmen menulis

Sumber gambar: Innerbonding.com

Selama tiga tahun terakhir menulis, belum pernah aku mengalami apa yang terjadi dua hari yang lalu. Tiba-Tiba saja keinginan menulis hilang begitu saja. Perasaanku kosong.

Kuhabiskan waktu dengan menonton film dan berharap perasaanku akan membaik sebelum tengah malam. Tapi tidak terjadi apapun.

Di hari itu, aku tidak menulis. Itu berarti aku sudah 3 kali bolos dalam permainan yang kuciptakan sendiri : Menulis setiap hari selama 12 bulan.

Kupikir kejadian tersebut akan berakibat fatal. Untunglah aku baik-baik saja. Padahal beberapa hari sebelumnya, aku seperti mulai terobsesi dengan kegiatan menulis. Dan obsesi itu hilang dan aku seperti terlahir kembali dalam keadaan kosong. Niat dan keinginan tidak berbekas sama sekali.

Kini, aku seperti mulai dari nol lagi. Aku kehilangan ritme. Dan harus bersusah payah menumbuhkan komitmen untuk terus menulis.

Hal ini mengingatkanku pada Stephen King. Bagaimana penulis besar tersebut merasa kehilangan kemampuan menulisnya dan berakhir dengan tindakan bunuh diri.

Aku beruntung. Meskipun aku sudah benar-benar kehilangan minat menulis, ketika aku sedikit memaksakan diri, aku berhasil menyelesaikan sebuah tulisan berjudul “7 Tips Menjadi Bloger Terkenal“.

Lumayan. Setidaknya aku tidak kehilangan kemampuan menulis meskipun kualitas tulisan jauh menurun.

Keadaan Benar-Benar Kacau

Aku mampu melewati 6 bulan dengan prinsip one day one post. Bahkan aku bisa berbangga karena aku melewatinya dengan mudah. Tidak ada masalah besar. Dan semua berjalan dengan baik.

Baru di bulan ketujuh ini mulai sedikit bermasalah. Selain karena perasaanku sempat hampa, juga karena pekerjaan sehingga jam menulisku berubah, plus di masa sekarang aku berniat untuk meningkatkan kemampuan menulisku lagi.

Ketika aku menjelajah internet dan menemukan artikel-artikel yang bagus, aku merasa kecil. Perbedaannya terlalu besar jika dibandingkan dengan karyaku.

Seharusnya itu menjadi motivasi yang bagus untuk perkembanganku, namun aku benar-benar bingung bagaimana aku melakukannya.

Aku tidak tahu di mana kekuranganku. Lagipula tulisan-tulisan itu berbahasa Inggris. Aku tidak bisa mencuri kosakatanya dengan seenaknya.

Kadang-Kadang aku juga merasa bahwa kosakata yang kugunakan sangat terbatas sekali. Untuk pertama kalinya aku mulai ragu. Keraguan yang besar.

Melihat perkembangan akhir-akhir ini, rasanya sulit melakukan one day one post hingga akhir Januari 2018.

Komitmenku Juga Mulai Hilang

Ini benar-benar bulan penuh masalah. Aku sudah melangkah sejauh ini, tapi lagi-lagi komitmenku mulai kuragukan juga. Dipikir-pikir, apa tidak ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat dibanding dengan menulis?

Aku bahagia ketika menulis. Aku suka membaca tulisanku sendiri. Tapi mengapa aku harus melakukan dalam waktu yang lama atau memperbaiki semua yang jelek sementara aku bisa menggunakan waktu tersebut untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat seperti menghabiskan waktu dengan keluarga atau membaca buku?

Mungkin ini efek perasaan kosong yang kualami. Pikiraku jadi negatif. Komitmen menulisku mulai kendor. Dan tentu saja, sebagai akibatnya, aku begitu kesulitan untuk menulis.

Kurasa aku harus mulai dari nol lagi. Menulis singkat-singkat dulu seperti di masa awal sampai minat menulisku tumbuh lagi.

Tidak masalah untuk sementara kualitas tulisan buruk. Yang penting aku terus menulis dan mampu menumbuhkan komitmen untuk menjadi penulis yang lebih baik lagi.

Tidak Ada Topik yang Membosankan

Rasanya seperti mimpi buruk. Aku benar-benar malas menulis. Kondisiku juga sedang buruk. Mustahil aku mampu menjaga kualitas tulisan.

Tapi tidak masalah. Mungkin ini ujian yang harus dilalui setiap penulis. Aku akan mulai belajar menulis lagi dengan mengangkat topik-topik ringan. Sekaligus mencoba menerapkan perkataan Patrick Armitage bahwa tidak ada topik yang membosankan, yang ada hanya penulis yang membosankan.

Beberapa minggu ke depan aku akan mengangkat topik-topik sederhana dan berusaha menyajikannya sebaik mungkin untuk latihan sekaligus mengembalikan kondisiku seperti sebelumnya.

Jadi, sampai saat itu tiba, aku harus bersabar menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas buruk. Semoga semuanya akan kembali normal setelah memasuki bulan ke-8 one day one post.

Iklan

33 tanggapan untuk “Perasaan Kosong dan Komitmen Menulis

  1. Tetep semangat ya mas dengan komitmennya.Kadang semua memang gak berjalan dengan rencana kita.

    Tapi kalau saya membaca karya mas.Itu sudah luar biasa mas.Topik sederhana bisa disajikan menarik lewat tulisan mas shiq4.

    Dan memang sebaiknya mas habisin waktu juga buat berkumpul dengan keluarga biar rasa kosong sirna.Dan mood menulis kembali stabil.

    Suka

    1. Kalau dengan keluarga saya masih sempatlah berbincang-bincang. Banyak waktu malahan.

      Cuma masalahnya sedang dalam kondisi buruk dalam menulis. Kalau semangat masih naik turun akhir-akhir ini. Tapi terima kasih atas dukungannya 😀

      Suka

  2. Semangat bang. Duh baru dua ke tiga hari sudah melahirkan lagi kegelisahan dalam tulisan yang menarik.

    Saya pernah hampir setahun. Apa apan saya ini. 😭😭😭

    Suka

  3. Tetap seangan dan optimis mas. Cobalah refreshing dahulu di saat kosong. Cari kegiatan baru, misalnya jalan2 ke luar di mana suasananya jauh berbeda dg suasana rutinitas sehari2. Bisa jadi dg cara itu semangat menulis kembali bangkit dan justru malah bisa dapat ide2 segar utk diulis. Apapun kegiatan kita sekalipun itu hobi yg menyenangkan akan ada titik jenuh dalam jangka waktu yg lama.

    Mungkin itu aedikit komentar sy, siapa tahu bs membantu.

    🙂

    Suka

    1. Iya mas. Sepertinya saya mau ambil libur beberapa hari saja. Klo jalan-jalan masih lumayan pak. Biasanya di sore hari sama ponakan saya.

      Tapi terima kasih sarannya. Mungkin memang saya butuh suasana baru. 😀

      Suka

  4. Kok bs bgtu ya? Sulit dipercaya. Seolah Anda hanya bercerita.

    Tapi setidaknya, inipun bs jd tulisan.

    Ini juga smcam pengantar sblum Anda mnulis yg ringan2 itu sampe waktu dimana anda mrasa normal sprti sblum2nya. Kalau tdk Anda beritahu kami ttg kondisi Anda itu, sy merasa tulisan2 oke2 terus aja tuh, 😄😀

    Suka

    1. He he he… mungkin kebetulan mas desfortin menyukai gaya menulis yang saya bawakan.

      Nggak tahu mas desfortin, ini pertama kalinya minat menulis saya hilang. Rasanya benar-benar malas sekali. 😀

      Disukai oleh 1 orang

  5. Semangat. Semua yg mempunyai blog pasti pernah mengalami fase itu.
    Saya hingga sekarang masih belum bisa mengembalikan ritme menulis, pernah menghilang berbulan2 bahkan pernah setahun 😳

    Suka

    1. Wah… sebenarnya saya sulit mbak salma meninggalkan blog. Karena di malam hari saya punya banyak waktu luang. Sangat sayang untuk tidak dimaksimalkan. Jadi, klo saya nggak ngeblog, bisa bingung sendiri mau ngapain. 😀

      Disukai oleh 1 orang

  6. saya suka tulisan bang shiqa, nyaman dibacanya, ringan tapi berat. kalau bang shiqa merasa terkadang tulisannya ringan biasa, itu mah hal biasa. btw kerja dimana bang?

    Suka

    1. 😂 … Aq juga senang bila admin blog reply komen q … Pasti dah aq usahakan muncul terus ga sembunyi² lagi …✌😉

      Suka

  7. Banyak baca pun harus diimbangi dengan nulis bang, kalo ga nulis nanti nyesal.. Sering banget wa mikir gitu krna dulu sempat terlalu fokus baca baca dan baca aja.. Apalagi wa pelupa, hahah.. Harusnya selalu nulis..

    Suka

Komentar ditutup.