Manusia Malam

Manusia menulis

Sumber gambar : wahdah.or.id

Saya terlahir sebagaimana manusia lainnya, tidur di malam hari dan beraktivitas di siang hari. Itu sudah terjadi bertahun-tahun sejak saya masih kecil hingga tumbuh dewasa. Kalaupun begadang, itu tidak setiap hari.

Tapi akhir-akhir saya benar-benar menjadi manusia malam. Hampir setiap hari saya membaca dan menulis di malam hari. Awalnya, biasanya saya menulis pukul 6 sore dan berakhir sebelum pukul 9 malam. Namun hal itu mulai berubah secara perlahan dan saya sudah lupa kapan tepatnya perubahan tersebut dimulai.

Jadwal kerja saya masih sama. Saya pulang pukul 6 sore, terkadang pukul 7 malam, atau jika banyak pekerjaan, saya pasti sudah berada di rumah sebelum pukul 9 malam.

Seharusnya saya bisa menulis lebih awal, tepat setelah pulang dari pasar seperti sebelumnya. Tapi itu tidak saya lakukan. Karena saya harus minum kopi di warunguntuk menjaga mood menulis dan mencari inspirasi sebelum terjun ke medan peperangan.

Akhirnya, baru di atas pukul 9 malam saya mulai menulis. Dan baru berakhir sekitar pukul 12 malam. Dan saya senang bisa melakukannya secara rutin.

Lalu, jika tidak sedang malas, saya melanjutkan aktivitas dengan membaca. Membaca dan merenung menghabiskan 3 jam. Berarti saya baru tidur sekitar pukul 3 dini hari.

Saya menjadi manusia malam. Berteman dengan kesunyian. Dan selalu menyukai malam hari. Setidaknya sampai saat ini.

Gara-Gara Pencuci Piring

Pernah saya membaca sebuah karya penulis lain. Meski saya tidak begitu memahami tulisannya atau menemukan unsur-unsur yang membuat saya menyukai tulisan tersebut, tapi penulis itu mampu menginspirasi saya.

Dia adalah Roberto Bolano. Di bagian akhir tulisan, ada profil seperti ini :

“Roberto BolaΓ±o menghabiskan usia mudanya hidup sebagai gelandangan, berpindah-pindah dari Cile, Meksiko, El Salvador, Perancis, dan Spanyol. Bolano pindah ke Eropa pada tahun 1977, dan akhirnya sampai ke Spanyol, yang kemudian ia menikah dan menetap di pantai Mediterania dekat Barcelona, bekerja sebagai pencuci piring, penjaga tempat perkemahan, pesuruh dan pengumpul sampahβ€”yang bekerja pada siang hari dan menulis di malam hari.”

Membaca profil Bolano, saya menjadi bersemangat. Karena saya bekerja di siang hari dan hanya punya waktu di malam hari untuk menulis.

Kadang-Kadang, seperti manusia pada umumnya, setelah lelah bekerja, pilihan yang paling mungkin diambil adalah beristirahat atau melakukan apapun yang membuat mood dan pikiran menjadi lebih baik seperti nonton youtube, menggoda teman-teman wanita, atau bermain game saja.

Dulu saya seperti itu. Kalau lelah, saya tidak menulis. Tapi gara-gara seorang pencuci piring, saya merasa terpacu untuk terus menulis. Dan saya mulai jatuh cinta dengan menulis karena jika saya berhenti melakukannya, keinginan menulis akan tetap bersemayam di dada sampai saya benar-benar melakukannya.

Mungkin Ini Sebuah Passion

Sejak awal saya hanya ingin bersenang-senang dengan tulisan. Menulis sesuka hati untuk dinikmati seorang diri. Dan rencananya, jika saya sudah bosan, maka saya akan meninggalkannya.

Tapi untuk pertama kalinya saya merasakan antusiasme yang tinggi terhadap suatu kegiatan. Dan menulis membuat hidup saya lebih bahagia.

Saya tidak peduli dengan keadaan saya, selama saya bisa menulis dan memenuhi kebutuhan makan dan memiliki tempat tidur, itu merupakan kondisi yang sempurna untuk berkarya.

Saya merasa menulis adalah passion. Saya mau melakukannya dan bergelut dengan kata-kata dalam waktu 2 atau 3 jam sehari tanpa mendapatkan bayaran sepeser pun. Meski masih ada keragu-raguan di hati bahwa ini hanya efek sementara saja dan bukan passion yang sebenarnya.

Kalau pun di masa mendatang saya benar-benar jenuh dengan menulis, toh paling tidak saya pernah mengalami momen-momen menjadi penulis seperti mendapatkan rasa puas, kebingungan mencari ide, atau merasa sedikit terkenal.

Itu pengalaman yang bagus untuk lebih memahami kehidupan. Setidaknya saya punya pengalaman-pengalaman untuk dikenang dan diceritakan ketika saya sudah tua dan malas melakukan aktivitas melelahkan dalam menjalani hidup.

Agak Gila : Hanya Membaca dan Menulis

Kegiatan membaca dan menulis seperti sepasang sepatu. Tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Penulis harus membaca dan pembaca harus menulis. Kalau tidak, pasti tidak akan mendapatkan kepuasan yang maksimal.

Sepertinya sekarang sudah masuk perseneling 3. Pikiran hanya dipenuhi pertanyaan apa yang akan saya baca dan apa yang akan saya tulis. Sedangkan hal-hal lainnya tidak pernah lagi saya pikirkan akhir-akhir ini. Mungkin sekarang saya sudah memasuki kegilaan. Dan menjadi manusia yang lebih aneh dari sebelumnya. Hidup hanya untuk membaca dan menulis.

Jika saya diberi umur panjang dan rejeki yang cukup, maka saya pun sepertinya rela menjadi manusia tidak berguna yang hanya menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis saja.

Kalau sampai masuk ke perseneling 4, pasti saya bisa lupa mandi, lupa makan, lupa bahwa saya belum menikah, dan menjadi lebih gila lagi karena menghabiskan waktu dengan menyendiri dalam kesunyian untuk membaca dan menulis saja.

Tapi memang ini pertama kalinya saya merasakan kegairahan semacam itu setelah mengalami kegilaan yang sama , memikirkan manajemen pemasaran ketika kuliah. Dan semoga saja saya bisa bertahan untuk waktu lama dan menemukan jati diri sehingga mampu memahami diri sendiri, orang lain, lingkungan, bahkan Tuhan melalui membaca dan menulis.

Saya siap berpetualang lebih jauh. Dan semakin saya tenggelam, saya berharap menikmati perasaan-perasaan yang lebih kompleks lagi.

Mungkin Hanya Omong Kosong

Tapi ada juga kemungkinan suatu saat saya menemukan permainan yang lebih asyik untuk dilakukan selain membaca dan menulis. Karena tidak ada yang tahu tentang masa depan.

Ini seperti anak kecil yang akan menjanjikan apapun untuk mendapatkan mainan baru dari orang tuanya. Dan tidak ada yang akan menuntut anak kecil tersebut sekalipun ia tidak melakukan apa yang ia janjikan setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.

Mungkin hari ini saya seolah menemukan passion saya dan menganggap menulis dan membaca adalah passion terbesar dalam hidup saya. Tapi saya tidak bisa menjamin itu tidak akan berubah mengingat sifat saya yang angin-anginan.

Jadi, sebenarnya Anda telah membaca omong kosong dan saya berterima kasih kepada Anda untuk itu.

Bagaimana dengan Anda? Berapa lama kira-kira Anda akan bertahan untuk terus menulis dan membaca di blog? Bagikan di kotak komentar.

38 tanggapan untuk “Manusia Malam

  1. Kalau saya adalah tipe angin-angin. Saya biasanya menulis karena saya ingin, tidak setiap hari, atau pun seminggu sekali secara rutin. Ketika saya lihat tanggal publikasi tulisan di blog saya, rata-rata semuanya ditulis per bulan. Jadi, heu, saya mungkin menulis blog hanya 1 bulan sekali.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Wah klo sebulan sekali nanti sulit berkembang kemampuan menulisnya. Harus lebih sering lagi. Mungkin seminggu sekali saja. Tapi klo memang merasa sebulan sekali cukup menyenangkan untuk dilakukan, mengapa tidak. Sukses selalu πŸ˜€

      Suka

    1. Saya nggak punya kesabaran buat ngedraft mbak kunu. Klo udah selesai dan udah bagus, maka muncul keinginan untuk langsung diterbitkan. Bahkan sudah jarang melakukan editing saya πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

  2. Saya tipikal angin-anginan sih mas..tapi semoga bukan tipikal angin topan yang sekali datang lagngsung ilang..ya semoga tetep bisa konsisten mas..walau kedepannya mungkin hanya satu artikel dalam 1 atau 2 bulan.hheeee

    Disukai oleh 1 orang

  3. Haha…manusia mlm..keren istilahnya.

    Menurut saya Anda lebih dari skdar jatuh cinta, tp itu adlh sdah mnjdi bgian dari diri Anda, ibarat dua sisi uang receh.

    LUAR BIASA!!!

    Klau sy klau bca lumayan bs ber jam jam, tp klau nulis bs behari hari..

    Disukai oleh 2 orang

    1. Sebenarnya lebih sulit menulis memang mas desfortin. Cuma memang standar saya rendah karena berpusat pada kepuasan diri sendiri.klo mikirin pembaca dan apa yg mereka inginkan, sepertinya saya juga butuh berhari-hari πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

      1. Tp Anda sdah terlatih luar biasa, gak mikirin pembaca aja karya sbgus ini, aplg klau memang dipikirkan lebih lg…pasti sangat2 luar biasanya **aishh…maaf, muji trus ni mas Shiq4..you deserve sih ….

        Suka

  4. Dulu suka gas pol kayak mas Shiq kalau nulis. Nggak inget apa2 tapi sekarang ya sesempatnya saja. Ndak ambisi lagi buat bikin buku kayak dulu. Toh sudah pernah meski bukan best seller. πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ minimal saya sudah tahu rasanya jadi sedikit terkenal.
    Terus nulis mas, katanya nulis itu obat biar hati ndak sumpek

    Suka

    1. Kayaknya saya masih bersemangat buat nulis ebook dulu. Klo buku kayaknya masih belum kepikiran karena mesti memenuhi standar tertentu. Malas …. ha ha ha…. πŸ˜€

      Suka

  5. Saya juga penulis abal2an yang sering mangkir mas. Beberapa minggu ini ajah blog bru, lagi tergila2 jdi tiap hri nulis. Hrus ada tulisan, kalau nggak gitu simpen draf dulu. Semoga nggak mangkir lagi biat update trus, lincah trus ini jari walau kdang tiap nulis bleng semua. Saya udah pnjem bnyak buku, tpi ya itu nganggur semua. Tapi kalau udah seneng ya trus2an, musiman

    Suka

    1. Nanti klo sudah menemukan ritme ngeblognya juga bisa konsisten kok. Yg penting bisa bahagia dengan kegiatan ngeblognya, nanti otomatis pingin nulis secara rutin πŸ˜€

      Suka

  6. kalau saya akhir2 ini agak jarang nulis, ada hal lain yg mesti diurus dulu dan sy tdk sperti mas shiq4 bisa jd manusia malam, kalau kurang tidur malam saya langsung drop esok paginya. Di satu sisi mas shiq4 bagus bisa memanfaatin wkt malam untuk terus berkarya, tp di sisi lain hati2 kesehatan mas shiq4 kalau terus menerus seperti itu bisa terganggu, banyak orang bilang tidur mulai jam 10/11 malam itu penting lho untuk mengembalikan stamina.
    btw, sy kok tidak percaya kalau mas shiq bisa menggoda teman2 perempuan he he

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iya mbak nur, saya juga sering kepikiran hal tersebut kalau malam hari bisa membuat kesehatan terganggu. Cuma saya belum mempelajarinya atau mencari referensi untuk mengambil keputusan. Terima kasih mengingatkan, untuk sementara tidak apa2 karena memang ada pekerjaan yang harus dikerjakan di malam hari seperti satpam atau pembawa berita tengah malam dan sebagiannya. Saya akan bertahan setidaknya sampai januari 2018 saja.

      Kalau yg menggoda teman gadis saya jarang melakukannya. Maaf ambigu. Maksud kalimat “saya dulu seperti itu, kalau lelah akan berhenti menulis”. Bukan seperti itu seperti kalimat diatasnya. πŸ˜€

      Suka

      1. iya mas shiq betul ada pekerjaan yg dilakukan malam hari, seperti satpam, atau pekerja televisi, tetapi mereka pd umumnya shif2an dan tdk selalu kena shif malam, itupun setelah tgs malam siangnya mereka tidur.
        sy setuju dicaridl referensi sebanyak mungkin shg bisa mendukung dalam mengambil keputusan.

        Suka

Komentar ditutup.