Cerpen : Sepeda dan Playstation

Cerpen sepeda dan playstation

Sumber gambar : tokopedia.com

Walaupun ibu melarangku untuk meninggalkan rumah, tapi aku tetap nekat menuntun sepeda milik ibu keluar dari pekarangan rumah. Ini musim liburan. Apalagi aku mendapatkan rangking 3 besar di semester satu kelas 5 tahun ini. Jadi, aku semakin bandel dengan perintah ibuku.

Siang ini aku ingin bermain playstation seperti biasa. Aku merasa berhak melanggar perintah ibuku karena aku sudah melaksanakan tugasku dalam belajar di sekolah. Aku ingin memanjakan diri. Meskipun di hari biasa tetap saja aku tidak menghiraukan perintah ibu untuk tidak terlalu sering bermain playstation.

Kata ibu playstation bisa membuat lupa untuk belajar. Tapi aku membuktikan itu merupakan pemikiran yang salah. Meski kuakui, kadang-kadang aku memang terlalu asyik bermain playstation dan lupa waktu.

Pernah suatu kali aku bermain playstation hingga pukul 5 sore dan tidak pulang. Mungkin karena khawatir, ibu menyusulku ke rental dan menyeretku dengan paksa. Ibu bahkan memukul pantatku, mencubit lenganku, dan menjewer telingaku. Bukan rasa sakitnya yang kukhawatirkan, melainkan rasa maluku kepada penyewa lain yang melihat kejadian tersebut. Bahkan ada teriakan-teriakan dari anak lain seperti ‘Dhani memang nakal bu’atau ‘Iya bu begitu biar tidak bandel’disertai dengan suara tertawa yang terbahak-bahak.

Dan benar saja, ketika aku kembali ke rental keesokan harinya, semua teman-teman sesama gamers meledekku dengan mengatakan ‘Tidak dicari ibumu nanti’ dan tertawa-tawa. Termasuk Mas Irfan, penjaga sekaligus pemilik rental playstation.

Aku keluar pekarangan rumah dengan semangat dan mulai menaiki sepeda mini ibu. Sepeda itu terlalu besar untuk ukuran tubuhku yang kecil, bahkan aku harus menggunakan ibu jari kakiku ketika pancalannya berada di titik terendah. Walaupun demikian, aku mampu membawa sepeda dengan stabil meski dengan laju yang perlahan.

Aku melewati dua gang, sebuah TK, menyebrang dua jalan utama di kecamatan, dan sampailah di rental playstation di mana aku biasa menghabiskan waktu untuk bermain playstation.

Di depan rental tersebut terdapat sepeda-sepeda di parkir dengan berantakan sebagai pertanda bahwa rental tersebut sedang ramai. Bukan tanpa alasan mengapa rental ini ramai, karena di sini game-game yang tersedia lengkap mengingat rental ini juga beroperasi sebagai toko yang menjual playstation, majalah-majalah game, stick, dan apapun yang berhubungan dengan game. Juga fakta bahwa di rental ini memiliki begitu banyak stick. Jika merasa ada tombol yang tidak berfungsi, maka boleh meminta stick yang lebih baik. Berbeda dengan rental lainnya, seandainya menemukan stick yang agak rusak, maka tidak ada stick cadangan.

Aku melangkah masuk dan menuju ke mas Irfan yang sedang duduk. “Tinggal berapa mas?” Tanyaku tanpa berbasa-basi.

“Tinggal 45 menit lagi. TV nomor 4.”Kata Mas Irfan singkat setelah melihat buku catatan persewaan.

Di tempat ini aturannya penyewa tidak boleh memperpanjang jam sewa seenaknya. Karena jumlah pelanggannya sangat banyak. Setiap TV memiliki nomor dan jam sewanya dicatat sehingga mas Irfan bisa memberitahu berapa lama waktu yang harus ditunggu oleh penyewa berikutnya.

“Oke. Aku pesan 2 jam untuk TV nomor 4” kataku mengkonfirmasi agar dicatat dan tidak ditunggu oleh penyewa lainnya. Aku juga tidak lupa untuk membayar di muka.

Segera setelah itu aku menunggu waktuku tiba di sebuah kursi. Di bagian depan rental ini ada dua etalase untuk toko berbentuk L. Di bagian agak belakang, ada ruangan tanpa pintu memanjang ke dalam, tempat TV dan playstation berjejer rapi. Juga terdapat kursi-kursi yang cukup banyak. Selain digunakan untuk pemain playstation, kursi-kursi ini juga digunakan oleh penyewa lain untuk menunggu gilirannya tiba setelah memesan di Mas Irfan.

Di bagian pojok ada rak berisi majalah-majalah game. Dan aku pergi ke rak tersebut untuk mengambil sebuah majalah sambil berusaha membunuh waktu dengan membacanya.

Baru saja aku duduk dan berniat membaca, seorang anak besar yang mungkin berusia 17 atau 18 tahun mendatangiku, “Nunggu berapa lama? ”

“45 menit.”

“Bagaimana kalau kita main bersama? TV yang lain masih lama. Nanti biar aku yang membayar dan kuganti biaya sewanya”

Aku berpikir sejenak dan senang dengan tawaran tersebut. “Memangnya mau main apa Mas?” tanyaku.

“Main sepak bola saja.”

“Baiklah kalau begitu.” jawabku.

Kemudian kakak tersebut mengeluarkan uang 20 ribu dan menyerahkannya kepadaku.

Selalu suatu kebanggaan jika ada anak yang lebih besar mengajak bermain bersama. Karena mereka bisa mengajarkan trik atau rahasia-rahasia dalam game. Seperti minggu lalu ketika Ardian, anak berusia 15 tahun yang mengajakku bermain game petualangan. Ia memberitahu trik-triknya dan rahasia dalam game sehingga aku bisa sampai level tinggi. Anak -Anak SD lain iri kepadaku tentang kejadian itu. Selanjutnya, mereka mengerubungiku dan mengatakan ingin “Berguru” mengenai game petualangan yang kumainkan bersama Mas Ardian.

Sedangkan situasi saat ini ada anak SMA yang mengajakku bermain. Pasti ia kuat. Dan aku bisa “Berguru” kepadanya meskipun akan babak belur dulu dan menjadi bulan-bulanan karena memainkan game sepak bola. Tapi itu harga yang pantas.

“Oh iya… namaku Anwar.” Kakak itu mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Aku melakukan hal serupa, “Namaku Dhani.”

“Bagaimana kalau makan dulu di rumahku. Dekat sini kok. Nanti kalau waktunya tiba, kita langsung ke sini lagi.”

“Boleh… ” kataku dengan senang.

Kami pergi menggunakan sepeda mini ibuku. Mas Anwar memboncengku. Ternyata rumahnya dekat karena tak sampai 5 menit kami sampai.

“Wah maaf ternyata orang tuaku belum pulang. Rumahnya masih dikunci. ” Mas Anwar menunjuk sebuah rumah sederhana yang tertutup.

“Bagaimana kalau makan jajan di warung saja?”

“Baiklah. ” Aku pasrah saja.

Akhirnya kami berhenti di sebuah warung sederhana. Mas Anwar ternyata ramah. Kami makan jajanan dan minum es. Dan tentu saja, aku semakin senang karena semuanya ditraktir oleh Mas Anwar. ***********

Ketika aku melangkah masuk ke rental, Mas Irfan berbisik kepadaku untuk mengikutinya sementara Mas Anwar langsung masuk menunggu jam bermain tiba di TV nomor 4.

“Siapa tadi? Aku tidak pernah melihatnya. Hati-Hati kalau tidak kenal” Kata Mas Irfan.

“Namanya Mas Anwar. Rumahnya dekat sini kok. Memangnya kenapa mas? ” Jawabku singkat.

“Oh kalau kenal ya sudah. Kukira tidak kenal. Ya sudah tidak Apa-apa.”

Setelah itu aku langsung masuk ke dalam. 5 menit kemudian, aku dan Mas Anwar mulai bermain game sepak bola. Sayangnya, harapanku sirna untuk “berguru”. Mas Anwar payah. Padahal dia yang memilih gamenya. Setelah 3 permainan dan aku terus keluar sebagai pemenang, aku sedikit menyesal karena aku terlalu mudah untuk menang, tanpa perlawanan yang memadai.

Mungkin karena malu, Mas Anwar kemudian berpamitan, “Aku mau pulang dulu sebentar. Nanti balik lagi. Soalnya ada urusan dengan orang tuaku.”

“Baiklah…”Jawabku.

“Pinjam sepedanya biar cepat.” Kata Mas Anwar lagi.

Karena aku sudah tahu rumahnya, tanpa pikir panjang aku menemani mas Anwar MENUJU tempat parkir dan membuka kunci sepeda. Dan Mas Anwar pergi melalui jalan yang tadi pernah kami lewati. ***********

Sudah 20 menit berlalu dan Mas Anwar tak kunjung kembali. Aku meninggalkan permainanku dan menengok keluar sebentar ke jalan utama di luar rental. Namun ketika aku melihat sampai kebagian ujung, aku tidak melihat tanda-tanda Mas Anwar akan datang.

Ketika kembali masuk rental, Mas Irfan bertanya, “Kenapa keluar?”

“Nunggu Mas Anwar datang.” Kataku

“Lho memangnya kemana?”

“Katanya pulang ke rumah sebentar. Ada urusan. Tadi minjam sepeda, tapi kok tidak balik-balik” Kataku yang mulai khawatir.

“Lho katanya tadi sudah kenal dan tahu rumahnya?” Mas Irfan terlihat mulai khawatir.

“Iya tadi ditunjukkan rumahnya.” Kataku yang juga mulai khawatir.

“Lha… Baru tahu tadi? Kukira sudah lama kenal dan tahu rumahnya sudah lama. TIDAK bilang kalau baru kenal.”

Mas Irfan langsung beranjak dari tempat duduknya dan menarik lenganku, dan keluar rental.

“Di mana rumah yang tadi ditunjukkan?” Aku langsung mengantar Mas Irfan ke rumah yang tadi kudatangi. Butuh waktu sekitar 10 menit.

“Itu disana. ” Aku menunjuk rumah yang tadi ditunjuk oleh Mas Anwar. Lalu Mas Irfan menarik tanganku menuju rumah tersebut dan memencet bel rumah. Dan yang mengherankan, ternyata ada yang membuka pintu.

Mas Irfan menanyakan perihal Mas Anwar yang meminjam sepedaku. Namun orang yang membuka pintu berkata, “Wah maaf mas… di sini tidak ada yang namanya Anwar. Mungkin tadi adik ini dibohongi.”

Aku baru sadar bahwa sepeda mini milik ibu dibawa kabur. Aku ingin menangis, tapi aku menguatkan diri untuk tidak melakukannya.

“Kalau ditanya jawab yang jelas. Kalau kejadian seperti ini siapa yang salah. Harusnya tadi bilang ‘baru kenal” saat kutanya”

Aku diam saja melihat Mas Irfan yang berkata dengan nada agak tinggi.

Kemudian Mas Irfan berbaik hati mengantarku ke warung ibuku.

Mas Irfan menjelaskan kejadiannya kepada ibuku. Aku tidak berani menatap ibuku. Karena merasa sangat bodoh dan pasti ibu akan menyalahkanku karena tidak mendengarkan perintah ibu untuk tidak meninggalkan rumah. Setelah itu Mas Irfan berpamitan.

Ibu tidak marah seperti dugaanku. Ibu berkata, “Kalau sudah kejadian begini siapa yang salah? Makanya kalau ibu ngomong itu didengarkan. Sekarang pulang ke rumah. ”

Aku tidak berkata apapun dan langsung pulang. Hari itu aku baru belajar bahwa tidak semua orang yang terlihat baik memang benar-benar baik. Dan sejak itu aku jadi berhati-hati dengan kebaikan orang yang tidak kukenal. Juga sebisa mungkin menuruti perintah orang tua agar tidak terjadi hal-hal sial dalam hidupku. Meskipun setelah kejadian tersebut aku tetap bermain playstation di tempat yang sama. Tamat.

Iklan

7 tanggapan untuk “Cerpen : Sepeda dan Playstation

  1. Itulah akibatnya klau melanggar perintah ortu, ya gitu jadinya, sepeda hilang tak kembali2, ksian banget si Dhani.

    Oya, kok si Dhani gak dibeliin spda khusus cowok ya? Si Dhani ini kyaknya tipe anak yg oke2 aja, spda mini pun nyaman aja dipkainya.

    Oya, ada yg typo mas utk klimat ini:
    Butuh waktu sekitar jam 10 menit.

    Mantap cerpennya, mas Shiq4. Sy sllu menyukai cerpen2 Anda, sederhana dan mudah dipahami, pesannya mngena bnget. Ini cerpen buat remaja ya kan.

    Suka

    1. Wah saya tidak mengkhususkan diri buat target membacanya mas desfortin. Cuma sekadar hobi nulis saja dan belum bisa memikirkan pembaca. Cuma saya mulai suka bikin cerita yang ada nilai moralnya. Entahlah apa saya bisa konsisten melakukannya.

      Iya terima kasih atas typonya. Akan segera saya perbaiki. πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s