DIbalik Cerbung Lea dan Kucing

Dibalik pembuatan Lea dan KucingSumber gambar : mishawilson.com

Cerbung terpendek yang pernah kuciptakan adalah Lea dan Kucing. Sejak awal aku tidak punya bayangan apapun mengenai cerbung ini, hanya mencoba menulis seperti penulis komik setelah episode awal selesai.

Aku tahu ini agak gila, menulis secara spontan dan baru memikirkan bagaimana kelanjutan ceritanya kemudian. Tapi aku pernah melakukannya ketika berlatih menulis dengan Cinta. Setidaknya kami menghasilkan sebuah cerbung “Cinta Sejati” yang terdiri dari 6 episode.

Berdasarkan pengalaman tersebut, tidak ada salahnya melakukannya lagi. Kali ini sendirian. Dan ya… aku berhasil melakukannya meskipun dengan susah payah.

Darimana Karakter Lea?

Tidak pernah aku begitu sangat menyukai karakter cewek di dalam cerita seperti aku menyukai Mou di dalam novel Her Sunny Side.

Karakter gadis bodoh, lugu, angin-anginan, dan sering seenaknya sendiri. Tapi Mou selalu menjadi gadis baik dan tidak ingin merepotkan siapapun. Ia gigih dan berhasil mendapatkan keinginan terbesar dalam hidupnya.

Menjiplak karakter Mou, aku membuat ceritaku sendiri di dalam diri Lea. Hanya saja karakter Lea lebih manja dan bukan karakter utama.

Itulah mengapa aku berusaha lebih menonjolkan sifat-sifat Lea. Karena rasanya menyenangkan mengendalikan karakter yang memang kusukai secara pribadi. Bahkan aku berani bertaruh, jika aku bertemu dengan gadis seperti Lea di kehidupan nyata, aku pasti langsung jatuh cinta.

Awalnya Hanya Cerpen

Sebenarnya sejak awal aku tidak ingin membuat cerbung, tapi keadaan memaksanya demikian. Ketika aku telah memublikasikan kisah Lea dan Kucing, tiba-tiba aku punya ide lain berkaitan dengan kucing. Tanpa berpikir panjang, tiba-tiba aku merencanakan untuk memakainya sebagai lanjutan cerita pertama.

Dan menggunakan cocoklogi, aku berhasil membuat episode pertama dan kedua terhubung dengan baik. Dan aku menyukai kedua kisah tersebut.

Namun di episode ke-3, aku kebingungan sekali. Kisah apalagi yang bisa kuangkat karena aku tidak punya inspirasi lagi meskipun di rumah ada 4 ekor kucing.

Sebenarnya ada satu ide, kupikir menyenangkan apabila Lea terobsesi dengan kucing sampai ia mencium anak kucing yang baru dipelihara pacarnya. aku ingin mengangkat cerita itu. Namun kuurungkan karena adikku, yang seorang perempuan, mengatakan jijik ketika aku mencium kucing-kucing di rumah.

Dan bisa ditebak, aku kehabisan ide untuk sesaat.

Akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri saja kisah Lea dan Kucing di episode ke-3. Karena aku membaca cerpen horror yang bagus di Wattpad, plus sedikit inspirasi dari bagian akhir Her Sunny Side, maka aku mengakhiri cerbung itu dengan kejutan.

Sebenarnya cerbungnya terlihat tidak masuk akal dan aneh, tapi aku begitu menyukai episode terakhir dan puas dengan cerbung tersebut. Bahkan aku tidak bisa menggambarkan betapa aku bahagia sepanjang malam sampai tidak bisa tidur karena terkesan dengan tulisanku sendiri ha ha ha……

Cara Penyajian

Untuk penyajiannya, aku mengacu kepada Crying 100 Times. Ceritanya menggunakan dialog-dialog pendek saja dan lebih banyak teks deskripsi dan anekdot-anekdot. Dan aku merasa bagus dalam melakukannya.

Itu untuk episode pertama dan kedua. Namun untuk episode terakhir sekaligus bagian kejutan, aku terinspirasi karyaku sendiri, Pencuri di Kelas.

Menggunakan cara yang sama, aku meniru penyajian Lea dan Kucing seperti cerpenku tersebut. Tanpa kesulitan sedikit pun.

Hal tersebut dikarena pengakses cerpen Pencuri di Kelas lumayan banyak, juga mendapatkan respons lebih banyak dibanding cerpen-cerpen lainnya, jadi, aku besar kepala dan menganggap banyak yang menyukai cerpen tersebut.

Ide Lain yang Terbuang

Sebenarnya, selain ide Lea yang suka mencium kucing, aku juga punya beberapa bagian yang sudah kupikirkan dengan baik, namun tidak jadi mengeksekusinya.

Aku ingin memasukkan kisah seperti pengalamanku ketika wisata ke Bali saat SMA. Di mana teman gadisku tertidur di pundakku ketika perjalanan. Meskipun dulu aku merasa tidak nyaman, toh aku tidak tega membangunkan teman SMA ku itu. Dan ada kenikmatannya juga sih ha ha ha…..

Ditambah dengan kelakukan konyolku yang pernah pergi ke alun-alun Sidoarjo hanya untuk merokok di sana. Pernah ada keinginan semacam itu, dan aku benar-benar melakukannya. Anehnya, aku begitu bangga ketika menceritakan kisah konyolku tersebut.

Nah…. Bagian yang hilang itu adalah Lea mengajak Andre ke Surabaya. Menggunakan bis umum, aku bisa memasukkan pengalamanku, ketika Lea tertidur di pundak Andre di dalam perjalanan. Tapi sesampai di sana, Lea baru menyuruh Andre membeli es krim. Dan andre akan kesal karena Lea mengajaknya ke Surabaya hanya karena Lea ingin makan es krim di kota Surabaya saja.

Sayangnya, aku begitu kesulitan menyusun ceritanya, plus sedang begitu malas sehingga akhirnya mengambil jalan pintas dengan menghilangkan bagian tersebut.

Jadilah cerita episode ke-3 yang singkat dan settingan tempatnya itu-itu saja.

Apakah Aku Senang dan Puas?

Sejujurnya saja, aku begitu kesulitan menyelesaikan episode ke-3. Untuk episode 1 dan 2, aku sudah punya gambaran jelas kemana cerita akan dibawa dan dengan mudah merampungkannya. Tapi episode ke-3 yang menguras pikiranku.

Karena aku panik. Sempat juga berpikiran untuk menyerah dan tidak melanjutkan cerbung Lea dan Kucing, hanya saja tiba-tiba aku mendapatkan inspirasi beberapa menit sejak pikiran negatif itu muncul.

Secara keseluruhan, aku cukup puas dengan hasilnya. Walaupun aku masih menemukan banyak kekurangan dalam kisah Kucing dan Lea, juga meskipun aku merasa itu cerita yang jelek, tapi aku juga tidak tahu mengapa aku merasa bahagia ketika benar-benar menyelesaikannya.

Aku senang. Aku puas. Tapi aku tidak akan mencoba membuat cerbung lagi dalam waktu dekat karena butuh menginstirahatkan pikiran setelah perjuangan yang melelahkan.

Paling tidak tahun ini aku sudah memproduksi dua cerbung dalam waktu sekitar 6 bulan. Lebih produktif dibanding tahun lalu yang hanya mampu menelurkan sebuah cerbung. Jadi, kurasa meskipun sampai akhir tahun nanti aku tidak lagi menulis cerbung, itu bukan masalah besar.

Karena setidaknya tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Semoga saja aku bisa punya ide dan inspirasi lagi untuk membuat cerbung selanjutnya. Karena aku sendiri berpikir jelas-jelas aku memang payah dalam menulis cerbung.

12 tanggapan untuk “DIbalik Cerbung Lea dan Kucing

  1. Ini nih yang bikin tertarik baca cerbung di sini, selalu ada behind the scene-nya. 😀

    Sebenarnya saya baru baca yang episode ketiga sih, tapi saya sudah bisa merasakan keunikan cerbung tsb dibanding cerbung2 lain sebelumnya.

    Suka

    1. Ha ha ha…. buat dokumentasi mas firman. Itu cerbung susah sekali buatnya, saya sampai mikir dan frustasi. Untung bisa selesai pas memaksakan diri menulisnya 😀

      Suka

        1. Sebenernya klo bulu ndak tau ya mas bawa virus apa ndak, yg bwa virus kotorannya, cm kadang kan perlu hati-hati takutnya virusny kesebar atau gimana, jadi menghindari hal yang tidak diinginkan saja 😊

          Disukai oleh 1 orang

  2. Waw, sampe ga bs tidur spnjang mlm gegara terkesan, unik jg….
    Tp iya, betul juga ending yg ketiga bnar2 mengagetkan, walau smpat terlihat aneh, tp berhasil “menipuku”, wkwk….
    Penyingkpan bbrp hal di balik cerbung Lea dan Kucing juga bkinku kaget.

    Ahh, Shiq4…kau oke punya kok saat nulis fiksi, diriku sllu berdecak kagum…👍👍

    Smoga ada ide lg buat cerbung, misalnya yg menyinggung bullying, pndidikan, atau yg lainnya slain kisah cinta…sy pnsran ingin mengetahui sudut pndang seorang Shiq4 terkait tema itu…

    Suka

    1. Sebenarnya klo saya sendiri lebih menyukai non fiksi mas desfortin. Cuma kadang-kadang ada masanya saya ingin berkhayal dan menciptakan dunia saya sendiri.

      Kayaknya masih belum akan ada cerbung lagi. Apalagi soal bullying dan pendidikan, saya nggak punya pengalaman sama sekali 😀

      Disukai oleh 1 orang

Komentar ditutup.