Potong Rambut

Sejak kecil aku selalu ingin punya rambut gondrong. Itu keren. Inspirasinya, tentu berasal dari aktor hongkong yang sampai sekarang aku tidak tahu namanya.

Ia banyak membintangi film di zaman 90-an dan sering muncul di TV. Filmnya tak jauh-jauh dari triad dan polisi.

Namun karena sejak SD sampai SMA aku bersekolah di sekolah negeri, tidak ada kesempatan untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Apakah waktu kuliah dan di masa sekarang aku mampu mewujudkannya? Sayangnya tidak.

Bukan karena keinginan itu sudah hilang, melainkan kedua orang tuaku melarang aku melakukannya ketika aku minta ijin.

Jangankan sampai gondrong, panjang sedikit saja, maka aku akan mulai diceramahi. Kabar baiknya, setidaknya aku punya alarm alami yang selalu berbunyi jika rambutku mulai panjang dan berantakan.

Seperti beberapa hari terakhir. Ibuku terus saja mengomel dan mengatakan bahwa aku harus segera potong rambut. Kadang-Kadang kejadian semacam itu membuatku kesal karena aku merasa rambutku masih pendek. Tapi ibuku cenderung suka dengan rambut yang lebih pendek lagi. Jadi, untuk menyenangkannya, agar aku bisa menjadi anak baik, maka tadi malam akhirnya aku pergi memangkas rambut.

Tempat Potong Rambut

Dulu sekali, aku selalu pergi ke salon kecil yang letaknya agak jauh sedikit dari rumah. Sampai suatu hari, salon tersebut harus pindah karena ingin mengembangkan bisnis ke level selanjutnya. Maklum saja, salonnya cukup ramai dan tentu saja, ukuran yang masih terlalu kecil tidak bagus untuk keberlangsungan bisnis.

Seingatku di bekas salon lama ada alamat salon barunya, namun karena terlalu jauh, aku tidak pernah pergi ke salon tersebut lagi.

Akhirnya aku tidak punya tempat potong rambut langganan. Aku biasa mencoba beberapa tempat, tapi aku tidak pernah merasa nyaman.

Sampai suatu hari, setelah berputar-putar dan mendapati beberapa tempat pangkas rambut tutup, sedangkan aku harus memangkas rambut sesegera mungkin (Entahlah aku lupa karena apa ha ha ha……), maka aku terpaksa memangkas rambut yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Letak tukang pangkas rambut itu di dekat lampu merah Panjer. Terbuat dari kayu dan sudah parah sekali keadaannya. Dan entah mengapa aku akhirnya berada di tempat itu.

Ternyata orangnya tahu orang tuaku adalah penjual buah di pojokkan pasar. Dan kami berbincang-bincang sebentar selama proses potong rambut.

Hal tersebut membuatku nyaman. Perasaan yang sama seperti ketika aku masih di salon kecil yang dulu. Dan hingga sekarang aku masih berlangganan di tempat itu.

Skill memangkasnya sih tidak terlalu tampak. Tapi siapa peduli, toh aku potong rambut pendek sekali sehingga tidak bisa di model apapun. Lagipula aku tidak terlalu banyak berpikir tentang rambutku. Asalkan pendek, itu cukup membuat ibuku senang dan kadang-kadang memujiku.

Tadi malam aku ke sana lagi. Dan tarifnya hanya naik seribu, dari Rp 7.000,00 menjadi Rp 8.000,00. Murah, bukan?

Potong Rambut
Saya berlangganan di tempat cukur rambut di atas

Helm Ketinggalan

Sebenarnya bapak menyuruhku ke pasar pukul 20:30 tadi. Namun aku beralasan jika tukang rambut ramai (Antri), maka aku bisa datang terlambat.

Sebenarnya itu alasan saja sih. Aku tadi pulang pukul 18:00 lewat sedikit dan punya cukup banyak waktu sebelum harus menjemput bapak di pasar. Namun karena rencananya aku ingin minum kopi dan bersantai dulu sebelum potong rambut, maka aku mengatakan demikian.

Aku ngopi di warung baru adikku. Setiap malam aku pasti minum kopi di tempat ini. Biasanya di jam-jam minum kopi terbaik, yakni di atas pukul 19:00. Tapi tadi sepertinya aku ngopi pukul 18:30.

Sayangnya acaraku rusak karena ibu ngomel terus dan menyuruhku bergegas. Akhirnya aku mengalah dan langsung pergi setelah beberapa kali omelan.

Untungnya tukang potong rambutnya sepi. Jadi, aku langsung dilayani.

Setelah potong rambut, aku langsung pulang dan mengajak ponakan jalan-jalan sebentar, kemudian dilanjutkan dengan browsing di internet.

Sebenarnya sejak pukul sekitar 20:00 perasaanku ingin segera ke pasar, tapi aku tidak menghiraukan perasaan itu dan tetap membaca konten-konten internet.

Baru sekitar pukul 20:30, ketika hendak menjemput bapak, aku menyadari bahwa tadi helmku tertinggal di tempat potong rambut. Itu berarti aku tidak sadar ketika pulang tanpa memakai helm. Mungkin efek potongan rambut baru ha ha ha…..

Seperti yang sudah kuceritakan, aku memang ceroboh. Dulu smartphone masuk ke bak air kamar mandi dan sebagiannya. Dan sekarang, helmku malah tertinggal yang juga berisiko akan hilang ha ha ha……

Akhirnya aku kembali ke tempat tukang potong rambut. Tapi sudah tutup. Entahlah….. Besok aku akan kembali ke sana untuk memastikannya. Siapa tahu tukang potong rambutnya menyimpan helmku.

Pada akhirnya aku datang ke pasar entahlah pukul berapa karena harus mampir ke tukang potong rambut dulu dan melewati jalan memutar agar tidak ditilang polisi. Untung bapak tadi sibuk dengan pepaya-pepaya yang datang dan belum tutup. Jadi, bapak tidak sedang menungguku datang.

Pelajaran Penting

Gara-Gara helmku tertinggal, setidaknya aku diberi pelajaran untuk tidak menunda-nunda. Seandainya tadi aku tidak menunda-nunda dan pergi pada pukul 20:00, tentu aku akan lebih cepat menyadari helmku tertinggal sehingga bisa langsung ke tempat tukang rambut sebelum tutup.

Kedua, jangan suka beralasan. Mungkin gara-gara aku beralasan ke bapak dengan tidak benar untuk mendapatkan tambahan waktu bersantai sehingga kejadiannya jadi seperti ini. Kalau bisa, jika disuruh orang tua itu jangan membantah atau beralasan ha ha ha….

Dan terakhir, jika pergi ke suatu tempat, maka sebaiknya periksa barang bawaan dan apapun agar tidak ada yang tertinggal.

Kalau kamu, kecerobohan seperti apa yang sering kamu lakukan? Bagikan di kotak komentar.

24 tanggapan untuk “Potong Rambut

  1. Aku sering melupakan sesuatu saat sedang tidak fokus. Misalnya, saat sedang mengerjakan kerajinan tangan… biasanya gunting aku taruh dekat2 supaya mudah diambik tanpa melihat. Tapi, kalau sedang tidak fokus, aku malah sibuk mencari2, tanya sana sini padahal yg sedang aku cari malah sedang kupegang.. πŸ˜‚πŸ˜‚ sering bgt seperti ini.. haha

    Ohya kak btw, foto rambut barunya ngga dicantumkan ?😁😁😁

    Suka

    1. Wkwk…. pelupa sekali. Tapi klo cewek ygpunya sifat semacam itu jatuhnya lucu.

      Kemarin niat foto, cuma malam hari jadinya beberapa kali ambil gambar hasilnya kok jelek. Jadi, nggak jadi diupload deh πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

  2. Wah abis potong rambut ya mas?
    Selamat buat rambut barunya.hhee
    Saya orangnya juga kurang fokus mas,kemarin kartu angsuran motor ketinggalan di minimarket.Saya lupa memintanya ke kasir.Terpaksa saya harus mengambilnya di malam hari.Karena minimarketnya jauh dan harus melewati hutan jika ingin kesana.Di perjalanan saya kembali hilang fokus.Perasaan takut,sekaligus cemas jika minimarketnya sudah tutup dan kartunya ternyata tak disana terus menghantui.Alhasil saya jadi tak konsentrasi ketika mengendarai motor,hingga mengerem terlalu dalam.Hal ini membuat motor ngepot dan tak seimbang dan menimpa badan saya.hhaa
    Tapi alhamdulillah cuman lecet di bagian kaki.

    Suka

    1. Wah kok kejadiannya malang sekali hanya karena lupa kartu angsuran?

      Klo hal semacam itu biasanya udah tercatat disistem komputer. Jadi klo hilang sepertinya bisa minta lagi. Pokoknya jangan terlalu panik klo ada apa-apa, nanti malah semakin melakukan kesalahan-kesalahan yg tidak perlu. πŸ˜€

      Suka

  3. Ok..ok… dapat ditangkap pesannya, wlau melalui cerita cerobohnya:
    1. Jngan suka menunda
    2. Jngan suka beralasan

    Karena kedua hal di atas, bbrp kli sy juga melakukan kecerobohan2, tp malas di-share disini ahh..pokoknya ada dech, hehe…

    Klau urusan rambut gondrong atau plontos, sebenarnya saya prnah berniat ingin mengalami keduanya. Entahlah utk ap, kdang sy sndiri juga bingung, mungkin efek sensasinya itu kli ya.

    Saya ingin atau berkhayal setidaknya sekali mau memiliki rambut yg dipnjangkan sampai ke kaki. Kmudian pengen juga skli saja dibotakin mirip Deddy Corbuzier. Namun, semenjak saya jadi PNS, kedua niat tsb sudah saya urungkan.πŸ˜‚πŸ˜‚

    Oya, terkait potong rambut, saya juga rutin mlakukannya. Biasanya sebulan skli, tp itu sy lakukan bertepatan dg jdwal sy ke kota kabupaten *di Kinipan gak ada barber shop sih.

    Tempatnya tdk jauh dari rumah ortuku di kota N.Bulik, tepat di seberang jln dari rumah ortu saja.
    Saya pilih ke tukang pangkas rambut itu klau dekat rumah, jadi gak perlu pke helm. Karena di tempat pangkas (Bkn salon) biasanya juga gak ada layanan cuci rambutnya, jd sy gak biasa klau pulang dari tukang pangkas rambut lalu pke helm, takut helmnya lengket oleh rambut.

    Suka

  4. saya juga sering banget kelupaan sama barang, engga sadar pergi gitu aja tampa bawa barangnya lagi. Makanya karena saya orangnya sering kelupaan saya jadi ga pernah berani naro barang sembarangan. Kalau bisa barang itu harus ada di dekat saya terus, malahan kalau bisa saya pegang saya pegang terus hahaha.

    Suka

    1. Hampir mirip dengan saya mas fahrizinfa. Saya juga naruh di tempat tertentu untuk masing-masing barang karena pelupa kadang-kadang.

      Tapi caranya terlalu ekstrem klo sampai harus megang terus ha ha ha……

      Suka

  5. Biasanya yang paling sering ketinggalan adalah handphone. Padahal handphone bisa dibilang kayak kebutuhan primer, tapi justru itu yang paling sering ketinggalan. :)))

    Suka

    1. Wah klo saya handphone jarang ketinggalan mbak chika. Soalnya mesti tetap terhubung di internet. Klo nggak gitu saya merasa nggak nyaman πŸ˜€

      Suka

Komentar ditutup.