Komentar Positif, Rasa Senang, Dan Beban Tersendiri

Komentar positif di blogSumber gambar : rocketmanajemen.com

Tahun ini merupakan tahun yang bagus untuk kehidupan blogku. Baru 6 bulan berjalan dan semua target tahun ini telah tercapai. Hanya satu saja yang kurang, yakni alexa rank yang tak kunjung turun di bawah angka satu juta. Meskipun begitu, aku tetap merasa puas dan optimis di akhir tahun semua akan sesuai dengan rencana yang kususun akhir tahun lalu.

Jika tahun lalu aku kebingungan apakah harus tetap menulis untuk kepuasan diri sendiri atau pengunjung, maka tahun ini masalahnya muncul perasaan sok terkenal.

Ini gara-gara jumlah pengunjung yang membludak dan jumlah komentar yang di luar perkiraan. Jadi, akhir-akhir ini perasaanku sering mengatakan bahwa aku sudah “sedikit” terkenal.

Padahal di akhir tahun 2015, ketika pengunjung masih 30-50 orang per hari, meskipun sebenarnya aku bercanda ketika mengatakan siap untuk terkenal, pada kenyataannya aku justru merasa aneh saat hal tersebut sedikit jadi kenyataan karena aku merasa diperhatikan banyak orang akhir-akhir ini.

Setelah berpikir dengan jernih, sepertinya aku harus berhati-hati dengan perasaan sok terkenalku akhir-akhir ini. Karena secara tidak sadar aku malah kehilangan karakter asliku dan tulisanku malah mirip artikel bloger-bloger profesional.

Lagipula menjadi terkenal itu tidak enak. Aku sudah memutuskan untuk menjadi bloger yang biasa-biasa saja. Tapi sesekali berakting seperti profesional pun tetap kulakukan agar aku tetap bahagia dan bisa menyalurkan rasa narsisku ha ha ha………

Komentar Positif, Rasa Senang, dan Beban Tersendiri

Aku menikmati momen membaca komentar-komentar yang masuk dan membalasnya. Terutama komentar-komentar positif. Juga aku tetap berharap agar jumlah komentar di satu postingan tidak terlalu banyak karena aku kesulitan jika harus merespons semuanya.

Berbulan-bulan yang lalu, ketika blogku semakin berkembang dan aku mulai memanen komentar-komentar yang memakai kata-kata positif, aku merasa sangat senang sekali.

Aku menikmati masa-masa itu dimana kepercayaan diriku sebagai bloger mulai naik. Aku menerima banyak ucapan terima kasih, kata-kata yang menyemangati, atau pertanyaan-pertanyaan yang membuatku merasa penting. Dan kegiatan ngeblog terasa lebih menyenangkan untuk dijalani.

Tapi momen itu cepat sekali berlalu. Di masa sekarang, ketika ada yang mengatakan tulisanku bermanfaat atau menginspirasi pembaca, justru aku merasa terbebani seolah aku harus terus menjaga performaku.

Ada semacam kegelisahan dan rasa takut jika apa yang dipikirkan pembaca blog Shiq4 bukanlah diriku yang sebenarnya. Mungkin mereka mengalami cinta pandangan pertama dengan tulisanku dan menyanjung setinggi langit, kemudian mereka mulai berekspektasi tinggi terhadap karya-karyaku.

Sayangnya, aku bermental tempe. Bukannya berusaha memenuhi harapan pembaca agar tidak kecewa dengan ekspektasi mereka, justru di postingan ini aku ingin mengakui bahwa aku tidak sehebat yang mereka pikirkan.

Perkataan-Perkataan positif secara terus menerus dari pembaca malah membuatku risau dan membuatku tertekan untuk menyajikan konten bermutu secara konsiten.

Aku memang bisa menulis konten yang bagus, yang menggunakan referensi dan kutipan yang baik, namun itu sebenarnya butuh kukerjakan sepanjang hari.

Biasanya konten semacam itu kutulis ketika mood menulis bagus dan punya banyak waktu luang. Jadi, aku tidak bisa menjaga konsisten menerbitkan konten bagus setiap saat mengingat pekerjaan utamaku adalah penjual buah di pasar.

Takut Sombong

Sebenarnya aku termasuk orang yang angin-anginan. Pokoknya pikiranku cepat sekali berubah. Hari ini aku mengatakan menginginkan sebuah apel, dan besok aku akan mengatakan menginginkan semangka.

Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa keinginan untuk menjadi bloger terkenal itu sesekali muncul dan menggerakanku untuk menulis konten yang bagus, tapi jika hal tersebut benar-benar terjadi, dengan sikapku yang angin-anginan, justru nanti aku terlihat tidak kredibel.

Juga kenyataan bahwa aku takut menjadi sombong. Karena popularitas bagi orang-orang bertipe pemalas dan penyendiri membuat kesombongan lebih mudah muncul. Dan aku tidak siap untuk melawan perasaan-perasaan semacam itu.

Juga hasil baca-baca betapa aku tidak menyukai orang-orang populer yang pernah menyombongkan pencapian mereka secara keterlaluan di bawah ini :

“Orang membenci saya gara-gara saya sangat berbakat, kaya, dan saya terkenal di dunia ini.Jerry Lewis

Saya dapat melakukan apapun sesuka saya. Saya kaya, terkenal, dan lebih besar dibandingkan Anda.Don Johnson

The Beatles jauh lebih terkenal di dunia dari pada nama Yesus.John Lennon

Sedikit Rindu dengan Kegiatan Ngeblog di Masa Lalu

Kalau boleh sedikit pamer, maka itu pasti kemampuan menulisku jauh lebih baik dari tahun-tahun pertama ngeblog. Namun justru di masa awal itulah momen terbaik di mana aku menulis dengan segenap jiwa dan raga.

Di masa sekarang aku hanya mengejar kualitas tulisan dan tidak lagi menulis dari hati. Karena aku merasa terlalu mudah menuangkan ide apapun dan menyusunnya menjadi tulisan.

Aku rindu masa di mana blogku masih sepi dan hanya aku sendiri yang terlalu pede mengatakan tulisanku bagus. Saat ini aku juga tidak terlalu bersusah payah dan bisa menulis apapun sehingga rasa puas dan kesenangannya juga ikut berkurang.

Tapi aku juga tidak mau jika kemampuanku hilang dan mulai dari nol lagi. Solusi terbaik mungkin membaca konten-konten lama dan mengingat bagaimana menyusun konten sederhana yang bisa membuatku merasa senang.

Kehidupan Blog yang Kuinginkan

Abraham Lincoln pernah berkata :

“Hindari popularitas jika Anda ingin memiliki kedamaian.”

Mungkin itu juga salah satu tujuan ngeblogku. Ingin bersenang-senang dalam damai. Artinya aku tetap mampu menikmati tulisanku sendiri dan tetap rutin mengupdate blog sampai bertahun-tahun ke depan.

Juga saling berkomentar dengan bloger lain. Atau tetap memenangkan persaingan SEO untuk kata kunci tidak populer. Atau tetap bersemangat dalam menulis dan tidak terbebani.

Aku ingin tetap menjadi bloger amatir. Tidak terlalu diperhatikan orang, namun tetap eksis dengan karya-karyanya.

Apakah Anda ingin populer dan terkenal? Mengapa tidak dan mengapa ya? Bagikan di kotak komentar.

Catatan : Kutipan-Kutipan orang terkenal saya dapat di sini.

27 tanggapan untuk “Komentar Positif, Rasa Senang, Dan Beban Tersendiri

  1. Tetep nulis dari hati namun yg bermanfaat mas shiq, karna klo org suka akan tetep ska dn brkomentar, ndak perlu mikirin ngejar target yg membebani dri, klo niat baik dpetny jga baik, πŸ˜„itu menurutku, semangat mas shiqπŸ˜†

    Suka

    1. Sebenarnya targetnya nggak membebani mbak kunu. Cuma saya pake sebagai permainan untuk menilai performa. Ya… ini juga mau belajar nulis dari hati yang bermanfaat. Susah sekali ha ha ha…. tapi terima kasih ya dukungannya πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

  2. Saya juga kadang suka merasa kaya gitu padahal traffic blog saya masih rendah hahaha, kadang senang banget karena banyak yang komentar di sebuah postingan saya. Tapi lama-lama saya merasa jadi ada beban tersendiri ketika menulis yang memaksa saya untuk menulis dengan standar yang sama atau lebih baik. Dan hal itu kadang malah membuat saya jadi stress dan ga nulis apa-apa 😦 Yaa sepertinya saya harus kembali ke tujuan awal saya menulis yaitu untuk bersenang-senang ya hahaha

    Suka

    1. Saya juga akhir-akhir ini kok merasa terbebani juga gara2 hal semacam itu mas fahrizinfa. Solusinya sih kadang-kadang bersikap masa bodoh dan terap menulis seperti biasanya. Kan tujuannya untuk bersenang-senang, biarlah orang berkata apa dan biarkan perasaan2 negatif berlalu.

      Suka

  3. Saya lumayan bisa memahami yg dirasakan Shiq4, sekalipun saya tidak terkenal seperti dia. Tapi yang pasti, kalau saya, nikmati saja prosesnya. Itu konsekuensinya logis yang harus diterima. Kadang, justru kita tdk mau terkenal, bisa jadi terkenal.

    Dan kalau saya, urusan terkenal, populer tidaknya itu urusan lain, yang penting trus menulis dan menulis.

    Maju terus, mas Shiq4. Sekalipun kami (pembaca) berekspektasi lebih pada Anda, ya nikmati saja, itulah konsekuensi logisnya. Dan tetaplah menelorkan karya2 terbaik Anda.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ha ha ha…. itu yg sulit mas desfortin. Soalnya saya ini nggak pernah jadi perhatian orang. Biasanya selalu sendiri saja di dunia milik saya sendiri. Konsekuensinya ternyata berat jadi penulis dan bloger ha ha ha…..

      Tapi tetap biar bagaimanapun saya sangat menikmati proses menulis selama ini. Bahkan tak jarang hati ini pingin cepat-cepat menulis meskipun masih belum punya ide apapun.

      Sepertinya menulis sudah masuk dalam kehidupan saya dan entahlah berapa banyak saya harus membayarnya (konsekuensi).

      Suka

    1. Tidak perlu memaksakan diri mas. Saya klo ada prioritas yg lebih penting pasti akan meninggalkan blog sejenak mas. Toh kesehatan jauh lebih penting dibanding sekadar ngeblog.

      Suka

  4. waduh senangnya membacanya. Mudah2 suatu saat nanti saya juga bisa ikut jejak Mas Shiqa. pengalaman mas “Padahal di akhir tahun 2015, ketika pengunjung masih 30-50 orang per hari”. Saat ini itu yang saya rasakan…hihihihik…

    Suka

    1. Sebenarnya yg penting konsisten update blog nanti blognya ramai sendiri kok pak iranda. Dulu saya karena frustasi udah usaha macam2 tidak membuahkan hasil dan melupakan statistik, yang penting nulis. Eh kebetulan perlahan tapi pasti statistiknya ikut naik πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

  5. Wajar sih bro kalau blog ente laris manis karena ente mengedapankan SEO. Kasus kita samaan. Tapi saya tahun 2012-13-14 zaman keemasan blog saya,wkwkwkwk *ih ngakungaku*.
    Gak salah sih kalau ente seleb blog karena emang tulisan ente berbobot.

    Kalau kasus di saya, biasanya kalau habis bikin tulisan serius, terus dibaca kembali, rasanya “not gw” banget! hahaha. berasa tulisan tersebut mungkin saja bernyawa, tapi nyawanya bukan saya! wkwkwk. Kembali ke tujuan ngeblog, kalau tujuanya untuk memberi informasi ke pembaca dan pembaca bisa ngerti, insyaallah pahala, bro.

    Suka

    1. Sebenarnya tulisan saya awalnya catatan pribadi mbak maya, ketika saya mempelajari sesuatu, maka biasanya saya menuliskannya di blog biar sewaktu-waktu bisa saya buka lagi agar memudahkan belajar.sampai sekarang begitu. Eh nggak sengaja malah ramai blognya wkwkwk……

      Klo nyawa tulisan kayaknya saya juga terpengaruh. Dulu tuh nulis suka-suka dan bawaannya hepi. Eh sekarang kadang2 muncul tekanan. Kayaknya mesti memperbaiki niatnya deh πŸ˜€

      Suka

Komentar ditutup.