Berhenti Merokok Itu Sulit

Berhenti merokok itu sulitSumber gambar : alodokter.com

2 Bulan yang lalu tiba-tiba terbersit keinginan untuk berhenti merokok. Tapi hingga saat ini aku belum mampu melakukannya. Selain masih gamang, tekadku sangat lemah. Jadi, wajar saja jika percobaan pengembangan diri ini hanya menemui kegagalan.

Catatan terakhir, ketika aku sudah sangat yakin akan mampu berhenti setelah membaca penelitian yang dilakukan University of Oxford, nyatanya tetap saja tidak berhasil. 

Menurut penelitian tersebut, metode yang kugunakan, yakni perlahan-lahan mengurangi konsumsi jumlah rokok secara bertahap merupakan metode yang salah. Justru mereka yang berhenti merokok secara mendadak berpeluang lebih besar untuk berhasil.

Aku sudah mencobanya. Di malam hari, aku menyugesti diri sendiri bahwa hari ini adalah hari terakhirku untuk merokok. Selama 3 hari terakhir, aku merokok dengan bebas dan berharap dapat memuaskan seluruh hasratku. Dan ternyata, ketika tiba hari H (hari ini), aku pun masih gagal. Aku sudah menghisap 4 batang rokok sejak tadi pagi.

Aku Tidak Punya Harga Diri dan Tidak Bahagia

Kata Naruto, “Seorang pria harus mampu memegang ucapannya.” Dan Naruto selalu menepati apa yang diucapkannya sampai ia benar-benar menjadi Hokage.

Berbanding terbalik denganku. Sepertinya aku sudah tidak punya harga diri. Entah siapa yang membuat tips berhenti merokok yang memalukan ini, yang mana mengatakan :

“Perokok harus mengatakan kepada semua orang terdekat bahwa mereka akan berhenti merokok agar benar-benar dapat berhasil.”

Sialnya, aku tidak banyak berpikir dan mengikuti langkah tersebut. Hasilnya, akhir-akhir ini ibu dan adik-adik perempuanku menagih perkataanku. Dan aku mengatakan untuk memberi waktu lebih lama lagi, meskipun sebenarnya aku sendiri sudah menyerah.

Kata-Katamu harimaumu. Karena jauh di lubuk hati, aku merasa masih terikat dengan kebiasaan menghisap asap-asap nikotin dan tidak ingin melepaskannya.

Dulu aku tidak seperti saat ini. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, skizofrenia membuatku mengasihani diri sendiri secara keterlaluan. Aku tidak mau lagi merasa susah atau keluar dari zona nyaman. Aku mengisolasi duniaku dan hanya melakukan hal-hal yang membuatku merasa senang. Dan berhenti merokok membuatku tidak nyaman.

Padahal jika orang normal, pasti harusnya lebih mementingkan harga diri dan mau sedikit berkorban agar tidak terlihat seperti tong kosong nyaring bunyinya.

Padahal aku sudah menyusun alasan-alasan untuk berhenti merokok dan terus mengatakan kepada diri sendiri hampir setiap hari. Begitu pula di malam hari, keyakinanku kuat seolah aku bisa berhenti kapan saja aku menginginkannya.

Ternyata itu cuma kesombongan yang payah. Buktinya, ketika perasaanku tidak enak, ketika pikiranku sedikit stres, ketika aku menunggu, ketika memikirkan bacaanku di malam hari, ketika berjualan di pasar, ketika kehilangan inspirasi menulis, pelarianku selalu menuju rokok.

Kejadian ini mengingatkanku akan perkataan Mahatma Gandhi :

“Kebahagiaan adalah apa yang Anda pikirkan, apa yang Anda katakan, dan Apa yang Anda lakukan selaras.”

Karena aku sudah begitu yakin dipikiranku dan optimis, karena aku sudah mengatakannya kepada orang lain, dan MASIH BELUM MAMPU melakukannya, artinya akhir-akhir ini aku tidak bahagia. Jadi, untuk mendapatkan sedikit kebahagiaan versi Gandhi, harusnya aku berhenti merokok APAPUN YANG TERJADI.

Ternyata Bermain Pengembangan Diri Itu Sulit

Sebenarnya aku tidak tertarik dengan pengembangan diri. Namun suatu ketika, ada bloger yang menghubungiku dan memesan artikel pengembangan diri. 

Tololnya, aku tidak punya pengalaman dan pemahaman apapun berkenaan dengan topik yang diinginkan, daripada mempermalukan diri sendiri dengan menulis konten rendahan, maka kuputuskan untuk menolak tawaran yang masuk.

Takdir baik sedang mendekat kepadaku. Sejak ketidaksanggupanku memenuhi permintaan bloger lain, aku jadi coba-coba menulis konten-konten pengembangan diri. Bukan hal yang sulit, aku hanya menulis sesuatu yang sudah kulakukan dalam keseharian. Dan konten-kontenku berhasil mendatangkan pengunjung.

Dan berhenti merokok adalah percobaan pertamaku dalam mengembangkan diri. Ternyata lebih sulit dari perkiraanku. Aku sangat payah dan tidak berbakat dalam konteks ini. 

60 hari untuk mengubah satu kebiasaan kecil saja sudah membuatku kewalahan. Bagaimana dengan pengembangan diri yang lebih kompleks lagi?

Sejujurnya saja, dalam belajar apapun, aku terbiasa mengawali semua dengan sejumlah kegagalan. Melalui rasa sakit aku mendapatkan pemahaman dengan lebih cepat.

Tapi pengembangan diri? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tipe pemalas sepertiku bertransformasi menjadi seseorang dengan sikap-sikap yang bagus. Dunia pasti sudah kiamat ketika itu terjadi. Jadi, kurasa penulis dan penjual buah tidak butuh sikap-sikap profesionalisme dan perfeksionis.

Maka…. tidak mengherankan jika kucoret saja kehidupanku dari segala atribut pengembangan diri jika aku merasa itu terlalu membebaniku dan membuatku kepayahan. Biarlah aku tetap menjadi pribadi yang lemah. 

Asalkan aku tetap menjadi diri sendiri, kurasa aku akan baik-baik saja.

Apakah Tetap Berusaha Berhenti Merokok atau Tetap Menikmati Aktivitas Merokok?

Di hatiku, terdapat banyak kegundahan dan keraguan. Di sisi lain aku memikirkan bahwa berhenti merokok adalah sebuah awal untuk belajar memperbaiki sikap dan prilaku, sementara di sisi gelapnya, aku ingin terlihat sanggar dalam hidup, yaitu menjadi penulis dan perokok dalam satu tubuh.

Aku bukan tipe perfeksionis. Kalau pun merokok adalah salah satu aib dalam hidupku, maka aku berbesar hati menerima dan mengakuinya.

Kebimbangan itu tidak berakhir. Bahkan hatiku terbolak-balik setiap waktu. Kadang ingin berhenti merokok dan kadang aku ingin tetap menikmati rokok.

Tapi ada orang bijak yang memberiku sedikit petunjuk, itu adalah Plato dan Elbert Hubbart (ditemukan di buku Berpikir dan Menjadi Kaya).

Plato berkata :

“Kemenangan pertama dan terindah adalah mengalahkan diri sendiri. Dikalahkan diri sendiri adalah sangat memalukan dan hina.”

Sedangkan Elbert Hubbert berkata :

“Saya selalu penasaran mengapa orang tak henti membodohi diri sendiri dengan menciptakan alibi untuk menutupi kelemahan-kelemahan mereka. Kalau mereka menggunakan akalnya secara positif, mereka akan mampu mengobati kelemahannya dan mereka tidak butuh alibi lagi.”

Kesimpulannya, aku sangat memalukan dan hina. Juga terlalu banyak alibi. Jadi, semua keburukan itu tidak akan hilang sampai aku benar-benar sukses berhenti merokok dan mengambil semua harga diriku lagi.

Apakah aku akan tetap berusaha? Tentu saja. Kapan hal tersebut terjadi? Aku tidak yakin.

Lagipula siapa yang tahu akan masa mendatang? Setidaknya pelajarannya adalah jangan pernah mengatakan hal-hal yang tidak mungkin kulakukan di masa depan atau harga diriku akan tercoreng lagi.

Iklan

26 tanggapan untuk “Berhenti Merokok Itu Sulit

  1. sabar mas…
    menghilangkan adiktif pada suatu hal itu memang sulit..
    terlebih lagi hal adiktif itu berupa kenikmatan, wkwkwkw πŸ˜›
    aku juga merasa jadi aneh kalau nggak ngerokok. walau aku bisa menghentikan kapanpun, cuma bukan berhenti, cuma mengekang keinginan untuk merokok di hari-hari tertentu atau minggu-minggu tertentu

    Disukai oleh 2 orang

    1. Aku klo nahan bisa mas mas irawan. Pling sehari habis 4 batang saja. Tapi pas pikiran sedang buruk, saya tidak bisa mengendalikan diri dan lebih suka merokok sambil berpikir untuk mengatasi semua permasalahan yang ada πŸ˜€

      Disukai oleh 2 orang

  2. Begitupun dengan saya mas. Pencis ceritanya sama dengan yang mas alami. Memang sulit, jadi.. entahlah kapan saya berhenti secara benar-benar berhenti.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Sejak usia 14 tahun. Padahal saya udah niat banget berhenti dan terus mengurangi konsumsi rokok. Tapi selalu saja gagal dan gak tahan godaan untuk merokok. Mungkin butuh perjuangan lebih keras lagi πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

  3. Saya setuju dengan tulisan Mas, menghilangkan adiksi terhadap sesuatu memang sungguh sulit. Membutuhkan usaha yang keras, disiplin dan kerelaan untuk melepaskan apa yang menjadi kebiasaan lama. Banyak terapi yang disarankan untuk mengurangi adiksi, terutama adiksi merokok. Tapi, semuanya tidak akan berhasil jika tidak didasari oleh kemenangan diri untuk rela melepas kebiasaan lama.
    Dalam tulisan Mas, tergambar dengan jelas konflik batin yang seakan masih belum rela untuk melepaskan kebiasaan lama. Tapi, memang semuanya membutuhkan waktu dan keinginan kuat untuk berubah.
    Selamat berjuang ya…

    Salam.

    Disukai oleh 2 orang

    1. Makasih mbak frani. Paling tidak saya mau nyoba beberapa kali lagi sampai benar-benar bisa berhenti total. Yg sulit itu menata niatnya. Soalnya masih ada perasaan sayang klo berhenti merokok dan terasa berat meninggalkan kebiasaan tersebut πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

  4. Semangat mas shiq, saya gak tau soal perihal rokok tapi yang jelas berhenti untuk tidak melakukan kebiasaan yang dilakukan berulang ulang itu memang sulit, tapi yakin bisaa, tetap semangat πŸ˜‰

    Disukai oleh 1 orang

  5. Curhat yang sangat jujur, namun menurutku itu ttp berkelas. Diceritakan secara apa adanya tp juga keren bisa dikaitkan dg postingan2 sblumnya. Shiq4, you are a good story teller.

    Sbnrnya, hampir stiap kita punya kelemahan2 atau aib, tp kdang mmamg sulit utk dibagi, dan kita jg suka mncri alibi sprti yg Anda ktakan.

    Manusia, menurut saya, sifat dasarnya memang susah berubah, aplgi klo mmang disugesti gagal…gagal dan gagal.

    Dan sya sllu bilang, tidak ada pecandu yg sembuh, yg ada hanyalah mreka yg tdk mau melakukannya.

    Nah, apkh Shiq4 pcandu nikotin? Hnya Anda yg tahu.

    Tp nurutku sih, ya nikmati aja mas, tp ttp brusaha utk brhenti sklipun sulit. Bukankah kegagalan itu dalah sukses yg tertunda, haha….

    Disukai oleh 1 orang

    1. Klo di pikiran sudah yakin mas desfortin. Cuma klo perasaan saya sedang nggak enak, saya terbiasa merokok. Nah itu sebenarnya inti masalah yg menghalangi prosesnya. Masalahnya perasaan saya tergantung situasi di lingkungan saya. Kayaknya saya bakal menyendiri dulu untuk beberapa waktu untuk menjaga perasaan tetap stabil sehingga tidak lagi merokok πŸ˜€

      Disukai oleh 2 orang

Komentar ditutup.