7 Tips untuk Penderita Skizofrenia

Tips untuk penderita skizofreniaSumber gambar : kompas.com

Saya mulai mengidap skizofrenia sejak tahun 2011. Sejak menderita skizofrenia, sedikit demi sedikit banyak perilaku dan sikap yang berubah. Kehidupan menjadi lebih sulit dijalani dengan berbagai halusinasi dan delusi.

Saya telah menjalani banyak pengobatan, baik alternatif maupun medis. Tapi tidak menunjukkan hasil apapun. Setidaknya baru di pertengahan tahun 2015 saya baru menunjukkan kemajuan dan mulai kembali bergairah menjalani hidup.

Melalui berbagai pengalaman hidup dengan skizofrenia, saya merangkum berbagai tips bagi penderita skizofrenia lainnya agar dapat kembali pulih dan merasakan gairah yang sama seperti sebelum sakit.

Berikut adalah beberapa tips yang akan membantu Anda mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi :

1. Rutin Minum Obat

Saya termasuk penderita yang tidak suka minum obat. Bukan karena saya bandel, namun efek yang ditimbulkan obat membuat saya merasa tidak nyaman. Setiap kali saya minum obat, setidaknya saya tertidur selama 12 jam. Itu pun tidur terasa tidak nyenyak sama sekali dan terasa sangat sebentar. Dan perasaan-perasaan negatif lain kerap muncul setelah mengkonsumsi obat.

Dipikir-pikir, rugi sekali menghabiskan waktu untuk tidur 12 jam sehari plus merasakan pengalaman-pengalaman buruk. Di sisi lain, jika tidak minum obat, maka halusinasi dan delusi akan muncul lagi.

Pada akhirnya, saya memutuskan rutin minum obat. Bukan karena yakin akan pulih, namun saya ingin melakukan sedikit hal bagi orang tua saya yang masih bersemangat dan mengatakan bahwa ada harapan untuk pulih. Saya tidak ingin menghilangkan harapan mereka dan membiarkan mereka berusaha melakukan sesuatu yang mereka anggap baik untuk saya.

Meskipun perjalanannya rumit dan melewati perdebatan, sedikit demi sedikit saya merasa lebih baik. Juga melalui beberapa kali konsultasi dengan dokter dan beberapa kali berganti obat, kehidupan saya mulai membaik dan berjalan normal. 

Setidaknya lebih baik lagi meskipun tidak sepenuhnya pulih.

Bagi Anda penderita skizofrenia lainnya, Anda sangat diperbolehkan untuk putus asa. Namun jangan tularkan hal tersebut kepada orang-orang yang masih punya harapan. Meskipun Anda tidak percaya lagi bahwa obat yang Anda konsumsi akan membuat kehidupan Anda lebih baik, pikirkan orang-orang yang menyayangi Anda. Mereka belum menyerah. Setidaknya bekerja samalah untuk menyenangkan hati orang-orang terdekat Anda.

Jika Anda merasa minum obat menimbulkan efek-efek negatif, apapun itu, maka ingat dan catatlah. Ketika tiba saatnya berkonsultasi, jangan malu mengutarakan semua keluhan Anda. Biarkan para dokter yang berpikir tindakan terbaik bagi Anda.

2. Berusahalah Menjaga Kebersihan Diri

Saya tahu bagaimana rasanya keputusasaan. Pada awalnya, saya juga berkeyakinan bahwa skizofrenia hanya penyakit seperti halnya penyakit pada umumnya. Seiring berjalannya waktu, pasti saya akan pulih mengingat berbagai pengobatan yang saya jalani.

Namun, setelah 2 tahun pertama berusaha dan tidak membuahkan hasil, keputusasaan melanda saya. Tidak ada harapan. Saya bahkan menganggap bahwa skizofrenia merupakan kutukan Tuhan.

Saya sangat frustasi dan mulai malas melakukan aktivitas apapun. Saya hanya merokok, menonton TV, dan hanya bermain game. Tidak ada hal lain yang saya lakukan.

Saya mulai jarang mandi. Kamar saya berantakan. Yang jelas, saya tidak lagi menjaga kebersihan. Bagi saya, itu merupakan hal sepele yang tidak perlu diperhatikan.

Keseharian yang jorok semacam itu memicu pertengkaran. Jika ada yang mengingatkan, maka saya akan marah. Kalau pun saya mandi, itu merupakan keterpaksaan. Akibatnya, saya pernah terkena panu dan kutu air selama sakit skizofrenia di masa-masa awal.

Begitu pula ketika saya ditempatkan di penampungan skizofrenia. Rata-Rata penderita pasti terkena penyakit kulit. Dan tentu saja, tidak ada penderita skizofrenia yang peduli tentang penyakit-penyakit kulit tersebut. Tapi hal semacam itu bisa membuat jijik orang-orang di sekitar penderita.

Akhirnya, dengan berusaha keras, saya mulai mampu menjaga kebersihan lagi. Perlahan tapi pasti, penampilan saya menjadi seperti orang normal lagi. Paling tidak saya tidak menambah beban orang-orang yang meyayangi saya dengan penyakit-penyakit lainnya.

3. Penderita Skizofrenia Perlu Bersosialisasi

Saya juga tahu rasanya tidak punya teman. Dengan stigma negatif tentang “0rang gila”, tidak ada yang mau berurusan dan bergaul saya. Bahkan dengan keluarga pun tidak sepenuhnya akur dan sering bertengkar.

Tapi akhirnya saya memahami. Pada kenyataannya, orang-orang normal tidak akan tahu bagaimana berbincang dengan kita. Tentang pengalaman-pengalaman yang kita alami, tentang keyakinan kita, atau tentang betapa sempitnya pemikiran kita. Jadi, saya berhenti berharap terhadap orang-orang di sekitar saya.

Untuk memenuhi kebutuhan bersosialisasi, tempat mengeluh dan menceritakan semuanya dengan bebas, saya akhirnya menemukan tempat dan orang-orang yang cocok. Itu adalah komunitas peduli skizofrenia Indonesia.

Saya tidak lagi banyak mengeluh dan berharap keluarga akan memahami apa yang saya bicarakan. Itu mustahil. Tapi dengan sesama penderita dan orang-orang yang berpengalaman dengan skizofrenia, saya merasa lebih baik. Setidaknya mereka tahu apa yang saya bicarakan dan tahu bagaimana menyikapi keluhan-keluhan dengan tepat.

Sejak saya bergabung dengan komunitas tersebut, keadaan menjadi lebih baik. Saya bisa menjadi seperti orang normal dengan berbicara seperlunya saja kepada orang-orang normal. Sementara ketika saya butuh teman ngobrol dan bercanda, maka jawabannya adalah sesama penderita skizofrenia di komunitas tersebut.

4. Berhenti Memikirkan Masa Depan

Saya terkena skizofrenia di usia awal 20-an. Penderitaannya terasa cukup berat karena di usia tersebut, hampir pasti pikiran dipenuhi dengan membangun impian-impian di masa depan. Mental saya hancur. Bahkan saya terus menerus menyalahkan diri sendiri dan merasa kecewa terhadap diri sendiri secara berlebihan.

Keadaan diperburuk ketika saya mulai membandingkan dengan orang-orang di usia saya. Mereka mendapat pekerjaan yang baik, menikah, atau bersenang-senang secara berkelompok. Perasaan iri tersebut semakin menjadi dan saya mulai frustasi sendiri jika membayangkan masa depan.

Melihat keadaan diri sendiri, semakin lama saya memikirkan masa depan, perasaan dan pikiran saya semakin kacau. Akibatnya, saya punya kecenderungan mengasihani diri sendiri secara berlebihan dan membenarkan tindakan apapun karena merasa menjadi orang paling tidak beruntung di dunia.

Meskipun butuh waktu lama untuk memulihkan mental saya mengenai tujuan hidup dan masa depan apa yang saya inginkan, pada akhirnya saya optimis bisa kembali hidup seperti sedia kala. Walaupun harus tetap mengkonsumsi obat agar dapat mengendalikan halusinasi dan delusi.

Sekarang, saya tidak terlalu peduli tentang masa depan. Saya hanya berusaha menikmati hidup dan menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada masa depan, yang ada hanya berjuang untuk hari ini. Seiring berjalannya waktu, pikiran lebih rileks dan tidak lagi mengalami depresi atau stress.

Bahkan, tanpa peduli lagi tentang masa depan, saya mulai bermimpi menjadi penulis. Meskipun itu hanya membohongi diri sendiri dan tidak yakin dengan dengan diri sendiri, setidaknya saya punya tujuan untuk dikejar.

5. Tidak Perlu Malu

Menjadi ODS (Orang Dengan Skizofrenia) bukanlah hal memalukan. Penyakit ini sama seperti penyakit fisik lainnya seperti diabetes, jantung, dan sebagiannya. Kita hanya perlu mengkonsumsi obat agar penyakit tidak kambuh lagi sebagai mana penyakit-penyakit fisik lain yang juga harus rutin mengkonsumsi obat.

Jika Anda merasa malu, maka nikmati saja rasa itu untuk sementara. Biar bagaimana pun, perasaan semacam itu pasti ada mengingat stigma negatif masyarakat yang cenderung melabeli penderita skizofrenia sebagai “orang gila”, meskipun sebenarnya kita tidak benar-benar hilang akal.

Penderita skizofrenia umumnya menarik diri dari lingkungan karena perasaan malu. Saya bahkan butuh berbulan-bulan dan karena keterpaksaan saja sehingga mampu memulai bergaul lagi di masyarakat.

Dulu saya bahkan sempat mengurung diri di rumah dan tidak mau berbicara dengan siapa pun. Tapi, menumbuhkan rasa percaya diri meskipun menderita skizofrenia sangat dibutuhkan agar kemampuan dasar bersosialisasi tidak hilang.

Agar orang lain mengerti keadaan Anda, sangat penting untuk menceritakan kondisi Anda. Saya sering mengatakan bahwa saya skizofrenia kepada orang lain dan saya sudah tidak malu lagi. Agar orang lain memaklumi keadaan kita dan memberi dukungan moral. Kalaupun kita berbuat kesalahan, mereka tidak akan marah mengingat kondisi kita yang tidak stabil.

6. Temukan Hobi yang Menyenangkan

Masalah utama dari penderita skizofrenia itu karena sering menyendiri dan memikirkan terlalu banyak hal yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan. Biarkan saja tugas tersebut dijalankan oleh caregiver dan tugas kita cukup menjalani kehidupan yang mendekati kehidupan orang normal saja.

Saya sendiri paling suka membaca dan menulis. Setiap kali punya waktu luang, maka saya melakukan kedua hobi tersebut. Entah apakah hal tersebut berpengaruh secara langsung atau tidak, tapi setelah saya rutin membaca dan menulis, saya mulai jarang berhalusinasi lagi. Bahkan pikiran pun begitu tenang karena sudah tidak berpikir macam-macam.

Hal tersebut juga membuat perasaan saya tenang. Sudah jarang merasa takut atau cemas. Karena pikiran saya fokus memikirkan bacaan dan apa yang ingin saya tuliskan. Tidak ada tempat untuk munculnya bibit-bibit pemikiran pemicu stres, depresi, dan kekambuhan.

Jika Anda belum memiliki hobi, maka Anda bisa mengakses “Cara Menemukan Hobi Terbaik“.

7. Tidak Boleh Hilang Harapan

Yang paling berbahaya dari penderita skizofrenia itu pasti kecenderungan melakukan tindakan bunuh diri. Pikiran semacam itu sering muncul karena sudah tidak tahan rasa sakit, frustasi, hingga putus asa dengan penyakitnya.

Itulah mengapa sangat penting melakukan ke-6 tips sebelumnya, agar mental kita lebih sehat dan memiliki kehidupan yang berbahagia.

Skizofrenia bukanlah sebuah akhir dari segalanya. 1 % populasi dunia menderita skizofrenia. Jadi, sebenarnya Anda tidak sendirian dalam berjuang menghadapi penyakit skizofrenia.

Di masa lalu, saya pun pernah mencoba bunuh diri. Untunglah usaha yang saya lakukan gagal karena tali yang saya gunakan untuk gantung diri putus secara ajaib. Meskipun saya tidak berhenti berusaha untuk bunuh diri, tapi saya benar-benar beruntung karena takdir tidak menginjinkan saya mati lebih cepat.

Kini, saya hanya percaya satu hal, Tuhan punya banyak begitu banyak kasih sayang. Jika saya merasa sakit tidak tertahankan dan sampai pada batasnya, maka saya hanya mengingat Tuhan di pikiran saya. Saya percaya, tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Dan mungkin Tuhan akan mengasihani saya jika saya terus menerus berdo’a dan berusaha,Kemudian meringankan beban saya.

Lagipula sudah banyak kisah dimana penderita skizofrenia bisa juga sukses dalam kehidupannya. Jadi, selalu ada harapan bagi penderita skizofrenia.

60 tanggapan untuk “7 Tips untuk Penderita Skizofrenia

  1. Yang no. 4 saya juga merasakan sih, membandingkan-bandingan diri dengan orang lain itu bikin depresi. Lebih baik fokus menjalani kehidupan kita sendiri saat ini.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iya mas firman. Fokus ke diri sendiri saja dan melakukan apa yang terbaik untuk kita tanpa membanding-bandingkan diri dengan orang lain. 😀

      Suka

  2. Wah, ngeri bgt bang smpe ada pnglmn bunuh diri segala.

    Tapi bagaimana proses bisa fokus membaca dan menulis sebagus ini lho yg bikin wah. Secara kondisi yg seperti itu bisa dilawan dgn hal-hal yg sgt positif, semacam ini. Mantap lah bang.

    Suka

    1. Saya sudah membaca dan menulis sejak kecil arika. Jadi sudah sangat biasa mungkin he he he….

      Latihan juga perlu sih. Meskipun sebenarnya butuh waktu beberapa bulan sampai saya mampu menikmati membaca dan menulis lagi sebagaimana orang normal 😀

      Disukai oleh 1 orang

  3. puji Tuhan, tulisan yang sungguh tak hanya membuka ‘mata’ para ODS lainnya, tetapi juga di luar itu–tentang bagaimana kami; manusia lainnya–menyikapi dan tak berhenti memberi motivasi bagi teman atau kerabat yang termasuk ODS tadi. Tetap semangaaat Kak! 🤗❤️️

    Suka

  4. Mas Shiq, boleh request gak??? Aku jadi penasaran sama penyakit ini, sapa tau mas Shiq bersedia untuk nulis ulasan tentang penyakit ini…

    Disukai oleh 1 orang

    1. Cari aja di internet. Udah banyak kok. Soalnya klo masalah serius seperti penyakit saya takut salah nulis dan menyesatkan orang lain 😀

      Suka

  5. Mohon maaf mas shiq sblmnya klo prtanyaanny tdak brknan. Klo blh tau awalnya gimna ya? Gjlannya apa saja? Di pnghruhi faktor keturunan atau semacamnya? Trus smpe akhirnya sadar itu bgaimna? Klo sudah prnah d post blh mnta linknya? Saya ingin tau mas shiq. Trimksih bnyak😊

    Suka

    1. Awalnya dulu saya mendengar suara (halusinasi dengar) secara terus menerus. Sempat takut juga sih, tapi suaranya tak kunjung berhenti. Gejala lainnya itu pasti menarik diri, halusinasi penglihatan juga, dan mempunyai berbagai keyakinan yg tidak sesuai realita.

      Penyebab skizofrenia masih belum diketahui. Tapi sekilas saya membaca ada hubungannya dengan faktor keturunan juga.

      Sadar ya telah melalui banyak pengobatan dan perawatan. Tergantung masing-masing individu bagaimana menyikapi sakitnya. 😀

      Disukai oleh 2 orang

      1. Loh kekirim, tlg tulis dong mas shiq. Biar kita gak ngeremin hal kecil yang brujung hal besar. Klo blh ditulis ya mas, sm mnta tlg kmntr yang gk sngja k krim tdi d hpus ya mas shiq. Wkwkk. Mksih bnyak mas shiq😊

        Suka

        1. Wah kayaknya sulit mbak kunu nulis ceritanya. Soalnya memory saya berantakan antara kejadian satu dan kejadian lainnya. Saya juga nggak bisa objektif dalam bercerita. Mungkin yg bisa cerita pasti orang2 di sekitar saya. Tapi lain kali cerita dikit2 tentang pengalaman skizofrenia mungkin masih bisa 😀

          Suka

      2. Gimana ceritanya? Kayaknya saya nggak mampu cerita mbak kunu. Soalnya memory saya berantakan antara satu kejadian dan kejadian lainnya. Maaf ya. Tapi mungkin sedikit cerita di posting selanjutnya 😀

        Disukai oleh 1 orang

  6. Mas Shiq semangaaat!
    Aku jadi ingat dulu pernah praktik klinik di RSJ. dan aku praktik di bangsal remaja putri, kebanyakan mereka dirawat karena terdiagnosis skizofrenia. Usia mereka masih muda, bahkan ada yang kelas 6 SD sudah harus dirawat :(. Aku banyak bercakap-cakap dengan mereka khususnya penderita yang memang sudah bisa diajak ngobrol dengan baik. Bahkan ada beberapa yang pernah berusaha bunuh diri. Dan seperti yang mas shiq tulis, melakukan hal yang disukai/menekuni hobi bisa menjadi salah satu cara utk mengurangi datangnya halusinasi/depresi. Menurutku sih peran keluarga juga sangat penting utk kesuksesan keberhasilan pengobatan. Karena aku amati pasien-pasien yang keadaannya membaik ini dilatarbelakangi oleh keluarga yang aware terhadap kondisi mereka.
    Anyway, semangat terus buat Mas Shiq! 🙂
    *maap mas aku komennya kepanjangan ya 🙊

    Suka

    1. Iya banyak sih jenis skizofrenia. Saya sudah pernah ke 3 tempat dan bertemu berbagai penderita skizofrenia. Tapi rata2 skizofrenia pasti bisa kok sekadar diajak ngobrol selama ia minum obat secara teratur 😀

      Iya. Dukungan keluarga dan orang-orang sekitar akan sangat berpengaruh bagi penderita. Klo diperlakukan dengan baik, penderita bisa pulih dan kembali ke masyarakat. Sebaliknya, klo diperlakukan dengan tidak baik malah menyulitkan penderita mendapatkan kepercayaan dalam melalui ujian hidup sebagai orang dengan skizofrenia 😀

      Disukai oleh 1 orang

  7. Sampai skrg tiap baca postingan Shiqa aku ga pernah ngerasa klo km kena Skizo. Tapi aku prnh nonton drama korea ttg Skizo, ada penulis terkenal dy kena skizo jd kalo tidur lebih nyaman di kamar mandi drpd di kasur, soalnya pas kecil dy sering disiksa sama ayah kandungnya&kalo disiksa dy selalu ngumpet di kamar mandi, makanya walaupun udah kaya raya tidur paling nyaman buat dia di ya di wc, krn klo tidur di kasur dy pasti bakal mimpi serem&halusinasi. Jd klo nonton film itu aku pikir skizo itu disebabkan krn ada trauma di masa lalu, bner ga sih?

    Disukai oleh 2 orang

    1. Belum diketahui secara pasti penyebab skizofrenia mbak. Secara medis karena otak kelebihan dopamin sehingga berhalusinasi. Tapi memang banyak prilaku skizofrenia yg aneh2 dikarenakan halusinasi yg dialaminya.

      Sedangkan trauma atau kejadian2 buruk seperti bullying, pelecehan seksual, dsb mungkin hanya pemicu sakitnya mental. Kalo tidak ditangani ahlinnya, bisa beresiko terkena skizofrenia jika mentalnya tidak kuat. 😀

      Suka

  8. Beberapa kali saya baca buku terjemahan yang bagus. Bukunya bagus-bagus, kebanyakan penulisnya juga mengidap skizophrenia, maladaptive atau lainnya. Tapi mereka tetep bisa berkarya, bahkan karya2nya sangat menginspirasi.
    Semangat kak, pasti bisa jadi penulis yang hebat. Jangan hanya karena kita punya keterbatasan akhirnya kita menyerah.

    Suka

    1. He he he…. saya gak setegar itu Libilinda. Cuma sekadar senang-senang saja kok nulisnya. Yg jelas dijalani saja dulu apa adanya dan tidak terlalu berharap. Bisa hidup tenang saja dan mampu menjalani hobi saja saya sudah senang kok 😀

      Suka

  9. Salut kak! 👍
    Luar biasa perjuangan kakak sampai saat ini, tetap produktif dan menginspirasi 😊
    Malu saya sbg org yg sehat tp masih menyia-nyiakan waktu. Kak, bgmn biar punya hobi membaca? Saya termasuk org yg punya minat baca sgt kecil hehehe…

    Disukai oleh 1 orang

  10. Saya bukan penderita skizofrenia,tapi saya yakin jika saya punya masalah psikologi yang cukup serius.Salah satunya rasa minder,rendah diri,dan rasa malu yang berlebihan.Hal ini membuat saya begitu canggung ketika harus bersosialisasi.Karena ini pula saya juga sering salah tingkah ketika harus berada di publik atau keramaian.Banyak hal yang merugikan saya sendiri akibat masalah ini,salah satunya saya menjadi tertinggal banyak hal dibanding teman seumuran saya.

    Tips yang anda tulis nampaknya berlaku juga bagi orang yang tengah dilanda depresi dan mengalami keterpurukan dalam hidup.
    Inspiratif.

    Suka

    1. Klo punya masalah psikologi sebaiknya konsultasikan dengan psikolog mas. Soalnya lingkungan yg terus menerus bikin stres dan tidak nyaman bisa memicu skizofrenia dan depresi 😀

      Suka

  11. Tetangga saya dikira orang stress karna dia beberapa kali lemparin kaca sekolah tapi katanya dia halusinasi suka ada yg bisikin dia lakuin itu. Kalo kya gtu gejala skizo bukan mas?

    Suka

    1. Iya. Itu gejala skizofrenia, halusinasi dengar. Lebih baik periksakan ke dokter jiwa. Semakin cepat mendapat perawatan, semakin besar peluangnya untuk pulih kembali. 😀

      Disukai oleh 1 orang

  12. Tips yg sangat menggugah dari seorang mantan skizo. Sy ykin akan sngat bernanfaat klo dibca oleh para ODS lainnya. Yg dipaparkan Shiq4 adalah pnglman pribadi yg bgtu menyentuh, menurut saya.

    Dan setiap kli saya baca tulisan2 Shiq4, entah krn ktrbtasan pengetahuan sy ttg skizofrenia, saya merasa bhwa dia bnar2 sdh sembuh total, atau bhkan bukan mntan skizo sma skli. Tp blkangan sy bljar bhwa mantan ODS itu trnyta cerdas.

    Sy brdoa, smga Shiq4 bnar2 bs mnjdi brkat bg siapapun, trkhusus kpd para ODS. Smoga Tuhan yang mahakasih dan mahabijaksana itu senantiasa memakai Anda untuk menjadi alat bagi kepujian nama-Nya. Gbu.

    Suka

    1. Amiin. Semoga saya bisa bermanfaat untuk orang lain dengan caraNya. Karena kadang-kadang saya juga mikir mengapa saya hidup di dunia ini. Juga gara2 sakit saya jadi banyak berpikir tentang Tuhan. Meskipun masih banyak tanda tanya, saya ingin mengetahui lebih banyak rahasia kehidupan lainnya dengan membaca pemikiran-pemikiran orang lain

      Entahlah…. sampai sekarang saya masih bingung apakah sakit ini sebuah Anugrah yang harus disyukuri karena mengajarkan begitu banyak hal yang luar biasa indah atau bencana karena mengambil begitu banyak hal dari saya. Masih butuh waktu lebih lama untuk merenung. Mungkin suatu hari nanti saya akan menemukan jawabannya 😀 terima kasih mas desfortin.

      Disukai oleh 1 orang

  13. Seneng bacanya. Aku pernah beberapa kali cerita ke temen2 kalau punya temen blog yang bermacam2, termasuk mas shiqa dan keadaannya. Mereka kagum sama mas hehehe. Tetep semangat dan berkarya yaaak!

    Suka

    1. Ha ha ha…. saya biasa aja kok. Nggak ada istimewanya. Selama rutin minum obat, penderita skizofrenia pasti bisa beraktivitas seperti orang normal. Meskipun ada beberapa batasan. 😀

      Suka

  14. Saya baru sharing tulisan mas kesuami sy.. Kebetulan ad keluarganya yg mengidap skizofrenia.. Sy mulai mengerti ttg penyakit ini ktk nonton film Beautiful Mind n Shutter Island. Pernah nonton ga mas? Hehe.. Maaf kalau boleh tau sebenarnya halusinasi itu apa sedemikian nyata bagi skizofrenia? Dan sekarang, ktk mas udh sembuh ap halusinasi itu bnr2 sudah hilang total? Sebelumnya terima kasih tipsnya.. Sangat berguna sekali.. 😊

    Suka

    1. Iya klo beautifull mind itu halusinasi penglihatan dan suara. Bahkan mungkin lebih.

      Klo sedang berhalusinasi itu terasa nyata. Masalahnya kan apa yg kita dengar dan apa yang dilihat penderita tidak bisa dibuktikan ke orang lain, makannya disebut halusinasi.

      Halusinasi yang terus menerus itulah yg kemudian menjadi realita penderita sehingga boleh dianggap punya dunia sendiri.

      Sekarang saya masih mengkonsumsi satu pil setiap hari. Cuma sudah sangat jarang halusinasi. Asalkan rutin minum obat dan konsultasi ke dokter secara rutin, penderita skizofrenia punya harapan untuk pulih kok. 😀

      Suka

      1. Keluarga suami sy it berumur 25 thn.. 1 thn yg lalu divonis dokter skizofrenia..sptnya dy stress n mulai berhalusinasi sejak tdk lulus beberapa kali melamar kerja..kmrn sempat masuk RS. Jiwa jg krn ga mau minum obat. Skrg udh bs keluar. Ap penderita it sembuhnya memang begitu lama y? Sepertinya dy butuh komunitas. Masalahnya dlm halusinasinya dy menganggap dirinya ‘orang alim’ dan sejak dulu orgnya ga pernh punya sosmed. Suami sy bingung bagaimana menghadapinya. Soalnya dy tidak suka bersosial. Ap dulu mas sebegitu tertutup juga? *ah malah banyak nanya.. 😂

        Suka

        1. Coba tanya-tanya di komunitas peduli skizofrenia indonesia di facebook mbak. Soalnya si penderita masih belum menyadari bahwa dirinya sakit dan membutuhkan pengobatan. Itu bagian yg sulit bagi keluarga untuk membujuknya minum obat.

          Waham atau keyakinan penderita skizofrenia macam2 mbak. Justru berbahaya klo dibiarkan berlarut-larut.

          Klo tertutup sebelum mengidap sakit saya memang tertutup. Cuma dulu memang menjadi lebih tertutup lagi karena pengaruh halusinasi.

          Gabung saja di forum yg saya maksudkan agar bisa tanya-tanya ke orang yg lebih paham. Karena sepertinya skizofrenianya sangat berbeda dengan yg saya alami sehingga saya tidak punya solusi.

          Oh iya, semakin cepat mendapatkan perawatan, maka kondisinya bisa cepat pulih dan kembali seperti dulu lagi. Penderita sangat dianjurkan minum obat teratur sesuai petunjuk dokter agar halusinasinya berkurang dan menghilang. 😀

          Suka

Komentar ditutup.