Penulis Harus Membaca

“Jika Anda tidak punya waktu untuk membaca, maka Anda juga tidak punya waktu (atau alat) untuk menulis. Sesederhana itu.” Stephen King

Malam ini buruk. Aku memiliki beberapa ide, tapi tidak bisa mengeksekusinya. Padahal sudah pukul 10 malam. Dan artinya aku kebingungan untuk mengisi blogku.

Pekerjaan tadi siang membuatku sibuk. Selain karena begitu banyak pembeli yang jumlahnya sebanyak jomblo di Indonesia, banyak produk baru yang datang. Dan yang paling merepotkan, semangka-semangka kotor penuh tanah. Mungkin karena dipanen ketika hujan sehingga tanah-tanah pertanian ikut menempel.

Hal tersebut membuat pekerjaan semakin bertambah. Aku harus mengelap semangka dengan kain basah, baru mengikatnya. Bayangkan semangka 100 Kg, bukan… maksudku mungkin 200 Kg dan harus mengelap dan mengikatnya, maka kau akan tahu sedikit penderitaanku hari ini.

Juga banyak pekerjaan lainnya. Bahkan ketika semua dikerjakan oleh 3 orang, ternyata masih begitu melelahkan. Intinya, aku hampir tidak bisa membaca dengan tenang sepanjang hari ini. Dan akibatnya, meskipun aku mengantongi sebuah ide bagus, aku terlalu takut untuk mengeksekusinya.

Ternyata memang benar, aku tidak bisa menulis tanpa membaca. Karena aturannya sederhana : ingin menjadi penulis lebih baik? Baca lebih banyak.

Menulis Adalah Skill

Menulis bukan bakat, melainkan skill. Dan jika membicarakan skill, maka pasti argumen-argumen di dalamnya lebih rumit dari masalah-masalah korupsi.

Aku sangat sadar bahwa menulis setiap hari hampir seperti menulis di atas pasir tanpa dibarengi membaca. Hanya saja aku selalu saja merasa haus akan bacaan. Terutama buku-buku tentang menulis. Kadang aku malas menulis karena referensinya masih terlalu sedikit.

Menurutku, sialnya, aku merasa jurang perbedaan antara aku dengan beberapa penulis terlalu lebar. Aku ingin menulis sesuatu yang berguna, sesuatu yang banyak kutipan dan referensi, tapi di mana aku mendapatkan buku-buku yang kuinginkan?

Walaupun kelihatan tidak berpengaruh secara langsung, tapi aku meyakini bahwa kualitas tulisan akan berbanding lurus dengan banyaknya buku atau tulisan yang kukonsumsi. Paling tidak aku bisa belajar sesuatu dari bacaan.

Karena hampir pasti tulisan yang kusukai pasti sesuatu yang bagus. Dan aku bisa belajar bagaimana menyajikan pemikiran dan ide dari penulis lain. Biar pun aku tipe pemalas, selera bacaanku tidak buruk-buruk amat.

Proses Meniru Tulisan

Aku penulis tanpa karakter. Dan memang masih butuh banyak belajar untuk membentuk karakter. Karena aku sering meniru tulisan-tulisan karya orang lain.

Prosesnya sederhana, aku biasanya akan meniru gaya menulisnya. Atau kosakatanya. Atau apapun yang kusukai. Jadi, masing-masing tulisan pasti terinsipirasi dari tulisan lainnya.

Seperti tulisan ini, aku menyisipkan beberapa hiperbola seperti yang terdapat di buku Buket Pengantin ke Tiga Belas. Dan aku menyukai bagian-bagian hiperbolanya karena membuatku tertawa.

Aku memang peniru. Jangan pernah sodorkan tulisan yang bagus, karena itu membuatku “terangsang” ingin menirunya. Sampai aku menemukan jati diriku sebagai penulis, maka aku akan terus meniru karya-karya orang lain.

Penulis Harus Membaca

Mari kita lihat apa pendapat Jeff Goins :

Penulis harus membaca. Sangat banyak membaca. Majalah-Majalah. Buku-Buku. Secara teratur. Dan seterusnya. Penulis perlu memahami seni dari bahasa, untuk menghargai poin-poin bagus dari kata-kata.

Tidak ada yang menginspirasi penulis seperti membaca kata-kata penulis lainnya.

Pendapatku? Aku bingung. Jangankan memahaminya, menerjemahkannya saja sudah mengenjot isi otakku sampai di luar batas kewajaran.

Tapi aku tahu intinya, membaca itu tentang inspirasi dan memahami seni bahasa.

Meskipun aku tidak benar-benar paham, mungkin maksudnya adalah mendapatkan ilham ketika pikiran sedang buntu. Aku pernah mengalaminya. Ketika tidak tahu harus menulis apa, dan setelah membaca, tiba-tiba pikiranku dipenuhi dengan sekeranjang ide baru.

Dan tentang seni bahasa, mungkin penggunaan kata yang tepat dan indah. Kalau tidak sering membaca, mustahil penulis mampu menyisipkan kata-kata cantik di dalam tulisannya.

Tapi bagiku sendiri, membaca adalah proses menyerap pemikiran orang lain. Semakin rumit pemikiran, semakin sulit menyederhanakannya. Dan jika ada yang bisa membuatku memahami sesuatu, bahkan sekecil apapun, maka ia pantas untuk ditiru.

Di lain sisi, membaca karya yang bagus akan melecut semangatku untuk menghasilkan sesuatu yang sama bagusnya. Juga menjadi lebih mawas diri karena tahu diluar sana masih banyak penulis lain yang lebih baik lagi. Pada akhirnya, membaca merupakan cermin terbaik untuk mengukur diri sendiri dengan objektif.

Jika merasa masih buruk, maka aku akan belajar dan berlatih lebih giat lagi. Jika merasa sudah baik, maka masih banyak tantangan lain yang harus ditaklukan. Tidak ada waktu untuk sombong dan berbangga karena terlalu banyak penulis yang lebih baik dariku. Mari belajar dari penulis lain dengan membaca.

22 tanggapan untuk “Penulis Harus Membaca

  1. Anda penulis yg gigih dan ngotot. Semoga Shiq4 smkin brsinar di masa2 slnjutnya. Saya ykin akn hal itu.

    Penulis memang harus membaca. Bnyak membaca. Saya setuju. Itu bnar adanya.

    Hanya saja mungkin, tiap2 org beda passion membacanya. Tergantung buku ap yg trsedia. Klo sllu trpapar dg buku bgus, biasanya smngat mmbcanya smkin mningkat.

    Suka

    1. Iya mas desfortin. Masing-masing orang punya passion sendiri. Klo sudah nemu passionnya, maka lebih mudah mendapatkan buku yang bagus dan menuliskannya 😀

      Suka

  2. Wah akhir-akhir ini saya lagi malas baca buku. Ada buku yang udah saya baca dari sebulan lalu sampai sekarang belum selesai.
    Dampaknya kerasa banget sekarang tiap kali mau nulis mikirnya lama banget dan nggak selesai-selesai.

    Suka

    1. Saya juga sekarang malas sekali baca buku mas firman. Nunggu mood membaca kembali. Tapi membaca konten2 di internet bukan ide yang buruk.

      Suka

  3. Sya selalu merasa tulisan saya kurang ini-itu, belum ngerasa klik, berkali-kali dibaca ternyata isinya mentah. Dan membaca apapun setidaknya bisa memberikan bobot di tulisan meski masih jauh dari kata bagus. Mohon bantuannya ya kak Shiq4:)

    Suka

    1. Coba awali dengan menulis ulang karya orang lain agar bisa belajar menyusun tulisan yg bagus. Cari aja tulisan yg menurut meilani bagus, trus tulis ulang. Dulu saya memulainya seperti itu 😀

      Suka

        1. Iyaaa jadinya memberi tahu informasi berdasarkan pengalaman pribadi yaa. Biasanya lebih bagus, karena penulis mengalaminya sendiri dan diceritakan juga cara mengatasinya.

          Disukai oleh 1 orang

  4. setuju sekali membaca adalah bekal untuk menulis/membuat tulisan.
    selain menambah perbendaharaan kata, dapat memunculkan imajinasi liar untuk dijinakkan atau dieksekusi 😀

    minusnya kalo sudah lama gak baca/ kebiasaan membaca berkurang, rasanya makin berat untuk memulai kebiasaan membaca lagi. #curhat :))))

    Suka

    1. Saya tiap hari baca mas. Minimal konten-konten di internet. Klo baca buku memang sedikit malas akhir-akhir ini. Soalnya pula, kalau saya tidak membaca, pikiran jadi sulit menghasilkan ide untuk menulis 😀

      Suka

Komentar ditutup.