Persaingan Pakaian di Mojosari

Persaingan pedagang pakaian pasar tradisional melawan toko modernSumber gambar : Duajurai.com

Aku hidup seperti bayangan. Tidak pernah ada yang menyadari keberadaanku. Suatu kebetulan karena diperhatikan orang lain membuatku tidak nyaman.

Sepertinya aku seperti Kuroko dalam film Kuroko No Basuke. Hanya ada sebagai pendukung orang lain dan tidak mampu bersinar tanpa bantuan orang lain.

Meskipun begitu, aku punya kelebihan untuk mengamati. Walaupun tidak ada gunanya dalam menunjang kehidupanku, aku suka melakukannya dan kemudian memikirkannya seorang diri. Bagiku berpikir adalah kebutuhan. Dan aku harus melakukannya agar tetap merasa bahagia di duniaku sendiri.

Seperti akhir-akhir ini, aku memikirkan persaingan bisnis pakaian di Mojosari. Benar-Benar tidak penting mengingat aku tidak pernah berhubungan dengan bisnis tersebut. Tapi karena aku juga pedagang di pasar tradisional, aku juga kadang-kadang merasa prihatin dengan pedagang pakaian yang mulai memiliki pesaing, yakni toko-toko pakaian modern.

Pembangunan Kota

Aku paling suka mengamati perkembangan yang terjadi di sekitarku. Tukang rambut baru, toko yang tutup, penjual gorengan terbaik, atau sekadar penjual dadakan di bulan Ramadhan.

Kalau boleh sedikit pamer, maka aku tahu bahwa salah satu pembangunan yang terjadi di Mojosari adalah semakin banyaknya toko-toko pakaian. Dan itu sudah membuatku berpikir dan khawatir mengenai persaingan yang akan terjadi antara pedagang pakaian pasar tradisional melawan pemilik-pemilik toko.

Yang paling mencolok adalah Metro. Sebut saja sebagai mall kecil. Itu toko berbagai pakaian yang luas. Penataannya hampir mirip di mall-mall besar, hanya saja ini sebuah toko. Dan tentu saja, sebagian orang yang penasaran mulai berbelanja di sana sejak bulan pertama toko itu didirikan. Termasuk keluargaku.

Lalu secara perlahan, beberapa toko pakaian kecil dan sedang juga mulai muncul. Juga supermarket-supermaket yang menjamur. Sepertinya pasar tradisional akan mengalami banyak kesulitan di masa depan dan perlahan mulai ditinggalkan.

Bagaimana pun juga, jika pengunjung pasar menurun, itu juga masalah besar bagiku. Mungkin terdengar aneh, tapi siapa yang tahu pembeli yang datang awalnya hanya ingin membeli sesuatu dan tidak berniat membeli buah. Namun karena mereka lewat di lapakku, niat membeli buah pun muncul dan terjadilah transaksi.

Sampai sekarang aku tidak bisa membayangkan masa depan bisnis di pasar tradisional. Benar-Benar khawatir. Meskipun untuk sementara bisnis buah masih tetap normal dan tidak terjadi penurunan angka penjualan.

Dan pemikiran saat ini, aku sedang mengamati bisnis pakaian.

Harga Murah Vs Kualitas

Kalau dipikir-pikir, mungkin antara pemilik toko dan pedagang pakaian di pasar tradisional tidak benar-benar bersaing. Sudah jelas segmen pasarnya berbeda. Toko pakaian mungkin menonjolkan kualitas dan pedagang pasar tradisonal mengutamakan harga murah.

Tapi menurut beberapa pengalaman berdagang, jika boleh bertaruh, maka aku akan jujur menjagokan toko pakaian yang akan memenangkan hati pelanggan. 

Karena di lapak buahku pun orang mengatakan “Asalkan barang berkualitas, maka harga bukan masalah.”

Sebenarnya aku punya keinginan untuk berbincang dengan satu saja pedagang pakaian. Ingin bertanya beberapa hal. Agar aku tidak penasaran. Tapi itu sepertinya tidak mungkin mengingat aku tidak pandai bergaul dengan orang lain.

Salah satu pertanyaanku mungkin “Bagaimana omset pakaian di bulan Ramadhan sampai lebaran nanti?”

Jika menurun dari tahun-tahun sebelumnya, maka berarti pembangunan toko pakaian berimbas langsung pada penjualan pedagang pakaian di pasar tradisional. Namun jika tidak, sepertinya ini hanya bentuk lain pemikiran konyol lainnya.

Atau ada kemungkinan lainnya. Orang-Orang yang sudah berumur mungkin lebih suka berbelanja di pasar tradisional. Jadi, selama generasi tua belum banyak yang meninggal, maka pedagang pakaian bisa menghela nafas lega untuk sementara.

Namun jika pedagang pakaian pasar tradisional tidak bisa mengambil hati generasi penerus, maka masa depan menjadi lebih suram. Itu saja kesimpulannya.

Ada Kabar Baik

Aku sempat mendengar kabar akan terjadi pembangunan pasar Mojosari pada tahun 2018 nanti. Isunnya, rencananya pedagang pakaian akan dipindah ke lantai 2. Itu berarti dapat disimpulkan bahwa pembangunan nanti pasti merubah wajah pasar tradisional Mojosari secara drastis.

Karena akan ada bangunan bertingkat.

Jika sudah terjadi, pasti rasanya menyenangkan mengamati persaingan bisnis pakaian di Mojosari. Aku bahkan masih tidak tahu siapa yang akan menang jika itu benar-benar terwujud. Tapi kurasa akan ada peluang terjadinya keseimbangan antara kedua kekuatan.

Menjatuhkan Pilihan

Selama ini, persoalan pakaian, aku pasrah kepada ibuku. Aku tidak pernah membeli pakaianku sendiri. Jika aku menginginkan pakaian, aku tinggal bilang dan beberapa waktu kemudian aku akan mendapatkannya. Karena aku tidak bisa berbelanja.

Namun akhir-akhir ini aku juga ingin berbelanja sendiri. Hanya ingin mendapatkan pengalaman saja memilih sesuatu.

Masalahnya, aku termasuk orang yang tidak suka ribet dan suka melakukan sesuatu secara berulang kali. Kalau aku sudah membeli pakaian di toko A, maka hampir pasti aku akan selalu membeli di toko A di masa depan. Itu kebiasaanku.

Pilihannya sekarang aku harus memilih belanja di pasar tradisional atau toko modern? Atau mencoba berbelanja online? Sepertinya butuh beberapa bulan untuk menentukan pilihan hati.

Mungkin aku harus mencoba berbelanja di ketiganya dan membuat alasan masuk akal untuk memantapkan hati dalam memilih cara berbelanja pakaian untuk seterusnya.

Iklan

24 tanggapan untuk “Persaingan Pakaian di Mojosari

    1. Jaraknya saling berdekatan pak alris. Cuma satu gang saja. Tapi saya pikir pasti omsetnya turun pedagang pakaian di pasar tradisional. Soalnya saya ngeliat sekilas toko2 pakaian sangat ramai.

      Suka

        1. Yg sering dilewati pengunjung peluang terjualnya lebih tinggi ya mas. Itung itung hemat di promosi. Kalo ada yg bilang biaya sewa lapak di sebelah ‘sini’ lebih mahal dr situ, ada benarnya juga ya?

          Suka

        2. Rata2 lapak buah di pasar bukan menyewa mas, tapi sudah dibeli.

          Mungkin ada benarnya klo yg sering dilewati pengunjung akan lebih mudah menjual. Tapi menurut saya sama saja. Selama pelayanan dan harga dan kualitas dan brand dan apapun itu dilakukan dengan hati2 dan benar, maka bisa sukses kok di pasar tradisional.

          Disukai oleh 2 orang

  1. Saya termasuk yang suka belanja pakaian di pasar. Di pasar pakaian dengan kualitas mall bisa didapat dengan harga murah. Tentu saja modalnya berani nawar. Buat emak emak selisih 50-100 ribu dengan mall itu lumayan.

    Mukena misalnya, di mall 250k di pasar bisa separonya atau setidaknya tiga perempat harga maal asal berani nawar. Gamis atau dress muslim. Di mall bisa 500 ribuan sementara di pasar maksimal 300 sudah sama jilbab syari.
    Kalau mau murah lagi bisa online. 300 sudah sama ongkir. Cuma online beresiko bahwa pakaian nggak muat atau warnanya nggak sesuai gambar.

    Suka

    1. Sebenarnya memang lebih mudah online sekarang. Tinggal liat-liatyg pling cocok tanpa susah dan capek berkeliling-liling. Tapi benar risikonya klo pas gak muat atau barang tidak seindah foto produk.

      Di pasar tradisional memang lebih murah, cuma manajemennya saja yg kurang sehingga kalah bersaing dengan pasar modern. Klo dijalankan dengan profesional, saya rasa pasar tradisional sangat mampu menang melawan toko-toko modern.

      Suka

  2. Entah kenapa saya fokusnya ke “Sepertinya butuh beberapa bulan untuk menentukan pilihan hati”. Ya udah mas shalat istikharah dulu biar dapet hidayah bagusnya belanja dimana ahaha

    Suka

  3. Yap, btul. Harapkanlah generasi tua blm bnyak yg meninggal klo bgtu, dan jg smga gnrasi pnrus bs digaet trus πŸ˜‰

    Mau lbran ni mas Shiq4, saatnya berblnja; bli pkaian/busana baru.

    Suka

  4. Klo sglanya memungkinkan atau ada budgetnya sih, blnja di online, psar tradisionl dan modern pun bs dicoba. Cuma slma ini, aku bru nyoba blnja di psar tdisionl dan modern.

    Suka

    1. Iya. Perbedaannya cewek dan cowok besar banget klo soal berbelanja. Saya sih memang kebetulan gak,terlalu banyak pertimbangan, tapi klo cewek itu memang ribet dalam memilih dan berbelanja karena terlalu melibatkan emosi πŸ˜€

      Suka

    1. Wah iya ada prabu juga. Soalnya saya jarang lewat depan prabu atau berbelanja di situ. Cuma ibu dan adik saya dudah beberapa kali ke sana πŸ˜€

      Berarti prabu ramai sekali ya…. baru tahu saya πŸ˜€

      Suka

  5. Menurut saya baik itu pedagang baju di pasar tradisional maupun toko memiliki pelanggannya sendiri-sendiri. Terutama karena harga-harga di kedua tempat tsb sudah pasti berbeda.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s