Cinta Sejati (6) (Tamat)

Sumber gambar : cinta.love

Bagian satu, klik di sini (by Shiq4)

Bagian dua, klik di sini (by Cinta)

Bagian tiga, klik di sini (by Shiq4)

Bagian empat, Klik di sini (by Cinta)

Bagian lima, klik di sini (by Shiq4)

​Langit sengaja bangun pagi. Abdul dan Sholikin mengajak berangkat kuliah bersama, kebetulan hari ini mereka di kelas yang sama. Tapi Langit mengatakan kepada Dul dan Sholikin bahwa ia tidak kuliah karena ada urusan keluarga.

Langit ingin menceritakan masa lalunya bersama Endah dan mengapa ia harus putus dari Silfin, tapi ia mengurungkannya karena jam dinding menunjukkan pukul 07:30. Dan kuliah mereka dimulai tepat pukul 08:00 pagi. Dul dan Sholikin hanya mengucapkan ‘ooh..’  dan setelah berbasa-basi, mereka meninggalkan Langit sendirian.

Langit kemudian mencari pakaian yang “pantas” untuk bertamu ke rumah teman papanya. Setelah itu ia mengenakannya, memakai minyak wangi, menyisir rambutnya dengan rapi, dan mengatakan ia sudah terlihat sopan untuk bertamu.

Langit hanya memikirkan anak gadis teman papanya dan khawatir jika gadis itu menolaknya. Papanya pasti kecewa. Ia sendiri sudah berjanji kepada diri sendiri untuk mengiyakan perjodohan tersebut terlepas gadis itu menarik atau tidak. Ya…. Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Dan aku akan belajar mencintai gadis itu dengan segenap jiwa ragaku di hari-hari selanjutnya jika ia juga setuju tentang perjodohan ini, pikir Langit.

Langit memutuskan membaca buku Crying 100 Times sembari menunggu telepon dari papanya. Tepat pukul 09:30, ada SMS dari papanya. Langit keluar rumah dan menuju ke tempat di mana papa dan mamanya memarkir mobil. Hatinya agak berdetak dengan kencang, tapi bukan Langit jika tidak bisa bersikap tenang sedingin es. Semua akan baik-baik saja, gumamnya sambil melangkah.

******* 

Mobil itu menuju ke perumahan di sekitar Jalan Soekarno-Hatta. Langit tidak tahu perumahan apa, dan ia tetap santai. Sampai mereka berhenti di depan sebuah rumah yang agak besar. Halamannya hanya muat dua mobil dan ada taman kecil yang ditumbuhi pohon Palm dan beberapa bunga yang tidak diketahui oleh Langit. Di sinilah semua akan dimulai : impian tentang masa depan, pikir Langit.

Langit bersama kedua orang tuanya berjalan menuju pintu. Setelah menekan bel, seorang pembantu muncul dan mempersilakan masuk. Mereka lantas duduk dalam diam sambil menunggu tuan rumah. Tak berapa lama kemudian muncul Pak Budi dan Istrinya. Mereka bertiga tersenyum berdiri dan bersalaman dengan tuan rumah. Hanya Pak Joko yang mendekat ke Pak Budi dan kemudian memeluknya dengan hangat.

“Oh ini ya Langit…, Tampan sekali.” Kata Pak Budi

“Terima Kasih Om atas pujian. Saya merasa tersanjung.”Jawab Langit singkat disertai dengan senyum tulus.

Lalu Langit hanya mendengarkan obrolan basa-basi antara orang tuanya dengan tuan rumah. sampai gadis itu muncul. Dan pikiran Langit tiba-tiba pusing dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sementara gadis di depannya bergeming sambil berdiri. Sampai semuanya kembali normal karena suara Pak Joko, “Oh ini toh anaknya, cantik sekali”

Silfin terbata-bata tapi masih bisa mengendalikan diri, “Terima kasih atas pujiannya”. Dan Silfin duduk di samping kedua orang  tuanya. Baik Langit dan Silfin hanya diam, sementara kedua orang tua mereka membicarakan sesuatu yang menurut mereka tidak penting.

Sampai akhirnya Silfin pun memberanikan diri, “Maaf…. apa tidak sebaiknya saya dan anak om pergi ke taman depan untuk saling mengenal saja agar tidak menganggu pembicaraan?”

Dengan cepat Langit menyahut, “Setuju… Lebih baik seperti itu.”

Dan kedua anak muda itu seperti tidak tahu sopan santun. Keduanya langsung beranjak dan pergi seolah sudah mendapat persetujuan dari keempat orang yang paling berkuasa di kehidupan mereka. Hanya Bu Budi yang tetap tenang karena sudah mengetahui bahwa keduannya sudah saling mengenal.

“Sudah… Biarkan saja mereka berkenalan. Siapa tahu mereka cocok.” Bu Budi berkata dengan lembut untuk menenangkan suasana. Dan sepertinya ketiga orang lainnya setuju dalam diam dan melanjutkan obrolan. Mereka berempat membicarakan perjodohan keduanya.

********

Di sebuah taman kecil, seorang gadis berjalan di depan diikuti oleh seorang pemuda. Setelah itu Silfin berhenti,”Kita duduk di sini saja jika tidak keberatan.”

Langit masih setengah tidak percaya, tapi ia tetap tenang,”Baiklah… Di sini juga tidak apa-apa”

“Jadi, apakah kak Langit tahu apa yang sedang dilakukan kedua orang tua kita.”Silfin tampak bahagia.

“Tentu saja. Perjodohan. Dan yang kudengar, Pak Budi hanya memiliki satu anak perempuan. Aku masih tidak percaya jika benar-benar terjadi kebetulan yang aneh.”Langit ragu-ragu mengatakannya.

“Apakah kak Langit akan menerima perjodohan itu?”

Langit masih tetap tenang,”Papaku begitu menginginkan hal itu terjadi dan aku sudah berjanji kepada diri sendiri untuk menerima siapa pun anak Pak Budi. Jadi, keputusannya ada pada Silfin.”

Langit mengutuki dirinya sendiri. Sekarang papanya pasti kecewa karena Langit tahu dengan pasti bahwa Silfin akan menolak perjodohan ini setelah apa yang ia lakukan kemarin. Dan Langit sudah pasrah. Ia hanya menjadi Langit yang seperti biasanya, “Oh… ya… maaf ya tentang kemarin.”

“Aku akan memaafkan jika kak Langit mengatakan mengapa kak Langit melakukannya.” Untuk pertama kalinya Silfin memegang kendali ketika berbicara dengan Langit.

“Aku hanya merasa cemburu. Silfin mengingatkanku dengan Endah. Jadi, aku melampiaskannya kepada Silfin.”

“Hanya itu saja?” Silfin masih menahan senyumnya.

“Baiklah…. Dulu ada yang sepertimu. Namanya Endah. Dia menyatakan cinta kepadaku. Tapi kemudian ia mempermalukanku dan mengatakan bahwa ia berpacaran denganku hanya sebagai permainan dengan teman-temannya saja. Padahal aku menyukainya.”

Langit menatap mata Silfin dan melanjutkan.”Dan meskipun sebenarnya aku tidak mencintai Silfin, aku merasa dikhianati. Dan aku tidak bisa mengendalikan diriku. Tapi aku senang hal tersebut terjadi. Setidaknya Silfin tidak akan mengangguku lagi.”

“Oh… jadi seperti itu ya. Baiklah…. aku akan memaafkan Kak Langit. Tapi aku baik-baik saja. Dan jika perjodohan ini terserah padaku, maka kak Langit sudah tahu jawabnya”

Langit tidak bisa menahan senyumnya, “Apakah Silfin mau mendengarkan kisah yang aneh?”

“Tentang apa?”

“Dulu sekali, ketika aku putus dengan Endah, aku berlari keluar sekolah. Aku hanya berlari saja tanpa tujuan. Sampai di tengah jalan, ada gadis yang berteriak minta tolong. Aku menolongnya, tapi berakhir dengan babak belur karena dikeroyok tiga orang.” Langit berhenti sejenak untuk melihat reaksi Silfin.

“Lalu apa yang terjadi?” Mata Silfin berkaca-kaca.

“Aku beberapa kali melihatnya di luar sekolah. Dan kupikir ia sedang mencariku karena merasa bersalah atau ingin sekadar mengucapkan terima kasih. Tapi aku tidak pernah menemuinya. Sampai ia muncul dan menceritakan kisahnya sendiri.”

“Sejak kapan kak Langit mengetahuinya” Silfin tersenyum, tapi seperti tidak percaya.

“Sejak Silfin ke kosku. Pagi itu…. setelah kita mengobrol, aku sudah menyadarinya. Karena aku ingat nama di baju gadis itu sebagaimana Silfin mengingatku.”

“Kak Langit benar-benar mengerikan. Seperti bisa membaca pikiran orang. Apa memang Kak Langit hanya mempermainkanku?”

“Tidak seperti itu. Kupikir Silfin gadis yang baik dan akan menemukan lelaki yang lebih pantas. Jadi, aku hanya ingin memberi Silfin kenangan yang indah dan kemudian mengatakan putus. Itu saja. Lagipula aku berpacaran hanya karena desakan Abdul dan Sholikin saja.”

Langit diam sejenak dan kemudian melanjutkan, “Juga karena aku tahu bahwa akan ada perjodohan. Kurasa aku sudah bijaksana.”

“Apakah Kak Langit pernah mencintaiku?” Silfin tertawa-tawa.

“Tidak di masa lalu. Tapi aku belajar melakukannya di masa depan.”

Silfin bahagia. Sebenarnya ia sudah memikirkan banyak kata untuk menolak dengan sopan siapa pun lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Tapi itu perbuatan yang sia-sia. Karena ia merasa menjadi wanita paling beruntung sedunia. Dan kali ini, ia yakin Langit bersungguh-sungguh dan sedang tidak mempermainkannya.

“Aku juga akan belajar lebih mencintai Kak Langit.”Kata Silfin. (Tamat….)

Iklan

14 tanggapan untuk “Cinta Sejati (6) (Tamat)

  1. Betul tebakanku ternyata..

    Itulah cinta sejati, apa dan bagaimanapun jln2 yg hrus dilalui, ujung2nya dipersatukan juga.

    Keren endingnya, walau pembaca dibiarkan menyimpulkan sendiri momen/kisah2 slnjutnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s