Rasanya Dibenci Itu…..

โ€‹Sumber gambar : bintang.com

Saya memiliki pendekatan yang berbeda dengan bapak dan ibu dalam menjalankan jual beli. Mereka berdua banyak mengajarkan saya mengenai berdagang dan saya menyukai apa yang terjadi.

Bukannya meremehkan ilmu dan pengalaman kedua orang tua saya, tapi dari beberapa segi saya masih melihat banyak hal yang perlu dibenahi dalam pengelolaan lapak buah kami.

Semenjak ibu mengatakan akan menyerahkan lapak buah kepada saya, saya telah banyak merenung memikirkan kelanjutan bisnis tersebut.

Dan beberapa perubahan kecil yang saya lakukan beberapa bulan terakhir membuat saya dibenci pelanggan. Tapi itu yang harus dilakukan. Dan di masa depan masih banyak perubahan yang diperlukan jika ingin mengembangkan bisnis ke arah yang lebih baik.

Anda Harus Membayar Apa yang Anda Makan

Saya sudah terkenal sebagai pedagang yang pelit. Sudah tidak terhitung berapa banyak pembeli yang menggerutu, bahkan mengatakan secara langsung bahwa saya pelit.

Hal tersebut bermula dari kebiasaan pembeli yang suka memakan buah (mencoba) dengan seenaknya sendiri. Awalnya saya hanya menganggap kejadian tersebut bagian dari jual beli dan wajar, namun ternyata mayoritas orang memang tidak bisa menjaga kelakuannya.

Seharusnya mereka meminta ijin dulu sebelum mencoba sehingga ada unsur kerelaan dari saya sebagai penjual. Tapi mereka tidak pernah melakukannya. Anehnya saya sering merasa gregetan sendiri dengan ulah semacam itu. Saya merasa tidak rela.

Sadar hal tersebut membuat keadaan tidak membahagiakan di tempat kerja, saya punya aturan berjualan sendiri : Anda membayar apa yang Anda makan.

Saya menyuruh pembeli membayar apa yang mereka makan tanpa seizin saya. Dan kejadian selanjutnya, banyak yang protes dan menuduh saya pelit.

Kadang saya heran sendiri mengapa pembeli tidak sadar bahwa sangat penting meminta ijin terlebih dahulu sekadar menghormati saya. Dan hal tersebut tidak bisa dibiarkan.

Padahal rata-rata usia mereka sudah jauh di atas saya, apa saya harus kurang ajar mengajari mereka sopan santun?

Bagian penting lainnya, jika mereka minta ijin terlebih dahulu, maka saya akan mempertimbangkannya. Kalau harga buah sedang murah, mungkin saya bisa dengan ikhlas memberi ijin untuk mencoba. Tetapi jika harga sedang mahal, maka mereka juga harus memaklumi ketidakrelaan saya.

Gossip beredar dengan cepat. Terkadang saya merasa tidak disukai pembeli. Tapi ini bisnis. Tidak ada yang memaksa siapa pun untuk membeli dari saya. Dan saya tetap menerapkan aturan tersebut.

Jual beli dilandasi rasa suka sama suka yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Jika ada salah satu pihak yang keberatan, maka sebaiknya membatalkan transaksi. Itu aturan sederhana yang saya gunakan sebagai dasar pemikiran kebijakan di lapak buah saya.

2. Potongan Harga

Kejadian lanjutannya, saya sendiri sering merasa (melihat), ada orang yang berhenti di lapak buah, dan ketika melihat saya yang jaga, mereka tidak jadi beli.

Atau ketika mereka selesai belanja, mereka akan mengatakan bahwa saya tidak seperti bapak ketika melayani mereka. Dan itu memang benar.

Bagian buruk lain yang terjadi di lapak buah saya adalah fakta bahwa keuntungannya sedikit, bahkan jika buah-buahan terjual habis.

Karena cukup sering terjadi, maka asumsi saya, penyebabnya adalah kebiasaan bapak yang sering memberi diskon. Bapak orangnya tidak banyak perhitungan dan “terlalu baik” dalam memberi diskon kepada pembeli. Itu juga faktor mengapa bapak disukai orang lain.

Sejauh ini bisnis masih berjalan dengan baik dan mendatangkan keuntungan, tapi terjadi ketidaksetaraan antara risiko dan keuntungan.

Sepertinya bapak punya aturan : Selama harga jual di atas harga beli, maka lepaskan. Artinya fokusnya menjual barang sebanyak mungkin. Untung sedikit, tapi kalau volume penjualan besar, maka untungnya ikut besar.

Tapi itu juga berarti kerja keras. Bapak tidak menghitung tenaga yang dikeluarkan ketika harus menunggu pasokan di juragan, biaya kuli, atau beban lainnya. Menurut saya, keuntungannya tidak sepadan dengan kerja dan risiko.

Risiko besar, maka harus mengambil untung yang lebih besar. Itu aturan saya.

Pada akhirnya, saya juga tidak sembarangan memberi diskon. Kecuali jika mereka membeli banyak item dengan nominal yang tinggi.

Dan sepertinya saya bertambah pelit. Tapi saya yakin dengan aturan tersebut dan sudah mencoba beberapa konsep pemberian diskon. Semua akan tampak jelas ketika saya diberi kuasa penuh mengelola lapak buah karena saya akan membuat pembukuan sehingga semua aktivitas terlacak dengan baik dan saya mampu menentukan kebijakan yang tepat.

Niat, Cara, dan Tujuan yang Baik

Tapi tidak semuanya menjadi lebih buruk. Saya sudah punya pelanggan sendiri sekarang dan perkembangan yang terjadi membuat saya senang.

Sebagai hiburan, akhirnya tadi malam saya dapat pencerahan untuk mengatasi kejadian-kejadian buruk yang berasal dari pelanggan.

Bagaimana pun juga, merasa dibenci orang lain itu membuat tidak nyaman. Tapi aturannya hanya satu, yakni niat, cara, dan tujuan haruslah baik.

Saya berniat bekerja untuk mendapatkan uang yang halal. Dan tidak ada niat menipu atau mencurangi siapa pun.

Dan caranya pun sudah baik. Saya membuat aturan sendiri. Dan jika ada yang keberatan dengan kebijakan saya, maka mereka bebas membeli buah di tempat lain.

Dan terakhir tujuan. Tujuan saya mendapatkan keuntungan yang setara dengan risiko. Kalau bisa sebesar-besarnya untuk mengembangkan bisnis ke level selanjutnya. Agar ilmu ekonomi di masa kuliah bisa berguna untuk mendapatkan pengalaman bisnis yang lebih banyak lagi.

Karena tidak ada unsur merugikan orang lain atau hal-hal yang dilarang agama, maka saya sudah cukup yakin bahwa semuanya baik-baik saja.

Jadi, biarkan saja orang berkata apa dan mari belajar menjadi pedagang yang lebih baik lagi.

Rasa Takut

Sebenarnya masih banyak lagi sih keluhan pembeli terhadap saya. Mereka sering mengatakannya di depan saya.

Awalnya saya biarkan saja, tapi lama kelamaan risih juga karena mereka mulai menyerang saya secara verbal.

Saya mendengarkan ucapan mereka, memikirkannya dengan baik di waktu luang, dan menjawab semua perkataan yang menurut saya keterlaluan.

Padahal mereka bisa loh pergi ke penjual buah lain dan mengapa harus mengusik ketenangan hidup saya ha ha ha…….

Tapi jika mereka memaksa, saya juga manusia biasa yang punya kemampuan adaptasi yang hebat. Lama kelamaan saya terbiasa menangani keluhan-keluhan pembeli dengan baik dengan menjawab dengan elegan dan sopan. Benar-Benar permainan yang indah.

Ada juga sih rasa takut semakin dibenci, tapi bukan saya yang memulai perang. Saya berdagang dengan jujur dan tidak berniat mencurangi siapa pun. Bahkan saya membantu pembeli mendapatkam buah berkualitas baik.

Mungkin keyakinan saya diuji, bisakah saya punya kepasrahan bahwa Tuhan yang mengatur rezeki dan tetap teguh pada pilihan yang saya anggap benar?

Hanya waktu yang akan mengajari saya mendapatkan kebijaksanaan hidup. Dan saya harus selalui siap belajar dari hal-hal buruk atau hal-hal baik dalam hidup ini.

Kalau Anda, apakah pernah merasa dibenci seseorang? Apa yang Anda lakukan? Bagikan di kotak Komentar.

Iklan

26 tanggapan untuk “Rasanya Dibenci Itu…..

  1. Saya pengen banget jadi pedagang malah (sayangnya gak berkejiwaan wirausaha ๐Ÿ˜).

    Dagang itu (ekonomi riil), karena berhubungan dengan orang secara langsung, kesempatan sedekahnya tinggi. Minimal senyum, kalo bisa menyenangkan pelanggan ๐Ÿ˜

    Uwaah…kayaknya asik banget.

    Suka

    1. Iya. Bisa banyak sedekah. Klo dalam ekonomi disebut CSR artinya perusahaan ikut bertanggung jawab secara sosial dengan memberikan sedikit keuntungan untuk kegiatan sosial seperti pembangunan masjid, menyantuni anak yatim, memberi bea sisiwa dan sebagiannya. Saya sudah memikirkannya dan mulai menjalankan CSR meskipun junlahnya sedikit sih. Cuma bisa memberi kepada pengemis dan anak jalanan yang minta buah atau uang.

      Suka

      1. Mulai menjalankan CSR?

        Waa keren bisa menyantuni anak yatim. Saya punya hasrat terpendam juga pengen bisa begitu. Apalagi setelah nyoba “kehidupan” lembaga zakat ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

        Suka

        1. Oiya, kalo saya dibenci…. ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ. Saya orang baperan. Kalo bisa jangan dibenci. Hiks

          Suka

        2. Iya… kalau punya banyak penghasilan lebih berarti lebih banyak yang bisa disumbangkan. Setidaknya hidup bisa lebih penuh jika bernanfaat bagi manusia lainnya. Saya pingin niru bill gates yang menyisihkan banyak uang untuk keperluan amal.

          Suka

        3. Aamiin aamiin. Berusaha yang terbaik ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ. Stay post poitive article ya Bang. Energi kebaikan itu menular #tsaaah

          Suka

  2. Wah, mas Shiq4 smkin mndpt pnglman tu dlm berjualan. Emang sih ya, org yg sudah terpapar dg teori dan ilmu ekonomi psti bda lah caranya berdagang, dmkian jg halnya Anda dan ortu Anda itu. Nurut sya juga, kebijakan atau pmbnahan2 yg Anda lkukan itu msuk akal, tp syangnya dlm dunia nyata, pmbeli pun bnyak yg gak msuk akal, mntal mreka kdang bisa menyebalkan, aplgi klo udah trbiasa dg zona nyaman sblum2nya.

    Tp emang sulit jg sih trkdang klo trllu kaku dlm brjualan. Ibu sya jg pdagang syur mas, blia punya lpak sendiri (bkn di psar), kdang bliau jg suka bri diskon saat berjualan sayur, dan sampai saat ini msh sngat disukai pmbli, keuntungan pun ttp ada, wlau mungkin klo dianalisis scra kalkulatif mungkin sja gak sebanding dg usaha.

    Smoga mas Shiq4 sukses dech mnjlnkan lpaknya

    Disukai oleh 1 orang

    1. Terima kasih mas desfortin atas dukungannya.

      Saya juga masih memberi diskon kok. Cuma untuk pelanggan tertentu yang saya sukai. Juga jika mereka membeli dalam jumlah besar. Atau ketika barang sedang murah. Tapi klo harga di pedagang sedang mahal, maka diskon terpaksa tidak diberikan agar roda bisnis tetap berjalan.

      Disukai oleh 1 orang

  3. Oya, klo sya dibenci, spnjang yg saya lakukan tdk bertentangan dg prinsip2 kbnran atau mrugikan org yg mmbnci itu sys nyantai aja, tp klo yg sya lkukan emang kliru, ya sya biasanya mrenung, lalu berbenah.

    Suka

  4. Menurut saya kalau orang tsb memang berniat membeli harusnya ia tak terlalu mengharapkan diskon.

    Saya jarang dibenci tapi sering diabaikan. ๐Ÿ˜ข

    Suka

    1. Klau diabaikan saya jarang mas firman. Soalnya kurang pergaulan saya wkwkw…..

      Oh ya…. Komentar saya dua kali belum muncul di postingan review bukunya, pasti masuk spam kayaknya. Tolong dicek ya……

      Disukai oleh 1 orang

  5. Ya itulah orang-orang pada umumnya… Seharusnya mereka mengerti bahwa kita sebagai seorang pengusaha ingin agar tetap seimbang, baik untuk hasil penjualan kita maupun kepuasan seorang pembeli… Tapi saya percaya, pelanggan sesungguhnya akan tetap setia membeli di lapak mas.. Semangat terus mas!

    Suka

    1. Ada kok yang masih tetao membeli. Lagian saya nggak melakukan pelangfaran moral atau hukum. Jadi saya santai saja menghadapinya. Cuma klo bisa ya tetap disukai orang lain.

      Disukai oleh 2 orang

      1. Ini memang dualisme alam -_-, kwkwkw…
        Ada yang baik dan ada yang buruk… penyeimbang dunia kwkwkw..

        Suka

  6. Pengalaman yg menarik mgk pelaggan bingung dan msh mengalami masa transisi dr manajemen bpk dan masnya. Mgk berdiskusi dg bpk agar menyamakan visi dan cara berjualan shg pelanggan bisa memahami aturan baru dan mas tdk jd pihak yg dianggap krg menyenangkan

    Suka

    1. Ide bagus. Cuma saya sulit berbicara dengan bapak. Beliau sudah nyaman dengan cara,kerjanya dan selama ini berhasil. Lebih baik dibiarkan saja begitu. Lagian bapak sudah tua. SEdangkan saya menggunakan cara saya sendiri untuk mencari pelanggan yg menyukai saya. Ada kok orang2 yg lebih menyukai saya.

      Suka

  7. Seharusnya kalau mau mencoba buah memang harus minta izin dulu sih yaa ke pedagangnya.. agak engga sopan juga kalau langsung asal comot tampa seizin yang punya..

    Suka

    1. Iya itu yg gak saya suka. Apalagi pas harga buahnya mahal. Pas saya suruh bayar malah marah2. Oh ya… mas fahrizinfa kartu posnya nunggu yg dari spanyol belum tiba. Klo salah kirim dan gak nyampai nanti cuma saya kirimkan kartu pos dari jerman aja ya. Maafloh. Ini udah berapa lamakok belum sampai ha ha ha……

      Suka

Komentar ditutup.