Ayam Berwarna Biru

Ayam berwarna biru

Beberapa bulan yang lalu ada pasar malam di daerahku. Semua anggota keluarga pergi dan aku sendirian di rumah. Aku tidak ikut pergi. Kupikir itu hanya bisa menyenangkan gadis-gadis baru gede dan anak-anak saja. Atau ibu-ibu yang terpaksa ikut pergi untuk membeli mainan atau mengajak anak mereka. Atau mungkin para pria yang berusaha tersenyum karena menemani kekasihnya berkeliling di pasar malam. Bagiku pasar malam sesuatu yang membosankan dan tidak menarik.

Tapi kemudian aku berubah pikiran. Kupikir akan menyenangkan untuk meliput acara tersebut dan memposting di blogku. Hitung-Hitung untuk menambah koleksi konten. Jadi, sebelum pukul sembilan malam, ketika anggota keluarga lainnya pulang, aku memutuskan untuk pergi seorang diri. Tidak lupa aku meminjam handphone ibu untuk mengabadikan pasar malam.

Tapi semua yang kupikirkan tidak berjalan dengan baik. Setelah tiba di lokasi, aku mengambil gambar beberapa kali, namun hanya menghasilkan foto-foto yang tidak menarik dan buram. Kurasa pencahayaannya sangat kurang dan kamera handphone tidak cukup berkualitas. Maka aku pun langsung membuang jauh-jauh ide menulis tentang pasar malam.

Anehnya aku tidak langsung pulang. Kupikir aku akan membeli rokok terlebih dahulu untuk jatah nanti malam. Jadi, kulangkahkan kaki di kerumunan orang-orang menuju penjual rokok. Setelah mendapatkan rokok, aku berjalan lagi menuju rumah.

Di tengah perjalanan itulah aku melihat penjual barang-barang dari tanah liat. Ada mainan anak-anak dan sebagiannya. Tapi aku tertarik dengan celengan ayam berwarna biru. Saat itu juga, kupikir aku akan menggunakan celengan ayam untuk menabung. Mungkin akan kuisi dengan lembar Rp 50.000,00 dan Rp 100.000,00. Aku tersenyum puas dengan ide jenius tersebut dan tidak sabar untuk segera memulai menabung menggunakan celengan.

Setelah aku bertanya, seekor ayam berwarna biru yang tampak indah dibandrol dengan harga Rp 25.000,00. Murah sekali. Aku meminta penjual menyisihkan satu ayam terlebih dahulu karena aku tidak membawa uang. Lalu dengan semangat aku bergegas pulang dan mengambil uang yang dibutuhkan. Dan ayam biru akhirnya benar-benar menjadi milikku malam itu.

Lalu aku bercerita kepada ibu tentang ide yang menurutku jenius. Tapi ibu hanya tertawa-tawa saja karena harganya terlalu mahal. Yang paling konyol adalah ketika ibu mengatakan bahwa ayam biru yang kubeli tidak bisa menyimpan uang kertas. Katanya karena terbuat dari tanah liat, udara di dalam celengan menjadi lembab sehingga bisa merusak uang kertas. Karena ibu mengatakannya dengan tertawa, kupikir ia sedang bercanda. Tapi ketika kutanya apakah ibu benar-benar serius, ia tidak menjawab dan berlalu saja.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Apa benar ayam biruku tidak bisa untuk menyimpan uang kertas? Antara percaya dan tidak percaya, aku terus memikirkannya. Bahkan aku sudah sangat ingin memasukkan sebuah lembar Rp 50.000,00 malam itu juga. Bagaimana kalau ibu sedang tidak bercanda, bisa-bisa semua uang yang kumasukkan rusak. Tentu saja aku akan sedih jika itu benar-benar terjadi.

Baru keesokan paginya aku dapat kepastian setelah bertanya lagi. Ternyata ibu sedang tidak bercanda tadi malam. Dan anggota keluarga lainnya menertawakanku. Kata ibu kalau mau menyimpan uang sebaiknya membeli celengan dari plastik saja biar lebih aman. Ibu juga sempat menyindirku kalau ingin apa-apa sebaiknya bicarakan dulu biar tidak terjadi kesalahan seperti ini.

Untung ada sedikit angin hiburan. Keponakanku yang masih berumur sekitar tiga tahun menyukainya. Dan ide di kepalaku mengatakan untuk memberikan ayam itu kepada adikku mengingat anaknya menyukainya. Agar tidak menjadi sia-sia uang Rp 25.000,00. Siapa tahu bisa dipajang di rumahnya. Lagipula ayam biruku terlihat cantik. Cocoklah di taruh sebagai hiasan.

Sayangnya hal tersebut tidak pernah terjadi. Adikku pulang sebelum aku mengatakan untuk membawa saja ayam biruku. Dan ayam itu terus berada di bawah meja di hari-hari berikutnya. Menganggur dan tidak digunakan.

Karena aku tidak suka menyia-nyiakan sesuatu, maka kuputuskan untuk mengisi ayam biru dengan koin Rp 500,00 saja. Sepertinya akan menyenangkan memiliki banyak uang koin. Aku bahkan bertanya berapa banyak koin yang bisa masuk dalam ayam biruku. Kalau sudah penuh, aku akan mencari ayam biru lainnya. Jadi, aku akan punya banyak ayam biru yang penuh dengan koin-koin.

Koin itu sendiri biasanya merupakan uang kembalian ketika aku membeli rokok. Jadi, tidak ada rencana khusus. Aku hanya rutin memasukkan koin-koin yang kumiliki. Begitu saja setiap hari. Kalau tidak punya koin, maka aku pun tidak berusaha mencari koin atau menukarkan uangku.

Aku sudah tidak sabar dengan rencanaku. Komentar seperti apa yang kudapatkan jika aku mengoleksi ayam-ayam biru berisi koin. Lagipula aku juga berencana mencari ayam lain yang terbuat dari plastik. Daripada harus bolak-balik ke bank untuk menabung, lebih baik aku menabung saja sendiri seperti orang-orang jaman dulu. Siapa tahu metode ini cocok untukku mengingat aku paling tidak bisa menjaga tabunganku tetap utuh.

Kalau sudah masuk, aku tidak akan memecahkan ayamku. Aku berjanji. Aku baru akan memecahkannya ketika jumlah ayamku sudah banyak. Begitulah ide jenius lainnya yang terbersit di pikiranku saat menulis postingan ini. Apakah aku akan sukses menjalankan misi ini? Tunggu lanjutan kisahnya di postingan-postingan selanjutnya.

Kalau teman-teman lainnya, apakah pernah punya pengalaman dengan binatang sejenis ayam biru? Bagikan di kotak komentar.

Iklan

30 tanggapan untuk “Ayam Berwarna Biru

    1. Saya juga mau nyari celengan dari plastik aja mbak ida. Mau nyoba ngumpulin uang tapi tidak untuk dibelanjakan. Penasaran berapa banyak celengan yg bisa saya miliki sebelum benar2 memecahnya.

      Suka

  1. Kita punya juga lho. Waktu kecil, waktu sempat tinggal bersama nenek. Ayam dan ikan mas. Yang ikan mas dipajang di dinding rumah nenek, di dekat ruang makan. Gak ada yang tau isinya uang “limper.” Begitu udah beberapa bulan, kita pecahin dan beli mobil-mobilan kayu mereknya nama bus PO. Sibual-Buali. Asyik rasanya waktu itu. Kalau saat ini, ayam itu ada yang juaal dekat rumah saya. Nanti saya cari tau infonya.

    Suka

    1. Ah sepertinya masa kecilnya menyenangkan. Klo saya ini baru pertama kali beli celengan. Pingin nyoba aja. Moga aja setelah punya celengan plastik saya lebih sering menyisihkan uang. πŸ™‚

      Disukai oleh 1 orang

  2. Celengan saya yang paling awet dari kecil sampai saya SMA adalah celengan plastik berbentuk ayam berwarna merah. sebelum akhirnya rusak karena sobek bagian bawahnya. Pernah punya yang dari tanah liat Mas, bentuknya ayam jago kalau ndak salah… tapi pecah di hari kedua karena jatuh. T.T akhirnya ga mau pake celengan tanah liat lagi.

    Kalau sekarang masih suka nyelengi uang koin dan kertas, pakai celengan hello kitty warna pink..wkwkwk. cewek banget celengannya.

    Suka

    1. Saya dari kecil nggak pernah punya celengan. Pling cuma buku tabungan. Itulah kenapa saya langsung beli nih celengan pas ngeliat.

      Ya mungkin celengan hello kitty itu fungsinya sebagai keindahan juga. Juga sebagai penguat identitas kita. Yg penting kita bahagia. Saya aja merasa ayam biru saya bagus ha ha ha…….

      Disukai oleh 1 orang

    1. Ha ha ha….. Sekarang pun uang jajan saya pas-pasan mas firman. Cuma berdasarkam pengalaman, lama-kelamaan pola pengeluaran kita akan semakin menurun karena perasaan senang memicu tindakan untuk menabung lebih banyak lagi.

      Suka

  3. Emang bagus celengannya ya, ngecatnya rapih banget πŸ‘ dlu punya bentuknya kuda klo ga salah, uang yg aku simpen emang kbnyakan receh, walaupun ada kertas paling 500/1000, klo yg nominalny gede masuk tabungan bank, klo massih kecil titipin ortu πŸ˜‚

    Disukai oleh 1 orang

  4. Awalnya saya pikir ayam beneran, haha…. tp msa ada ayam brwarna biru, upanya celengan…

    Koq mlm itu mas Shiq4 balik ke rumah utk ambil uang, gak jauh ya dari rumah?

    Pnglman lucu tp menarik utk dibagikan, seorang penulis dg ide cerdas utk menabung, tp syang dianggap tdk cerdas oleh yg lain, krn memang sebaiknya utk menyimpan uang krtas di celengan plastik, bkn dari tanah liat, tapi kemudian sya jd brtnya, si pembuat celengan ayam biru itu kira2 membuatnya apakah itu khusus utk koin sja?

    Suka

    1. Iya mas desfortin pasar malamnya di gang depan rumah. Menurut saya celengannya tujuannya sudah beralih fungsi, bukan untuk menyimpan uang lagi, melainkan menitik beratkan untuk pajangan sepertinya mengingat bentuknya yg indah.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s