Memandang Langit

​Sumber gambar : digaleri.com

Aku tidak suka memandang langit. Aku hanya melakukannya jika benar-benar bosan dan tidak ada pekerjaan atau sedang bersedih. Dan sepertinya aku sudah lupa pemandangan langit karena sudah terlalu lama aku tidak melakukannya.

Pernah di suatu siang, ketika lapak buahku sepi, aku tiduran dan menemukan awan-awan yang berbentuk seperti manusia. Bentuknya tidak begitu jelas, tapi memang seperti manusia. Ada juga bentuk anjing yang tidak sempurna. Benar-Benar pengalaman aneh.

Aku hanya memandanginya saja. Pikiranku kosong. Kurasa gerakan lambat awan-awan itu begitu indah. Sedikit demi sedikit gambaran yang kulihat memudar, kemudian berubah menjadi bentuk lain. Meskipun terlihat begitu lambat, aku tahu angin di atas sana bisa berpotensi menerbangkan sebuah pohon besar saking kencangnya.

Aku juga tahu bahwa hanya dengan memperhatikan pergerakan awan, seorang ahli geografi bisa memprediksi hadirnya hujan. Aku pernah nonton film seperti itu. Manusia yang punya sensitivitas tinggi, merasakan angin, merasakan suhu udara, merasakan pergerakan burung-burung, dan pergantian awan yang cepat. Dan ia benar ketika memprediksi hujan akan turun.

Jangan pernah kau anggap aku gila, tapi aku pernah mencobanya. Melihat langit, merasakan hembusan angin, mencoba memahami kehangatan udara yang menerpaku, dan kemudian menebak. Tapi sia-sia saja. Ini bukan sesuatu yang bisa dipelajari secara otodidak. Kalau pun bisa, aku pasti sudah sangat tua ketika berhasil menguasainya. Kupikir ini sesuatu yang konyol karena lebih mudah melakukannya dengan melihat prediksi cuaca di saluran berita.

Bagiku sendiri luasnya langit merupakan simbol betapa luasnya ilmu pengetahuan. Ada pepatah bijak yang mengatakan “Di atas langit masih ada langit”. Itu membuatku selalu punya motivasi tinggi dalam belajar sejak masih kecil. Suatu hari nanti, aku ingin menjadi langit itu. Kemudian mencoba membuat orang lain terbang agar sejajar denganku.

Aku juga pernah sangat kesepian. Memandang langit malam yang penuh dengan kecemerlangan bintang-bintang. Tapi ketololanku masih saja berlanjut. Pernah juga aku mencoba menerka bentuk-bentuk tertentu atau pola-pola bintang seperti rasi bintang tertentu. Padahal aku buta arah. Dan benar saja, aku tidak bisa melakukannya sebagaimana ketika aku memprediksi hujan. Andai saja ada orang yang mengajariku, tentu aku akan bahagia.

Di malam hari kejadiannya lebih aneh. Aku pernah melihat bulan dengan begitu jelas sampai aku mampu melihat permukaan bulan dengan jelas. Mirip keju. Sekarang aku tahu mengapa di film Tom and Jerry, film yang sering kutonton di waktu kecil, selalu menggambarkan bulan sebagai keju raksasa.

Kalau yang paling parah, langit mengingatkanku pada keputusasaan. Ketika aku benar-benar hancur, aku mencari Tuhan di langit. Semacam kepercayaan orang bodoh bahwa Tuhan akan mengasihaniku, bahkan jika kejadian buruk yang menimpaku merupakan akibat dari spektrum ketololanku yang lainnya. Tapi Tuhan harus sempurna. Ia harus selalu ada. Setidaknya aku yakin bahwa Tuhan mendengarkan semua keluhanku, kemudian Ia akan mengasihaniku, dan semua akan membaik. Aku masih meyakini hal semacam itu. Dan jika aku hancur lagi, maka aku akan mencari Tuhan di langit seperti biasanya. Itulah mengapa aku tidak pernah takut akan gagal.  Bahkan setelah banyak mengalami rasa sakit.

Di masa sekarang, sepertinya aku sudah jarang memandang langit. Ada kerinduan di hatiku seperti mengajakku untuk melakukannya akhir-akhir ini. Namun aku selalu sibuk. Ada banyak buku yang harus kubaca. Lagipula sekarang masih musim hujan. Jadi, kesempatan mendapatkan langit yang indah cukup sulit dan lebih baik menunggu musim panas untuk melakukannya.

Tapi itu juga pertanda bahwa aku bahagia dengan kehidupanku saat ini. Kuharap aku akan punya kebiasaan memandang langit di hari esok. Seolah mengatakan kepada Tuhan, “Terima kasih karena Kau selalu ada.”

Sepertinya bukan ide buruk. Dan aku akan melakukannya.

Iklan

14 tanggapan untuk “Memandang Langit

  1. Wah saya justru orang yang suka memandang langit. Dari kecil. Ketika masih suka ikut Bapak ke sawah. Saya suka berbaring dibawah pohon pisang.. tiduran. Lalu puas2 mandang langit.

    Sepertinya tiap orang punya makna sendiri2 ketika memandang langit ya Mas Shiq..

    Suka

    1. Ya begitulah. Sebenarnya saya yakin malahan ada orang yg terlalu sibuk sampai ia tidak pernah memperhatikan langit. Tapi ya begitulah manusia, hal-hal sepele yg luar biasa sering terlewat. Memang kita punya kebiasaan masing2. Manusia memang aneh ya hua ha ha……..

      Disukai oleh 1 orang

  2. Dulu, dulu sekali, memandang langit sambil berjemur di pagi hari adalah salah satu kegiatan favorit saya.

    Perpaduan hawa dingin pegunungan tempat saya tinggal dan sinar matahari pagi yang menghangatkan membuat saya bisa betah berlama-lama melakukannya.

    Itu adalah jaman indah pra-smartphone yang ingin saya ulangi lagi kalau bisa.

    Suka

    1. Kalau di daerah pegunungan malah asyik malah, klau bisa nemu spot yg bagus hamparan langitnya bakalan indah. Pasti itu pengalaman yg menyenangkan sampai ingin mengulanginya lagi. Emang sekarang saya juga mulai kebiasaan ngeliat smartphone terus sejak bangun tidurr malah. Tapi nggak sampai addict banget.

      Disukai oleh 1 orang

  3. Kita melihat apa yang ingin kita lihat, begitu kata orang. Kayaknya rata2 anak kecil suka ya liat ke langit, tertarik sama awan, tapi ada yg tumbuh besar dan kehilangan semua rasa ingin tahu itu, ada juga yang masih ingin tahu. 🙂

    Suka

    1. Ya sebenarnya hal-hal kecil seperti memandang langit banyak dilewatkan oleh orang. Orang2 zaman sekarang terlalu sibuk mencari hiburan padahal banyak keindahan di sekitar kita yg tidak kita sadari. Termasuk memandang langit.

      Suka

  4. aku penyuka langit, banyak foto foto langit yg lebih banyak asal aku jepret…pas dilihat lihat… kadang awannya menyerupai apalah gitu hehe…
    lebih suka memandang langit yg berwarna kemerah merahan…tapi jarang banget…

    Suka

    1. Wa ha ha……. Kita beda ya. Ntahlah saya melakukannya pas tidak punya waktu saja. Tapi nggak sampai berburu ngeliat bentuk-bentuk awan gitu. Klo kebetulan ada yg kayak gitu ya syukur ha ha ha…….

      Klo yg warna kemerah-merahan berarti waktunya berbuka dong :).

      Suka

    1. Iya kadang memandang di siang hari, kadang juga di malam hari. Di tempay saya susah dapat pemandangan langit yang indah soalnya ketutup rumah2. Maunya di tanah lapang gitu, cuma udah jarang ada tanah lapang untuk melihat hamparan langit.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s