Review Anime : Shigatsu wa Kimi no Uso

Sumber gambar : jurnalotaku.com

Saya menonton film ini dua kali. Kesan pertama sih tidak terlalu suka karena tidak berakhir bahagia. Padahal ingin sekali melihat tokoh utama kembali menjadi diri sendiri yang sering memenangkan perlombaan seperti di masa kecilnya.

Walaupun kini ia lebih menikmati musik, tapi teman yang membawanya ke dunia lain, sisi lain dari musik telah tiada. Tidak ada lagi duet. Tidak ada lagi dua musisi sehati.

Saya hanya bersedih karena bagian akhirnya tidak seperti yang saya harapkan. Mungkin saja akan tercipta duet musisi terbaik yang pernah ada. Namun mereka hanya sekali saja melakukannya. Karena tidak ada yang tahu takdir seperti apa yang menanti setiap manusia di esok hari. Jadi, pelajarannya adalah lakukan yang terbaik saja.

Berikut adalah review film anime Shigatsu wa Kimi no Uso :

Jalannya Cerita Shigatsu wa Kimi no Uso

Kousei tidak lagi lagi bermain musik sejak berusia 11 tahun. Tepat ketika ia sedang berkompetisi di Eropa, ibunya meninggal. Kousei berjuang untuk impian ibunya, menjadi pianis kelas dunia. Tapi tidak ada yang tersisa. Kousei kemudian membenci pianonya.

Setelah dua tahun tidak bermain piano, Kousei bertemu gadis yang memainkan pianika bersama anak-anak di taman. Gadis itu menangis. Ternyata itu adalah gadis yang dibicarakan temannya, Pemain biola. Pemain musik klasik, Kaori Miyazano.

Setelah itu Kousei diajak melihat lomba yang diikuti Kaori. Meskipun tidak ingin, Kousei akhirnya ikut juga. Itu adalah pertama kalinya lagi bagi Kousei melihat musik secara langsung. Dan Kousei mendengar musik Kaori. Musik yang lain dari peserta lainnya.

Kousei ingin mendengarnya lagi. Namun ia juga tidak ingin mendengarnya lagi. Kousei bingung. Juri tidak suka musik Kaori. Terlalu banyak pengurangan nilai. Namun karena penonton menyukai musik Kaori, akhirnya ia lolos ke babak selanjutnya.

Ketika tampil, Kaori bahagia. Begitu pula setelah penampilannya, Kaori bahagia. Ketika bermain, Kaori bertanya, “Apakah musikku sampai kepada mereka?

Kemudian Kaori menunjuk Kousei sebagai pengiringnya. Bahkan meskipun ia tahu bahwa Kousei tidak lagi mampu mendengar nada piano. Kaori memaksa Kousei untuk berduet pada babak selanjutnya.

Akhirnya mereka berduet untuk pertama kali. Tanpa latihan sekalipun. Keduanya merupakan pemain solo. Dan musik mereka saling bertengkar satu sama lain. Tapi penonton menyukai perkelahian musik itu. Sayangnya mereka tidak lolos ke babak selanjutnya.

Kaori terus memaksa Kousei bermain piano. Selanjutnya Kousei mengikuti sebuah perlombaan tingkat nasional. Kousei berlatih piano lagi. Hanya ada satu pertanyaan bagi Kousei, “Untuk siapa aku bermain?” mengingat selama ini ia bermain untuk ibunya.

Akhirnya Kousei tidak lagi menjadi robot partitur yang selalu memenangkan pertandingan. Untuk pertama kali Kousei bermain dengan hatinya. Musiknya untuk Kaori. Hanya untuk Kaori ia bermain. Dan Kousei kalah untuk pertama kalinya. Tapi tidak ada penyesalan sedikit pun. Ia mulai lagi dari nol.

Tapi ada bagian terbaiknya. Penampilan duet Kaori dan Kousei ketika perlombaan terdahulu disukai penonton. Dan mereka diundang untuk sebuah konser. Kousei tampil sendirian. Kaori jatuh sakit. Tapi Kousei menemukan gaya baru dalam bermain piano, bebas seperti Kaori.

Pada akhirnya, Kousei menemukan gaya bermusiknya. Dan tampil bagus. Namun Kaori akhirnya meninggal dunia. Dan dibagian akhir kisah ini, Kaori mengungkapkan semua rahasia kepada Kousei melalui surat yang ia tulis sebelum meninggal.

Kekurangan Shigatsu wa Kimi no Uso

Saya termasuk menyukai film Shigatsu wa Kimi no Uso. Hanya saja ada beberapa kekurangan di mata saya. Antara lain :

  • Akhir Cerita yang Menggantung – Sebenarnya saya menyukai kemajuan penampilan Kousei. Hanya saja tidak pernah melihat bagaimana Kousei menyempurnakan gaya bermain pianonya yang baru. Juga tidak pernah ada pertunjukkan Kousei ketika menjadi robot partitur yang sempurna.
  • Kisah Cintanya Juga Tidak Jelas – Sebenarnya yang paling menyedihkan adalah perasaan cinta yang terpendam. Bahkan Kousei dan Kaori belum pernah saling mengatakan kata cinta. Baru di surat setelah kematiannya, terungkap bahwa Kaori mencintai Kousei. Juga masa depan Kousei dan Tsubaki juga masih belum jelas.

Hanya dua itu saja sih kekurangan yang tidak saya sukai. lagipula film ini termasuk bagus menurut saya.

Kelebihan Film Shigatsu wa Kimi no Uso

Nah… bagian ini yang paling saya sukai, menilai film dari kelebihannya. Karena lebih mudah dibanding harus mencari kekurangannya. Berikut ulasannya :

Bagian yang paling menonjol tentu dari segi ceritanya. Dilihat dari manapun, kisahnya begitu membekas di ingatan saya. Yang jelas film sangat bagus ceritanya. Apa mungkin karena saya terbawa emosi sehingga bagian akhir yang menggantung membuat saya kecewa? Mungkin karena saya ingin melihat Kousei menjadi diri sendiri dan berhasil dengan musik baru sesuai apa yang ia yakini.

Yang nomor dua tentu film ini menginspirasi saya untuk menjadi penulis yang aneh, sama seperti Kaori. Jika para musisi menyuarakan hati melalui musiknya, maka penulis menyuarakan hati melalui tulisan-tulisannya. Saya ingin menjadi penulis bebas yang tidak terikat aturan apapun. Namun saya perlu memahami teori-teori terlebih dahulu agar bisa melakukan improvisasi dan menciptakan gaya menulis saya sendiri.

Dan terakhir kisah hidup Kaori sangat menyedihkan. Seperti nyata saja. Tapi bagian terbaiknya adalah Kaori berhasil mewujudkan impiannya sebelum ia meninggal. Duetnya dengan pianis yang ia kagumi sejak kecil, Arima Kousei berhasil membuat Kaori bersinar. Persis seperti yang ia inginkan.

Nilai

Saya memberi nilai 77 untuk film ini. Maka selesailah review anime Shigatsu wa Kimi no Uso. Saya harap ada kelanjutannya film ini. Saya masih penasaran dengan masa depan Kousei untuk menemukan gaya bermusiknya sendiri.

Iklan

11 tanggapan untuk “Review Anime : Shigatsu wa Kimi no Uso

  1. Aku juga suka Shigatsu.. Dan anime inilah awalnya yg bikin aku doyan anime.
    Mengenai endingnya, aku rasa realistis sih..
    Karena Kaori emang sakit dan kemungkinan sembuhnya kecil.. Pas episode akhir, aku nangis gituuuu.. Bayangin betapa terinspirasinya Kaori karena Kousei dulu.
    Dan, setelah jatuh cinta begitu dalam dengan Kaori yang berhasil mewarnai hidupnya, aku rasa emang cocok dia nggak langsung suka sama Tsubaki..
    Inti ceritanya kan tentang hidup Kousei yang berubah setelah ketemu Kaori..
    Hehhehehe.. Walaupun aku lebih suka happy ending..

    Suka

    1. Klo masalah cinta-cintaan saya pinginnya yg bahagia saja. Nggak sedih-sedih gitu. Tapj saya ngeliat anime ini kayak gimana gitu. Kenapa mereka tidak menhadi duet saja setefusnya dan sebagiannya. Beneran pingin lihat kousei dan kaori duet bareng dan memukai penonton.

      Suka

  2. Film Jepang nurut saya emang kerap endingnya unik2; bikin pnasaran. Tapi ya emang utk unik itu, hrus jd diri sendiri.

    Terkait kisah Cintanya Kousei dan Kaori yg tdk jlas itu, sya jadi teringat dg kisah Mondy dan Mawar dlm Cerpen yg prnh saya posting di waktu llu, 😂😂

    Oya mas Shiq4, saya juga heran kok penampilan duet musik Kousei dan Kaori disukai penonton ya, meski gagal masuk ke babak selanjutnya (krn tanpa latihan seblumnya, masing2 pemain solo, dan musiknya saling brtengkar), apa krn kesukaan penonton pada musik Kaori, atau karena mereka memainkan gaya bermusik yang unik yang tidak ada pada teori musik pada umumnya, gaya bermusik yang bebas tapi menarik hati penonton, atau bagaimana? Maaf, kalau menilai musik, sebenarnya saya sangat awam.
    Terima kasih.

    Suka

    1. Saya juga kurang tahu mas desfortin. Tidak pernah bermain musik sebagai pengiring. Seharusnya Kousei hanya mengikuti nada Kouri, bukan memainkan musiknya sendiri dan saling menonjolkan kemampuan. Meskipun nadanya tidak sesuai partitur, orang awam biasanya menyukai musik jenis itu. Sedangkan di mata juri, hal tersebut sama dengan pengurangan poin. Semacam improf mas desfortin tidal sesuai dengan nada aslinya.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s