Cerpen : Pencuri di Kelas

Pencuri di kelasSumber gambar : devianart.com

Senin pagi itu ada hal baru di SDN 1 Sarirejo. Ada murid baru. Segera setelah itu Pak Iwan mempersilakan murid baru masuk.

Seorang anak berkulit putih kemudian tampak malu-malu masuk di kelas 4. Kemudian ia berdiri di depan kelas, “Namaku Faisal Ansori Lubis. Panggil saja aku Faisal. Semoga kita bisa berteman dan belajar bersama-sama.”

Lalu Pak Iwan menyuruh Faisal duduk bersama dengan Adi, anak paling gemuk di kelas 4. Aku senang dengan kehadiran Faisal, mengingat sudah 3 bulan pertama di kelas 4 dan Adi sering diledek sebagai “Penunggu” oleh teman-teman karena duduk sendirian. Tahun lalu jumlah murid di kelas genap 22 anak, tetapi karena Ardian tidak naik kelas, jadi jumlah murid kelas 4 tahun ini hanya 21 anak saja.

Seolah tidak terjadi apa-apa, Pak Iwan langsung memulai pelajaran. Dan seperti biasa, aku yang tergolong “Agak bodoh” dalam pelajaran hanya menguap. Bahkan meskipun jam dinding masih menunjukkan angka 08:15. Aku tidak sendirian dalam hal menguap. Aku juga melihat beberapa temanku ikut menguap seperti Firman dan Ahmad. Jadi, aku tidak merasa bersalah karena tidak pernah perhatian terhadap pelajaran yang diberikan Pak Iwan.

Baru ketika bel istirahat berbunyi semua siswa mengerubungi Faisal. “Kau dulu sekolah di mana?” kata Nita. Faisal tampak ramah, “Aku dulu sekolah di kota. Di Surabaya.”

“Oh….” beberapa anak mengatakan hal yang sama tanpa dikomandoi. Melihat betapa penasarannya teman-teman sekelas dengan Faisal, aku pun hanya bisa ikut mengerubung, tanpa bicara sepatah kata pun. Aku hanya merasa ada sesuatu yang aneh pada Faisal. Sesuatu yang baru pertama kali kurasakan. Namun aku menepis perasaanku sendiri dan ikut tertawa karena lelucon Firman.

“Karena kau anak orang kaya, seharusnya hari pertama kau harus mentraktir kami di kantin sekolah. Bagaimana kalo masing-masing anak semangkuk lontong mie?”

Anak-Anak lain hanya mengerti bahwa Firman hanya mengoda saja. Namun jawaban Faisal sungguh mengejutkan, “Baiklah kalau begitu. Tunjukkan kantinnya. Lagipula Mamaku tadi memberi uang untuk mentraktir teman-teman baruku.”

Semua anak di kelas terbengong sejenak. Tapi tidak ada yang berbicara lagi. Ahmad menarik tangan Faisal dan berjalan perlahan. Kemudian yang lain mengekor seperti anak bebek yang mengikuti induknya. Dan di hari itu, Faisal benar-benar menunjukkan kebaikan hatinya. Kami sekelas menikmati makanan gratis. Dan sebagian anak berbisik bahwa mereka akan mendapatkan lebih banyak makanan gratis jika berteman dengan Faisal.

************

Di hari rabu, dua hari semenjak kedatangan murid baru, suasana masih ramai membicarakan Faisal. Begitu pula ketika kami berjalan ke lapangan, lapangan sepak bola kampung kecil yang digunakan olah raga untuk murid-murid sekolah kami.

Aku masih seperti biasanya, hanya bisa diam dan menjadi pendengar yang baik. Teman-Temanku menyukai Faisal. Tapi perasaanku masih tidak enak.

“Baik Sekarang lari 2 kali putaran dulu. Baru boleh bebas bermain. Yang laki-laki main sepak bola dan yang perempuan main bola kasti.” Suara Pak Iwan agak keras.

Tanpa dikomandoi, semua anak berlari seperti biasa. Hanya ada Faisal yang terlihat berbicara dengan Pak Iwan, lalu ia berlari pergi.

“Kemana Faisal ya?” Ahmad bertanya kepadaku.

“Entahlah. Mungkin disuruh Pak Iwan mengambil sesuatu.” Kataku tidak peduli.

Baru sekali berputar, tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Jadi, kupikir aku akan minta ijin untuk ke kamar mandi dulu.

“Aku ingin kencing, temani aku ke kamar mandi Mad!”

Ahmad terlihat sedikit terengah-engah, “Pergi sendiri saja. Lagian nanti aku sungkan sama Pak Iwan kalau tidak berlari dan hanya mengantarmu.”

“Baiklah kalau begitu” jawabku singkat. Aku berlari keluar dari rombongan anak-anak yang berlari kecil. Lalu aku berlari ke tepi lapangan, di mana Pak Iwan berdiri sambil mengawasi murid-muridnya.

Setelah mendapatkan ijin, aku berlari dengan kekuatan penuh karena sudah merasa mau keluar. Segera setelah sampai sekolah,aku langsung masuk ke kamar mandi dan mengeluarkan semuanya. Rasanya benar-benar lega setelah melakukannya.

Sebelum kembali ke lapangan, aku berjalan pelan menuju kelas untuk menaruh uangku di dalam tas. Hal seperti ini harusnya tidak kulupakan, tapi aku memang lupa hari ini. Aku melewati kelas 1 sampai kelas 3. Beberapa adik kelasku melihatku berjalan melewati lorong. Aku tidak peduli dan tetap berjalan. Namun sebelum aku membuka pintu kelas yang tertutup, aku mendengar suara dari dalam kelas. Jadi, aku berjinjit melihat kelas dari jendela.

Sekilas kulihat sosok Faisal. Apakah ia mengambil sesuatu atau juga ingin menaruh uangnya di dalam tas sepertiku?, pikirku.

Namun pikiranku salah. Faisal terlihat mengeledah tas milik murid lain. Sebelum ia menyadari keberadaanku, aku berlari penuh ketidakpercayaan. Apakah ia mencuri? Bukankah ia anak orang kaya?

Dan aku tetap tidak berani mengatakan kepada siapa pun tentang apa yang kulihat. Lagipula tidak ada anak yang merasa kehilangan sesuatu setelah itu. Lalu apa yang dilakukan Faisal di kelas sendirian?, Aku masih memikirkannya setelah pulang sekolah.

*************

Baru di hari sabtu terjadi kegemparan. Di jam istirahat Nita berteriak karena kehilangan uang. Anak-Anak yang masih di kelas mengerumuninya, termasuk aku.

“Tadi kau taruh di mana uangmu?” Dian, Sang Ketua Kelas mengintrogasi. “Tadi kuletakkan di dalam Tas. Tapi setelah aku kembali dari kantin uangnya tidak ada lagi. Aku yakin tadi uangku tinggal Rp 6.500,00. Sekarang sisa Rp5.500,00. Artinya ada dua koin 500 perakku yang hilang.”

“Huuu….” dua orang teman perempuanku serempak bersorak negatif. “Lha tidak mungkin dicuri kalau cuma seribu, lagian mengapa pencurinya tidak mengambil semua uangnya.” Alasan Dila terdengar masuk akal karena anak-anak lain manggut-manggut.

“Mungkin kau lupa atau uangmu terjatuh.” Sahut Dian.

“Aku yakin tadi masih Rp 6.500,00 kok?” Nita masih keras kepala dan merasa tidak berbohong.

“Kalau begitu semua periksa barangnya masing-masing. Apa ada yang hilang?”Teriak Dian.

Beberapa anak yang baru masuk kelas tampak bingung, namun setelah dijelaskan kejadian yang terjadi, semua mengerti keadaannya. Untunglah hari Sabtu ini ada rapat sehingga tidak ada pelajaran dan Dian berusaha menyelidiki kasus kehilangan di kelas.

“Kemarin aku kehilangan gelang tangan di dalam tas. Kukira aku meninggalkannya di rumah, ternyata setelah pulang sekolah gelang itu benar-benar hilang” Kata Ayu.

Lalu mulai banyak anak yang mengaku kehilangan. Hanya saja barang-barang yang hilang bukan barang berharga. Ada yang kehilangan pengaris, penghapus, bahkan gantungan kunci yang terpasang di resleting tas. Aku sendiri pernah kehilangan patung kecil seharga seribu rupiah di hari kamis, tapi aku tidak memikirkannya karena kenyataannya dua patung lain masih berada di tas. Jadi, kupikir aku telah menjatuhkannya.

Aku mencurigai Faisal, teringat kejadian yang kulihat beberapa hari yang lalu. Tapi tetap saja aku bingung. Ia anak orang kaya. Apa susahnya membeli barang-barang remeh temeh semacam itu. Mungkin bukan dia pelakunya. Tapi aku yakin dialah pelakunya.

Faisal sendiri mengaku kehilangan gambar-gambar pokemon yang ada di tas. Tapi aku yakin ia hanya berpura-pura saja. Ia yang melakukan semua ini, batinku.

Tapi di hari Sabtu tersebut, anak-anak kelas 4 meyakini bahwa yang mengambil adalah hantu kuda tanpa kepala. Itu merupakan legenda di sekolahku. Di kebun sebelah sekolah merupakan tempat angker. Katanya ada kuda yang dulu mati dan bangkainya dibuang ke dalam sumur. Kemudian sumur itu ditutup begitu saja. Sumur itu masih ada di sana, tertetup balok kayu besar.

Dan Dian mulai mengatakan hal-hal mistis lainnya dan mengingatkan untuk berhati-hati ketika pulang sekolah. Terutama ketika melewati kebun angker itu. Hari itu kesimpulannya adalah ada salah satu anak di sekolah kami yang mungkin tidak sengaja menganggu ketenangan hantu kuda tanpa kepala sehingga hantu itu mengambil barang-barang remeh kami sebagai peringatan.

Sedangkan aku, bukannya aku tidak percaya dengan legenda itu, hanya saja perasaanku mengatakan bahwa Faisal lah dalang dibalik pencurian di kelasku.

***************

Hari berikutnya, Senin kedua sejak kedatangan murid baru, kejadiannya semakin keterlaluan. Pulpen milik Pak Iwan yang biasa tergeletak di meja di depan kelas tiba-tiba raib. Itu merupakan salah satu hadiah yang diberikan kepada Pak Iwan dari anak-anak kelas 4 sebulan lalu ketika Pak Iwan berulang tahun.

Tapi tidak banyak yang membicarakannya. Sebagian murid mengatakan mungkin Pak Iwan lupa menaruhnya. Sebagian lainnya masih percaya rumor hantu kuda tanpa kepala. Sedangkan aku, aku semakin meyakini bahwa Faisal pelakunya.

Di tengah keheningan dan kasak-kusuk, aku menghampiri Faisal yang sedang mengobrol dengan Adi. “Sudahlah mengaku saja…. kau kan yang suka mencuri di kelas” kataku.

“Apa kau menuduhku mengambil semua barang yang hilang? Untuk apa aku melakukannya?” Faisal tampak sedikit marah dengan perkataanku. “Benar. Kau jangan sembarangan menuduh Din, mungkin kebetulan saja kasus pencurian ini terjadi bertepatan dengan kepindahan Faisal” Adi membela Faisal sambil mengaruk-garuk kepalanya.

“Waktu hari Rabu di minggu pertama kau pindah, aku melihat kau di kelas. Sibuk dengan tas yang bukan milikmu. Pasti kau yang mencuri.” Aku setengah berteriak. Kemudian beberapa anak mulai merapat ke tempatku dan Faisal.

“Oh… aku tidak sengaja menjatuhkan sebuah tas. Jadi aku mengambilnya dan mengembalikan ke tempat semula. Waktu itu aku ijin ke Pak Iwan untuk menaruh uang karena takut jatuh ketika berolah raga.” Faisal menjawab dengan sangat tenang.

“Kalau menuduh harus ada buktinya. Jangan suka memfitnah orang.” kata Ahmad, teman baikku. Lalu anak-anak lain juga membela Faisal. Dan mereka mulai mengataiku sebagai pembohong. Sekarang aku benar-benar marah. Dan setidaknya aku bisa merasakan kemarahan seperti halnya Adi yang selalu diolok-olok sebagai “Penunggu” karena tidak punya teman sebangku.

Lalu aku menyingkir. Aku hanya mendengar siang itu Faisal kembali mentraktir beberapa orang yang membelanya sebagai ucapan terima kasih. Tapi aku masih yakin dia pelakunya.

************

Setelah itu kejadian benar-benar buruk. Semua anak menjauhiku dan mengatakan aku hanya iri saja dengan Faisal. Mereka menyebutku tukang fitnah dan tukang bohong. Aku merasa kesepian selama sekitar 2 hari sejak aku menuduh Faisal. Sampai hal semacam itu sampai di telinga Pak Iwan.

Di saat istirahat, Pak Iwan menaruh perhatiannya kepadaku dan memanggilku ke kantor.

“Bapak sudah dengar cerita tentang pencurian dan tuduhanmu. Tidak baik menuduh tanpa bukti. Mungkin saja kebetulan semua benda-benda tidak penting itu hilang secara bersamaan. Sebenarnya tidak ada pencuri. Mungkin jatuh atau lupa menaruh. Lagipula buat apa Faisal mengambil barang-barang remeh semacam itu. Dia kan bisa membeli sendiri kalau dia mau.”

“Tapi aku melihatnya sendiri. Faisal mengeledah tas yang bukan miliknya. Aku tidak berbohong.”

“Bukankah Faisal sudah mengatakan kalau ia hanya mengembalikan tas yang tidak sengaja ia jatuhkan” Pak Iwan terlihat membela Faisal.

“Kalau begitu dia berbohong. Aku yakin itu. Bukan aku pembohong yang sebenarnya.” Aku tetap kukuh dengan keyakinanku.

“Baiklah. Biar bapak yang menyelidiki. Agar teman-temanmu tidak marah, lebih baik kau pura-pura saja minta maaf dulu.”

Aku mengangguk. Pak Iwan mempersilakan aku kembali ke kelas. Namun aku tidak benar-benar menuruti nasihatnya. Dan teman-teman masih berbisik-bisik ketika melihatku.

**********

Di hari Kamis, di suatu jam pelajaran pagi hari, Pak Iwan pergi ke kantor sebentar karena ada tamu. Tidak lama kemudian, beliau memanggilku untuk mengikutinya. Mata-Mata temanku masih sama, penuh kebencian. Mereka masih mempermasalahkan perkataanku dan terus mengatakan aku pembohong. Bahkan beberapa anak tidak lagi berbicara kepadaku.

Aku mengikuti Pak Iwan di suatu ruangan. Ada seorang wanita dewasa, tapi aku tidak peduli. Setelah itu aku duduk di hadapan wanita asing itu, setelah Pak Iwan mempersilakan tentu saja. Pak Iwan sendiri duduk di sebelahku.

Ini Bu anak yang saya ceritakan. Namanya Udin. Aku masih bingung mengapa aku harus berada di kantor ini. Apa yang lebih penting dari pelajaran? Bahkan Pak Iwan hanya menyuruh siswa lainnya untuk mengerjakan soal di buku paket. Lalu, apa yang aku lakukan di tempat ini bersama dua orang dewasa?

“Saya Ibunya Faisal. Maaf ya kalau gara-gara Faisal semua teman memusuhimu.” Ibu itu membuka suara. Kemudian melanjutkan lagi, “Sebenarnya memang Faisal yang mencuri. Tapi ia tidak berniat melakukannya.”

Aku semakin bingung dengan kalimat ‘Sebenarnya memang Faisal yang mencuri, tapi ia tidak berniat melakukannya’. Sebelum aku bertanya, Ibu Faisal kembali melanjutkan, “6 Bulan lalu Faisal kecelakaan mobil. Untunglah sopir dan Faisal baik-baik saja. Tapi kemudian, ternyata gara-gara benturan keras di kepala, Faisal sekarang mengindap kleptomania.”

Aku menoleh ke Pak Iwan dan melihat Pak Iwan manggut-manggut saja. Lalu akhinya aku membuka kalimat pertama kepada ibunya Faisal, “Klep apa Bu?”.

“Kleptomania. Jadi Faisal tidak bisa menahan diri untuk tidak mencuri. Dulu di sekolah pertamanya ia dikeluarkan karena mencuri barang temannya. Meskipun itu barang-barang sepele. Lalu Faisal pindah sekolah dan kemudian tertangkap basah mencuri. Pihak sekolah masih memberi kesempatan untuk Faisal setelah saya menjelaskan kondisi Faisal, namun tidak dengan teman-temannya. Akhirnya Faisal tidak mau sekolah karena selalu diledek sebagai pencuri. Ia sebenarnya tidak mau melakukannya.” Lalu ibu Faisal mulai menangis.

“Akhirnya ibu memutuskan untuk menyekolahkan Faisal di pedesaan dan memberitahu penyakit Faisal di sekolah barunya. Namun ibu begitu sibuk mengurus pindah dari kota Surabaya ke kota Mojosari. Jadi maaf kalau selama beberapa hari ini Faisal menimbulkan masalah.”

Aku masih bingung, “Lalu apa hubungannya dengan saya bu? Mengapa hanya saya yang dipanggil ke sini, bukan bersama teman-teman yang lain?”.

Pak Iwan lalu menjawab, “Bapak ingin udin menjelaskan kondisi Faisal ke teman-teman lainnya. Sekarang Faisal juga menjalani terapi agar sembuh dari penyakit kleptomanianya. Pokoknya kalau ada barang yang hilang pura-pura saja tidak tahu. Biar Faisal merasa diterima. Mengerti?”

“Baiklah pak. Saya usahakan.” Tiba-Tiba saja aku merasa kasihan dengan kondisi Faisal. Tapi aku juga merasa bangga karena dipercaya untuk menyampaikan kondisi Faisal kepada teman lainnya.

“Oh iya… ini barang-barang yang diambil Faisal. Bercampur dengan barang teman-teman lama Faisal.” Ibu Faisal menyeka air matanya dengan tissue dan menyerahkan tas kresek hitam besar.

“Apa nanti Faisal tidak curiga bu kalau barangnya dikembalikan?” Pak Iwan menyahut.

“Oh tidak kok pak. Penderita kleptomania hanya suka mencuri barang dan tidak menggunakannya. Faisal menaruh begitu saja di sembarang tempat di rumah dan kemudian melupakannya.”

“Oh begitu ya. Nah.. Udin, nanti sepulang sekolah jelaskan kepada teman-teman kondisi Faisal. Juga nanti ambil barang-barang ini kepada teman-teman yang merasa kehilangan.”

“Baik Pak.” Jawabku singkat. Lalu setelah itu Pak Iwan menyuruhku kembali ke kelas. Dan keadaan masih sama, teman-temanku masih memusuhiku, terlihat dari pandangan mata mereka. Tapi kali ini aku tersenyum penuh kemenangan. Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka setelah kuceritakan kejadian sebenarnya sepulang sekolah nanti. Tentu saja ketika Faisal sudah pulang. Tamat

Catatan : Cerpen ini ditulis setelah membaca tips menulis cepen di Sabda.org.

Iklan

25 tanggapan untuk “Cerpen : Pencuri di Kelas

    1. Wkwkw….. Ini idenya dari bacaan masa kecil tentang kleptomania. Dulu waktu kelas 4 SD mikir itu cerita yg bagus. Jadi saya buat cerpen milik saya sendiri tentang kleptomania.

      Suka

  1. Saya sudah pernah menonton sinetron yang menceritakan seorang kleptomania, tetapi saya baru tahu kalau penyakit itu bisa disebabkan karena tjd benturan di kepala…saya pikir karena gangguan saraf bawaan

    Suka

  2. Seru baca cerpennya, latarnya sekolahan jadi berasa kayak anak-anak lagi, dulu temen aku ada yg klepto pdhl org mampu, akhirnya dia ketangkep di gramedia ditunjukkin di cctv dia nyolong buku trus kena denda disuruh bayar bukunya jadi seharga 10x lipat, sejak itu dia ga prnh nyolong lagi.

    Suka

    1. Hua ha ha…… Bahayanya orang jaman sekarang itu main hakim sendiri. Kasihan yg punya penyakit klepto. Untung cuma disuruh bayar 10x saja, murah itu daripada berurusan dengan hukum.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s