Cerpen : Antara Dua Penulis

Antara dua penulisSumber gambar :taferresort.com

Aku sedang menunggu seorang gadis di D’Coffee Cafe. Pekerjaannya adalah bloger profesional. Dia menerbitkan cerita-cerita pendek di blog setiap minggu. Dan seperti kataku, profesional berarti ia juga mengisi kolom cerita di majalah-majalah terkenal.

Perkenalanku dengannya baru satu tahun. Aku yang baru lulus SMA ingin jadi penulis. Sempat pesimis dengan impianku karena hanya lulusan SMA saja, tapi gadis yang kuceritakan juga hanya lulusan SMA. Jadi, secara tidak langsung ia telah menginspirasiku.

Gadis itu sering ke kota-kota besar, menjadi pembicara atau menyelesaikan project-project menulis. Sangat sibuk. Untungnya ia masih tetap tinggal di Mojosari, kota kecil di daerah Mojokerto. Katanya ia tidak bisa tinggal jauh dari orang tuanya. Ia pasti anak yang baik dan orang tuanya bangga kepadanya.

Bagian terbaiknya adalah kami berteman. Ketika aku mengalami kesulitan, maka aku akan bertanya kepadanya. Setahun terakhir ia mengajarkan banyak hal kepadaku meskipun aku tidak terlalu paham apa yang ia bicarakan.

Kondisiku cukup baik. Aku bekerja sebagai penjaga warnet. Sepulang kerja, aku akan terus berlatih menulis. Sayangnya, 12 bulan berlalu dan tulisanku belum terbit di media manapun.

Tiba-Tiba gadis itu muncul, langsung duduk di hadapanku, dan ia langsung menangis.

“Aku putus. Dia berselingkuh.” Katanya.

Ini sudah ketiga kalinya ia menangis di hadapanku. Dan kurasa pacarnya adalah lelaki brengsek. Bahkan aku menduga ia lebih banyak menangis selain di hadapanku.

Ia tidak melakukan pemanasan apapun dan langsung bercerita panjang lebar kepadaku. Aku selalu merasa bersalah jika dihadapkan dengan situasi seperti ini, memang apa yang bisa kulakukan dengan gadis yang menangis?

“Bagaimana menurutmu?” ia bertanya setelah bercerita.

“Kau bodoh.” Kataku.

“Kau cantik dan sudah punya pekerjaan yang hebat. Kau bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik.” lanjutku.

Aku sudah kesal. Dua kali aku berusaha membesarkan hatinya ketika terluka. Tapi aku sudah bosan. Jadi, aku mengatakan apa yang selama ini kupikirkan tentangnya ketika ia menangis untuk ketiga kalinya di hadapanku dalam waktu 6 bulan terakhir.

Kali ini aku yang tidak bisa diam dan terus berbicara “Setidaknya carilah pasangan yang selalu membuatmu tertawa. Jika ia menyakitimu, maka ia pasti lelaki yang bodoh.”

“Apakah kau tidak paham? Aku mencintainya.” Gadis itu setengah berteriak kepadaku.

“Kuharap kau bisa sebijaksana Angelina” jawabku singkat. Angelina adalah karakter yang diciptakan gadis di depanku dalam sebuah cerbung terbaru di blognya. Walaupun terlihat tersiksa, pada akhirnya Angelina mampu melepas pacarnya dan melihat cinta pada orang lain.

Gadis itu terdiam, lalu mengambil tissu di tasnya, dan mengelap sisa-sisa air matanya. Ia kemudian merapikan rambutnya. Dan ia terlihat memesona untuk gadis berusia 24 tahun.

Ia menghirup nafas dalam-dalam dan berkata “Hidup memang ironis ya…..”

Sepertinya ia sudah tenang. Bagaimana pun kejadiannya, teman gadisku ini sangat konyol. Ia mencintai orang yang menurutku hanya berpura-pura mencintainya. Kalau pacarnya memang mencintainya, seharusnya ia tidak sering membuat temanku menangis. Padahal mereka baru 6 bulan jadian dan teman gadisku sudah menangis lebih banyak dibanding dengan ibu rumah tangga manapun.

“Iya… harusnya kamu tidak perlu berhubungan dengan pacarmu itu. Ia bukan lelaki baik menurutku”

“Sepertinya kau benar. Kali ini aku tidak akan balikan lagi.” Katanya lirih.

Aku melotot. Dan ia tahu apa yang kupikirkan “Baiklah. Kali ini aku benar-benar tidak akan balikan lagi. Aku serius.”

Dan ia menangis lagi.

“Berhentilah menangis. Kau membuat seolah aku melakukan sesuatu yang salah kepadamu. Lihatlah orang-orang sekitar.” Aku mengatakannya dengan pelan, sambil mencondongkan mukaku ke arahnya. Lalu aku minum kopiku, menunggu reaksinya.

“Bagaimana kalau aku masih mencintainya?” katanya lagi seolah tidak peduli dengan perkataanku barusan.

“Aku tidak tahu. Aku tidak pernah pacaran ha ha ha….”

Dia diam sejenak seolah menjadi presiden yang memikirkan nasib seluruh rakyat Indonesia “Aku hanya minta pendapatmu. Tolonglah…”

“Baiklah. Kalau kau masih mencintainya, minta saja ia menikahimu. Kalau ia masih menolak dan hanya menjanjikannya di masa depan, berarti ia tidak mencintaimu.”

“Dia sering membuatmu menangis. Dan kurasa ia hanya mempermainkanmu.”Lanjutku.

“Kau benar.” Ia tersenyum. “Bolehkan aku minta kopi? Aku berantakan”

Aku berdiri, lalu pergi ke arah meja pelayan dan memesan secangkir kopi lagi, lalu kembali duduk di tempat duduk semula.”Sekarang giliranku yang berbicara, boleh?” kataku setelah nyaman mengambil posisi duduk.

“Maaf atas kejadian ini. Memang pertemuan inikan dalam rangka menjawab pertanyaanmu ha ha ha…..” gadis itu tertawa. Pemandangan yang aneh. Tapi aku tidak peduli ”Kurasa sebaiknya rencana kita batal saja. Aku merasa tidak sanggup.”

Ia tampak heran “Mengapa begitu?”

“Aku tidak bisa menulis cerita cinta. Apalagi berduet dengan penulis berpengalaman.”

“Itu karena kau tidak pernah bergaul dengan gadis manapun. Cobalah mencari pacar dan tulis pengalaman pribadimu ha ha ha……” gadis itu tertawa lagi.

Ucapannya cukup menyakitkan. Aku bahkan ingin menangis. Ia yang melihat reaksiku berhenti tertawa “Maaf ya kalau menyakitkan. Kukira kau selalu bahagia. Ternyata kalau berbicara soal pacar kau mudah tersinggung.”

Aku memang tidak punya keberanian terhadap para gadis. Bahkan berkenalan saja aku sudah gemetar. Dan aku berani bertaruh bahwa satu-satunya teman gadisku ini akan terus mengejekku di masa depan. Sial, mengapa tadi ucapannya membuatku ingin menangis,pikirku.

Tapi tiba-tiba aku tersenyum karena pikiran konyol yang melintas di kepalaku “Baiklah… aku akan bekerja keras untuk menjadi penulis di blogmu, dengan satu syarat…..”

Gadis itu memiringkan kepalanya “Jangan membuatku penasaran”

“Bolehkan aku merayumu?” Kataku sambil menahan senyum.

“Aku tidak akan menyukaimu lebih dari sekadar teman” ternyata ia menerjemahkan ucapanku secara salah. “Bukan begitu maksudku. Kata orang para gadis itu akan lebih mudah jatuh cinta lagi kepada orang selagi ia terluka, selama kau mengoda dan berbuat baik kepadanya”

“Itu sikap yang paling kubenci darimu. Kau selalu menganggap orang lain kelinci percobaanmu. Lalu apa yang ingin kau buktikan?”

“Biarkan aku mengodamu dan berbuat baik kepadamu selama beberapa hari. Tidak akan sampai membuatmu jatuh cinta dan ceritakan kepadaku bagaimana perasaanmu”

Gadis itu tersenyum“Kau memang aneh. Tapi tidak masalah. Tapi kau harus mau menulis tiga judul cerbung lagi berduet denganku.”

“Baiklah” Jawabku.

Setelah itu pelayan datang membawa secangkir kopi. Dan aku benar-benar mengodanya. Sebenarnya aku berbohong kepadanya. Alasan utamaku hanya ingin belajar mengoda seorang gadis. Aku menyukai bagaimana seorang pria mengoda para gadis seperti dalam buku Jewels dan kebetulan ada kesempatan emas. Jadi, kumanfaatkan kesempatan sebaik mungkin.

Iklan

14 tanggapan untuk “Cerpen : Antara Dua Penulis

Komentar ditutup.