Hari ke-18 : Antrean di Rumah Sakit

Waktu menunggu antrian Sumber gambar : bacaanpopuler.com

Sejak 2015 saya berobat jalan di RSJ Menur Surabaya. Setiap beberapa bulan sekali ibu menemani pergi konsultasi dan menebus obat di rumah sakit yang sama. Dan yang membuat saya paling malas, selain perjalanan yang lumayan jauh, tentu karena antreannya yang panjang.

Rumah sakit ini penuh. Bayangkan saja, dalam sebuah ruangan terdapat puluhan orang yang menderita sakit kejiwaan (menunggu konsultasi), seperti kumpulan bom yang siap meledak kapan saja. Suasananya pun cukup ramai. Dan sebenarnya itu sangat membuat saya tidak nyaman. Saya tidak suka keramaian.

Saya sendiri sudah terlalu lama sendiri. Ada sedikit rasa kemanusiaan saya yang hilang. Saya tidak begitu peduli dengan manusia lain di sekitar saya. Selama mereka tidak menganggu, maka saya pun tidak akan bereaksi berlebihan. Tapi benar, sudah lama tidak ada keinginan untuk bersosialisasi lagi.

Pernah memperhatikan sekitar dan saya baru menyadari bahwa membedakan antara penderita kejiwaan dan orang normal ternyata sulit. Biasanya setiap penderita akan didampingi minimal satu orang normal dan saya tidak tahu mana pasien dan mana caregiver. Itu juga penyebab ruang tunggu selalu penuh.

Dari sharing di komunitas online, beberapa caregiver (sebutan yang merawat orang sakit jiwa) mengalami banyak kesulitan, terutama keuangan dan kesabaran yang semakin menipis menghadapi anggota keluarga yang sakit jiwa. Melihat para caregiver secara langsung di antrean rumah sakit, itu cukup menghibur. Setidaknya mereka masih peduli pada si sakit, mengingat beberapa orang benar-benar kehabisan kesabaran dan menelantarkan anggota keluarga yang sakit jiwa.

Tidak ada yang bisa saya lakukan ketika mengantre. Tidak juga mengobrol. Biasanya butuh 2 atau 3 jam sampai nama saya dipanggil sejak mendaftarkan diri di loket. Sialnya, baterai handphone saya kadang-kadang error dan handphone tidak bisa menyala. Dan pilihan membaca saat mengantre pun otomatis lenyap.

Biasanya ibu mengantre sendirian; saya keluar gedung dan minum es degan. Juga merokok. Tapi sejujurnya saja, waktu mengantre merupakan hal yang menjemukan. Dan entah mengapa terkadang saya bingung sendiri, tidak tahu harus berbuat apa.

Kadang-Kadang saya juga melihat penderita sakit jiwa yang parah. Entahlah… membuat saya teringat ketika dulu pertama kali sakit. Merasa kesepian dan menderita. Dan merasa tidak ada yang memahami. Ada juga pasien yang memprihantinkan, sudah tua sekali, kotor, dan tidak ada yang mengantar. Untunglah masih ada beberapa perawat yang sukarela memberi uang untuk pasien semacam itu. Rasanya terharu juga melihat kebaikan di zaman serba individualis.

Bagian yang lucu adalah ketika nama saya dipanggil. Setelah mengantre cukup lama, dokter hanya menanyakan hal-hal sepele dan keluhan selama beberapa bulan terakhir, tidak lebih dari 5 menit, dan kemudian menuliskan resep obat yang bisa ditebus.

Kadang-Kadang saya berpikir, enak juga jadi dokter kejiwaan. Tinggal duduk, menanyakan sesuatu yang sama pada semua pasien, menganalisis data-data yang ada di surat keterangan, dan kemudian menulis resep. Kerjanya sangat santai dan gajinya pasti besar.

Setelah itu antre lagi di apotek rumah sakit. Ibu melakukannya sendirian. Paling butuh waktu setidaknya 30 menit. Dan biasanya saya menunggu di luar area rumah sakit dan merokok lagi sambil melihat keadaan sekitar jalan raya.

Untunglah sekarang saya sudah bisa memastikan bahwa saya akan sibuk membaca ketika antre di masa-masa selanjutnya. Ibu membeli smartphone yang bagus dan canggih. Saya bisa meminjamnya. Dan saya berencana melakukan riset untuk tulisan saya selanjutnya selama menunggu. Dan selamat tinggal antrean yang menjemukan (waktu yang terbuang sia-sia).

Apakah Anda pernah mengantre lebih dari 2 jam? Apa yang biasa Anda lakukan? Bagikan di kotak komentar.

Iklan

36 tanggapan untuk “Hari ke-18 : Antrean di Rumah Sakit

  1. Kalau lg ngantri begitu biasanya ngobrol sama yang lain yang juga lg ngantri kalau sudah habis bahan obrolan ya mainan hp. Kalau d pikir Rumah sakit memang sering ngebuat org lebih bersyukur.

    Suka

    1. Ha ha ha….. Klau ngobrol saya bukan orang yg menyenangkan mas ade, cendereung membosankan. Sebagai pasien saya merasa nyaman aja karena nggak sakit sendirian, ada banyak orang yg mengalami hal serupa. Jadi lebih sabar menjalani hidup.

      Disukai oleh 1 orang

  2. sering sekali mas Shiq :
    1. di kantor pajak kl mendekati tgl 20, walah bs seharian itu Cinta ngantri. Dr membuat postingan, chatting, baca buku, ngantuk dan tdur smpe dpt mimpi pun sudah Cinta lakuin πŸ˜‚πŸ˜†πŸ˜…. Tp sih Cinta anggap itu me time ditengah sibuknya Cinta, smua jd trsa mnyenangkan, yakin! 😊
    2. Kalo lg di bank Mandiri, mskipun udah masuk di ruangan prioritas dmn bs duduk manis dg sofa super empuk, tv dan remote control di tangan dg bebasnya ganti2 channel, jg suguhan permen dan aqua gelas, dan ga ktinggalan CS yang saling kenal dan super-duper baiknya. Tetap sja yg namanya ngantri itu mnjemukan. Biasanya Cinta bwa buku atau browsing2 tujuan traveller yg sdg instagrammable…akhirnya beberapa jam terlewati, atau ngobrol plus guyonan dg mas CS yg sudah akrab dan super ganteng 😍, rasa jenuh pun hilang sndiri hihi.

    Suka

      1. hihi, ayooo dicoba mas Shiq, menyenangkan loh mas, yakin! 😊

        Cinta udah pernah jd introvert dulu, dan skr ekstrovert. Jngn blg mas Shiq ga bs, hnya prlu sdkit usaha sja mas 😊

        Disukai oleh 1 orang

  3. Btw, di depan rsj menur memang banyak yang jualan degan. Enak sekali degannya, saya dulu lumayan sering rame2 minum degan sama teman2 di manyar situ ☺

    Kalo terjebak di antrean lama, biasanya saya baca buku, atau blogwalking,atau ngobrol dengan orang di samping.

    Suka

    1. Iya di depan rsj menur banyak yg jualan es degan. Murah. Kemarin segelas besar cuma 6000 saja.

      Klo baca buku saya jarang, biasanya baca2 aja di internet. Klo ngobrol sama orang asing saya takut karena bukan tipe orang yang menyenangkan :).

      Suka

  4. Sewaktu di Indonesia iya, aku wajib ngantri. apalagi kalau dokternya spesialis. seperti tulisanmu di atas. nunggu berjam, ketemu dokter cuma hitungan menit. sret sret sret nulis resep. tipikal kebanyakan team dokter kita. obat laris manis bgt jd ajang bisnis. aku pernah menulis ttg rs swedia, yg berbanding terbalik. sempat di awal aku malah kaget dan rindu dengan pelayanan dokter Indonesia yang doyan kasih obat. sampai akhirnya sekarang nyadar mana yang sebenarnya baik😊

    Suka

    1. Iya saya pernah baca kok postingannya. Udah biasa dikasih obat sih. Mungkin udah jadi kepercayaan, klo kita percaya bakalan jadi lebih baik kok keadaannya. Semoga nanti dokter2 di indonesia menjadi lebih bagus kualitasnya seperti dokter2 luar negeri :).

      Disukai oleh 1 orang

  5. Pernah sih dulu nunggu lama banget sendirian pula, trs kikuk bingung mo ngapain alhasil maen game gitu, tpi lama” bosen juga, kdang mlh cuma ngescroll menu HP gitu biar kelihatan sibuk wkwk pdhal nggak :v, gak itu doang sih, masih banyak lagi *anak muda banyak ide gesrek nya :v tapi ujung”nya juga diajak ngomong orang kok, ngmg panjang lebar gitu.. justru menurutku itu lho yg bikin gak bosen bang, bicara sama org..

    Suka

    1. Klo bicara sama orang saya termasuk tipe orang yang membosankan. Takut orangnya malah ke siksa klo ngomong sama saya ha ha ha….. Cuma biasanya mereka sungkan, jadi tetap nemenin saya ngobrol :).

      Disukai oleh 1 orang

    1. Ya klo bpjs dan yg murah biasanya lama mas. Ntah klo milih spesialis yg biayanya lebih mahal. Klo memang banyak yg antri di rumah sakit berarti pelayanan publiknya masih kurang, harus dibangun rumah sakit lainnya πŸ™‚

      Disukai oleh 1 orang

    1. Pernah. Kalo sampingnya ada temen yang kenal, ya ngobrol. Kalo gak kenal dan diajak ngobrol ya ngobrol. Seringnya sih mendengarkan orang ngobrol. Hahaha.
      Dulu waktu sering2nya antre, HP saya masih jadul. Jadi gak main sosmed atau baca artikel.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s